
Banyak hal yang terjadi selama setahun ini dalam kehidupan Bang Adi yang tidak diketahui oleh Reni. Bang Adi mulai membangun rumah dari hasil bisnis properti yang ia rintis selama setahun terakhir. Ia terlalu sibuk menyiapkan banyak hal untuk pernikahannya bersama Reni kelak. Mak Cek Siti menceritakan banyak hal pada Reni dan Riko tentang kegiatan Bang Adi belum lagi tentang musibah yang menimpanya. Ya, Bang Adi tertipu puluhan juta oleh seorang mandor yang mengawasi pembangunan rumahnya. Mandor tersebut kabur setelah mendapatkan uang yang seharusnya diperuntukkan untuk tukang.
Beberapa bisnis propertinya juga tidak berjalan mulus. Ada yang untung besar ada juga yang merugi lantaran status kepemilikan tanah. Hampir satu jam mereka bicara sampai suara orang memberi salam menghentikan pembicaraan mereka.
Bang Adi menatap lekat calon istrinya dalam diam, “Kapan sampai?”
“Belum lama, Bang.” Jawab Riko.
Iskandar datang langsung menarik baju Omnya. Selama ini, ia begitu dekat dengan Bang Adi karena Bang Adi sering mengajaknya jalan-jalan atau sekedar bermain. Bagi keluarga Bang Adi, melihat Iskandar sama dengan melihat Faisal kembali dalam wujud balita.
Paham akan suasana, Mak Cek Siti memberikan ruang bagi Reni dan Bang Adi untuk bicara. Riko sebagai saudara kembarnya juga mengerti. Ia mengikuti Faris lalu merebahkan diri di kamar tersebut. Bang Adi menyerahkan sekotak biskuit yang ia bawa ke tangan Iskandar, “Suruh buka sama Cek Tan, ya!”
Iskandar langsung paham dan ia segera menghampiri Intan. Bang Adi menarik tangan Reni lembut lalu mengajaknya keluar. Menaiki mobil Bang Adi, Reni paham jika prianya ingin bicara secara pribadi. Ia duduk manis dan mengikuti tanpa banyak tanya.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
Kembali hening…
Mobil memasuki pekarangan sebuah rumah. Beberapa bagian belum terlihat masih berantakan. “Ayo, turun!”
Keduanya turun dari mobil lalu Bang Adi membuka pintu utama rumah tersebut. Setiap ruangan masih kosong. Bau cat dindingnya juga masih terasa menyengat sampai ke hidung.
Reni melihat-lihat setiap sudut rumah tersebut dan -
Grep…
Reni tiba-tiba terkejut saat merasakan pinggangnya ditarik seseorang. “Ini akan menjadi rumah kita. Apa kamu menyukainya?”
Pandangan keduanya bertemu. “Kenapa kamu begitu yakin jika ini akan menjadi rumah kita?”
Bang Adi tersenyum kecil, “Kalau kamu tidak mau, tinggal saya jual kembali. Itu mudah.”
“Kenapa sampai kemari? Apa yang membuatmu meragukan saya?” tanya Bang Adi kembali.
“Kenapa jarang memberi kabar? Digantung itu gak enak tahu.” Ketus Reni seraya menatap tajam sang pria.
Tiba-tiba, Bang Adi memeluknya erat. Menghirup aroma tubuh wanitanya yang sudah lama ia rindukan. “Apa kita menikah saja sekarang?”
Puk…
__ADS_1
Reni memukul pelan punggung Bang Adi, “Enak saja main nikah-nikah. Lamar aja belum udah main nikah aja.”
Keduanya tersenyum kecil masih saling mendekap satu sama lain. “Apa kita akan begini terus?” lirih Reni.
“Saya sangat merindukan kamu.”
“Aku tidak yakin.”
“Jangan meragukan saya! Saat saya sedang berjuang untuk masa depan kita.”
Bang Adi melerai pelukannya. “Besok kita temui orang tua saya, ya?”
Reni mengangguk dan –
Cup…
“Curang!”
“Anggap aja sebagai pengingat kalau kamu milik saya.”
Reni menatap tajam pada pria yang sudah berani mengambil ciuman untuk kedua kalinya. Keduanya pergi meninggalkan rumah tersebut dalam keadaan tenang setelah keraguan sempat menyelimuti hati Reni yang menjalani hubungan jarak jauh dengan sang kekasih.
