
Rendra turun dari motornya bertepatan dengan keluarga Bapak Wahid yang juga baru turun dari mobil mereka.
“Selamat malam, benar ini dengan rumah Bapak Edy Wicaksono?” tanya Pak Wahid.
“Benar Om, saya Rendra anak sulung Pak Edy.” jawab Rendra seraya mengulurkan tangannya.
“Oh kebetulan sekali kita bertemu lebih dulu. Oh iya, ini istri dan yang paling jelek ini putri bungsu Om, Risma.”
Rendra berjabat tangan dengan istri dan dari teman ayahnya juga wanita cantik yang hendak dijodohkan dengannya.
“Mari Om, Bapak sama Ibu pasti sudah menunggu.”
Benar seperti yang Rendra katakan jika kedua orang tuanya telah siap sedia menunggu kedatangan mereka. Pertemuan dua keluarga itu menjadi momen bahagia bagi dua kepala keluarga bergelar purnawirawan. Malam itu setelah mereka menyantap makan malam, kedua keluarga itu mulai bernostalgia kembali mengingat masa-masa pahit zaman dulu saat menempuh pendidikan di militer.
“Kalian pasti bosan mendengar pembicaraan kedua bapak-bapak ini. Rendra, ajak Risma ke taman belakang!” titah sang ibu.
“Reni, Rudi, kalian mau ke mana? Tolong ambilkan keripik sama jus mangga di kulkas ya!” kedua saudara kembar yang hendak mengikuti kakaknya ke taman belakang langsung dicegah oleh sang ibu. Dengan tatapan tajam mengintimidasi, keduanya langsung bergegas menuju dapur.” Tingkah keduanya tidak luput dari perhatian keluarga Bapak Wahid beserta istri.
“Kamu galak juga sama anak?” ucap Ibu Risna Anggraini.
“Galak dan tegas itu beda, Ris. Kamu tahu, kedua anak itu tadi sore sudah menyampaikan orasi jika mereka tidak akan menikahi abdi negara. Jadi mereka meminta kami untuk tidak berharap akan mendapat menantu tentara dari mereka.”
“Sampai begitu? Pasti ada pemicunya kalau tidak mereka pasti tidak akan sampai begitu. Memangnya kalian mengharapkan punya menantu tentara seperti kami? Kalian yakin sanggup menikmati masa tua jauh dari anak mantu sekaligus cucu seperti kami?” ucap Bu Risna.
“Kami hanya bercerita tentang anak-anak kalian yang mendapat suami tentara. Dan anak kami yang mengikuti jejak Mas Edy hanya Rendra. Sedangkan Reni dan Rudi malah jadi orang kantoran.”
__ADS_1
“Sudahlah, Yet. Jangan memaksakan kehendak sama mereka. Setiap anak kan punya cita-cita masing-masing.” sambung Bu Risna.
“Lalu niat kita untuk menjadi besan bagaimana?” pertanyaan dari Ibu Yetti membuat kedua bapak-bapak yang sedang asyik bernostalgia ikut terhenti.
“Kalau aku terserah anak-anak aja, Yet. Kalau mereka cocok dan mau aku sih ikut saja, ya kan Pa?” tanya Buk Risna pada sang suami.
“Iya, Ma. Mereka juga baru kenal malam ini jadi biarkan saja dulu mereka saling mengenal satu sama lain.” jawab Pak Wahid.
Jika para orang tua membahas masalah perjodohan, kedua anak kembar tengah membuat kesepakatan diam-diam untuk menjadi tim survei dadakan untuk menentukan keakuratan perjodohan tersebut. Sedangkan kedua objek yang mereka bicarakan tengah duduk di taman belakang sambil sesekali terlibat pembicaraan ringan tentang kehidupan sehari-hari mereka.
“Kamu tahukan tujuan makan malam keluarga kita?” tanya Rendra.
“Tahu, Mas.” jawab Risna.
“Mas sendiri bagaimana?”
“Saya tanya kamu kenapa kamu malah bertanya balik?” Rendra menatap lekat sosok wanita di depannya ini. Wanita cantik semampai dengan rambut hitam sebahu serta mata yang tidak terlalu besar serta bibir kecil yang tidak terlalu tebal. Kulitnya bersih terlihat terawat berwarna kuning langsat.
