
Iskandar berdiam diri di dalam kamarnya seraya mengingat perbincangan bersama teman-temannya tadi di taman. “Mereka melupakanku setelah mendapat cucu pengganti yang lain.” Gumam Iskandar.
Dia sudah tidak sabar untuk berangkat mengingat hari-harinya di sini sangat membosankan. Iskandar rindu pada teman-teman pondoknya.
Tok…tok…
“Kak, Papa sama Mama mau pesta teman. Kalian baik-baik di rumah ya!”
“Iya, Pa.” jawab Iskandar lalu sebelah tangan sang ayah menepuk pelan pundak sang putra.
Ada perasaan berbeda saat ia kembali merasakan sentuhan lembut sang ayah. Sudah lama ia pergi dari rumah dan selama itupula ia tidak pernah lagi merasakan sentuhan sang ayah yang hangat dan menenangkan.
Kini, dalam rumah itu tinggalah Iskandar dan Anugrah. Iskandar yang tadinya berada dalam kamar kini keluar menuju dapur. Sementara sang adik masih tetap berada di depan televisi sambil membaca komiknya. Iskandar mencari sesuatu dalam rak maupun laci tapi tidak menemukannya. Ingin bertanya pada Anugrah tapi malas melihat adiknya sedikitpun tidak peduli keadaan. Ia kembali ke kamar sebentar lalu keluar rumah. Tanpa Iskandar sadari, semua yang ia lakukan tidak luput dari pantauan sang adik. Anugrah memilih membaca komik untuk menghindari situasi canggung dengan sang kakak. Ia yang tidak pernah mendapatkan perhatian sang kakak justru memendam rasa penasaran bagaimana keadaanya jika sang kakak memperhatikannya seperti teman-teman yang lain?
Iskandar kembali ke rumah dengan menenteng satu buah kresek hitam ukuran sedang. Ia langsung menuju dapur dan selanjutnya yang didengar oleh Anugrah adalah berbagai suara hingga suara minyak panas yang dimasukkan sesuatu. Indra penciuman Anugrah cukup mengenak bau yang berasal dari dapur ini. Dia yang sudah kelas enam SD sudah sering mencicipi jenis makanan ini di sekolah. Akankah ego menandingi rasa lapar yang datang tiba-tiba?
Berkat tinggal lama di pondok, Iskandar cukup lihat memainkan alat-alat dapur hingga menghidupkan kompor gas. Satu porsi mie instan dengan irisan cabai dan telur membuat Anugrah melupakan rasa takutnya pada sang kakak. Pelan tapi pasti, ia sudah menutup komiknya lalu berjalan menuju dapur. Ia menatap penuh damba pada sebuah piring yang sudah terletak indah nan menggiurkan di atas meja.
Iskandar yang hendak duduk manis untuk menyantap mie instannya melirik dengan ekor mata tatkala sang adik tengah berdiri menatap piringnya.
“Kamu mau?” tanpa diduga, Anugrah dengan cepat menganggukkan kepala lalu tersenyum menghampiri meja makan.
Iskandar menghela nafasnya, “Ambil saja itu!” lalu ia kembali ke dapur dan membuat seporsi lagi untuk dirinya sendiri.
“Itu pedas, kamu bisa makan?”
“Bisa banget, Kak. Aku rajanya makanan pedas.” Jawab Anugrah dengan mulut penuh.
Anugrah sangat bersemangat makan mie instan buatan kakaknya dan entah karena pedas atau ada hal lain yang membuat air mata Anugrah meluncur begitu saja. Anugrah meniup pelan mie yang masih panas seraya menyeka air matanya. Iskandar kembali menghidangkan seporsi mie instan untuk dirinya. Untuk pertama kalinya mereka makan berdua di rumah dan yang lebih istimewa untuk Anugrah adalah ini pertama kalinya ia makan dengan sang kakak. Anugrah menyesap ingusnya dengan lengan baju lalu menyeka air mata kembali. Mereka makan dalam diam namun pikiran keduanya sedang tidak diam. Mereka sama-sama sedang memikirkan momen ini. Moment langka yang tidak pernah terjadi sebelumnya bahkan Anugrah sedang berpikir apakah mereka akan mengulang moment ini lagi setelah ini?
