CUT

CUT
Luka...


__ADS_3

Mereka terus berbincang dan lebih dari setengah permbahasan mereka adalah nenek dari Iskandar. Sementara di dalam mobil, Anugrah yang sedari tadi terus memikirkan sang kakak akhirnya berani mengajukan pertanyaan pada sang nenek.


“Mama bilang kami bisa pergi main asala jangan lupa kunci pintu. Itu artinya Kakak juga boleh ikut sama kita. Kenapa Nenek tidak mengajak Kakak sekalian? Dia kan lagi libur juga.”


“Kenapa Cucu Nenek yang tampan ini banyak sekali bertanya hari ini? Nenek mengajakmu jalan-jalan untuk bersenang-senang bukan untuk diintrogasi begini. Adek niat banget yan pengen jadi tentara? Tapi tentara itu tidak mengintrogasi orang.” Ibu Yetti berusaha mengalihkan topik.


“Eits, siapa bilang. Papa pernah cerita dulu waktu Papa tugas di daerah Mama. Papa sempat introgasi Mama. Introgasi itu  tetap ada saat menangkap orang yang statusnya abu-abu, Nek.” Ibu Yetti cukup paham dari mana sang cucu bisa mengetahui hal-hal seperti ini.


“Ya sudah belajar yang rajin dan minum susu yang banyak supaya kamu kuat. Jadi tentara itu badannya mesti bagus dan kuat.”


“Nenek belum jawab pertanyaan Adek.”


Bapak supir yang sedang menyetir ikut tersenyum kecil mendengar majikannya kualahan menghadapi sang cucu.


“Pertama, Kakakmu belum membereskan rumah kalau kita ajak, siapa yang akan membersihkan rumah? Kedua, sekarang banyak maling, siapa yang akan menjaga rumah kalau Kakakmu ikut?”


Anugrah memikirkan alasan yang diberikan oleh sang nenek dan sedikit masuk akal tapi tetap saja hatinya seperti tidak terima. Selama seminggu ditinggal berdua dengan sang kakak. Anugrah sangat senang dan baru menyadari jika kakaknya tidaklah menakutkan. Hanya saja, kakaknya itu irit bicara. Kalau istilah iklan rokok ‘talk less do more’


Di saat sang adik berbahagia, sang kakak juga bahagia dengan caranya. Setelah puas berbincang, mereka langsung tancap gas dengan sepeda masing-masing untuk berkeliling menuju taman. Iskandar mengambil sepeda sang adik karena sepedanya sudah tidak ada sewaktu dia kembali. Sepeda masa kecilnya sudah tidak mungkin dia naiki hingga akhirnya sang ayah menjual sepeda itu. Rendra berencana untuk membeli sepeda lain yang seukuran dengan postur tubuh sang putra yang terlihat sudah tinggi hampir menyamai dirinya. Namun, karena Iskandar tidak pernah pulang saat libur. Sepeda yang seharusnya untuk Iskandar malah menjadi milik sang adik. Yang saat itu sudah mulai masuk kelas lima sekolah dasar.


“Ambil saja! Kan cuma pinjam doang sebentar.” Cetuluk salah satu teman.


Iskandar yang biasanya dibonceng oleh tema depan rumahnya kini bersepeda dengan sendiri menggunakan sepeda Anugrah. Satu hal yang akan mereka lakukan hari ini adalah bertanding balapan sepeda.


“Ayolah, aku rindu kita balapan sepeda lagi. Cuma kali ini kita pilih rute aman aja jangan sampai kejadian dulu terulang kembali.” ucap salah satu teman mereka.


“Mama kamu ada di rumah kan, Dit? Untuk jaga-jaga aja.” Celutuk yang lain.


Untuk mencari rute aman, mereka harus pergi sedikit jauh dari komplek. Mereka terus mengayuh sepeda sampai di area persawahan yang cukup kering. Saat ini di daerah mereka sedang dilanda musim kemarau hingga cuaca pagi yang biasanya dingin dengan cepat berganti panas.

__ADS_1


“Siap!” Adit tidak ikut bermain. Dia hanya menjadi wasit yang bertugas memberikan aba-aba untuk mereka yang akan bermain. Sembilan sepeda telah bersiap di samping mereka ada Adit yang juga telah bersiap dengan memegang sepotong ranting kayu.


