CUT

CUT
Hamil...


__ADS_3

“Cut, bangun!” suara yang tidak asing memanggil-manggil Cut yang masih terlelap karena lemah efek muntah. Yang pertama terlihat oleh Cut ketika membuka mata adalah piring berisi lincah u groh. Senyumnya terbit saking rindunya ia pada rujak kesukaannya dulu sewaktu di kampung.”


"Umi, Abu, Mak Cek Siti, kalian di sini?” Cut menyalami tangan kedua orang tuanya termasuk Mak Cek Siti.


“Mereka datang membawa rujak yang kamu inginkan.” sahut ibu mertua Cut yang baru pulang kerja.


Cut menikmati rujaknya sementara para orang tua saling bercakap-cakap sambil menunggu makan siang matang. Atas permintaan sang ibu mertua, Abu, Umi dan Mak Cek Siti diminta untuk makan siang di rumah. Ayah mertua Cut juga dalam perjalanan pulang dari kantornya.


“Abu dan Umi tenang saja, nanti sore Fais akan membawa Cut ke dokter untuk memastikan kebenarannya.” ucap Ibu Murni seakan mengerti tentang kekhawatiran besannya.


Dengan sedikit ragu, Umi yang sedari tadi diam dan hanya memperhatikan Cut mencoba bersuara. “Apa boleh jika untuk sementara Cut tinggal bersama kami?”


Permintaan Umi bukanlah sekedar permintaan tapi lebih ke ketenangan hati yang akan Umi rasakan jika sang putri yang tengah mengandung bisa bersamanya. Kehamilan pertama sang putri tentu membuat risau para orang tua terutama ibu. Keraguan akan kemampuan sang putri dalam menjaga kehamilannya tentu membuat para ibu khawatir sehingga dengan tinggal bersama, sang ibu bisa mengawasi, memberitahukan apa yang boleh dan tidak sesuai dengan pengalaman yang pernah mereka lewati dulu.


“Saya juga ingin Cut di sini, Besan tapi lebih baik kita tanyakan sama anak-anak bagaimana baiknya.” jawab Ibu Murni bijak.


Tidak berselang lama, Bapak Fahri akhirnya tiba bertepatan dengan Wak Nur yang sudah menyiapkan makanan di atas meja. Setelah basa basi sebentar, seluruh keluarga menikmati makan siang tanpa kehadiran Cut. Ia memilih berbaring di kamar karena badannya yang masih lemah dan tentu saja bau makanan dari dapur selalu membuat isi perutnya mendadak keluar.


Satu piring penuh rujak U Groh berhasil masuk ke perutnya tanpa keluar. ia kembali berbaring dan tanpa sadar matanya kembali terpejam hingga suara yang sangat ia rindukan terdengar memanggil namanya.


Cut bangun dan hal pertama yang ia lakukan adalah memeluk sang suami lalu menghirup bau keringat yang menurutnya sangat wangi. “Abang belum mandi.”


“Tidak usah mandi, Abang sudah wangi.” ucap Cut lalu mencium wajah sang suami seperti yang sering ia lakukan selama ini. Wajah suaminya yang begitu mulus membuat ia selalu ingin menciumnya.


“Kamu udah mandi? Abang sudah buat janji sama dokter. Sebentar lagi kita pergi, kamu siap-siap ya! Abang mandi dulu.” Fais memberikan kecupan singkat di pipi sang istri.


“Ikut...” rengek Cut yang membuat Faisal tersenyum sekaligus khawatir. Mereka kerap kali mandi bersama karena Cut menyukainya. Tapi, begitu mengetahui kehamilan Cut, Fais sedikit takut. Apalagi jika mengingat bagaimana mereka selama ini bercinta. Fais yang berprofesi sebagai dokter tentu mengetahui bagaimana melakukan hubungan suami istri yang baru semester pertama kehamilan.

__ADS_1


“Mandi saja ya? Kita bisa telat nanti.” ucap Fais walaupun sebenarnya ia juga mengharapkan lebih.


Faisal tidak perlu menunggu lama karena dia sudah mendaftar lebih awal sehingga, lima menit begitu mereka tiba langsung dipanggil.


“Bagaiman, Dok?” tanya Faisal.


