CUT

CUT
Selamat Jalan Nenek...


__ADS_3

Para pelayat sudah memenuhi kediaman Ibu Murni. Mereka bersiap untuk melakukan fardhu kifayah yang akan diselenggarakan sebentar lagi setelah kedatangan cucu laki-lakinya yaitu Iskandar hingga akhirnya rombongan yang ditunggu-tunggu itu datang dijemput oleh Faris di pelabuhan.


“Nek, maafkan semua kesalahan Iskandar. Iskandar juga sudah memaafkan segala kesalahan Nenek.” Bisik Iskandar pada telinga sang nenek lalu mencium keningnya untuk terakhir kali.


“Buk, maafkan semua kesalahan Cut.” Cut mengulangi apa yang putranya lakukan.


Iskandar mendekati Papa Faisal, “Apa kita akan menunggu Dita?” Faisal menggeleng. “Kita harus menyegarakannya.” Iskandar mengangguk lalu mereka semua keluar dari rumah lalu berjalan kaki menuju tempat pemakaman umum. Iskandar, Teuku ikut mengangkat keranda sang nenek.


Faisal tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, sepanjang perjalanan air matanya terus mengalir mengingat momen-momen terakhir dirinya bersama sang ibu. “Ibuk bahagia karena bisa bertemu kamu sebelum Ibuk meninggal dan yang paling membuat ibuk bahagia adalah kita semua berkumpul di rumah ini lagi.


Sementara di Bali, Dita sedang dilanda kebingungan. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Irma sampai tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kamu mau menyusul ke Aceh tidak?” tanya Dika menghentikan kegamangan gadis itu. Saat Dika hendak mengetuk pintu ruangan manajernya, dering ponselnya berbunyi.


“Hallo, Tante.”


“Kamu sudah tahu kalau neneknya Dita sudah meninggal?” tanya Shinta di seberang telepon.


“Sudah, Tante. Dia ingin ke Aceh.”


“Apa kamu bisa menemaninya? Masalah pekerjaan kamu, saya bisa minta Papa Dita untuk bicara sama pihak hotel, bagaimana?”


“Baik, Tante!”


“Terima kasih.” Dika tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Seorang Mama Shinta mengucapkan terima kasih padanya.


Benar seperti yang Shinta katakan, Dika dan Dita dengan mudah mendapat izin untuk pergi ke Aceh. Sebelum berangkat, Dita meminta Dika untuk membeli ponsel baru. Selama ini ia tidak punya barang canggih itu padahal di tangannya ada kartu kredit dengan limit yang cukup menghidupi kebutuhannya tiga tahun ke depan. Dita mendapat penerbangan sore dan menjelang tengah malam baru sampai di Aceh. Mereka dijemput oleh Iskandar dan Faris di bandara.


“Kak, maaf aku telat.” Ucap Dita memeluk Iskandar.


“Sudah! Jangan menangis lagi. Nenek sudah tenang di sana. Dika, makasih sudah datang jauh-jauh ke sini.” ucapnya memeluk Dika sekilas.


“Aku tidak bisa membiarkan dia pergi sendiri. Saat mendengar kabar dari kamu, dia seperti orang linglung. Makanya aku menemani dari pada dia salah naik pesawat.” Iskandar tersenyum kemudian mereka pergi meninggalkan bandara.


Di dalam perjalanan, Anugrah menghubungi melalui panggilan video. “Assalamualaikum, Kak. Bagimana kondisi Kakek?”


“Beliau baik hanya perlu istirahat saja karena faktor umur juga apalagi tadi lelah menyapa para pelayat yang datang. Aku sedang di jalan habis menjemput Dita sama Dika.”


“Baiklah, Kak. Maaf ya aku tidak bisa hadir di sana.”


“Kami semua mengerti. Doakan saja karena hanya itu yang Nenek butuhkan.”


“Salam buat semuanya, Kak. Aku tutup dulu. Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam.”


Tuttt….


Iskandar meminta Dita tidur di kamarnya sedangkan Dia dan Dika tidur di luar bersama kerabat yang lain.


“Ada yang mengganggu pikiranmu? Ada apa?” tanya Dokter Merlyn melihat Anugrah sedang menatap ponselnya.


“Nenekku meninggal.” Anugrah memperlihatkan foto di ponselnya.


“Ini keluargamu?” Anugrah mengangguk lalu Dokter Merlyn pun bertanya tentang siapa saja yang ada di foto tersebut.

__ADS_1


“Kalau yang cantik ini siapa?”