Sementara di pulau Jawa sana, seorang pria tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita di masa lalunya. Keduanya tidak sengaja bertemu saat Rendra sedang membeli martabak dan ternyata Risma juga sedang membeli hal yang sama.
“Istrimu menyukai martabak juga?” tanya Risma basa-basi.
“Iya. Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Rendra.
“Aku keluar. Sekarang sedang menunggu panggila dari perusahaan lain. Saat membuat kesalahan tidak terpikir untuk akibatnya. Hingga semua baru terasa sekarang.” Risma menertawakan kebodohannya sendiri di depan sang mantan suami.
“Aku pintar, pasti mudah untukmu menemukan pekerjaan yang lain. Aku yakin itu.” ucap bijak Rendra.
“Ck, aku tidak yakin. Ah, sudahlah… untuk apa membicarakan itu. mungkin saat ini, tuhan sedang menginginkanku untuk istirahat. Kamu sendiri bagaimana? Apa istrimu sudah isi?”
“Belum. Aku menikah bukan untuk itu. Aku hanya ingin menikmati hari-hariku dengannya tanpa memikirkan anak. Begini saja sudah sangat membahagiakan untukku.”
“Lalu, apa kedua orang tuamu juga merasakan hal yang sama?” tanya Risma kembali.
“Mereka sudah tahu dari awal.”
Rendra bangkit dari duduknya lalu, “Aku pulag dulu. Kasihan istriku sudah menunggu lama.”
__ADS_1
Ia berjalan lalu mengambil martabak pesanannya yang sudah siap. Rendra memilih pergi meninggalkan masa lalu untuk kedua kalinya. Tidak ada hal penting yang harus dibicarakan oleh keduanya sementara istrinya sudah menunggu dengan setia di rumah.
Risma menatap punggung mantan suaminya hingga hilang dari pandangan. Ada rasa lain saat berada di dekatnya namun segera ia tepis. “Kamu terlalu baik untuk disia-siakan.”
Rendra sampai ke rumah jam sepuluh malam. Cut sendiri masih menunggu sang suami sambil menonton tv. Kebiasaan Cut sudah mulai berubah selama menetap di Jawa. Ia mulai menyukai sinetron dari salah satu kanal tv swasta hingga suara salam dari sang suami membuatnya segera berlari menuju pintu.
“Walaikumsalam,” sahut Cut seraya membuka pintu.
Rendra membuka kedua tangannya dan Cut tahu harus melakukan apa. Ya, itu adalah kebiasaan baru dari keduanya. Setiap kali Rendra pulang, ia akan merentangkan tangan lalu Cut akan berlari kecil dalam pelukan sang suami. Kehidupan begitu manis pada keduanya seperti rasa martabak yang Rendra bawa. Pelan tapi pasti, lidah Cut yang semula tidak kuat dengan berbagai makanan khas pulau Jawa kini mulai menyukainya selama ia bergabung bersama ibu-ibu persit lain dalam berbagai acara. Pada satu kesempatan tertentu, ia akan mengundang ibu-ibu persit dari Aceh untuk memasak makanan khas daerah sendiri sebagai pengganti kerinduan akan kampung halaman.
Cut sangat menikmati masa-masa setahun pernikahan mereka. Walaupun ada saat-saat di mana, Rendra akan pergi dinas atau latihan ke mana dalam waktu yang tidak terlalu lama. Keduanya menikmati sepiring martabak berdua dengan mesra mengalahkan mesranya akting para artis di sinetron yang sedang tayang.
“Reni dan Riko sudah sampai Aceh. Mereka lagi di rumah Mak Cek Siti.”
“Kenapa tidak bilang kita?”
“Kenapa? Mau ikut?” selidik Rendra.
“Memangnya boleh?”
“Terus saya siapa yang jaga?”
“Kan sudah besar tidak perlu dijaga lagi.”
“Kalau saya rindu pengen cium, gimana?”
Cup…
Cut langsung memberikan ciuman manisnya untuk sang suami yang membuatnya sedikit gemas.
“Kamu mau titip apa? Mereka lusa balik.”
“Kok cepat sekali, Bang?” tanya Cut penasaran.
“Reni hanya ingin melihat Adi.”
“Jatuh cinta itu aneh ya?”
“Iya. Sama anehnya seperti cinta kita.”
***
__ADS_1