CUT

CUT
Antara Ibu dan Anak...


__ADS_3

Hai...hai....yang kangen sama dek Cut dan Mas Rendra... aku hadir kembali...


jangan lupa LIKE & KOMENTAR....ya!!!!


Happy reading...😊😊😊😊


***


Dua hari berlalu setelah interogasi tempo hari. Aku menghabiskan hari-hari seperti biasa sampai tibanya hari ini. Dua orang tentara datang menjemputku di ruang perawatan. Setelah pemeriksaan terakhir tadi pagi, Dokter memperbolehkanku keluar dari rumah sakit. Aku senang, Umi dan Abu juga sangat senang. Namun, kesenangan kami tidak berlangsung lama. Dua orang laki-laki berpakaian loreng mendatangi ruang rawatku saat kami sedang mengemasi barang-barang.


“Assalamualaikum, kami ditugaskan untuk menjemput Bapak sekeluarga menuju ke tempat yang sudah dipersiapkan. Apa semuanya sudah siap?” tanya salah satu dari mereka dengan ramah.


“Sudah, Pak.” jawab Abu. Kami mengikuti mereka menuju kendaraan yang sudah terparkir di depan rumah sakit. Kami menaiki mobil tersebut dengan perasaan gelisah serta penuh tanya.


“Mereka akan membawa kami ke mana?” batinku.


Aku maupun Abu tidak ada yang berani bertanya ke mana tujuan mereka. Kami mengikuti dengan pasrah tanpa banyak tanya. Aku Cuma berharap, apa pun yang terjadi ke depannya aku selalu ingin dekat dengan kedua orang tuaku seperti sekarang.


Berada di dekat Abu dan Umi rasanya seperti mendapat kekuatan untuk bertahan dari segala bahaya yang mungkin mengancam jiwa. Mobil memasuki sebuah perumahan yang berwarna hijau. Setelah menunjukkan kertas segi empat berukuran kecil pada tentara yang berjaga, mobil kembali melaju melintasi deretan rumah yang terlihat rapi dan indah.

__ADS_1


Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang masih berdempetan dengan rumah lainnya. Seorang pria berbaju loreng sudah berdiri di depan rumah tersebut dengan penuh senyum yang ditujukan kepada kami. Pria yang beberapa hari lalu hilang tanpa kabar.


Rendra menghampiri kami lalu mengambil Teuku dari gendongan Abu. Anak itu juga seperti tidak pandang bulu. Dia suka sekali digendong oleh pria mana saja. “Benar-benar tidak pemilih.” batinku.


“Mari Abu, Umi! Silakan masuk. Untuk sementara Abu sekeluarga akan tinggal di sini. Saya harap Abu tidak keberatan. Saya juga minta maaf karena rumahnya hanya seperti ini. Tapi setidaknya ini cukup aman dari gangguan Khalid. Kita tidak pernah tahu apa yang dia rencanakan. Selama dia belum ditemukan, saya harap Abu, Umi dan Cut tidak menolak untuk tinggal di sini. Bagaimana?”


“Terima kasih karena Bapak sudah mau bersusah payah memikirkan kami. Padahal, kami lebih senang jika bisa kembali ke kampung. Di sana juga cukup aman sekarang tidak seperti dulu.” ucap Abu.


“Saya minta maaf, Abu, Umi. Untuk sementara keluarga Abu terutama Cut tidak bisa kembali ke sana. Karena dia masih dibutuhkan untuk beberapa informasi yang mungkin Cut tahu. Dan sekarang, Cut berada dalam bahaya karena Khalid dan anak buahnya pasti berusaha menculik Cut kembali untuk balas dendam.”


“Ya sudah, jika memang begitu saya dan keluarga hanya bisa menerima saja segala keputusan yang Bapak berikan.”


“Maaf, Abu. Tapi jika boleh meminta, saya mohon supaya Abu tidak memanggil saya dengan panggilan ‘Bapak’ saya tidak mau terlihat tua salah satunya. Selain itu, kurang sopan rasanya jika Abu memanggil saya seperti itu. Abu yang lebih pantas dihormati dengan panggilan tersebut bukannya malah memanggil saya dengan sebutan ‘Bapak’. Panggil saja saya Rendra dan tidak perlu pakai Pak.” Abu mengangguk kecil.


