CUT

CUT
Saya Dipaksa...


__ADS_3

“Saya sulit untuk hamil kembali,”


Rendra tersenyum lebar dan itu membuat Cut justru menatap heran dengan reaksi Rendra yang diluar dugaan Cut.


“Jadi kamu menerima lamaran saya?” Cut semakin bingung dengan pertanyaan Rendra. “Kamu bicara tentang hamil itu artinya kamu menerima saya tapi kamu khawatir dengan kondisimu yang sulit hamil. Benar begitu?”


“Oh tuhan, makhluk apa yang sedang di samping hamba ini. kenapa dia begitu bebal?” batin Cut.


“Jangan mengatai saya dalam hati! Katakan saja langsung di depan orangnya supaya tidak menjadi dosa. Apa kamu tidak takut harus mengejar-ngejar saya di akhirat sana hanya untuk minta maaf?”


Cut menarik oksigen dalam-dalam untuk menetralisir aliran darahnya yang tidak menentu saat ini. “Saya bicara serius. Setiap laki-laki yang menikah tentu dia mengharapkan keturunan. Dan saya tidak bisa memberikan itu.”


“Kamu bukan tuhan, Cut. Kalau memang sang pencipta tidak memberikan lagi kesempatan untuk kita memiliki keturunan. Maka, cukup Iskandar saja. Saya tidak membutuhkan yang lain. Cukup kamu dan Iskandar saja. Apa lagi yang akan kamu katakan untuk membuat saya mundur?”


Rendra menatap lekat manik hitam milik Cut seraya menegaskan jika keputusannya sudah bulat. Apapun yang dipermasalahkan oleh Cut tidak akan menyurutkan langkah Rendra untuk memilikinya.


“Kalau saya menikah lagi, mertua saya akan meminta Iskandar untuk mereka. Saya tidak mau kehilangan dia. Hanya dia yang saya punya saat ini. Jika saya harus memilih antara Abang dan Iskandar maka saya akan memilih Iskandar.”


“Saya tidak akan memintamu untuk memilih karena kamu memang tidak perlu memilih. Saya memilihmu sebagai istri dan menerima Iskandar sebagai anak. Mereka juga tidak bisa memisahkanmu dengan Iskandar karena ada hukum yang berlaku. Dari segi keuangan, saya lebih dari mampu untuk menghidupi kamu dan Iskandar. Sekarang apa lagi yang kamu pikirkan?”


Cut kehabisan kata-kata. Dia tidak percaya kalau pria ini masih belum menyerah terhadapnya. “Bagaimana dengan keluarga Abang? Apa mereka merestui jika saya yang cacat ini menjadi istri Abang?”


Rendra tersenyum sinis, “Kamu belum menyerah juga untuk membuat saya mundur. Apa itu penting?”


Cut mengangguk, “Sangat. Restu orang tua akan berpengaruh pada kelancaran hubungan rumah tangga itu dikemudian hari.” Jawab Cut mantap namun setelah mendengar jawaban Rendra, lagi-lagi Cut harus menelan pil kekalahan.


“Pernikahan sebelumnya juga karena restu dan hasilnya kita menjadi duda dan janda seperti sekarang.”


Pipi cut seperti tertampar. Ia menatap Rendra lekat mencoba mencari celah keraguan di dalam manik mata itu. Namun, hasilnya tetap nihil. Rendra dengan segala keyakinannya tidak pernah mundur ataupun takut saat mengambil keputusan. Apalagi keputusan tentang hidupnya di kemudian hari.


Tenggorokan Cut terasa kering. Ia meminum air mineral yang sudah Rendra buka untuknya seraya menatap ke arah laut.


“Jurus apa lagi yang akan kamu keluarkan? Keluarkan semua saat ini karena ke depannya saya tidak akan melepaskan kamu lagi.”


Gleg…

__ADS_1


Cut tidak berani menatap Rendra, kata-kata yang keluar dari mulut Rendra sangat tegas dan terkesan tidak menerima penolakan.


“Saya merasa dipaksa menerima Abang.”


“Saya pastikan paksaan ini akan membuat kamu tersenyum bahagia sampai kamu lupa kalau saya memaksa kamu menikah.”


