
Mak Cek terus saja memperhatikan gadis yang membuat keponakannya jatuh hati. Tentu saja Reni sebagai objek menyadari jika ia terus mendapatkan perhatian dari beberapa pasang mata.
“Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab! Sudah membuatku masalah, dia malah pergi.” Gerutu Reni dalam hati. Makan malam bersama lalu keluarga Rendra pun pamit karena mereka sudah dijemput oleh bawahn petinggi KODIM.
Sebelum pulang, mereka sudah terlebih dahulu memberitahukan keluarga Cut jika mereka akan kembali ke Jawa dan tentunya membawa Cut dan Iskandar dua hari lagi karena di sana juga akan diadakan acara penyambutan. Serta turut mengundang keluarga dari Aceh.
Rendra menyadari jika adik perempuannya beberapa kali menghela nafas dengan berat. Wajahnya yang sejak tadi murung kini mulai sedikit berubah. Sementara itu, Riko yang berubah kesal karena gagal mendekati sang wanita penakluk hati.
“Kamu kenapa, Ko?” tanya Rendra melirik sekilas wajah sang adik.
“Kalah saing sama produk asing.”
Reni tergelak, setelah kejadian tadi baru sekarang dia tertawa lepas. “Kasihan…” ucapnya lagi dan semakin membuat Riko jengkel.
“Kalian bicara apa sih?” tanya sang mama yang sedari tadi terlihat lelah bersama Bapak Wicaksono.
“Layu sebelum berkembang, Ma.” Ucap Reni.
“Kakak kok pulang sama kami?” tanya Reni kembali.
“Kenapa? Apa kamu bosan sama Kakak karena sudah memiliki ‘KAKAK’ baru?”
“Ehemmm…”
Reni langsung diam sembari menatap tajam kea rah Rendra dan Faris yang sudah berani menggodanya.
“Papa setuju Reni sama cowo tadi? Siapa tahu dia hanya sedang menantang dirinya sendiri bukan karena sungguh-sungguh menyukai Reni. Kasian Reni, Pa. Kalau sampai dia menikah dengan pria tanpa gestur seperti itu.
“Pria tanpa gestur bagaimana?” tanya Bapak Wicaksono penasaran.
__ADS_1
Perdebatan mereka terhenti saat mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan asrama. Karena kelelahan, mereka enggan untuk berdebat lagi hingga semuanya tertidur termasuk sang pengantin baru.
Sementara di kediaman Mak Cek Siti, Cut sudah tidur dengan nyenyak setelah semua rangkaian acara usai. Di sampingnya ada Iskandar dan Intan yang ikut tidur bersamanya. Kamar pengantin yang seharusnya dipakai untuk ia dan Rendra kini malah dipakai oleh Iskandar dan Intan.
Keesokan paginya, Rendra menemani keluarganya berjalan-jalan menikmati pemandangan indah Aceh. Mulai dari pantai-pantainya, makanan hingga beberapa tempat yang menjadi saksi bisu ganasnya gelombang tsunami. Hari berlalu hingga akhirnya perpisahanpun harus terjadi bagi Sebagian kerabat.
“Jaga Cut ya, Nak. Seperti dulu kamu menjaga kampung kami.” ucap ibunya Miftah.
Cut memang mengundang warga kampungnya juga keluarga dari Miftah. Cut memeluk ibunya Miftah dengan air mata terurai. “Kalau dia masih hidup mungkin saat ini dia sudah memiliki anak”
“Allah lebih menyayangi dia, Mak.” Ucap Cut menenangkan ibunya Miftah.
Kepergian Cut disertai doa dari segenap keluarga. Sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu berziarah ke kuburan massal tempat yang diyakini terdapat jasad Abu dan Umi. Keluarga Rendra juga ikut hadir di sana. Mereka menyaksikan langsung bagaimana tanah luas itu menjadi tempat ribuan mayat dikubur tanpa kain kafan.
Keluarga Mak Cek Siti ikut mendampingi Cut ke Jawa. Pak Cek Amir, Mae, Intan dan Faris serta Bang Adi ikut menemani Cut ke sana. Entah kebetulan atau disengaja, posisi duduk mereka seakan direstui oleh semesta. Reni duduk disebelah Bang Adi sedangkan Riko duduk di samping Intan. Mak Cek Siti memangku Iskandar di samping sang suami. Yang lain tentu saja dengan pasangan sendiri termasuk pengantin baru yang belum menunaikan hajat mereka.