Deg…


“Dia mantan istriku.” Dokter Merlyn terkejut dan tersenyum kemudian. “Dia sangat cantik kenapa kalian bercerai?”


“Kami sepakat berpisah dan menjalani hidup masing-masing.”


Keesokan harinya di kediaman Bapak Fahri.


Kehebohan terjadi saat kerabat dari Ibu Murni mempertanyakan gadis yang baru saja keluar dari kamar. “Itu anak Fais dari perempuan lain.” Bisik-bisik tetangga mulai terdengar ke telinga Dita yang baru keluar kamar. Beberapa tetangga langsung mengenal Dita saat dulu ibunya datang menjemput sambil marah-marah.


“Fais, apa benar kalau dia anak harammu?” pertanyaan yang cukup menohok dari adik sang ibu.


“Ibuk dan Bapak sudah menerimanya sebagai cucu, maaf Mak Cek, tapi aku tidak mau mendengar lagi kata-kata anak haram itu dari mulut siapapun.” Tegas Faisal. Pergungjingan kembali terjadi setiap kali Dita melewati orang-orang di sana.


“Nak Iskandar, kenapa dia bisa kemari? Apa Ibunya takut datang sendiri?” salah satu tetua bberbicara dengan Iskandar.


“Nenek sangat menyayanginya, Pak Wa. Biarkan dia di sini.”


“Kamu tahu kan kalau dia itu anak haram ayahmu?”


“Dia tidak salah, Pak Wa. Setiap anak tidak bisa memilih harus dilahirkan oleh siapa.”


Di arah dapur, Dita yang sedang memanaskan air sudah tidak kuasa mendengar kata-kata pedas yang keluar dari mulut kerabat neneknya.


“Kalau jadi orang harus tahu diri. Sudah tahu anak haram masih juga carip perhatian. Apa kamu mengincar harta Nenek Iskandar?”


Cut datang menghampiri mereka. Dia baru sampai ke rumah Faisal dan gunjingan itu langsung terdengar ke telinganya. Dengan wajah khawatir, ia mendatangi dapur di mana Dita sedang mendapat gunjingan secara terang-terangan dari kerabat Faisal.


“Cut, lihatlah! Gara-gara anak ini kalian bercerai, bukan?”


“Mak Wa, Mak Cek, jangan membicarakan aib masa lalu. Kita masih dalam keadaan berduka. Dita, Ayo!” Cut langsung menarik tangan Dita keluar dari sana.


“Bang, aku bawa Dita ke rumah Mak Cek ya! Kerabatmu terus menghinanya.” Ucap Cut pada Faisal.


“Maafkan Papa, ya!” ucapnya pada Dita lalu gadis itu dibawa oleh Cut dan Rendra kembali kerumah Mak Cek Siti.


“Kenapa Tante membantuku? Bukannya karena aku, Papa meninggalkan Tante dan Kakak?”


“Kalau tidak ada kamu maka Om tidak akan pernah menikah. Om justru harus berterima kasih sama kamu.” Sahut Rendra yang sedang menyetir membuat Dita tersenyum. Dia yang awalnya emosi kini malah terkekeh memikirkan gurauan Rendra.


“Bukan kamu yang salah tapi orang tuamu. Mereka tidak berpikir sebelum melakukan. Para kerabat Papamu harusnya menyalahkan Papamu bukan kamu. Kamu kan tidak tahu apa-apa. Pikiran orang masih banyak yang sempit jadi kamu harus banyak bersabar.


“Terima kasih ya Tante, Om. Aku tidak tahu kalau Tante tidak membawaku keluar dari sana.”


“Apa ibumu tahu kalau kamu ke sini?” Dita baru tersadar.


“Aku tidak memberitahukannya, Tante. Tapi aku biasa berkomunikasi dengan Papa Toni. Tapi aku juga lupa memberitahukan Papa kalau aku sudah di sini.”


“Kamu kabur dari rumah? Kenapa?” Cut mengetahui tentang kaburnya Dita dari Iskandar. Saat Ibu Murni meninggal, Iskandar berusaha menghubungi Dita tapi ponselnya malah tidak aktif. Lalu dia menghubungi Tiara dan dari Tiara lah ia tahu kalau Dita sudah kabur karena sang ibu tidak merestui hubungannya dengan Dika.


“Tante, apa aku jadi anak durhaka jika memeluk Islam tanpa restu Mama?” Cut melirik sang suami.