“Go!!!!” area sawah kering yang mereka gunakan memang tidak mulus tapi cukup luas untuk dijadikan tempat balapan sepeda tampa harus takut diserempet motor atau lainnya. Hanya saja, tanah sawah kering itu tidak cukup mulus untuk membuat jalannya sepeda bisa meluncur halus dan indah. Mereka sulit melajukan sepeda dengan kekuatan maksimal karena tanahnya tidak rata dan banyak yang retak. Iskandar masih melajukan sepedanya dengan cepat walau sedikit kesusahan tapi dia tidak akan pantang menyerah hingga akhirnya –


Bugghhhh….


“Aaaaaaaa”


Sepeda yang Iskandar kayuh menaiki batu hingga oleng ke kanan hingga jatuh dan lebih parahnya lagi adalah teman Iskandar yang berada di belakang ikut terjatuh lantaran tidak bisa menghentikan laju sepeda secara mendadak.


Dalam sekejab mereka menghentikan laju sepeda sampai ada yang langsung melompt dari sepeda saat melihat kedua teman mereka terjatuh dan saling menimpa. Mereka panik berlari menghampiri kedua temannya.


“Is, De, kalian tidak apa-apa?” tanya polos Adit.


“Kamu, Dit. Udah tahu teman kayak gini malah tanya tidak apa-apa. ya jelas ada apa-apa lah sama mereka. Sekarang kita bantu mereka lalu bawa ke rumah UGD.” Celutuk Beno.


“Gak usah bawa ke rumah sakit. Nanti Papaku bisa marah kalau tahu kita main balap sepeda.” Sela Iskandar.


“Kita gak ke rumah sakit tapi ke UGD ‘Unit Gawat Adit’”


Mereka serempak mencibir Beno, “Gak nyambung!”


Beno membonceng Iskandar sedangkan Andi membonceng Deni. “Sepeda Deni sama Iskandar kalian urus ya! Kami bawa mereka dulu takutnya ada apa-apa. bisa habis Makku ngamuk.” Titah Beno.


“Adit, Mama kamu standby kan?” tanya Beno memastikan.


Adit mengangguk lalu ketiga sepeda itu langsung melaju menuju rumah Adit. Sementara teman yang lain harus berpikir keras bagaimana caranya membawa pulang dua sepeda tersebut. Begitu sampai di rumah Adit, mereka langsung masuk dan lagi-lagi Mama Anita hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Jatoh di mana?” tanya Mama Adit saat membersihkan luka pada Iskandar. Sementara Adit ikut membantu Deni seraya melihat gerakan ibunya.

__ADS_1


“Di area sawah kering belakang komplek, Ma.” Jawab Adit.


“Siapa yang menang?” tanya Ibu Adit kembali.


“Gak ada, Ma. Mereka langsung berhenti saat Is dan Deni jatoh.”


“Syukurlah, teman-teman kalian hebat. Mereka tidak egois mementingkan diri sendiri.


Mama Adit dengan telaten membersihkan lalu mengobati mereka. Lima belas menit kemudian, teman-teman Adit yang lain sudah berkumpul di sana melihat keadaan teman mereka. Bagi Mama Adit, kecelakaan seperti ini sudah sering beliau hadapi. Karena selama tidak ada Iskandar, anak-anak ini tetap bermain balapan dan kalau ada yang luka pasti larinya ke rumah Mama Adit. Selain cantik, Mama Adit juga tidak marah-marah seperti kebanyakan mama mereka.


“Adit, buatkan minum untuk teman-teman. Pasti mereka haus. Buat minuman dingin ya!” titah lembut Mama Anita begitu menghipnotis mereka.


“Beno bantu ya tante!”


“Silakan, dapurnya tahukan?”


Tidak hanya Beno, beberapa teman Adit yang sudah biasa main ke sana sudah sangat paham letak dapur dan tidak sungkan lagi. Ayah Adit juga orang yang ramah dan baik menurut mereka. Itulah yang menyebabkan mereka sangat suka bermain di rumah Adit. Bapak dan ibunya sangat baik tidak pemarah dan bersuara lembut.


“Tante dengar kamu mau ke Yaman, ya?”


“Insya Allah, Tan. Sebulan lagi kalau tidak ada halangan.”


“Belajar yang rajin di sana ya! Jangan sia-siakan kesempatan ini. Kamu harus sukses untuk membuat Mamamu bangga. Dengan begitu, kamu sudah mengangkat derajat Mamamu menjadi ibu terbaik karena berhasil mendidikmu hingga sukses.”


“Buktikan pada mereka jika kamu bukanlah anak yang pemberontak. Kamu anak baik yang lahir dari ibu yang baik. Kalau kamu sukses, maka orang-orang yang selama ini merendahkan ibumu akan menyesal.”


“Kenapa Tante bicara begitu?”


***

__ADS_1


__ADS_2