
Dr Guney menghela nafasnya setelah melakukan pemeriksaan pada Cut di ruang UGD. Cut dilarikan kembali ke rumah sakit karena pingsan saat sampai di area kuburan massal.
“Bagaimana, Dokter?” tanya Pak Cek Amir panik.
“Tidak apa-apa. Dia hanya belum siap menerima semua ini. Hanya waktu yang mampu membuat Cut sanggup menerima semua ini. Tugas kita hanya menunggu.”
Lima menit kemudian, Cut kembali membuka mata dan langsung disambut hangat oleh Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti. Setelah mendapat persetujuan dari dr Guney, mereka langsung kembali ke rumah. Perasaan Cut kosong melihat bagaimana keadaan diluar sana setelah sekian bulan dia tidak keluar dari rumah sakit.
Hidup harus tetap berjalan karena waktu tidak akan pernah terulang. Cut mulai kembali menata diri menghadapi semua kesedihan akibat kehilangan. Perlahan tapi pasti, kesedihan itu akan lenyap dengan sendirinya ditambah dengan keberadaan Iskandar yang menjadi obat penawar untuknya. Pak Cek Amir dan Mae masih mencari Rendra kecil di hari-hari libur. Mereka sudah kembali melakukan rutinitas seperti sebelum musibah itu terjadi.
“Assalamualaikum.”
Deg…
Cut tahu pasti siapa pemilik suara ini.
“Walaikumsalam.”
Cut menjawab salam sedikit terbata seraya menatap sekilas pada sang tamu. Cut sedang bermain dengan Iskandar sedangkan Intan sedang mencuci baju di belakang. Hanya mereka bertiga yang ada di rumah saat ini. Mak Cek Siti dan Faris sudah pergi berbelanja sementara Mae dan Pak Cek Amir sudah pergi mencari Rendra kecil.
“Halo Iskandar?”
Bayi itu berjalan ke arah Rendra tertatih. Rendra mendudukkan dirinya di samping Cut. “Bagaimana keadaanmu?”
“Baik,”
Cut melihat interaksi kedua laki-laki berbeda usia itu dengan perasaan campur aduk. “Seharusnya kamu begitu dengan ayahmu.”
Cut membatin melihat putranya begitu dekat dengan lelaki asing. “Sepertinya dia mudah akrab dengan semua orang.”
“Kami sering bertemu saat kamu di rumah sakit.”
Deg…
Lagi-lagi Rendra melakukan hal yang sama seperti saat Rendra kecil dulu.
__ADS_1
Senyum kecil tercipta di sudut bibir Rendra saat menyadari jika lawannya sedang salah tingkah. Namun, ia tetap berusaha untuk mendekati secara perlahan walau sebenarnya dia sudah tidak sabar ingin memiliki wanita ini.
“Kita keluar, mau?” tanya Rendra membuat Cut terkesiap.
“Ke-kemana?”
“Jalan-jalan saja di sekitaran sini. Tidak perlu takut, kan saya tidak menggunakan seragam. Aceh sudah damai, tidak ada lagi tembak-menembak.”
“Ayo!”
Rendra menarik sebelah tangan Cut dengan sebelah tangan yang lain menggendong Iskandar. Cut terkesiap, “Sa-saya bilang sama Intan dulu.”
Cut melepaskan genggaman Rendra lalu berjalan ke dapur mencari Intan. “Dek, Kakak diajak keluar sama Bang Rendra. Iskandar juga ikut.”
“Oke!”
Cut mengernyit menatap sang adik sepupu yang kelihatan santai menanggapi perkataannya. “Pergi dan nikmati hidup yang masih Allah berikan untuk Kakak. Laki-laki tidak semuanya buruk.”
Cut menggeleng pelan lalu melangkah keluar mengikuti Rendra yang sudah berdiri di ambang pintu. Kata-kata Intan terus menghantuinya.
“Ada apa? Dari tadi kamu melamun terus? Ada yang menggangu pikiranmu?” tanya Rendra saat keduanya berjalan menuju lapangan depan rumah Pangdam.
“Tidak ada.”
“Katakan saja! Saya siap mendengarkan.” Cut bingung harus mulai dari mana. Terlalu banyak yang menghantui pikirannya saat ini.
“Abang tidak tugas?” cicit Cut dan berhasil membuat Rendra tergelak.
