
Di salah satu sudut kota, seorang laki-laki tengah terpuruk dalam kesedihan yang amat dalam setiap kali melihat berita di daerahnya. Ya, laki-laki itu adalah Faisal yang saat ini berada di Medan. Setelah diusir oleh sang ayah, ia memilih pergi untuk menemui Shinta. Sayang, belum sehari ia menginjakkan kakinya di Medan, dirinya harus kembali melihat kehancuran. Seolah kehidupan sedang mempermainkannya. Rumah tangganya baru hancur dan sekarang dia harus melihat daerahnya hancur bahkan nasib keluarga serta anak dan mantan yang tidak diketahui saat ini. Sebagai dokter, jiwanya kembali terpanggil untuk membantu warganya yang tertimpa musibah.
Faisal akhirnya menghubungi beberapa teman kuliahnya dan melakukan beberapa aksi kemanusian untuk mengumpulkan beberapa barang yang akan mereka bawa ke sana. Mereka akan berangkat nanti malam ke Aceh melalui jalur darat bersama relawan dari fakultas kedokteran lainnya. Ia masih memantau berita terkini dari Aceh dengan harapan semoga bisa kembali menemukan orang-orang yang pernah ia sakiti. Rasa bersalah semakin menghantuinya setiap kali ia menonton berita dari layar kaca.
“Maafin aku, Cut.”
“Maafin ayah, Is. Ayah udah buat salah sama kamu dan sekarang malah tinggalin kamu.”
Dalam tidurnya sekalipun ia terus mengingau memanggil nama-nama mereka. “Fais, bangun! Kamu mimpi lagi?”
Wira membangunkan temannya walaupun ia sempat marah pada Faisal tapi begitu tahu jika Faisal sedang berada di Medan dan meminta bantuan untuk ikut relawan dari kampus. Wira dengan tangan terbuka menerimanya kembali. Bagaimanapun masalah yang terjadi antara Faisal dan Shinta tidak sepenuhnya salah Faisal.
Sementara itu, wanita yang membuat Faisal dan Cut bercerai malah menghilang. Shinta telah lama pergi dan tidak ada yang mengetahuinya. Wira sendiri sudah mencoba menghubungi keluarganya namun, mereka juga tidak mengetahui keberadaan Shinta.
Butuh beberapa hari bagi mereka untuk bisa ke Aceh karena mereka harus mengumpulkan donasi terlebih dahulu sebelum berangkat. Segala perencanaan, bantuan dan sebagainya harus disiapkan secara matang melihat bagaimana daerah yang akan mereka datangi sangat hancur. Sebagian besar bangunan telah rata dengan tanah.
Hari berlalu berganti minggu dan tidak terasa hampir sebulan musibah gempa dan tsunami menerjang pesisir Aceh. Banyak orang yang hilang dan meninggal dunia, tidak sedikit juga yang mengalami luka serius dan luka ringan termasuk gangguan kejiwaan.
Wanita yang hampir sebulan ini terbaring lemah kini sudah mulai membuka mata. Tatapan matanya kosong, ia seperti wanita yang sedang tersesat di alam lain. Dr Guney melihatnya untuk pertama kali setelah mendapat laporan dari seorang perawat. Wanita penuh luka itu adalah Cut. Andai dr Guney tahu jika wanita yang penuh luka itu juga terluka di hatinya. Bisa jadi luka di hatinya adalah luka yang tidak bisa diobati lagi.
“Coba ikuti arahan jari saya!” pinta dr Guney dan Cut langsung mengikutinya.
Dr Guney mengangguk pelan pada perawat dan beberapa asisten yang mengikutinya. “Bagus”
__ADS_1
Mereka mengangguk kecil lalu tersenyum. Ada kelegaan yang terpancar dari setiap pasang wajah yang menatap Cut. Mereka adalah orang-orang yang berada dalam ruang operasi menangani Cut saat itu. Hanya mereka yang bersikap optimis dalam mengobati Cut kala ia baru datang setelah beberapa hari tergeletak di bawah puing-puing bangunan.