Risna tertunduk tatkala tatapan Rendra mengintimidasinya. “Saya belum tahu, Mas. Kita baru bertemu dan saya yakin mama dan papa tidak akan memaksa saya untuk menikah dengan orang yang baru saya kenal. Orang tua kita mungkin sudah berteman lama tapi yang menikah kan kita. Orang tua saya bukan tipe pemaksa, kakak-kakak saya juga menikah dengan orang yang mereka cintai bukan hasil perjodohan. Kebetulan saja profesi dari mereka sama seperti papa. Ini pendapat saya, bagaimana pendapat Mas?”
“Boleh saya jujur?”
“Silakan! Itu lebih baik.” jawab Risna.
__ADS_1
Kemudian Rendra menceritakan semua tentang isi hatinya yang dipenuhi dengan nama CUT. Ia juga mengatakan tentang orang tuanya yang menentang hubungannya dengan Cut. Lalu Rendra mengeluarkan selembar foto di dalam dompetnya. Di dalam foto itu, ia dan Cut sedang berdiri sambil menggendong Rendra kecil.
Risma tersenyum manis, “Sangat cantik dan kalian terlihat seperti sebuah keluarga kecil bahagia. Jadi bagaimana kelanjutan hubungan kalian?”
“Entah, saya hanya punya alamat tapi keadaan tidak memungkinkan untuk pergi mencarinya. Untuk saat ini saya hanya bisa berdoa. Saya ingin sekali mendengar jawabannya supaya tidak ada penyesalan dalam hidup saya dikemudian hari.”
“Saya senang Mas mau jujur. Nanti saya akan bilang ke papa dan mama jika kita tidak mau dijodohkan. Mas tenang saja dan tidak perlu khawatir.”
“Kamu tidak marah?” tanya Rendra.
“Kenapa mesti marah? Tidak ada yang terluka ataupun dirugikan. Jadi buat apa saya marah? Saya justru senang kita mengawalinya dengan keterbukaan. Pernikahan itu untuk kebahagiaan bukan pemaksaan. Mas terbayang tidak jika menikah dengan orang yang tidak kita kenal atau cintai? Bagaimana mereka menjalani malam pertamanya dan mereka harus bertemu setiap saat? Kalau aku sudah kabur di hari H. Sekali lagi aku beruntung karena memiliki orang tua yang cukup pengertian. Sebelum sampai ke sini, mereka sudah mengatakan kalau mereka tidak akan memaksa saya untuk menikah dengan Mas, tapi untuk menghormati undangan keluarga Mas, makanya saya datang. Dan jika kita cocok dan mau, orang tua saya akan mendukung tapi bila tidak ya tidak apa-apa. Mungkin kita bisa menjadi teman seperti kedua orang tua kita dulu.”
Rendra tersenyum lega, ternyata wanita yang akan dijodohkan dengannya sangat dewasa dari segi pemikiran. “Ternyata kamu sangat dewasa ya?”
“Jangan nilai orang dari umurnya, Mas.” keduanya tertawa lepas tanpa rasa canggung.
Keduanya larut dalam berbagai cerita tentang diri mereka masing-masing sampai tidak terasa malam kian larut. Mereka larut dalam perbincangan panjang tanpa sadar jika orang tua masing-masing sudah memasuki kamar tidur. Atas permintaan Pak Edy, keluarga Pak Wahid diminta menginap di rumahnya malam itu. Mereka belum puas menikmati waktu nostalgia dan berencana melanjutkan kembali esok hari.
Sementara itu, di sebuah ruko lantai atas yang terletak di ujung pulau Sumatra. Seorang gadis sedang bersedih hati lantaran menerima ejekan dari salah satu temannya di tempat kursus komputer. Ia terus mengingat segala ucapan yang keluar dari mulut temannya itu sampai sulit memejamkan mata.
“Kamu seperti perempuan tidak laku saja sampai berani menggoda pacar orang? Begini jadinya kalau kamu kurang pergaulan. Apa kamu sengaja kursus di sini supaya bisa mendekati Bang Feri? Kamu kan tahu kalau Bang Feri pacar aku? Atau kamu sengaja pura-pura bodoh biar Bang Feri memberi perhatian lebih ke kamu? Lebih baik kamu keluar dari sini secepatnya.” ucap Winda.
***
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...
__ADS_1