
Adit dan Beno mengantar Iskandar ke rumahnya. Sementara yang lain mengantar Deni. Mereka berbagi tugas masing-masing sesuai dengan arah rumah. Adit sendiri tidak perlu mengantar Iskandar tapi ia tetap memaksa untuk ikut.
“Is, kira-kira Mama dan Papa kamu bakal marah tidak kalau lihat sepeda adik kamu ringsek begini?”
“…???...”
Tidak ada jawaban karena Iskandar lagi melamun tentang setiap kata yang mengandung banyak makna dari ibunda Adit. Ia tidak mungkin bertanya lebih jauh mengingat di sana banyak teman-temannya. Mata Mama Adit juga seperti memberi kode untuk Iskandar agar tidak bertanya lebih.
“Is, kamu dengar kami tidak?” tanya Beno kesal karena Iskandar tidak menjawab pertanyaannya.
“Maaf, aku hanya lagi mikirin sesuatu.”
Mereka tiba di rumah dan Beno membantu menyimpan sepeda yang ringsek. Terlihat jelas karena setangnya saja sudah tidak lurus, rodanya banyak yang patah serta lecet di berbagai tempat di tambah tali remnya putus.
“Kami pulang dulu ya, Is. Adikmu kayaknya belum pulang ya, apa kamu tidak apa-apa kami tinggal?”
“Tidak, aku baik saja. Kalian pulanglah! Sebentar lagi magrib.”
Walau berat tapi Beno dan Adit tetap harus pulang dan meninggalkan Iskandar sendiri.
“Makasih ya!”
Setelah kepulangan dua temannya, Iskandar yang hendak masuk tiba-tiba berhenti saat suara mobil berhenti di depan rumah. Iskandar sudah tahu siapa yang pulang, ia memutuskan untuk masuk terlebih dahulu.
Baru juga kakinya melangkah di ruang tamu, suara sang nenek sudah terdengar bagai petir menyambar tapi dalam mode senyap.
“Apa yang kamu lakukan pada sepeda Anugrah? Bagaimana dia bisa main kalau sepedanya kamu rusak begini? Percuma saja kamu lanjutkan mengaji jauh-jauh ke luar negeri kalau hati kamu saja masih ada iri buat Anugrah. Bukannya jadi alim malah nanti kamu jadi pemberontak seperti keluargamu di kampung.”
“Kakak jatoh? Siapa yang obati? Kok bisa jatoh sih, Kak? Sepedanya bisa dibetulin sama Papa kok, Nek.”
“Lihat adikmu! Seharusnya kamu belajar dari dia yang masih kecil tapi tidak pernah iri sama kamu.”
Nenek terus saja berkata kasar sampai Iskandar masuk ke kamarnya. Sementara sang adik tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat sikap sang nenek pada kakaknya. Karena orang tua mereka belum pulang, Ibu Yetti memilih untuk berada di sana menemani sang cucu. Beliau juga memasak untuk cucunya karena hari sudah malam.
“Apa Mamamu selalu pulang malam?”
__ADS_1
Anugrah mengangguk sambil menerima suapan demi suapan dari sang nenek. “Sejak kapan Mama pergi begini?” tanyanya lagi pada sang cucu.
“Sudah seminggu.”
“Papa kasih izin?”
“Papa kadang juga ikut Mama ke panti.”
Raut wajah Ibu Yetti berubah suram. Ia terus menyuapi sang cucu kesayangan walau emosi dalam dadanya sudah meledak-ledak.
“Nek, Kakek kok gak pernah jalan sama kita?” tanya Anugrah.
“Kakek sering ke perkebunan dengan temannya. Kakek juga mengajak Nenek tapi Nenek tidak mau. Di sana dingin dan Nenek tidak kuat.”
“Om Riko juga tidak pulang-pulang, Nek.”
“Om kamu itu lagi sibuk nyari duit di luar kota. Bisnisnya tidak bisa ditinggal jadi ya jarang pulang.”
“Lalu kenapa Nenek marah begitu sama Kakak?”
Anugrah tertawa kecil, “Nenek belum jawab.”
“Setiap Nenek pasti marah kalau cucunya nakal. Begitu juga Nenek.”
“Adek nakal juga kenapa Nenek tidak marah?”
“Adek pernah nakal? Kapan? Kok Nenek tidak tahu?”