“Makasih, Kak. Mienya enak.” Ucap Anugrah seraya meletakkan piringnya di wastafel.
__ADS_1
“Hm,”
Anugrah langsung kembali ke depan televisi sedangkan Iskandar, dia langsung mencuci piring kotor bahkan punya Anugrah juga ia cuci sebelum akhirnya ia kembali ke dalam kamar. Sementara tanpa Iskandar ketahui, Anugrah tengah merasa bersalah karena ia tidak mencuci piring kotornya dan membiarkan sang kakak yang mencuci. Rumah itu kembali sunyi hingga kedua orang tua mereka kembali.
“Panggilkan Kakak, Dek. Papa bawa makanan ini.”
Anugrah langsung pergi menuju kamar sang kakak.
Tok…tok…
Ceklek…
Anugrah langsung menunduk saat bersitatap dengan mata kakaknya secara langsung begini.
“Kak, Mama suruh keluar! Mereka bawa makanan.”
“Hm…” Jawab Iskandar yang masih berdiri di depan pintu.
“Kak, maaf ya karena aku tidak cuci piring sendiri.”
“Hm…”
“Kakak jangan bilang kalau kita habis makan mie instan ya! Papa sama Mama tidak pernah mengizinkan aku makan mie.”
“Hm…”
“Kak, bungkusan mienya Kakak buang dimana?”
Iskandar menatap Anugrah dan kali ini tatapan sedikit berbeda. Ada kepanikan yang terpancar dari sorot matanya.
Iskandar berjalan sedikit tergesa-gesa menuju dapur dan –
__ADS_1
“Kalian habis makan mie?” tanya Cut yang mendapati sampah bungkusan mie instan saat hendak membuang sampah makanan yang ia bawa.
Anugrah dan Iskandar mematung bersamaan. Rendra yang mendengar kata-kata mie instan juga ikut menuju dapur.
“Kalian makan mie instan?” tanya Cut kembali.
Cut dan Rendra sepakat untuk tidak menghadirkan mie instan di rumah mereka. Dia selalu mensiasati berbagai camilan untuk Anugrah di rumah tapi tidak pada mie instan. Hal yang tidak pernah Cut dan Rendra ketahui adalah Anugrah sering melahap makanan larangan mereka secara diam-diam saat di luar rumah.
“Kenapa kalian makan mie? Kan ada makanan lain.”
“Is lagi pengen mie, Ma.”
“Adek juga makan?” tanya Cut pada Anugrah dan langsung diangguki sang anak.
“Sesekali kan tidak pa-pa, Ma. Adek yang minta sama Kakak. Mie buatan Kakak juga enak. Jadi pengen lagi.” Ucap Anugrah tanpa dosa.
Rendra menggeleng pelan seraya menatap sang istri. “Tapi cukup ini ya? Mama kan sudah bilang kalau mie instan itu tidak sehat.
“Iya, Ma. Kami tidak akan makan mie instan lagi.” Ucap Anugrah.
Sidang mie instan akhirnya berakhir dengan masing-masing terdakwa masuk ke dalam kamar karena perut kekenyangan setelah puas menyantap mie instan. Tinggallah sepasang suami istri yang sedang menikmati martabak berdua karena anak-anak sudah kenyang lebih duluan.
“Mah,” panggil sang suami.
“Sepertinya kita harus sering-sering meninggalkan mereka berdua.” Cut menatap bingung pada sang suami.
“Papa rasa, mereka bisa akrab kalau sering berdua dan tanpa campur tangan kita. Bagaimanapun mereka adalah anak yang lahir dari satu ibu walaupun berbeda ayah. Tapi di dalam diri keduanya pasti ada kebaikan-kebaikan yang kamu tularkan. Papa yakin, mereka itu saling menyayangi hanya saja bingung mengungkapkan karena sudah terpisah lama.”
“Lihat saja, Iskandar bahkan membuatkan adiknya mie. Kalau dia jahat pasti akan membiarkan adiknya melihat saja saat dia makan. Iskandar anak baik dan kita mengirimnya ke temapat yang baik juga. Papa yakin kalau dia masih baik termasuk pada Anugrah.” Jelas Rendra kembali.
“Sepertinya Mama punya ide, Pa.”
__ADS_1
***