
Hari-hari Cut berlalu dengan baik dalam segala hal tapi hati Cut tidak bisa berbohong jika ia masih saja minder dengan kondisi kakinya. Istri seorang prajurit yang pangkatnya sudah lebih dari anggota lain tidak serta merta membuat Cut jumawa ditambah dengan fisiknya yang cacat.
“Aku yakin kalau Ibu Rendra tidak cacat pasti beliau akan sombong juga sama seperti Ibu Wahyu dan ibu-ibu yang lain. Tahu sendiri kan di sini. Pangkat suami menjadi acuan kesombongan seorang istri. Kita juga begitu nanti kalau suami kita sudah naik pangkat.” Salah satu ibu persit berkata pada teman-temannya.
“Tapi, Istri pertama Bapak Rendra juga tidak sombong, ya kan?”
“Iya, tidak sombong. Tapi bergaul dan apa yang dia pakai sudah cukup mengatakan jika dia tidak selevel dengan kita.” Sahut yang lainnya.
“Mungkin karena istri pertamanya wanita karir jadi memang begitu penampilannya. Kalau sekarang kan istrinya sama kayak kita. Ibu rumah tangga. Tapi kalau saya jadi Ibu Rendra yang sekarang, saya tidak akan malu karena cacatnya itu kan karena musibah tsunami.”
Para istri prajurit itu kembali bergosip ria di komplek asrama mereka. Sementara di rumah yang tidak seberapa jauh dari sana, sepasang suami istri juga tengah menikmati camilan sore berupa getuk yang Rendra bawakan saat kembali dari kantor untuk sang istri.
“Setelah beberapa hari ini aktif di organisasi. Apa yang kamu rasakan, Sayang? Apa kamu nyaman bertemu dengan mereka?”
“Alhamdulillah. Mereka semua baik dan menyenangkan, Bang.”
“Baguslah kalau begitu. Saya senang mendengarnya. Hari ini sudah menelpon Iskandar?”
“Sudah. Tadi sepulang dari acara langsung telepon ke Aceh.”
Sepasang suami istri itu kembali bercerita banyak hal tentang apa yang terjadi sepanjang hari ini. Begitulah rutinitas mereka berjalan tiap hati hingga tidak terasa pernikahan mereka sudah mencapai satu tahun. Waktu yang dinikmati berdua dengan santai, penuh kasih berjalan begitu cepat. Berbeda dengan waktu bagi mereka yang menunggu.
Ya, Reni sang adik ternyata masih menunggu lelaki bernama Adi datang melamarnya. Entah ilmu apa yang dipakai oleh Bang adi hingga Reni menolak lamaran setiap pria yang mencoba dekat dengannya hanya karena menunggu Bang adi.
“Kamu pernah bilang jika wanita itu tidak perlu menunggu pria yang tidak pasti. Lebih baik terima yang pasti-pasti saja dari pada menunggu tidak jelas begini.” Ucap Riko pada sang adik yang tengah melamun menatap ke arah jendela kamarnya.
Ia turut prihatin tapi adiknya tetap saja berharap Bang Adi akan segera ke sini. “Daripada kamu menunggu dia tidak jelas begini lebih baik kamu datangi saja dia! Lihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana dia di sana?”
__ADS_1
Reni bergeming, dia memutar badannya lalu menatap sang saudara kembar lekat. “Ayo, aku temani!”
Reni berlari ke arah Riko lalu memeluknya erat. “Kamu mau membunuhku?” Riko mengusap dadanya pelan lalu tersenyum menatap sang adik yang sudah bersemangat kembali.
“Ayo, kita temui pria aneh itu. Aku akan membuatnya menyesal telah membuatku menunggu selama ini.”
“Tunggu! Bagaimana kalau ternyata dia sudah menikah?”
Deg…
“Maka aku akan menghancurkan pernikahannya.” Ucap Reni mantap.
Riko memandang Reni dengan tatapan bingung dan sedikit ketakutan. “Aku salah memberi ide.” Riko keluar dari kamar saudara perempuannya dengan gelengan kepala seraya dua jarinya memeijit kening yang terasa berat.
Malam harinya, dua saudara kembar itu langsung menyampaikan niat mereka pada keduaa orang tuanya. Awalnya, Bapak Wicaksono keberatan tapi setelah mendengar tujuan dan rencana bisnis putranya di sana membuat Bapak Wicaksono akhirnya menyetujui keberangkatan mereka.