Jika dilihat sekilas masing-masing dari mereka mirip pasangan. Riko sesekali melirik ke arah Intan yang sedang fokus membaca novel. Novel-novel yang dulu milik Cut kini telah berpindah tangan menjadi milik Intan.
“Oh…”
“Kamu suka?”
“Suka.”
“Nanti akua jak kamu ke tokonya. Di sana banyak novel-novel bagus.”
“Makasih…”
Riko menyerah. Dia tidak tahu harus bagaimana membuat gadis remaja ini bicara lebih panjang dengannya. Hingga sebuah ide muncul tiba-tiba, “Apa pendapatmu tentang orang asing? Khususnya pria asing.”
__ADS_1
Intan berpikir sejenak lalu, “Menurut apa yang aku lihat selama ini, mereka baik, pekerja keras dan memiliki sifat ingin tahu yang tinggi. Ini terbukti dari banyaknya peneliti yang berasal dari luar negeri.”
Riko mengangguk pelan, “Kamu sendiri bagaimana?”
Riko terkesiap, dia tidak menyangka pancingannya termakan juga. Sementara itu, di barisan belakang. Bang Adi dan Reni terlibat perang dingin yang cukup serius. Sikap dingin dan pendiamnya Bang Adi saat mereka memiliki kesempatan untuk bicara justru tidak dipergunakan dengan baik. Tentu saja ini membuat Reni kesal sekali.
“Cih, kemarin kamu berani bicara dengan orang tuaku. Tapi, sekarang kamu malah tidak memberika penjelasan apapun padaku. Kamu kira aku patung?”
Akhirnya, pesah juga kesabaran Reni pada pria dingin di sampingnya. Bang Adi menarik sedikit ujung bibirnya.
“Aku tidak menganggapmu demikian. Hanya saja aku tidak mau memaksamu bicara jika kamu enggan.” Jawab Bang Adi pelan.
“Cih, bukan begini seharusnya kamu bertingkah. Kamu tahu, kamu hanya berani dengan Papaku tapi tidak berani menghadapiku langsung. Apa kamu takut aku tolak? Atau kamu trauma karena terlalu sering ditolak?” Reni mulai mengeluarkan unek-unek kemarahannya.
Bang Adi tersenyum kecil. Dia sangat sadar jika gadis di sampingnya memang sangat pembangkan juga cerewet. “Menghadapimu kecil untukku!”
Reni menatap tajam sang pria di sampingnya. Emosi dalam dirinya hampir tak tertahankan. Jika tidak ingat tempat maka, ia akan mencakar habis wajah pria menyebalkan ini. “Kita akan bicara nanti setelah tiba, oke?”
Gleg…
Reni susah menelan salivanya. Bang Adi memutar sedikit badannya hingga kini mereka berhadapan dengan tatapan Bang Adi yang mengintimidasi Reni serta kata-kata yang penuh tekanan membuat Reni sedikit gugup dan berdebar.
Cukup lama mereka saling bertatapan hingga suara dibelakang membuyarkan kontak antara keduanya. Siapa lagi suara yang membuat mereka berhenti bicara. Intan yang Riko sedang terlibat perdebatan yang tidak kalah sengit karena mempertahankan pendapat masing-masing. Riko tersenyum dalam hati saat lawannya mulai tersulut emosi untuk terus berdebat dengannya. Dengan begitu, Riko akan terus membuat Intan terus mencari keberadaanya nanti. Intan cukup pintar dan dia sangat tidak tolerir terhadap kekalahan tidak seperti saudara kembarnya.
Sementara Faris yang sedang memangku Iskandar terkejut mendengar perkataan ibunya yang tiba-tiba bicara tentang mencari pasangan. “Ris, kamu cari gadis sekitaran tempat tinggal kita saja ya! Mamak dan Ayah nanti sudah tua dan kami tidak mau hidup hanya berdua. Kalau kamu menikahi gadis yang jauh pasti suatu saat dia akan memintamu untuk pindah dari kami. kalau bisa, cari yang ibu rumah tangga saja biar kalian bisa tinggal bersama kami, yak an Yah?”
“Mamak cari saja kalau begitu!”
“Apa???”
__ADS_1
***