CUT

CUT
Pulau Mencekam...


__ADS_3

Kehamilan Cut berjalan lancar walaupun dengan segudang keluhan yang harus dirasakan oleh Faisal selaku sang suami. Sifat manja yang dulu tidak terlihat pada diri Cut kini secara tidak terduga menghiasi tingkah laku Cut yang jauh dari perkiraan bahkan tidak terpikirkan sama sekali oleh keluarganya. Cut menjadi sangat manja ketika berada di samping suami dan jika Faisal bekerja, ia akan meneleponnya setiap saat hingga Faisal tidak tahan sampai harus bicara pada Mak Cek Siti.


“Sepertinya dia sangat mencintaimu, ya?” goda Mak Cek Siti seraya menyesap teh dingin di warung dekat kantornya.


Faisal sengaja meminta bertemu dengan Mak Cek Siti di luar, ia menganggap Ma cek Siti bisa memahami apa yang sedang menimpa dirinya.


“Jadi, apa solusinya ini?” tanya Faisal serius.


“Tenang saja, biar Mak Cek yang bicara pada Cut.


Jika Faisal sedang bertempur dengan perilaku sang istri begitu juga yang sedang terjadi di seberang pulau. Khalid sedang menjadi objek tempur bagi ketiga istrinya gara-gara ia menyelinap diam-diam ke rumah Mala si istri ketiga.


“Malam ini jatahku, kenapa Abang ke rumah Kak Mala?” protes Tari.


“Maafkan, Abang. Ada yang perlu Abang bicarakan dengan Mala makanya Abang ke sana.” elak Khalid.


“Kak Mala juga, sudah tahu malam ini jatah Tari kenapa Kakak terima Bang Khalid ke sana?” lanjut Tari.


“Eh, aku tidak mau dosa gara-gara mengusir suami.” jawab Mala cepat.


Tari tidak lagi protes pada Mala, ia sendiri paham betul perkataan Mala tersebut. Dengan matanya, ia menelisik tajam ke arah Khalid. “Awas, Abang!” peringatan khas Tari lalu pergi meninggalkan Khalid yang masih berdiri terpaku menatapnya. Sang kakak dengan perut besarnya juga mengikuti sang adik yang sama-sama tengah mengandung.


Mala juga ikut meninggalkan Khalid. Tanpa kata, ia meninggalkan Khalid yang masih mematung di depan rumahnya. Ditinggal ke tiga istrinya, Khalid hanya bisa menghela nafas dengan berat. Ia tidak menyangka aksinya menyelinap ke rumah Mala berbuntut panjang.


Karena merasa lelah, Khalid memilih pergi ke bukit kelapa tidak jauh dari tempatnya saat ini. Ada sebuah pondok kayu yang ia buat di atas bukit. Tempatnya sangat indah, dari atas bukit, ia bisa melihat indahnya laut lepas dengan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan badan serta hati.


Khalid memandang laut lepas dengan perasaan tidak karuan. Bayang-bayang Ilham, Halimah serta Cut mendatanginya satu persatu. Lamunannya terhenti ketika sorot matanya menatap sesuatu kejanggalan di laut. Beberapa kapal kecil dengan warna yang sangat ia hindari sedang berlayar menuju pulaunya.

__ADS_1


Ya...kapal serta beberapa bot berwarna hilau gelap dengan bendera merah putih tertancap jelas di depan kapal dan bot membuat Khalid langsung bangun berdiri dari duduknya. Ia ingin memastikan namun jiwa gerilyawannya mampu menahan hingga ia memilih jalan lain.


Khalid lari ke dalam hutan lalu mendaki bukit lainnya tanpa lelah. Tidak sekalipun ia melihat ke belakang. Yang ia tahu hanya lari untuk menghindari para tentara pemerintah.


“Sial, kenapa mereka bisa tahu aku di sini?” umpat Khalid seraya berlari memasuki lebih dalam area bukut dengan pepohonan yang sangat lebat.


Di bawah, para warga pulau histeris melihat banyaknya tentara yang datang ke tempat mereka tanpa salam. Beberapa di antara mereka mendatangi setiap rumah lalu meminta pemilik rumah untuk keluar.


