
Iskandar menatap lekat pemandangan
di depan matanya saat ini. Dia sudah sejauh ini berusaha untuk menaikkan
derajatnya di kemudiaan hari. Sebuah tepukan dipundaknya menyadarkan Iskandar
bahwa ini adalah nyata bukan mimpi. Ke empatnya tersenyum memandang ke depan
seolah masa depan mereka sudah terlampau dekat untuk digapai.
“Bisakah kali ini kita
menyelesaikannya dengan cepat?” tanya Iskandar.
“Insya Allah.” Ucap ke tiga
sahabatnya serentak.
Semangat yang Iskandar tumbuhkan
dalam dirinya ikut tertular pada ke tiga sahabatnya. Mereka bahkan kompak
mengikuti Iskandar ke Kairo dan mengejar pelajaran dengan baik saat di Yaman
hanya dengan alasan tidak ingin berpisah.
Hari berlalu begitu cepat untuk
mereka yang sedang giat-giatnya belajar supaya lulus dengan cepat. Sedangkan di
belahan bumi yang lain, seorang remaja SMA justru tengah menjadi pusat
perhatian semua murid karena berkelahi dengan kakak kelas. Siswa kelas satu SMK
itu adalah Anugrah yang terlibat perkelahian dengan kakak kelasnya lantaran membantu
seorang siswi.
Rendra yang sedang berada di kantor
langsung menghubungi sang istri lalu keduanya bergegas menuju sekolah Anugrah
setelah dihubungi pihak sekolah.
Arash yang merupakan kakak kelas
tiga bersama kedua temannya berdiri di lapangan sebagai hukuman. Sementara
orang tua mereka sudah berkumpul di ruang kepala sekolah.
“Karena semua sudah hadir, saya akan
menjelaskan apa yang sudah terjadi. Arash bersama kedua temannya yaitu Dimas
dan Gery melakukan bullying pada siswi kelas satu dan kebetulan siswi tersebut
satu kelas dengan Anugrah. Melihat, bagaimana mereka membuli Tiara hingga siswi
tersebut menangis membuat Anugrah kesal dan menegur mereka. Arash dan kedua
temannya tidak terima hingga mereka melawan Anugrah dan terjadilah aksi saling pukul.
Bapak dan Ibu sekalian, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya jika pihak
sekolah tidak mentolerir sedikitpun kekerasan di sekolah ini. Karena ini sudah
termasuk level yang parah maka saya akan memberikan skorsing selama satu minggu
untuk mereka. Tolong nasehati mereka di rumah nantinya.”
Para orang tua tidak ada yang
membantah. Sekolah ini terkenal dengan pimpinannya yang sangat tegas dan tidak
pilih kasih. Kedisiplinan di sekolah ini juga selalu menjadi yang terbaik
hingga tidak heran jika SMK pilihan Cut selalu menjadi yang teratas dalam
segala hal. Kejadian bullying ini sendiri baru mencuat karena ada perlawanan
dari siswa. Selama ini tidak ada yang berani melawan Arash cs hingga Anugrah
menjadi dalah satu siswa di sana.
Rendra tidak mengetahui jika anaknya
akan seberani itu karena yang dia tahu Anugrah tidak memiliki kemampuan bela
diri. Tapi yang terlihat saat ini adalah sebaliknya. Kondisi Arash cs lebih
mengenaskan dari Anugrah yang hanya lebam di dekat bibir dan pipinya. Setelah
pertemuan keluarga tersebut, para pelaku dipersilakan pulang bersama orang tua
masing-masing. Arash menatap tajam Anugrah yang berjalan santai menuju mobil
ayahnya.
“Dia belagu karena Bokapnya tentara,
Rash.” Ucap Gery.
“Kita balas dia di luar!” sahut
Arash penuh dendam.
“Loe gak takut? Bokap dia militer.”
Arash tidak menanggapi lagi, dia
memilih pergi meninggalkan kedua temannya.
“Dari mana kamu belajar karate?”
tanya Rendra saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
“Papa bukannya tanya kabar anak
malah itu yang ditanya.” Sela Cut.
“Tidak perlu ditanya lagi, Ma. Dia
baik lihat saja penampilannya.”