“Pa, Ma. Kami ke sana dalam misi khusus jadi tolong rahasiakan ini dari Kakak dan Kakak ipar.” Pinta Reni.
“Apa kamu tidak malu ke sana untuk mencari pria? Kamu akan dianggap murahan dan dipikir mereka kamu tidak laku sampai harus ke sana untuk menemuinya lebih dulu.” Lanjut Ibu Yetti.
“Ma, aku ke sana bukan untuk minta dinikahi. Hanya ingin memastikan jika dia pantas tidak untuk aku tunggu. Sekalian aku juga mau lihat projek yang Riko bilang tadi. Kalau prospeknya bagus, mungkin aku bisa gabung juga.”
“Terserah kalian kalau begitu. Tapi ingat, jangan membuat malu keluarga.” Bapak Wicaksono mengingatkan kedua anaknya.
Beberapa hari kemudian, setelah menyelesaikan urusan di kantor. Reni dan Riko sudah bersiap menuju Aceh. Mereka datang tanpa menghubungi siapapun terlebih dahulu. Layaknya seorang turis mereka menempuh perjalanan hanya berdua. Dua buah kamar mereka sewa di sebuah hotel yang tidak begitu jauh dari kediaman Mak Cek Siti. Riko dan Reni ingat jika rumah Mak Cek siti dekat dengan mesjid raya dan tidak jauh dari sana ada sebuah hotel.
Setelah menyimpan koper kecilnya, mereka langsung keluar mencari makanan. Berjalan kaki mencari warung. Satu hal yang membuat mereka bingung sampai di sana adalah mereka sama sekali tidak memiliki alamat rumah Bang Adi.
__ADS_1
“Ini namanya nekat terencana dan pasti gagal kalau begini.” Ucap Riko.
“Selama ini dia tidak pernah menceritakan apa pekerjaan dan alamatnya padamu?” tanya Riko kembali dan hanya mendapat gelengan kepala dari Reni.
Riko menghela nafasnya kasar. “Jadi, selama ini kalian bicarakan apa saja di telepon?”
“Tidaka ada. Kami jarang bicara lewat telepon. Kadang hanya kirim pesan saja itupun hanya sebentar.” Jawab Reni jujur.
“Kurang ajar. Jadi selama ini kamu hanya dipermainkan? Sudahlah, kita kembali saja. Percuma juga kalau jauh-jauh ke sini ternyata komunikasi kalian saja sudah kacau lebih dulu. Kalau dia betul-betul sayang sama kamu, dia akan menghubungimu SETIAP HARI walau bukan tiap menit.” Riko memberi tekanan pada kata-katanya dengan harapan sang adik akan mengerti.
“Kalau begitu, kita akan pulang setelah kita selesaikan. Aku akan selesaikan ini semua baru kembali. Supaya tidak ada yang mengganjal di hatiku, Ko. Lagian kita udah jauh-jauh ke sini tapi tidak ada hasil apa-apa. Kan rugi.” Kilah Reni kembali.
Keduanya menyetujui dan mau tidak mau mereka harus mendatangi rumah Mak Cek Siti.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, mereka langsung menuju rumah Mak Cek Siti dan betapa terkejutnya Mak Cek Siti saat membuka pintu ternyata tamu jauh yang tidak disangka-sangka datang ke rumahnya. Begitu tahu jika mereka menginap di hotel, Mak Cek siti langsung menyuruh Faris untuk mengantar sepasang saudara kembar ini kembali ke hotel.
“Kalian menginap di sini, tidak ada bantahan. Kalian sudah menjadi bagian dari kelarga kami juga. Sudah sepatutnya kalian menginap di sini bukan di hotel. Pergilah sama Faris dan bawa barang kalian kemari. Mak Cek Akan siapkan kamar.”
“Tante eh Bibi aduh kami panggilnya apa ya?” tanya Reni bingung.
“Panggil Mak Cek saja sama seperti abang kalian!”
“Tolong jangan beri tahu Bang Adi kalau kami di sini ya!” pinta Reni kembali.
“Jeh, aku baru aja ngasih tahu B-“
“Gagal sudah….”
__ADS_1
***