CUT

CUT
Rangkaian...


__ADS_3

Rangkaian acara adat dilanjutkan satu persatu setelah kata sambutan yang disampaikan oleh kepala desa mewakili keluarga Abu selesai. Acara peusijuek atau tepung tawari menjadi salah satu acara puncak dari pernikahan Cut dan Faisal. Keduanya duduk di pelaminan lalu seorang tetua setempat mencipratkan sedikit air dari beberapa pucuk tanaman yang diikat menjadi satu seraya dibacakan doa oleh tetua tersebut. Kemudian, keduanya disuapi ketan kuning yang berhiaskan tumpoe di atasnya.


 


Tumpoe menjadi teman wajib ketan kuning untuk acara sakral seperti pernikahan. Tumpoe sendiri berasal dari pisang masak lalu dihaluskan kemudian diaduk dengan tepung hingga kalis lalu dibuat dalam berbagai bentuk hiasan sesuai keperluan. Adonan tumpoe dihias di atas daun pisang lalu di goreng hingga matang.


 


Setelah menyelesaikan ritual peusijuk, tetua tersebut mengambil amplop dalam kain sarungnya lalu memberikan kepada kedua mempelai. Acara selanjutnya adalah jamuan makan bagi keluarga lintoe yang baru sampai. Keluarga inti lintoe akan dijamu bersama pengantin di dalam sementara yang lainnya akan dijamu di bawah tenda yang telah disiapkan di depan rumah.


 


Cut diarahkan untuk mencuci tangan sang suami untuk pertama kalinya. Kemudian keduanya saling menyuapi makanan hingga minuman.


 


“Lihat itu! Apa kalian tidak ingin juga?” sindir salah satu  kerabat pada Juli yang ikut makan di dalam rumah.


 


“Mak Wa berani kasih kado apa kalau Juli kawin?” tantang Kak Juli.


 


“Mak Wa kasih gelang emas 2 mayam khusus buat kamu.” balas Mak Wa penuh keyakinan.


 


Kak Juli menggelengkan kepalanya. “Satu pintu ruko di jalan Teungku Umar, bagaimana?”


 


“Udah laku semua!” balas Mak Wa lalu memilih berbicara sama kerabat lainnya.


 


Kak Juli kemudian melihat sekilas sang adik yang sedang makan dengan lahap tanpa peduli kiri kanan. Faisal sangat lapar sehingga menutup telinga dari semua omongan kerabatnya. Sementara itu, Cut hanya menikmati beberapa suapan nasi yang terletak di depannya. Ia sangat kelelahan dengan acara hari ini hingga selera makannya ikut berpengaruh.


 


"Makan saja! Anggap kita lagi makan di warung.” ucap Faisal enteng.


 


Cut mengangguk pelan namun itu cukup menenangkan baginya. Ia masih belum mengenal karakter laki-laki yang sudah menikahinya hari ini. Namun sikap dan perkataannya selalu mampu membuat Cut tersenyum kecil.


 


Sikap Faisal belum berubah sampai hari ini mereka sudah menikah. Dia berkata seperlunya dan sikapnya serta perilakunya juga masih sama. Terlihat biasa saja dan menikmati semua yang ia jalani dengan santai. Bahkan di saat ia mengucap ijab kabul raut wajahnya masih terlihat santai dan tenang.

__ADS_1


 


Rangkaian acara telah sampai pada tahap akhir yaitu teumetueb. Seluruh keluarga inti dari mempelai wanita akan duduk di bangku yang sudah disusun rapi lalu kedua mempelai silih berganti akan menyalami para kerabat tersebut dimulai dengan kedua orang tua dari mempelai wanita.


 


Untuk pertama kalinya, Faisal mencium tangan sang mertua, “Jaga Cut untuk kami, ya! Bimbing dia dan tegur dia kalau salah dengan lembut. Jangan sakiti hatinya! Kembalikan dia baik-baik jika kamu tidak menerimanya lagi.” Faisal mengangguk pelan setelah mendengar pesan Abu yang begitu sarat makna. Setelah selesai, Faisal kemudian berjalan ke hadapan Umi. Ia melakukan hal yang sama. “Jaga Cut baik-baik, ya! Hanya dia yang kami punya.” Faisal kembali mengangguk lalu memeluk sang ibu mertua.  