“Dek, kamu ada sakit dimana? Mungkin
luarnya tidak sakit tapi siapa tahu dalam tubuhmu ada yang sakit atau perih
__ADS_1
biar kita ke dokter.”
“Tidak perlu, Ma. Aku baik-baik
aja.” Jawab Anugrah.
“Nah, dengarkan? Dia itu sehat
walafiat. Lalu, dimana kamu belajar karate?” tanya Rendra kembali.
“Sama teman SMP, Pa. Ayahnya punya
sanggar sekaligus pelatih.”
“Dan kamu tidak bilang sama kami?”
cecar Rendra.
“Maaf, Pa. Bukannya tidak mau bilang
tapi karena Papa juga menyuruh aku belajar karate jadi aku rasa gak masalah
kalau belajar sama ayahnya temanku.”
“Kamu sudah besar tapi setidaknya
beritahu kami apa yang kamu lakukan. Belum tentu juga kami akan melarang,
paham?”
“Paham, Pa.”
Tanpa mereka ketahui, Anugrah sering
bertukar pesan dengan sang kakak yang berada jauh di Mesir. Anugrah belajar
karate juga karena usulan sang kakak.
“Kamu harus belajar ilmu bela diri
untuk menjaga diri kamu sendiri juga untuk menjaga Mama!”
Hanya sebait pesan yang dikirim oleh
Iskandar langsung membuat sang adik bertekad untuk berlatih. Alhasil, tiga
tahun waktu SMPnya ia habiskan belajar karate secara diam-diam. Berita
perkelahian Anugrah sampai juga ke telinga sang nenek. Dalam usianya yang tidak
lagi muda, sang nenek masih kuat untuk bepergian seperti saat ini. Menjelang
sore hari, beliau sudah sampai ke rumah Rendra untuk melihat kondisi sang cucu.
“Kamu laporkan saja sama polisi biar
mereka yang menyelesaikan. Sekolah apa yang dipilihakan istrimu untuk anaknya.
Bagaimana kalau mereka mengeroyoknya di sana? Siapa yang akan membantunya?
Lebih baik kamu keluarkan saja Anugrah dari sana biar dia sekolah di sekolah
yang lebih baik siswa-siswanya.” Cut hanya mendengarkan ocehan sang ibu mertua
yang sudah mendarah daging untuknya.
“Aku suka sekolah di situ, Nek. Aku
“Nak, Nenek tidak mau kamu celaka.
Kalau mereka menyerang kamu lagi nanti bagaimana? Siapa yang tanggung jawab?
Apa Mamamu mau tanggung jawab? Lihat saja berita sekarang ini, berapa banyak
anak-anak SMA yang terlibat tawuran hanya gara-gara masalah kecil? Nenek takut
kamu diapa-apain lagi nanti di sana. Kamu juga, Cut. Apa kamu tega membiarkan
anakmu dipukuli teman-temannya. Pokoknya kamu harus memindahkan Anugrah dari
sana!”
“Nek, ini pilihan aku kenapa Nenek
nyalahin Mama? Aku gak mau pindah, titik!” Anugrah beranjak dari duduknya
menuju kamar lalu membanti pintu dengan keras.
“Lihat! Itu hasil didikan kamu.
Iskandar berkelahi dari SD dan sekarang Anugrah juga mengikutinya berkelahi
saat SMA. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mau mendengar nasehat orang tua. Nasehat
yang saya berikan hanya menjadi angin lalu untuk kamu. Inilah hasilnya kalau
kamu mendidik anak tanpa mau mendengar pendapat orang lain.”
“Ma, jangan menyalahkan Cut terus.
Rendra juga memiliki andil dalam mendidik Anugrah selama ini. Bukan Cut saja
yang mendidiknya tapi Rendra juga. Dan kalau ada yang salah berarti kami berdua
yang salah dalam mendidiknya. Jangan salahkan Cut lagi!”
“Dan mengenai sekolah, bukan Cut
saja yang mau tapi Rendra juga karena dengan keahlian yang didapat di SMK nanti
akan menjadi nilai lebih untuk Anugrah mendaftar di militer.”
Ibu Yetti terdiam lalu menatap sinis
pada sang mantu yang sedari tadi tidak bersuara. Begitulah Cut dalam menghadapi
ibu mertuanya. Ia memilih untuk diam dari pada berdebat dan menimbulkan masalah
yang akan membuat hubungan diantara mereka semakin renggang. Berbanding
terbalik saat ia bertemu dengan Risma. Cut akan membusungkan dadanya saat menghadapi
wanita penuh drama tersebut.
