CUT

CUT
Piring Pecah...


__ADS_3

Perjalanan mereka menuju Desa Wengi ternyata tidak mudah. Selepas melewati jembatan panjang sekitar 50 meter dengan arus sungai yang cukup deras di bawahnya bus yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok. Banyak mahasiswi menggerutu ketika mobil  mogok  di antara hamparan sawah dengan matahari yang mulai terik. Iskandar membuka kemejanya lalu mencoba membantu  Pak Sopir. Dodik beserta mahasiswa lainnya ikut membantu. Di tengah kesibukan para laki-laki memperbaiki bus, para perempuan jutsru terkesima dengan satu sosok yang menurut mereka begitu menggiurkan di bawah terik matahari. Keringat sang dosen mengucur indah hingga membuat wajah tampan dengan tubuh atletis itu terlihat semakin menggoda.


“Lap ilermu, Aisyah!” goda Dewi.


Aisyah tanpa sadar mengusap bibirnya hingga membuat teman-temannya terkikik geli. “Kalian juga sama.” Cibir Aisyah.


“Pak Is memang tampan. Calon imam idaman dunia akhirat ini.”


Di saat para mahasiswi berpendapat ria tentang sang dosen, Dodik selaku ketua kelompok ikut memamerkan otot-ototnya pada para mahasiswi.  Setengah jam mereka habiskan untuk memperbaiki bus.


“Maaf, Pak. Sebelum berangkat, saya sudah memeriksanya terlebih dahulu di bengkel. Saya jadi heran kenapa dia bisa mogok tiba-tiba.” Cerita Pak Sopir saat bus kembali melaju. Sopir bus merasa heran dengan busnya yang tiba-tiba mogok padahal sebelum berangkat, ia sudah memeriksa terlebih dahulu kondisi bus.


“Berpikiran baik saja, Pak. Insya Allah, Allah SWT akan melindungi kita.” Ucap Iskandar mencoba menenangkan Pak Sopir yang terlihat gelisah.


“Amin.” Jawab mereka serentak


“Harumnya keringat  Pak Is sampai kemari ya?” bisik Dewi pada Aisyah.


Perjalanan yang mereka perkirakan hanya menghabiskan waktu sekitar dua jam setengah kini setelah tiga jam setengah baru mereka sampai di Desa Wengi.  Cuaca yang tadinya cerah dan panas kini mulai diselimuti awan hingga sepuluh menit kemudian hujan pun turun disertai petir.


“Ini kenapa horor begini sih?” celutuk Dewi dari belakang.


“Pelan-pelan aja, Pak.” pinta Iskandar.


Dodik melirik sesekali ke arah dosennya. Ada segelintir kekhawatiran yang menghinggapi dirinya. Tanpa teman-temannya ketahui, Dodik sudah mencari info terlebih dahulu tentang desa yang akan menjadi lokasi kegiatan KKNnya nanti. Berbagai info ia dapatkan dari para mahasiswa sebelumnya sampai dosen yang pernah menjadi pembimbing di sana. Itu juga yang menjadi alasan kenapa Ibu Suci mengundurkan diri sebagai dosen pembimbing padahal kondisinya baik-baik saja walaupun sedang hamil. Ia tidak mau terjadi apa-apa pada kehamilannya dengan mengunjungi desa itu.

__ADS_1


Iskandar menghela nafasnya, ia juga merasa janggal dengan perubahan cuaca yang mendadak ini tapi pikiran logisnya tetap ia kedepankan. Lagit masih gelap walaupun  hujan sudah berangsur reda. Tinggal gerimis yang masih membasahi kaca mobil hingga terlihatlah gapura desa.


“Alhamdulillah, kita sudah sampai.” Ucap Iskandar.


Dia sudah menghubungi kepala desa sebelum kemari hingga bus langsung melaju membelah jalanan kampung menuju kantor kepala desa.


“Baca bismillah dan niatkan dalam hati kalau kita ke sini untuk memberikan sumbangsih sebagai mahasiswa untuk mengabdi pada masyarakat. Bersikaplah sopan kepada setiap orang dan tidak perlu bersikap sok pintar di sini. Di sini, otak kalian yang mahasiswa jangan sikap dan perilaku kalian. Jadilah masyarakat desa seperti masyarakaat lainnya. Insya Allah, kita bisa menyelesaikan kegiatan ini dengan sebaik mungkin.”


“Aminnnn.”


