
“Bicarakan baik-baik. Mak Cek yakin, Cut hanya ingin berusaha untuk membahagiakanmu.” Mak Cek Siti berusaha memberikan nasehat untuk Rendra.
Rendra duduk di samping Bang Adi. Saat ini, mereka sedang berada di rumah Mak Cek Siti. Sebenarnya Rendra meminta Bang Adi untuk membawanya ke tempat yang Cut tuju. Tapi, karena melihat situasi yang tidak terlalu baik dari pancaran wajah Rendra. Akhirnya, Bang Adi membawa Rendra ke rumah Mak Cek Siti. Mudah untuk Bang Adi jika ingin menghampiri Cut. Dia bisa menelepon adiknya tapi tentu akan panjang urusannya jika itu ia lakukan.
“Rasa sayang dia sama kamu yang membuat dia menempuh cara seperti ini. Dia ingin membahagiakan kamu dengan memberikanmu anak. jadi, pahamilah dia saat ini. Jika setidaknya kamu tidak suka. Cukup pantau saja jangan sampai dia melewati batas. Biarkan dia berusaha. Kalau kamu marah, dia akan sedih dan berpikir yang bukan-bukan. Kamu tidak mau kan rumah tanggamu yang sedang baik-baik saja hancur hanya karena hal sepele begini?”
Nasehat Mak Cek Siti cukup menyadarkan Rendra jika dia memang tidak perlu bereaksi berlebihan dalam menghadapi kenakalan istrinya saat ini.
“Saya harus membawanya pulang sesegera mungkin, Mak Cek.”
“Bagus. Semakin lama dia di sini maka, semakin banyak pula saran-saran yang tidak jelas berdatangan.”
Kedua pria tersebut lantas meninggalkan rumah Mak Cek Siti. Saat mereka kembali ke rumah, Cut sudah berada di rumah dengan tingkah biasa saja. Sementara Intan yang sedang bermain dengan Iskandar langsung ditarik oleh Bang Adi ke dapur.
“Kemana kamu bawa Cut?” tanya Bang Adi tegas hingga membuat Intan ketakutan.
“Kak Cut minta aku antarkan dia ke tempat orang berobat kampung. Katanya, kakek itu bisa menyembuhkan rahim Kak Cut terus Kak Cut bisa hamil lagi.”
“Apa yang dilakukan orang itu saat berobat?”
Masih dengan gemeter, “Kak Cut di suruh duduk menghadap ke selatan. Kakinya diluruskan lalu tangan kakek itu menekan-nekan belakang Kak Cut, dada, tangan dan-“
Intan diam seraya menunduk. “Dan apa?”
“P-perut bawah Kak Cut juga.”
Bang Adi meremas rambutnya kasar. “Sekali lagi kamu atau siapapun pergi ke sana, lihat saja apa yang Abang lakukan!”
“Apa kalian bodoh? Itu bukan pengobatan melainkan pelecehan. Pria tua itu sedang memegang dengan puas semua anggota tubuh kalian.”
“Aku tidak ikutan berobat. Hanya Kak Cut saja.”
“Terus? Kamu ikut melihatnya tanpa mencegah?”
__ADS_1
“Zaman suda canggih begini masih saja kalian percaya dukun.”
Melihat suaminya tidak keluar dari dapur, Reni pun mengikuti dan –
“Ada apa, Mas?” tanya Reni lembut.
Bang Adi menceritakan semuanya pada sang istri. “Laporkan saja ke polisi?” ucap Reni setelah mendengar semua penjelasan sang suami.
“Tidak semudah itu. salah-salah kita yang kena nanti. Bilang sama abangmu untuk segera membawa Cut kembali ke Jawa!”
Sementara objek yang sedang diperdebatkan malah dengan santainya menikmati rangkulan mesra sang suami. Cut terlihat bahagia sementara, Rendra harus pura-pura tidak tahu tentang kelakuan istrinya ini.
“Sayang,” panggilanya lembut pada sang istri.
Cut mengangkat wajahnya menatap sang suami, “Kenapa?”
“Kalau dipikir-pikir. Abang cukup punya Iskandar saja sebagai anak.”
“Kenapa?” sela Cut cepat.