Sementara di dalam kamarnya, Anugrah
justru tengah berbalas pesan dengan Tiara. Siswi sekelasnya yang sudah ia
__ADS_1
selamatkan.
“Makasih ya untuk tadi. Harusnya
kamu tidak belain aku. Sekarang kamu justru kena masalah gara-gara aku.”
“Santai saja.” Balas Anugrah
singkat.
“Gimana lukamu, apa sudah diobati?”
“Sudah.”
“Ya sudah kalau begitu. Sekali lagi
aku ucapakan maaf dan terima kasih. Selamat istirahat semoga cepat sembuh.”
“Oke!”
Tiara memandang foto profil Anugrah
yang menampilkan dia sedang berpose bersama ibunya sambil merangkul mesra
dengan senyum merekah dari keduanya.
“Ibumu pasti sangat sayang padamu.”
Sementara Anugrah masih berbalas
pesan dengan sang kakak.
“Nenek datang marahin Mama.”
“Kamu diam saja tidak belain Mama?”
balas Iskandar.
“Tenang, Papa dah pasang badan kali
ini.”
“Tumben?”
“Udah lepas dari jeratan tante
girang.” Iskandar tersenyum kecil membaca pesan dari sang adik.
“Ciee….yang udah mesra.” Ledek Reski
melihat Iskandar yang sedang tersenyum sambil berbalas pesan.
"Anugrah ya?” tanya Ari.
“Siapa lagi. Sejak kapan Iskandar
yang terkenal pendiam dekat sama cewe? Padahal yang lirik banyak.” Sela Dwi.
“Fokusss….biar cepat lanjut S2!”
“Whattttt??? Ke tiga sahabat till
jannah serempak terkejut.
“Kenapa? Kalian tidak mau lanjut?”
tanya Iskandar santai.
“Kamu serius?” tanya Reski.
Mereka belum pernah membahas ini
sebelumnya makanya mereka sangat terkejut mengetahui rencana Iskandar.
“Kita sudah sejauh ini kalau hanya
S1 untuk apa jauh-jauh ke sini? Kalau bisa S2 kenapa harus S1?” ke tiga
temannya melongo mendengar perkataan Iskandar. Ke tiganya sudah menyusun banyak
rencana untuk melakukan banyak hal setelah lulus S1.
“Kamu gak rindu Indonesia, Is?”
tanya Ari.
“Aku tidak memaksa kalian tapi
inilah tujuanku selanjutnya. Aku mengatakan pada kalian dari sekarang supaya
jika kalian memiliki niat yang sama denganku. Kalian bisa fokus untuk selesai
lebih cepat tanpa bermain-main dengan waktu.”
Prok…prok…
“Andai ada pemilihan student of
the year, aku yakin kamulah pemenangnya.” Ucap Dwi.
Perbincangan berakhir setelah suara
alarm dari ponsel Iskandar berbunyi. “Waktunya cari duit, ayo!” ke empatnya
keluar dari rumah kontrakan lalu berjalan menuju pasar. Untuk menambah uang
saku, mereka berjualan bakso di mesir dan bakso mereka selalu habis dibeli oleh
mahasiswa asal Indonesia hingga negeri jiran Malaysia.
Apa saja mereka kerjakan selama menjadi mahasiswa di Mesir.
Bahkan menjadi relawan saat musim haji. Banyak hal yang mereka dapatkan bahkan
di tahun pertama berada di sana, ke empatnya sudah menyandang status ‘Haji’.
Selain mieso, mereka juga menjual
tempe berbekal ilmu yang didapat saat mondo dulu. Tempe mereka bahkan banyak
dibeli oleh orang-orang Mesir yang ketagihan dengan makanan khas Indonesia
tersebut.
“Dek, ada yang nyari kamu di luar.”
***
__ADS_1
Maaf, hari ini telat Up. ini aku Up lewat Web mudah2an tulisannya gak bergeser. App Word lagi bermasalah di hp jadi gak bisa Up lewat aplikasi. sorry banget kalo tulisannya bergeser gak beraturan karena paste biasa gak bisa pake paste spesial.
Happy Reading...