Setelah memberikan sedikit arahan, Iskandar turun lebih dulu baru disusul oleh Dodik dan yang lainnya. Pak Sopir juga ikut turun untuk bersalaman dengan kepala desa yang sudah menunggu bersama perangkat desa lainnya.


“Selamat datang, Pak Iskandar dengan adik-adik mahasiswa semua. Beginilah desa kami, Bapak dan adik-adik mahasiswa. Seadanya dan masih bersahaja.” Ucap Bapak Kepala Desa yang bernama Joko. Para mahasiswa secara bergantian berjabat tangan dengan Pak Joko dan para perangkat desa lainnya. Mereka dipersilakan masuk ke dalam aula yang biasa digunakan untuk rapat di kantor kepala desa. Di sana sudah ada istri dari kepala desa bersama beberapa ibu-ibu lainnya yang sedang mempersiapkan jamuan untuk mereka. Warga desa juga hampir memenuhi bangku yang disediakan di dalam aula. Pak Joko sudah memberitahukan warga sehari sebelumnya tentang kedatangan para mahasiswa yang akan melakukan kegiatan KKN di desa mereka.


Dodik bersama beberapa mahasiswa menurunkan beberapa barang berupa satu kotak bibit mangga madu, satu kotak bibit jangung manis dan satu kotak bibit bayam. Kotak pertama diserahkan oleh Iskandar selaku dosen pembimbing, lalu kotak kedua diserahkan oleh Dodik selaku ketua kelompok dan satu lagi mewakili mahasiswa, Aisyah yang dipilih untuk menyerahkan kotak ketiga. Semua prosesi penyerahan buah  tangan ini direkam dan dipotret sebagai dokumentasi saat menulis laporan diakhir kegiatan nantinya.


“Terima kasih sekali saya ucapkan untuk Bapak Joko beserta perangkat desa juga para ibu-ibu PKK yang sudah bersusah payah menyediakan jamuan untuk kami. Maafkan kami karena datang hanya membawa buah tangan seadanya. Terima kasih juga untuk warga Desa Wengi yang bersedia hadir kemari padahal saya tahu, bapak dan ibu pasti banyak kegiatan di rumah maupun di ladang. Bapak, ibu, anak-anak yang bergelar mahasiswa di depan bapak ibu ini memang kelihatan dewasa tapi pikiran mereka kadang-kadang masih seperti anak-anak. Tujuan dari kegiatan KKN atau Kuliah Kerja Nyata ini sendiri sebagai bentuk pengabdian mereka untuk masyarakat. Setelah mereka lulus dari dunia perkuliahan, mereka akan kembali ke masyarakat. Oleh sebab itu, mereka harus mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum lulus. Dalam perjalanan ini tentu tidak akan mudah, Bapak, Ibu. Sebagian dari mereka tentu tidak sepenuhnya bisa lepas dari bayang-bayang kampus dan lain sebagainya hingga tidak sedikit dari mereka yang gagal kembali ke masyarakat. Kegiatan KKN inilah yang akan mendidik mereka supaya bisa lebih dekat dengan masyarakat. Mengenal banyak hal dari kehidupan sehari-hari yang jauh dari dunia perkuliahan. Saya mengharapkan bimbingan dari Bapak dan Ibu sekalian. Kalau sekiranya nanti anak-anak ini membuat kesalahan, tolong diingatkan supaya mereka tahu dan tidak mengulanginya lagi. Begitu juga dalam bersikap dan bertutur kata, mungkin anak-anak ini nanti ada yang kurang sopan. Saya mohon keikhlasan dari ibu dan bapak untuk memaafkan dan memberikan nasehat supaya mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya rasa sudah terlalu banyak berbicara. Sekali lagi, terima kasih untuk Bapak Kepala Desa beserta Ibu, para perangkat desa beserta ibu dan segenap warga Desa Wengi yang sudah berhadir di siang ini. Kami persembahkan buah tangan yang kami bawa tadi untuk seluruh masyarakat desa. Pembagiannya saya serahkan kepada Bapak Kepala Desa. Terima kasih.”


Setelah Iskandar menyampaikan beberapa kata sambutan, para mahasiswa memperkenalkan diri secara bergantian. Perangkat desa mulai mendata para warga yang akan mendapat bantuan bibit tanaman yang dibawa oleh para mahasiswa. Setelah para warga membubarkan diri, Pak Joko mengajak Iskandar termasuk Pak Sopir serta para mahasiswa untuk mencicipi jamuan yang sudah mereka siapkan.