“Waktu dulu Adek pecahing vas bunga Nenek. Nenek cuma bilang tidak apa-apa nanti bisa beli yang baru.”
Ibu Yetti tidak bisa lagi menjawab pertanyaan sang cucu. Ia merasa terpojok dan bingung harus menjawab apa saat ini.
“Cucu Nenek ini masih kecil jadi Nenek maafkan. Kalau sudah besar sudah harus bertanggung jawab pada apa yang ada disekelilingnya. Sudah jangan ngomong lagi, habiskan nasi lalu cuci tangan, kaki, muka sama gosok gigi habis itu tidur.”
“Adek panggil Kakak dulu untuk makan. Kakak pasti belum makan juga.”
__ADS_1
“Kakakmu sudah besar kalau dia lapar dia akan makan. tidak perlu disuruh-suruh lagi.”
Tepat jam sembilan malam, Anugrah sudah tertidur lantaran kelelahan setelah jalan-jalan. Mobil Rendra berhenti di depan mobil ibunya.
“Ada Mama.”
Raut wajah Cut langsung berubah sendu. Mereka bergegas masuk dan benar saja seperti yang mereka duga jika wajah Ibu Yetti saat ini terlihat sedang menahan kesal.
“Apa kalian sudah tidak waras? Meninggalkan anak lalu pergi mengurusi anak orang lain? Panti itu ada yang urus dan sudah digaji jadi tidak perlu lagi kalian bersusah payah ke sana lalu menelantarkan putra kalian di rumah bersama kakaknya yang tidak becus itu.”
“Ma, bu-“
Rendra ingin menjawab namun tangan ibunya sudah terangkat sebelah.
“Mama tidak habis pikir sama kamu, Ren. Bagaimana bisa kamu membiarkan istrimu pergi pagi pulang malam tanpa makanan sedangkan di rumah ada anak yang butuh makan dan minum. Apa kamu sudah tidak sanggup merawatnya? Biar Mama yang akan mengambil alih kalau begitu. Anak satu saja kamu tidak becus menjaganya. Dan kamu, Cut. Apa ini yang kamu harapkan makanya kamu tidak mau menjalani program kehamilan lagi? Karena kamu masih ingin bebas pergi kemana saja? Sebaiknya kamu didik istri kamu dengan baik, Rendra. Sibuk mengurus anak orang, anak sendiri terabaikan di rumah. Mama sangat kecewa sama kalian! Mama memang sudah punya firsat tidak enak selama seminggu ini dan teryata terjawab sudah apa yang terjadi.”
Ibu Yetti mengambil tasnya hendak pergi dari kediaman sang putra, “Cut, tidak perlu menyekolahkan Iskandar jauh-jauh ke luar negeri kalau dia masih menyimpan iri pada Anugrah. Lihat saja bagaimana dia merusak sepeda Anugrah!”
Cut terkejutt begitu juga dengan Rendra. Mereka tidak menyangka ide yang seharusnya berjalan dengan baik harus berakhir seperti ini. Keduanya lalu keluar untuk melihat kondisi sepeda yang dikatakan oleh sang mama dan benar saja kondisinya sudah ringsek.
Cut bergegas ke kamar Iskandar dan ternyata dikunci. “Is, Mama tahu kamu belum tidur. Tolong buka pintunya!”
Tidak ada jawaban dari Iskandar. Seluruh badannya sakit tapi tidak sebanding dengan hatinya yang sakit akibat perkataan sang nenek. Iskandar tidak menangis tapi hatinya terluka. Luka yang sudah lama sudah sembuh kini tergores lagi dan kali ini semakin dalam.
“Nak, Sayang, tolong buka pintunya. Di pondok kalian sering telat tidur tidak mungkin kamu sudah tidur sekarang. Tolong buka pintu, Mama mau bicara.” Cut terus memohon pada sang putra namun sayangnya Iskandar belum siap menemui sang ibu.
“Anugrah sudah tidur.” Ucap Rendra setelah kembali dari kamar putra keduanya.
“Gimana ini, Pah? Mamah khawatir sama Iskandar. Atau kita dobrak saja?”
Rendra juga penasaran dengan kondisi sang putra setelah melihat kondisi sepeda di luar rumah.
Brakkkk….
__ADS_1
***