“Dari tadi kamu diam karena ingin bertanya itu? Kalau saya tugas tidak mungkin saya di sini bersama kalian.”
Cut meremas kain jemarinya mendengar Rendra tertawa seakan sedang menertawakan dirinya. “Kita duduk di sini saja!”
“Boy, ayo kita main bola berdua. Biarkan Mamamu memikirkan pertanyaan yang bagus dulu.” Ucap Rendra lalu mengajak Iskandar bermain dengan bola kecil yang sedari tadi berada di genggamannya.
Cut melihat keduanya dan lagi-lagi air matanya turun. Kilatan-kilatan masa lalu bersama Faisal kembali bermunculan.
__ADS_1
“Kamu di mana? Apa kamu tidak merindukannya? Lihatlah dia! Anakmu sedang bahagia dengan pria asing. Apakah kamu tidak ingin bermain dengannya? Maafkan aku! Andai aku tidak menyuruhmu pergi, mungkin kita masih bersama. Apa kamu sudah bahagia dengan anakmu yang di sana? Tidak rindukah kamu pada putra kita? Bang Fais, pulaglah! Temui Iskandar! Dia juga butuh ayahnya.”
Cut menyeka air matanya cepat namun Rendra berhasil melihatnya. Rendra dilema menghadapi wanita satu ini. Keputusannya untuk mengajukan pindah tidak berjalan mudah. Sementara itu, usaha untuk mendapatkan hati sang wanita juga sulit.
Tidak banyak yang mereka bicarakan. Rendra menyadari satu hal jika jalannya memang tidak akan mudah untuk mendapatkan Cut kembali. Mereka kembali karena Iskandar sudah mulai rewel akibat kelelahan sampai ia tertidur dalam gendongan Rendra.
Intan menyambut kepulangan mereka dengan senyum merekah. Ia hendak mengambil Iskandar namun Rendra mencegahnya. “Biar Abang saja!”
Rendra mengikuti Intan lalu menidurkan Iskandar di dalam ayunan. Semua yang Rendra lakukan tidak luput dari pantauan manik hitam Cut. Selepas kepergian Rendra, Intan mengajak Cut bicara dengan mimik wajah serius.
“Kakak pasti tahu kan jika Bang Rendra mendekati Kakak pasti ada maksudnya?” Cut mengernyit menatap sang adik sepupu yang kelihatan berbeda saat ini.
“Jangan bilang Kakak tidak tahu jika Bang Rendra ingin mendekati Kakak lagi. Terus rencana Kakak selanjutnya apa?”
Kali ini Cut hanya bisa menghela nafasnya. Pertanyaan Intan cukup sulit untuk dijawab saat ini karena dirinya belum memikirkan ke arah itu.
“Kakak tidak tahu.”
“Rencana Kakak selanjutnya apa?”
Cut menatap lekat adik sepupunya seakan menyiratkan kebimbangan yang dalam. “Kak, bukan kita saja yang kehilangan. Semua orang mengalami hal yang sama bahkan ada yang lebih parah. Kakak kan sudah lihat bagaimana kondisi setiap pasien korban tsunami di rumah sakit. kita semua harus bisa bangkit dari musibah ini. sampai kapan kita terus bersedih dan menangisi orang-orang yang sudah kembali? Mereka membutuhkan doa kita bukan tangisan. Dan memang itu sudah menjadi takdir mereka. Lihat saja kondisi Kakak. Tidak ada yang percaya jika Kakak bisa sembuh seperti sekarang. Bahkan, Dokter saja menatap pasrah saat melihat keadaan Kakak pertama kali.”
“Tapi memang Kakak belum saatnya dipanggil oleh yang kuasa jadi walau bagaimanapun keadaan Kakak saat itu. Kakak masih bisa ditolong.”
“Kakak belum memikirkan apapun sekarang, Dek. Banyak hal yang masih harus Kakak pikirkan. Apalagi menikah kembali. Kakak belum siap untuk itu.” Lirih Cut.
“Apa Kakak masih berharap Bang Fais kembali? Kakak yakin Bang Fais akan kembali ke sini? Bahkan keberadaannya saja kita tidak tahu. Terima saja Bang Rendra dan hiduplah bahagia dengannya.”
“Ya, hiduplah bahagia dengan laki-laki itu tapi tinggalkan Iskandar pada kami!”
***
__ADS_1