CUT

CUT
Rata dengan Tanah...


__ADS_3

“Bagaimana, Dokter? Apa anak saya gila?” tanya Abu yang didampingi oleh pegawai dinas sosial tempat Cut bekerja.


 


Sedikit senyum tersungging di bibir sang dokter bernama Zulkarnain tersebut. “Bapak, tidak semua orang yang datang ke rumah sakit jiwa bisa dikatakan gila. Contohnya saja putri Bapak. Cut Zulaikha mengalami Gangguan Depresi Mayor atau biasa disebut GDM.”


 


“Apa penyakit itu berbahaya, Dok?” tanya Abu panik.


 


“Bapak tenang dulu. Gangguan depresi mayor itu suatu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus tertekan atau kehilangan minat dalam beraktivitas yang menyebabkan penurunan drastis dalam kualitas hidup sehari-hari. Seperti yang dialami oleh Cut Zulaikha saat ini. Saya sudah mendengar banyak cerita dari Bapak dan Ibu. Melihat semua yang terjadi dalam hidup putri Bapak. Besar kemungkinan ia mengalami gangguan depresi mayor.”


 


“Apa anak saya bisa sembuh, Dok?”


 


“Insya Allah, Pak. Selama Bapak dan Ibu selalu memberikan semangat serta dukungan. Cut pasti bisa sembuh. Kita akan memberikan beberapa pengobatan, terapi bicara atau gabungan keduanya dengan harapan dapat menormalkan perubahan otak yang berhubungan dengan depresi. Dengan pengobatan yang tepat serta rutin menjalani terapi, insya Allah dalam beberapa bulan ke depan Cut bisa sembuh. Yang penting saat ini adalah semangat hidupnya harus kembali. Jika semangat dalam dirinya tidak ada maka akan sulit untuk sembuh. Jadi, peran keluarga dalam hal ini sangat penting untuk mengembalikan semangat hidupnya yang hilang.”


 


“Dok, apa dia harus tinggal di sini?” tanya pegawai yang menemani Abu.


 


“Tidak, dia hanya ke sini saat menjalani pengobatan atau terapi. Nanti perawat kami akan memberikan jadwal kunjungan ke sini. Terus dipantau saat di rumah. Kalau bisa jangan ditinggali sendiri. Orang dengan gangguan depresi seperti ini banyak mendengar hal-hal yang menyerukan ke arah negatif atau berbahaya. Misalnya membakar rumah, melukai diri sendiri bahkan sampai pada tingkat bunuh diri. Maka, obat untuk depresi selalu diberikan tepat waktu untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan. Obat ini bersifat menenangkan saraf sehingga kejiwaannya tidak meledak-ledak yang mengakibatkan kehilangan kontrol pada perilaku.”


 


“Sangat jarang ada orang tua yang membawa putrinya untuk konsultasi ke rumah sakit jiwa seperti Bapak. Orang-orang masih berpikir jika apa yang dialami oleh anak mereka adalah gila sehingga anaknya dibiarkan begitu saja. Padahal, sangat besar peluang untuk sembuh jika ditangani dari awal. Kalau dibiarkan justru semakin memperparah yang berakibat terjadinya gangguan jiwa. Apalagi di daerah kita, faktor konflik semakin memperparah keadaan. Anak-anak yang mengalami kekerasan tidak mendapat penanganan yang tepat. Sehingga anak tersebut besar dengan keadaan jiwa yang labil. Pengetahuan orang tua juga berpengaruh serta ekonomi masyarakat semakin memperburuk keadaan.”


 


“Ruang gerak kita juga terbatas. Masyarakat sulit untuk ke rumah sakit sementara kami para dokter juga tidak mudah untuk mengunjungi mereka di berbagai pelosok. Jika kami pergi maka kami sudah siap untuk mati. Sebagai manusia, kami tentu belum siap untuk itu. Jadi, kami hanya bisa menunggu di sini.”


 


“Kami sangat paham dengan kondisi kita, Dokter. Kami pernah mengalami sendiri bagaimana konflik mengikat kaki dan tangan kami di kampung. Bahkan konflik mampu menutup mulut, mata dan telinga kami. Terima kasih banyak, Dokter. Saya bisa kemari karena bantuan dari Bapak ini. Beliau pegawai di dinas sosial tempat anak saya bekerja. Beliau yang menyarankan saya untuk membawa Cut kemari.”


 


“Jangan begitu, Pak. Saya hanya punya saran dan tahu tempatnya. Hanya ini yang bisa saya bantu untuk Bapak sekeluarga.”


 


“Dalam kondisi ini sangat penting menjalin hubungan silaturahmi dengan berbagai orang. Pihak keluarga yang mendampingi juga harus mendapat semangat serta dukungan supaya tetap kuat dalam mendampingi pasien.”


 


dua jam lebih waktu yang dihabiskan di rumah sakit jiwa milik provinsi tersebut. Abu dan Umi merasa lega setelah mendapat penjelasan dari dokter. Jadwal untuk terapi sudah dalam genggaman. Kedua orang tua itu kembali bersemangat untuk mendampingi sang putri menemukan kembali semangat hidupnya.