__ADS_1


“Nak, Tante tidak bisa mengatakannya. Tanyakan pada Kakakmu yang mengerti agama. Tapi setahu Tante, kalau soal keyakinan, kamu tidak akan durhaka walaupun orang tuamu tidak merestui. Sama halnya seperti bakti seorang istri untuk suaminya. Kalau suamimu memintamu melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama maka kamu berhak untuk tidak mengikutinya. Apa kamu berpindah keyakinan karena mencintai Dika?”


Gleg…


“Aku ingin belajar tentang Islam, Tante. Aku merasa nyaman dan tenang saat melakukan salat.”


“Alhamdulillah, bicarakan lebih serius dengan Kakak dan Papa Faisal. Tante dan Om hanya bisa mendukung dan mendoakan. Jangan lupa, bicarakan dengan Mama setidaknya beritahukan niatmu pada Mama Shinta. Ingat, kalaupun nanti kalian berbeda keyakinan, kamu harus tetap menghormati ibumu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di dunia ini. Ibu adalah segalanya untuk seorang anak. Tanpa Mama Shinta mungkin kamu tidak akan jadi seperti ini.”


“Baik, Tante.”


Cut meninggalkan Dita di rumah Mak Cek Siti. Di sana ada seorang asisten rumah tangga Mak Cek Siti yang akan menemani Dita. “Marni, titip adik Iskandar sebentar ya!”


“Tante, Dita bukan barang yang bisa dititip-titip.” Protes Dita.


“Tante tinggal dulu ya. Kamu baik-baik di rumah, Kalau bosan, kamu bisa mengajak Marni jalan-jalan.”


Benar saja, setelah kepergian Cut. Dita langsung mengajak Marni jalan-jalan. “Kita cari makan yang enak ya! Saya belum makan sama sekali dari tadi.”


“Makan di rumah saja bagaimana? Saya sudah masak, Dek.”


“Kita makan enak saja, Kak Marni. Tenang saja, saya traktir tapi Kakak harus membawa saya jalan-jalan.”


“Dengan senang hati.”


Mereka berjalan ke berbagai tempat. Dita mengambil banyak foto dengan ponsel terbarunya. Marni memang seorang asisten rumah tangga sekaligus teman perjalanan yang baik. Untuk sejenak ia lupa dengan gunjingan para kerabat ayahnya tadi pagi.


Menjelang siang, Marni mengajak Dita ke masjid raya Baiturahman. Marni tidak tahu jika Dita belum memeluk Islam karena penampilan Dita yang memakai hijab. Dika lah yang mengubah penampilan Dita sesaat sebelum mereka lepas landas dari Bali. Setelah membeli ponsel, Dika membawa Dita ke sebuah toko perlengkapan wanita. Dika memberikan beberapa helai kerudung dan salah satu kerudung langsung Dika minta untuk dipakai saat itu juga.


“Kamu bisa ditangkap Polisi Syariat jika sampai Aceh tidak menutup aurat.” Ucapnya saat itu.


Dua wanita itu tersenyum bahagia begitu memasuki masjid yang sangat sejuk dan tenang. Tanpa banyak kata, mereka segera mengikuti imam yang sudah bersiap untuk melaksanakan salat zuhur. Selesai salat, imam memanjat doa-doa dan zikir kemudian diakhiri dengan salawat. Dita mengikuti semua prosesnya dengan khitmat seakan dia adalah seorang muslim.


“Dek, tidak ambil foto?” tanya Marni begitu shaf bubar.


“Ibadah tidak boleh pamer, Kak.”


“Bukan pamer tapi kenang-kenangan. Adek kan tidak setiap saat ke sini.” Dita membernarkan ucapan Marni lalu dengan mukena yang masih melekat di kepalanya, ia meminta Marni untuk memotretnya.


“Kamu cantik banget. Air wudhu betul-betul bagus untuk wajah. Kamu terlihat bersinar.”


“Kakak terlalu memuji. Setelah ini kita kemana?”


“Terserah. Kakak ikut saja”


Dita melihat lokasi objek wisata di internet lalu satu persatu mereka mendatangi tempat itu dengan hati senang. Tanpa ia tahu, sang ibu baru saja turun dari pesawat bersama sang papa sambung. Ya, Shinta sengaja menggunakan momen ini untuk mengucapkan bela sungkawa sekaligus menyelesaikan masalah dengan putrinya.


“Yee, akhirnya kita ke Aceh juga.” Ucap Doni pada anaknya.


“Ssssttt, jangan senang dulu. Kita belum tahu apa yang akan terjadi nanti.”


***


LIKE...KOMEN....

__ADS_1


__ADS_2