Umi dan Abu melihat-lihat rumah berukuran dua kamar tidur satu dapur yang bersebelahan dengan ruang makan dan ruang tamu dengan ruang tamu di sampingnya. Ruangan-ruangan ini tidak besar, untuk kami bertiga tergolong sangat mewah. Rumah kami di kampung hanya berdinding papan beralaskan tanah sedangkan di sini sudah permanen dengan lantai yang di semen.


Aku lupa bertanya kapan bisa menjenguk orang tua Kak Limah pada Rendra. Aku belum tenang jika belum dapat bertemu mereka. Bagaimana pun mereka adalah orang yang telah menyelamatkan aku dari perzinaan yang berkedok pernikahan.


Umi membereskan barang-barang kami yang memang tidak banyak. Hanya pakaian Teuku saja yang terlihat banyak dan baru. “Umi, ini baju baru ya? Kapan Umi beli?” tanyaku sambil melipat pakaian Teuku.

__ADS_1


“Umi tidak membelinya. Itu pakaian sewaktu dia di rumah sakit.”


Aku mengerutkan kening, “Rumah sakit memberikan Teuku baju baru? Enak sekali dia.”


“Umi tidak tahu dan tidak menanyakannya pada perawat. Hanya saja, tas yang mereka berikan ini isinya memang pakaian baru semua dan lengkap. Umi rasa harganya juga mahal-mahal. Kamu bandingkan saja dengan baju yang kita beli pasti berbeda.” aku menuruti ucapan Umi lalu membandingkan keduanya dan jelas berbeda. Begitu melihat tas yang berisi pakaian Teuku, aku langsung bisa menebak jika pakaian-pakaian Teuku berasal dari Rendra. Dulu dia juga membelikan pakaian lengkap dengan tas. Sekarang juga dia melakukan itu kembali. “Pria yang aneh.” gumamku. Namun ternyata Umi mendengarnya.


“Siapa pria aneh?” aku gelagapan, apa yang harus aku jawab?


“Tidak ada, Umi.” bohongku. Tidak mungkin aku mengatakan jika pria aneh itu adalah Rendra.


“Cut, kamu sudah dewasa. Sudah kodratnya jika kamu menyukai seorang pria atau disukai oleh seorang pria bahkan bisa lebih dari satu karena kamu cantik. Jadi, berdoalah! Minta petunjuk pada Allah supaya mempertemukan kamu dengan pria yang baik juga beriman. Bukan pria aneh. Insya Allah doa anak yang saleh pasti terkabul asal kamu meminta dengan segenap hati dan rasa.”


Aku menatap Umi yang tengah tersenyum kepadaku. “Apa ada pria yang sedang kamu pikirkan saat ini? Minta petunjuk pada Allah jika kamu memiliki beribu keraguan terhadap pria tersebut. Allah maha mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi, hanya kepada-Nya tempat kita meminta dan berharap. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya tidak seperti manusia. Makanya jangan berharap terhadap manusia sekalipun orang tuamu sendiri.”


Lagi-lagi aku menatap Umi penuh kekaguman. Tidak banyak orang tua yang seperti Umi. Orang tua yang tidak pernah mendoktrin atau merasa benar sendiri lalu mengabaikan perasaan anak. Umi tidak seperti itu. Umi dan Abu yang berasal dari kampung tidak serta merta membuat pola pikir mereka ikut kampungan. Mereka orang yang berpikiran terbuka dan tidak sekalipun memerintah sesuka mereka jika menyangkut perasaan.


Jika saja bukan mereka yang menjadi orang tuaku. Entah apa yang terjadi padaku saat ini. Mungkin aku akan berakhir seperti nasib almarhum kakak iparku yang berakhir tragis bersama suaminya. Abu dan Umi bukan orang yang melarang ataupun menyuruh dengan sikap otoriter. Mereka memilih memberikan pandangan tentang baik buruk dari sebuah tindakan sehingga aku jadi berpikir kembali tentang apa yang ingin aku lakukan.


Sama seperti saat ini, Umi memintaku untuk berdoa pada Allah supaya diberikan yang terbaik. Sebagai seorang ibu, Umi pasti menyadari ada sesuatu antara aku dan Rendra. Walaupun itu tidak jelas terlihat tapi aku yakin firasatnya pada kami itu ada. Umi dengan halus menyuruhku untuk berdoa supaya diberikan jodoh terbaik dari Allah. Itu pertanda bahwa Umi tidak masalah jika pria yang ada di pikiranku saat ini adalah si manusia aneh yang bernama Rendra.

__ADS_1


“Apa Umi dan Abu mau menerima Rendra?” batinku.   


***


__ADS_2