“Tapi, Abang butuh keturunan. Abang kan laki-laki pasti ingin punya anak sendiri. Apa kata orang kalau melihat Abang hanya mengurus anak orang lain.”
Cup…
Rendra langsung membubuhkan ciuman mesra di bibir sang istri. “Iskandar itu anak saya. Jangan pernah mengatakan itu lagi kalau tidak mau melihat saya marah.
“Seperti sekarang. Saya ingin memakanmu.”
Tanpa menunggu persetujuan, Rendra langsung menyerang istrinya. Ia meluapkan kekesalannya dengan bercinta bersama sang istri. Setelah melakukan ritualnya, “Berkemaslah, besok kita kembali ke Jawa!”
“Apa?” Cut kaget, bukan hanya kaget. Ia yang semula berbaring tiba-tiba langsung bangkit dengan tubuh yang masih polos.
“Abang janga bercanda!”
__ADS_1
“Kita kembali besok? Kenapa? Kamu sepertinya betah berlama-lama di sini.”
“B-bukan begitu. Tapi janjinya kita kan seminggu di sini.”
“Iya, tapi saya ada perubahan rencana. Saya akan pergi ke tempat lain dulu sebelum ke Jawa.”
“Ke-kemana?”
“Urusan kerjaan. Nanti juga kamu tahu. Bersiaplah! Iskandar akan pulang dengan Riko. Besok pagi kita berangkat.”
Keceriaan itu seketika lenyap dibawa angin. Cut yang sedang berharap banyak pada pengobatannya harus menelan pil pahit. Ia bahkan belum menyelesaikan pengobatannya selama lima hari lagi. Obat yang sudah dipesan pun kini tidak bisa diambil.
Seraya menahan sedih, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Rendra memperhatikan raut wajah istrinya dengan saksama. Ia sedih namun ia tidak au membiarkan istrinya larut dalam kebohongan dan kemusyrikan. Dia memang bukan ahli ibadah tapi dia juga tidak percaya dengan hal-hal berbau perdukunan seperti itu.
Cut tidak kehilangan akal. Menjelang sore, ia kembali meminta Intan untuk mengantarya namun sayang. Ia harus kecewa.
“Intan tidak bisa, Kak Cut. Intan mau pergi jalan-jalan sama Riko.”
Cut masih memiliki solusi alternatif. Ia segera menghubungi Faris namun sayangnya, Faris juga mau pergi jalan-jalan bersama Riko.
Tentu saja keduanya sudah mendapat ancaman dari abang sepupu mereka. Ditambah lagi dengan marahnya Mak Cek Siti pada Intan yang sudah membawa Cut ke tempat pengobatan tersebut. Sepanjang hari hingga malam menjelang, Cut masih saja muruh. Dia gagal untuk mengambil obatnya di sore hari. ia mengambil koper lalu mulai memasukkan pakaiannya dan juga punya sang suami. Dibalik pintu, Rendra hanya bisa menghela nafasnya secara kasar.
“Maaf karena saya telah mematahkan harapan palsumu.”
Keesokan harinya, mereka berangkat diantar oleh ABng Adi dan Reni menuju bandara. Cut memilih diam selama perjalanan. Ia tidak senang dengan semua keadaan ini. Harapan sudah sirna bahkan sebelum ia meliha hasilnya. Bang Adi memberi kode ke Rendra dan mereka saling menggelengkan kepala.
Cut sama sekali tidak tertarik dengan arah tujuan Rendra. Ia memilih menutup mata dari pada berbicara pada sang suami. Dalam hati kecilnya, ia cukup kesal pada Rendra tapi tidak berani mengatakannya. Rendra sendiri membiarkan istrinya berulah. Karena ia pun mencoba memahami apa yang istrinya rasakan saat ini.
Dua jam di atas awan, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya sampai di sebuah pulau yang cukup terkenal. Cut mengikuti saja kemana tujuan suaminya tanpa banyak bertanya. Mereka menaiki mobil lalu tidak sampai setengah jam, mobil itu berhenti di sebuah penginapan.
Saat itulah, Cut mulai mengedarkan pandangannya. Mencoba melihat sekeliling dan –
“Kita ke pantai?”
__ADS_1
“Sepanjang jalan tadi pantai semua. Apa kamu baru menyadarinya sekarang?”
***