 


Sementara itu, di atas sebuah kapal berbendera merah putih. Seorang pria menatap hamparan laut luas di depan mata. Pikirannya berkelana jauh ke ujung pulau Sumatra. Dia terus berharap ada keajaiban yang membuatnya kembali bertemu dengan sang gadis impian.


 

__ADS_1


“Apa kamu berharap alam akan mempertemukan kalian kembali kali ini?” Wahyu datang dengan pertanyaan yang menggelitik bagi Rendra.


 


“Jodoh tidak akan ke mana, Yu”


 


“Bagaimana dengan gadis hasil perjodohan? Jangan bilang kamu tidak berpamitan padanya. Kita tidak pernah tahu akan pulang seperti apa. Situasi di sana tengah memanas gara-gara permintaan mereka ditolak pusat.”


 


“Dia di Jakarta, kami berbicara di telepon. Dia berpesan jika Cut menolak maka dia meminta ruang walau sempit untuknya di hati saya.”


 


“Apa ada?” Rendra menatap Wahyu bingung.


 


“Apa masih ada ruang sempit yang tidak terisi oleh gadis Aceh itu di hatimu?”


 


“Tidak.”


 


“Lalu, jawaban apa yang kamu berikan kepada Risma?”


 


“Tidak ada. Saya tidak memberikan jawaban apa-apa. Biar waktu yang menjawab.”


 


 


“Tidak tahu, Yu. Mengingat situasi Aceh saat ini, saya jadi pesimis untuk bertemu dia. Mungkin saja dia sudah bahagia dengan pasangannya saat ini.”


 


“Segalanya masih mungkin terjadi. Kita lihat dan nikmati saja.” Ucap Wahyu seraya menepuk pundak Rendra.


 


Wahyu pergi meninggalkan Rendra yang masih betah menatap birunya hamparan laut lepas. Rindu berkalung kabut kegelisahan sedang menyergapnya. Di atas kapal perang dia bersama seribu prajurit kembali dikirim ke Aceh.


 


Perundingan antara kedua belah pihak kembali gagal. Referendum yang diarak sepanjang jalan kini berganti dengan iringan ratusan truk yang mengangkut tentara bersenjata lengkap serta tank dan alat tempur lainnya.


 


Aceh kembali berdarah. Pembakaran sekolah di mana-mana. Para guru di larang mengajar. Setiap jalan yang akan dilewati para tentara kembali di hadang yang berakibat pembakaran bangunan oleh para tentara yang marah ketika teman mereka gugur saat dihadang.


 


Pembakaran rumah-rumah yang dicurigai menjadi mata-mata juga sulit dihentikan. Dan warga kampung Sogoe kembali dikejutkan dengan pembakaran rumah keluarga Cut yang sudah lama kosong.

__ADS_1


 


Di tengah malam yang gelap kobaran api berhasil membumi hanguskan rumah kosong tersebut. Tidak ada warga yang membantu memadamkan api. Para tentara yang mengetahui jika rumah itu telah lama kosong juga tidak membantu memadamkan api yang terus berkobar.


 


Berita terbakarnya rumah tersebut sampai juga ke telinga Abu melalui Mae. Dia tidak sengaja bertemu Leman di terminal saat mengambil barang.


 


“Siapa yang bakar, Bang Leman?”


 


“Mana aku tahu. Waktu aku lihat, rumahnya sudah jadi abu.”


 


“Mae kasih tahu Abu tidak ya? Kasihan Abu, beliau pasti sedih jika tahu rumahnya dibakar orang. Kira-kira siapa yang bakar ya? Mae jadi penasaran.”


 


“Kamu kasih tahu saja. Kalau kamu tidak kasih tahu, Abu juga pasti dengar dari yang lain.”


 


“Iya juga ya. Nanti Mae kasih tahu.”


 


“Kamu juga hati-hati Mae. Aku dengar banyak pemberontak yang ke sini selama referendum kemarin. Jangan bicara apa-apa tentang keadaan kampung kita. Salah-salah kamu bisa mati sambil kencing.”


 


“Mae kan Cuma bicara begini sama Bang Leman. Kalau sama yang lain, Mae bicaranya tentang harga bawang dan cabai.”


 


“Kamu juga tidak usah pulang ke kampung lagi. Di sini saja sama Abu. Aku lihat badan kamu semakin berisi. Sepertinya Abu kasih umpan banyak buat kamu.”


 


“Eits... umpan apa ini? Memangnya aku kambing dikasih umpan. Mae pulang dulu ya Bang Leman. Salam buat si kam.”


 


“Si kam mana?”


 


“Kampung.” Mae berlari menuju becaknya sambil tertawa karena berhasil mengerjai Leman.


 


Raut wajah Abu dan Umi terlihat sedih. “Ya sudahlah, kita juga tidak bisa kembali ke kampung. Abu dan Umi ikhlaskan saja.” ucap Mae.


 


“Rasanya masih tidak percaya jika rumah yang kita bangun kini sudah rata dengan tanah. Mae, suatu hari di saat Aceh sudah aman. Kita akan pulang ke kampung. Walaupun kita tidak tahu kapan Aceh akan damai.

__ADS_1


***


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...


__ADS_2