
"Ternyata masih sama. Tidak ada yang berubah. Apa kamu sering ke sini?" tanya Faisal seraya menatap Cut yang terus diam mulai dari berangkat sampai mereka sampai di pinggir pantai.
"Jangan mendiamiku seperti itu. Aku sengaja mengajak kamu keluar supaya kita bisa bercerita satu sama lain dengan bebas tanpa canggung dilihat oleh orang tua kita."
"Maaf. Saya belum pernah pergi berduaan seperti ini sebelumnya. Selama ini, saya selalu pergi dengan Intan, Faris atau Razi ketika ia masih ada."
"Kalau begitu mulai sekarang kamu harus terbiasa pergi berdua seperti ini. Karena aku akan sering mengajak kamu jalan.
"Jangan!" sela Cut panik.
"Kenapa? Tenang saja, aku bukan laki-laki brengsek." ucap Faisal seraya tersenyum kecil.
"Bukan itu. Sebenarnya saya takut pergi bersama Abang seperti ini. Mak Cek Siti pasti sudah cerita semuanya tentang saya kan?" Cut memberanikan diri menatap Faisal sekilas.
Mata keduanya bertemu. Tatapan keduanya mengandung arti yang sulit dicerna oleh masing-masing. Cut memutuskan kontak mata mereka lalu mengalihkan pandangan menghadap laut.
"Apa pria itu masih mengejar kamu?" tanya Fais kembali.
"Saya tidak tahu. Kami tidak pernah bertemu lagi setelah saya kembali."
"Bagaimana kalau kalian bertemu lagi? Apa yang akan kamu katakan?"
"Saya tidak tahu."
Faisal menarik nafasnya dalam-dalam seraya menatap Cut lekat. Mak Cek Siti sudah menceritakan semua yang Cut alami padanya sebelum mereka bertunangan.
“Bagaimana dengan tentara itu? Apa kamu menyukainya?” Cut terkejut sekaligus bingung dengan pertanyaan Faisal tersebut. Matanya menatap Faisal seolah meminta untuk berhenti mengungkit masa lalunya.
__ADS_1
“Tidak masalah jika kamu menyukainya. Semua orang memiliki orang yang mereka suka termasuk aku.” lagi-lagi Cut dibuat terkejut dengan pernyataan Faisal.
“Kita bertunangan bukan karena kita saling menyukai tapi karena keluarga kita menginginkannya. Jangan bilang kalau kamu menyukaiku karena kita baru bertemu 2 kali. Tidak mungkin kamu bisa menyukai seseorang secepat itu, ya kan?”
“Benar yang dikatakan oleh Kakakku bahwa aku memiliki pacar di Medan. Kami satu fakultas tapi dia berasal dari Batam. Aku mencintainya. Orang tuaku tidak tahu. Andai mereka tahu pun, kami tetap tidak bisa bersama."
“Kenapa?” tanya Cut tiba-tiba membuat Faisal tertawa kecil.
“Dia Kristen dan keluarganya sangat taat. Keluarganya dan keluargaku tidak akan pernah setuju. Kamu mengerti kan?” Cut menganggukkan kepala.
“Lalu, bagaimana dengan kalian? Apa kamu tidak akan menunggunya? Siapa tahu dia akan kemari lagi begitu Aceh damai untuk menikahimu.” tanya Faisal kembali.
“Saya memilih suami yang lahir di tanah yang sama.” jawab Cut.
“Aku yakin di hatimu masih ada namanya tapi tidak masalah karena di hatiku juga masih ada nama dia. Aku harap kita bisa saling mengerti untuk itu. Apa kamu bisa menerimaku seperti ini? Semuanya belum terlambat untuk kamu mengakhiri jika kamu merasa tidak berkenan.” Cut menatap calon suaminya lekat. Pria di hadapannya saat ini sungguh di luar dugaan.
“Apa kita pura-pura menikah?” tanya Cut ragu.