“Selamat ya! Kehamilan Ibu sudah tiga minggu. Sejauh ini semuanya normal. Mudah-mudahan lancar dan bayinya juga sehat sampai hari melahirkan. Apa Ibu punya keluhan?” tanya sang dokter.


“Dia muntah terus, Dok. Makanan juga tidak masuk sama sekali. Baru tercium sedikit saja sudah muntah apalagi kalau dimakan.” Keluh Faisal.


“Ini saya resepkan obat untuk muntah serta vitamin untuk menguatkan kandungan. Jangan kerja yang berat-berat dulu karena ini baru semester pertama.”


“Dok,” panggil Faisal dengan ragu.


“Istri saya sering meminta berhubungan, apa itu juga faktor kehamilan? Setiap berdekatan dia selalu minta. Apa itu akan berpengaruh terhadap janin?”


Dokter tersenyum kecil, “Ibu hamil itu harus bahagia supaya janin dalam perutnya juga bahagia. Jika Ibu senang dan tidak kelelahan silakan lakukan tapi harus lembut supaya janin yang masih kecil itu tidak terganggu. Terkadang faktor kehamilan justru membuat seorang ibu sangat menyukai itu tapi ada juga ibu yang tidak mau disentuh bahkan tidur satu ranjang saja tidak mau. Bapak harus bersyukur karena Ibu tidak begitu. Bayangkan kalau selama 9 bulan tidak boleh dekat-dekat istri. Bisa sakit kepala, kan?” ucap dokter seraya mengakhiri konsultasi dengan pertanyaan nyeleneh.


“Bagaimana?” tanya sang Ibu penasaran.


“Cut hamil, Buk. Sudah tiga minggu.” Jawab Faisal sambil merebahkan punggungnya di sofa. Cut juga ikut duduk di samping sang suami.


“Alhamdulillah, akhirnya kita punya cucu ya, Pak?” ucap syukur sang ibu pada suaminya.


“Alhamdulillah, Buk. Apa kata dokter? Apa janinnya baik-baik saja?” tanya sang bapak kemudian.


“Alhamdulillah baik, Pak.”

__ADS_1


“Oh iya, karena kamu sudah di sini. Tadi, mertua kamu datang, mereka meminta Cut untuk tinggal di sana selama hamil, bagaimana?”


“Cut tidak mau meninggalkan Abang sendiri.” Sahut Cut yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut.


“Ciee....ternyata kamu cinta sekali sama Faisal ya? Sampai tidak mau  berpisah begitu.” ejek Kak Juli namun tidak dihiraukan oleh Cut.


“Tentulah, kalau tidak cinta mana mungkin bisa hamil.” jawab Adi.


“Berarti yang tidak sampai hamil itu tidak cinta dong?” sahut Kak Juli kembali.


“Suah...sudah...kalian ribut saja. Dari pada mengatai Fais, lebih baik kalian pikir diri kalian sendiri. Kapan mau menikah? Apa tidak malu dikatai orang tidak laku?" sela sang ibu membela Faisal.


"Bagaimana, Nak?” tanya sang ibu pada Faisal kembali.


“Ya sudah kalau begitu. Cuma beda kampung saja tinggal pulang.” jawab Faisal santai.


“Abang ikut kan?” tanya Cut lagi.


“Ikut, masak kamu di sana sendirian. Tapi jangan sekarang ya? Fais lihat jadwal dulu.” Kedua orang tuanya mengangguk pelan.


Kabar kehamilan Cut sampai juga ke telinga kedua sahabat Faisal di Medan. Dan tentunya, Shintia sang mantan yang terlihat kecewa sekaligus marah karena Fais sudah mengabaikannya.


“Relakan saja, Sin. Kamu bisa dapat yang lebih dari Faisal, kenapa mesti sama dia, pria di dunia ini banyak dan tidak kalah ganteng dari Faisal.” Ucap Wira.


“Seperti kami.” Sahut Hendri.


“Kalian tidak akan mengerti hingga kalian bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya mencintai seseorang yang sudah memiliki hati kita. Tidak semudah itu berpaling ke lain hati walaupun ada yang lebih tampan darinya. Bagiku, Faisal sulit tergantikan.” ucap Shintia.

__ADS_1


***


Jangan lupa LIKE, KOMEN dan SHARE ke teman kalian ya... terima kasih...


__ADS_2