 


Cut berjalan mengikuti sang suami. Air mata kedua orang tua tersebut jatuh tatkala tangan mereka dicium penuh takzim oleh sang putri. Putri yang selama ini mereka besarkan dengan sepenuh hati, putri satu-satunya yang masih menemani masa tua mereka kini harus mereka relakan.


 


“Maafkan semua kesalahan Cut, Abu.” ucap Cut saat ia mencium tangan sang ayah yang sudah tidak muda lagi.


 


“Abu sudah memaafkan jauh-jauh hari sebelum kamu meminta. Ingat semua pesan Abu ya, Nak?” Cut hanya mengangguk pelan. Air matanya sudah mulai jatuh perlahan. Abu merengkuh sang putri dalam pelukannya. Pelukan terakhir karena setelah ini semua hak dan kewajiban sudah beralih pada laki-laki lain.


 


“Maafkan semua kesalahan Cut, Umi.” pinta Cut ketika mencium penuh takzim tangan sang ibu yang selama ini sudah berperan banyak dalam hidupnya. Jasa kedua orang tua tersebut sangat berarti dalam hidup Cut.


 


Umi memeluk sang putri erat seperti enggan merelakannya pergi. Setiap orang tua pasti akan merasakan hal yang sama saat melihat putri yang selama ini disayangi sepenuh hati telah dimiliki oleh pria lain. Siapa pun orang tua pasti susah untuk merelakannya.


 


 


“Capek ya?” Cut mengangguk pelan dengan suara yang cukup kecil.


 


“Aku tidak dengar suaramu. Bicara saja! Kita bukan patung pajangan di atas sini. Mereka juga tidak dengar apa yang kita bicarakan.” ucap Faisal dengan tatapan mengarah ke berbagai penjuru.


 


“Cut, selamat ya! Maaf kami baru datang.”


 


Suara itu membuat Cut terkejut sekaligus senang. Dokter Widia datang bersama beberapa rekan di rumah sakit jiwa. Cut masih mengingat mereka dengan baik sehingga kedatangan mereka membuahkan kebahagiaan bagi Cut. mereka berjabat tangan dan memeluk Cut bergantian.


 


“Cut pikir, Dokter sama kakak-kakak tidak akan datang.” ucap Cut masih menggenggam erat tangan dokter Widia.

__ADS_1


 


“Kami pasti datang untuk melihatmu bahagia. Selamat ya! Akhirnya kamu menemukan kebahagiaan yang selalu kamu impikan. Semoga pernikahan ini langgeng sampai akhir hayat seperti Abu dan Umi.” ucap Dokter Widia diangguki oleh yang lainnya.


 


Beberapa perawat laki-laki ikut masuk untuk memberikan selamat kepada Cut dan Faisal. Kebahagiaan yang Cut rasakan ketika berhadapan dengan mereka terpancar jelas dari wajah Cut. Ia tersenyum sambil sesekali tertawa lepas ketika mendengar gurauan dari para perawat yang dulu merawatnya. Semua pancaran kebahagiaan itu tidak luput dari perhatian Faisal.


 


Selama ini, Faisal tidak pernah melihat Cut sebahagianya ini. Ia begitu lepas ketika berbicara dengan mereka seakan kehadiran Faisal tidak terlihat di sana.


 


Setelah berbincang beberapa menit dan berfoto bersama, rombongan Dokter Widia kemudian meminta izin karena harus kembali bekerja. Setelah melepas kepergian mereka, Cut baru sadar jika di sampingnya ada seorang laki-laki.


 


Wajah yang tadi ceria tiba-tiba kembali seperti sebelumnya. “Maaf,”


 


“Kenapa?” tanya Faisal dengan kening berkerut seraya menatap Cut.


 


Cut gelisah, “Saya tidak sadar ada Abang di samping.” ucap Cut terbata-bata.


 


“Kamu lebih bahagia bertemu mereka dari pada aku?”


 


“Eh..” Cut kaget lalu menatap Faisal dengan bingung.


 


“Wajah kamu saat bicara sama mereka terlihat sangat bahagia bahkan kamu bisa tertawa lepas. Sangat berbeda jika kita sedang bersama. Kenapa kamu berubah saat kita berdua begini?”


 


Cut bingung harus menjawab bagaimana karena dia sendiri tidak mengerti dengan perubahan sikapnya saat bertemu rombongan Dokter Widia atau saat bersama Faisal.


 


“Kenapa diam?”


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...LIKE...


yang banyak yahhhh...


__ADS_2