Faisal tersenyum, “Tidak ada pernikahan palsu jika semua syarat dan rukun terpenuhi. Kita hanya tidak saling memaksa urusan hati masing-masing.” Cut kebingungan.
“Saya tidak mengerti.”
Layaknya tarikan nafas saat ijab kabul begitu juga saat Faisal menarik nafas panjang lalu menjelaskan semuanya sampai Cut mengerti.
Suasana ibukota provinsi masih seperti biasa. Kontak senjata hampir jarang terdengar namun, dalam seminggu ini sudah dua orang guru besar di sebuah kampus ternama yang terletak tidak jauh dari pusat ibukota meninggal terkena tembakan peluru dari orang tidak dikenal.
Sementara perundingan. Dialog, MoU dan banyak lagi agenda dari kedua belah pihak masih terus alot tanpa titik temu. Kedua belah pihak masih tetap pada pendirian mereka tanpa memikirkan berapa nyawa lagi yang harus hilang direnggut secara paksa?
__ADS_1
Hari berlalu berganti bulan. Persiapan pernikahan pelan-pelan sudah terasa. Pernikahan telah disepakati akan diadakan di rumah Mak Cek Siti sebagai perwalian dari keluarga Cut. Berita pernikahan itu menyebar sampai ke kampung halaman Cut melalui undangan yang diterima oleh keluarga Umi dan Abu.
Sementara di lingkungan pasar, Pida si penjual gorengan menjadi penyebar berita paling aktif mengalahkan acara berita di televisi. Dari sudut warung kopi tidak jauh dari pasar, seorang pria duduk dengan tatapan mata tertuju pada lembaran koran di depannya. Tatapannya kosong karena pikirannya sedang beralih ke tempat lain.
Khalid sedang beristirahat sehabis pulang mengantar ikan ke pedagang pasar. Sudah sebulan lebih ia bekerja di tempat penurunan ikan di dermaga Lampulo.
“Semoga kamu bahagia!”
“Ilham, aku sudah menunaikan janjiku. Semoga kamu tenang di sana!” batinnya.
Setelah menyesap kopinya, ia bergegas pergi meninggalkan warung kopi tersebut. Cut memutuskan untuk menjalani pernikahan ini seperti yang sudah mereka sepakati. Mereka sepakat untuk menjalani rumah tangga yang mudah dan bersahabat. Lingkungan serta pergaulan bisa membuka pikiran serta pandangan hidup seseorang begitulah yang terjadi dengan Faisal. Sementara bagi Cut, pernikahan ini akan dia jalani sesuai dengan keinginan sang suaminya kelak. Tanpa paksaan dan tuntutan. Yang terpenting orang tuanya bahagia.
Faisal sering mengajaknya keluar. Jauh dari lubuk hatinya, Cut menyimpan kekaguman pada Faisal. Karakter Faisal sama seperti Razi. Berada di dekatnya membuat Cut nyaman dengan perasaan aman dan tenang.
Hampir setiap hari minggu mereka selalu pergi jalan-jalan hingga menuai reaksi negatif dari beberapa orang penduduk pasar.
“Biarpun sudah bertunangan tapi jangan dibiarkan pergi berdua terus, Umi. Seperti kata orang tua, kalau sering berdua yang ketiga pasti setan.” ucap salah satu pelanggan di ruko Abu yang melihat Cut pergi dengan Faisal.
“Iya, Umi. Abu juga seharusnya melarang mereka pergi. Kenapa tidak menunggu sampai sah dulu baru dibawa-bawa. Takutnya nanti setelah puas dibawa malah tidak jadi nikah.” sahut ibu yang lainnya.
Mae menatap kesal pada ibu-ibu tersebut. Sementara Abu dan Umi hanya mengiyakan saja apa pun perkataan dari ibu-ibu tersebut. Karena Umi dan Abu tahu ke mana tujuan Faisal membawa Cut pagi ini.
“Yang ini cantik, apa kamu suka?” tanya Faisal.
***
LIKE...KOMEN...
__ADS_1
yang banyak yah....