Kondisinya hampir mustahil untuk selamat dengan keadaan mengenaskan saat ia dibawa oleh relawan. Namun, dr Guney yang baru bertugas meyakini jika wanita di depannya adalah wanita yang kuat. Buktinya, wanita tersebut masih bertahan dalam beberapa hari setelah kejadian.
“Dia telah bertahan selama ini, jadi jangan sia-siakan perjuangannya!” ucap dr Guney lalu mengajak timnya untuk melakukan operasi pada Cut.
Di sisi lain, Mae dan Pak Cek Amir akhirnya bisa bertemu dengan Bang Adi dan Kak Julie. Mereka dipertemukan saat sama-sama saling mencari. Sebuah rumah kerabat menjadi tempat tinggal bagi Mak Cek Siti dan keluarga besar. Atas permintaan Kak Julie dan Bang Adie, akhirnya Mak Cek siti setuju untuk pindah ke rumah tersebut mengingat ada Iskandar yang masih bayi.
“Bapak dan Ibuk kalian bagaimana?” tanya Pak Cek Amir saat mereka hendak meninggalkan tenda menuju rumah kerabat Mak Cek Siti.
“Mereka sudah dibawa ke rumah sakit Medan.”
“Bagaimana dengan Faisal, apa sudah ada kabar darinya?”
“Kalau dia di Medan, sekarang dia pasti pulang nyari Bapak dan Ibuk.” sinis Bang Adi.
“Sudah, mudah-mudahan saja Allah mempertemukan kita dengan Faisal dan Cut.”
“Bagaimana dengan Abu dan Umi Cut, Pak Cek?” penasaran Kak Julie karena Pak Cek Amir tidak menyebut nama orang tua Cut.
“Mereka sudah syahid. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan melapangkan kuburnya.”
“Pak Cek sudah menemukan jenasahnya?” tanya Bang Adi.
__ADS_1
“Mereka datang dalam mimpi. Sudahlah, ayo kita pergi!” Pak Cek Amir mengakhiri percakapannya.
Masih terasa diingatannya ketika malam kemarin dia bermimpi melihat abang dan istrinya itu pergi bersama keponakannya Ilham sambil memegang tangan seorang anak laki-laki. Di sana juga ada Razi yang ikut tersenyum menatap Pak Cek Amir lalu menghilang. Pak Cek Amir sampai terisak hingga Mak Cek Siti terbangun dari tidurnya.
Setelah menceritakan mimpinya pada sang istri, keduanya lalu melaksanakan salat malam bersama untuk mendoakan keluarga mereka yang hadir dalam mimpi tersebut.
“Jika dalam mimpi Ayah hanya ada mereka, itu artinya Cut dan Rendra masih hidup. Kita harus tetap mencari mereka, Ayah.”
“Iya, Ma. Ayah akan terus mencari mereka.”
Setiap hari, para laki-lak di rumah ini pergi untuk mencari Cut dan Rendra. Sementara para perempuan memilih di rumah untuk menjaga Iskandar. Hanya Kak Julie yang tetap keluar rumah sesekali untuk mencari makanan atau barang-barang yang mereka perlukan. Setiap rumah mendapat bantuan makanan pokok yang dibagi oleh pemerintah. Kebutuhan bayi seperti popok, susu dan makanan penunjang juga disedikan.
Hikmah setelah bencana adalah rasa saling berbagi dan saling tolong menolong kembali terjalin dengan erat. Mungkin setelah melihat bagaimana kiamat kecil terjadi sedikit mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini hanya berpikir untuk diri sendiri.
Beberapa rumah atau ruko masih tetap berdiri kokoh walaupun retak dimana-mana. Seperti halnya rumah Bapak Fahri. Wilayah tersebut hanya dilewati oleh air walaupun deras tapi tidak sampai menghamtam seperti obak pertama yang menerjang bibir pantai. Setelah membereskan pegobatan orang tuanya, mereka langsung kembali ke rumah untuk melihat kondisi di sana. Dan mereka cukup bersyukur karena ternyata bagasi rumah mereka masih tertutup pagi itu sehingga mobil dan motor mereka tidak terbawa air.
Kendaraan itulah yang mereka gunakan selama proses mencari Cut dan Rendra dari satu tenda ke tenda lainnya.
“Mae, ini kamu kan?”
***
__ADS_1