“Tapi saya belum yakin. Saya masih takut untuk memikirkannya. Saya pernah gagal dan takut gagal kembali. Bayang-bayang masa lalu masih sering bermunculan.”


“Saya punya cara untuk membuatmu melupakan semua kenangan buruk dan baik bersama mantan suamimu terdahulu.”


“Caranya?” tanya Cut polos.


Cup…


Cut terdiam seakan tubuhnya tidak mampu  bergerak. Sebuah ciuman di pipinya secara tiba-tiba membuat semua pikirannya kosong seketika.


“Hilang kan? Sudah saya duga.”


Rendra tersenyum puas menatap wanita pengisi hatinya terdiam dan tidak berani menatapnya lagi. Ia memberanikan diri menggenggam sebelah tangan Cut lalu menatap wanita itu lekat walau Cut memalingkan wajahnya.


Cut tertunduk menatap genggaman tangan Rendra di tangannya. Sulit untuk menolak pria ini dengan semua perasaanya. Rasa yang dulu sempat ada kini kembali. Rasa di bawah deru peluru kembali menguap ke dalam dada.


“Jadi apa keputusanmu? Berikan saya jawaban sekarang! Saya tidak mau menunggu lagi dan ujung-ujungnya kita terpisah lagi seperti dulu. Cukup lama saya meratapi kehilangan kamu tanpa tahu jawaban yang akan kamu berikan. Jadi saat ini saya memaksamu untuk memberikan saya jawaban. Dan saya harap jawabanmu tidak akan membuat saya kecewa.”


“Saya tanya Mak Cek Siti dan Pa-“


“Mereka sudah setuju.”


“Sebaiknya kita istikha-“


“Saya sudah dan jawabannya tetap kamu. Baik dulu maupun sekarang.” Cut menarik nafasnya dalam-dalam.


“Nanti saja saat ki-“


“Sekarang!”

__ADS_1


“CUT ZULAIKHA, apa kamu bersedia menikah dengan saya? Jawab sekarang atau kita akan terus berada di sini!”


“Kenapa Abang memaksa?”


“Agar kamu mau.”


“Saya tidak mau?”


“Baiklah, kalau begitu kita akan bermalam di sini.”


“Saya bisa pulang jalan kaki.” Jawab Cut hendak berdiri.


“Sekedar informasi, di sini banyak babi dan binatang buas lainnya.”


Cut terdiam, ia tidak menyangka akan berakhir seperti ini dengan Rendra.


“Saya beri kamu waktu satu jam dari sekarang!”


Gleg…


Rendra memutar badannya lalu merebahkah kepalanya di atas paha Cut. “Bangunkan saya satu jam lagi dan kamu harus sudah siap dengan jawabannya.”


Rendra mengambil sebelah tangan Cut lalu menaruh di atas matanya, “Silau.”


Jantung Cut berpacu lebih cepat dari biasanya. Suasana seperti ini sangat tidak baik untuk jantung dan hatinya. Di saat Cut sedang berpacu dengan semua pemikiran dan perasaannya. Rendra sudah terlelap meninggalkan Cut sendiri. Dalam diam, Cut menatap wajah yang sedang terlelap itu dengan saksama. Wajah tampan dengan kulit sedikit gelap. Cut masih ingat jika kulit Rendra dulu putih tapi sekarang sedikit berubah. Gurat-gurat kelelahan tergambar jelas di wajahnya. Tangan Cut masih menutup sepasang mata yang selalu membuatnya berdebar.


“Kamu sempurna tapi kenapa memilihku?”


Pelan-pelan, Cut menggeser tangannya. Ia ingin menatap wajah Rendra secara keseluruhan. Memetakan wajah itu dalam hati dan pikirannya dengan harapan akan ada yang membuatnya berubah pikiran. Cut terus memperhatikan wajah itu dengan saksama sampai tiba-tiba kedua mata Rendra terbuka. Keduanya terlibat kontak mata secara langsung hingga membuat Cut susah menelan salivanya sendiri


“Apa jawabanmu?”


Deg…


***

__ADS_1


__ADS_2