“Tari, Ceudah, ayo keluar!” pinta sang ibu. Keduanya dengan perut besar mengikuti sang ibu ke depan dengan perasaan takut apalagi jika mereka ketahuan menikahi seorang pemberontak.


Para warga diliputi rasa takut yang mencekam. Selama ini, kampung mereka tidak pernah kedatangan aparat  tapi sekarang, mereka justru takut dan bertanya-tanya, apa yang membuat pulau mereka didatangi oleh aparat seperti ini?


Suasana mencekam diliputi ketakutan terlihat jelas dari para warga kampung pulau tidak terkecuali para istri Khalid. Mereka gelisah seraya mencari sosok tersebut. Tari dan Ceudah menangkap sosok Mala yang berjalan bersama orang tuanya. Mala sendiri berusaha mencari sosok mereka hingga sorot matanya bertemu dengan mata Tari dan Ceudah.


Mereka bicara dengan isyarat, Mala menggeleng begitu juga sebaliknya. Mereka hanya bisa berharap dalam hati supaya suami mereka tidak kembali saat ini atau status mereka serta anak akan menjadi yatim sebelum lahir.


"Yang lagi hamil, kemari!” suara tegas seorang tentara mampu membuat para wanita hamil yang berjumlah sekitar delapan orang di pulau tersebut gemetar.


“Panggil suami kalian!” suara berisi perintah kembali terdengar.


Suami ke delapan wanita hamil itu langsung bergegas menuju tempat istri mereka berdiri. Tinggallah, Tari dan Ceudah yang saling menggenggam tangan masing-masing dengan perasaan takut.


Wanita hamil yang memiliki suami disuruh pergi, para tentara tersebut kini menatap lekat pada Tari dan Ceudah yang menunduk ketakutan. Keuchik Banta selaku ayah juga tidak bisa berbuat banyak. Pagi menjelang siang dengan cahaya atahari yang mulai terik semakin membuat sesak kedua wanita yang tengah hamil itu.


Pulau yang tadinya hijau kini bertambah hijau dengan banyaknya tentara yang datang ke sana. Mereka menyisir setiap rumah hingga kebun warga. Surau yang seharusnya jadi tempat untuk beribadah kini sudah mereka ambil. Mereka mendirikan pos darurat di depan surau warga yang bertanda bahwa mereka akan tinggal lama di sana.


“Di mana suami kalian?” tanya seorang tentara.

__ADS_1


Keduanya terus menunduk takut serta bingung harus mengatakan apa. “K-kami  tidak tahu, Pak.”


Brakkk...


Sebuah kursi melayang ke samping Tari diikuti jeritan Tari yang ikut terkejut.


“Jangan sampai kami bermain kasar. Apa kalian tidak sayang sama anak dalam perut? Sekarang katakan yang seharusnya, di mana Khalid?”


“Jika kalian mengatakannya, kami hanya akan menangkap dan memenjarakannya. Anak-anak kalian juga masih bisa bertemu bapaknya. tapi jika kalian berbohong, saya pastikan kalian atau anak kalian tidak akan pernah mengenali siapa bapaknya.”


Tari panik, “Saya tidak tahu, Pak. Tadi pagi kami bertengkar lalu Bang Khalid tidak pulang-pulang lagi setelah saya ancam.” Jawaban Tari justru mengundang keingintahuan lebih dari para tentara tersebut.


Tari gamang, walaupun dia marah karena Khalid menyelinap diam-diam ke rumah Mala tapi dalam hatinya, dia tetap mencintai Khalid. Dia tidak mau melahirkan dalam kondisi janda.


“Kenapa kalian bertengkar?”


Tari menceritakan kembali kejadian tadi pagi hingga akhirnya membuat mala yang tadinya aman-aman saja harus terseret kembali.


“Bagus, karena dia juga harus merasakan apa yang kalian rasakan saat ini. Ternyata kamu pintar juga tapi sayang kamu memilih laki-laki yang salah sebagai suami.” ucap tentara itu lalu memerintahkan anak buahnya untuk membawa Mala.


“Cinta itu buta, Pak.”


***


LIKE...KOMEN...SHARE


Terima kasih...selamat menunaikan ibadah puasa

__ADS_1


__ADS_2