“Ambil makanan dan minuman setelah itu kita berdoa bersama ya!” pinta Iskandar pada para mahasiswa. Mereka cukup patuh dengan segala instruksi yang Iskandar berikan. Setelah mengambil makanan dan minuman, Iskandar, Pak Sopir serta para mahasiswa duduk bersama.


“Ayo, kita berdoa bersama sebagai wujud syukur untuk hidangan yang sudah disediakan dengan susah payah oleh Bapak Kepala Desa. Semoga berkah dan pahalanya sampai ke setiap orang yang ikut serta membantu menyiapakan ini semua.”


Entah apa maksud Iskandar tapi dia dengan segenap kerendahan hati meminta perlindungan dari sang pencipta kepada mereka yang akan menyantap hidangan tersebut.

__ADS_1


“Ya Allah, lindungi kami dari segala perbuatan jahat yang tidak kamu ketahui.” Batin Iskandar saat mengakhiri doanya.


Semua mata terkejut saat piring yang ada di depan Iskandar tiba-tiba pecah. Tidak hanya para mahasiswa tapi para perangkat desa yang masih berada di sana juga ikut terkejut. Para mahasiswa saling melirik lalu menatap Iskandar.


“Piringnya tidak tahan panas, tidak apa-apa. Kalian lanjut makan, saya ambil piring lain.” Ucap Iskandar kemudian bangun dari duduknya lalu mengambil piring lain. Para mahasiswa terus menatap sang dosen dengan berbagai pertanyaan.


“Kalau tidak tahan panas, punya kita harusnya ikut pecah juga. Menu kita kan sama seperti Pak Is.” Bisik Dewi pada Dodik. Para mahasiswa merasa takut untuk menyantap makanan di piring masing-masing termasuk Pak Sopir. Mereka menunggu Iskandar sementara di balik pintu, sepasang mata sedang menatap penuh arti pada sosok yang sedang mengambil makanan untuk kedua kalinya.


Iskandar kembali bergabung dengan para mahasiswa. Dia kembali membaca doa lalu, “Ayo dimakan. Sebentar lagi kita akan pulang.” ucapnya.


Layaknya seorang ayah yang sedang memberi instruksi. Para mahasiswa dan pak supir akhirnya menyantap makanan di depan mereka. Beberapa mahasiswa yang biasanya tidak pernah membaca basmallah ataupun doa makan kini dengan penuh keyakinan dan ketulusan mereka membaca doa sebelum menyantap hidangan tersebut.


“Alhamdulillah, selanjutnya mari kita membaca doa setelah makan bersama supaya apa yang kita makan menjadi berkah untuk ilmu dan kebaikan.” Mereka mengikuti semua yang Iskandar pinta tanpa protes sedikitpun.


“Pak, untuk penginapan mahasiswa sudah kami siapkan seperti tahun-tahun sebelumnya.” Ujar Pak Joko.


“Rencananya memang seperti itu, Pak. Tapi berhubung banyaknya laporan dan tugas mereka yang masih jalan. Jadi, kami memutuskan untuk tidak menginap di desa ini. Pihak kampus juga sudah menyetujui. Anak-anak akan datang setiap pagi hingga sore. Untuk ruangan yang Bapak sediakan bisa dipakai untuk hari-hari mereka berkumpul saat membuat program untuk desa.”


“Baiklah kalau begitu, Pak.” Jawab Pak Joko dengan wajah lesu. Entah rencana apa yang dimiliki Pak Joko hingga begitu senang jika para mahasiswa menginap di desanya.


Mereka kembali menaiki bus, Dodik bertugas untuk mengecek kehadiran seluruh mahasiswa di dalam bus. Iskandar sangat teliti dalam segala hal membuat para mahasiswa sedikit tenang dengan kehadirannya. Bus melaju di jalanan desa yang cukup lengang. Padahal hari masih siang tapi karena cuaca mendung sehingga langit menjadi gelap seakan sudah menjelang malam. Kiri dan kanan jalan di penuhi oleh kebun karet dan sebagian pohon-pohon besar yang diperkiran sudah berusia puluhan tahun.


“Pak, itu! ularrrrr”


***

__ADS_1


Bantu CUT dengan TIDAK SKIPP IKLAN...makasih🙃


__ADS_2