
Arash bersungguh-sungguh menjalankan rencananya untuk membantu Mauren menuntaskan rasa penasarannya. Seperti biasa setiap sore sabtu, Anugrah mengikuti latihan basket di sekolahnya. Latihan basket diadakan di lapangan dalam gedung olah raga milik sekolah. Seseorang mengambil botol minum milik Anugrah lalu memasukkan sesuatu ke dalamnya saat Anugrah sedang berada di kamar mandi setelah menyelesaikan latihannya.
Anugrah keluar dari kamar mandi dengan badan yang sudah segar. Hari sudah menjelang magrib dan saat ini ia sedang menunggu kedatangan sang ayah.
“Bokap loe belum datang, A?” tanya salah satu rekan satu tim dengannya sebelum keluar meninggalkan Anugrah di ruang ganti sendirian.
“Bentar lagi nyampe.”
Anugrah meminum minumannya sambil membaca chat dari sang kakak.
“Hai, A.” sapa Mauren yang sudah berdiri di pintu ruang gantinya.
“Ada apa? ini tempat ganti cowo.”
Mauren masih menggunakan seragam SMAnya memasuki ruang ganti tanpa canggung.
“Kenapa? Kamu takut aku makan?” tanya Mauren yang melihat gelegat tak biasa dari adik letingnya itu.
Anugrah tampak gusar dan sedikit kepanasan. “Keluarlah, ini bukan tempat cewe!” titah Anugrah hendak keluar dari ruang tersebut namun langkahnya terhenti saat Mauren menubruk dadanya kencang. Anugrah mulai kesal dan gusar. Perasaannya tidak jelas dan badannya juga terasa berat. Mauren yang diliputi rasa penasaran langsung mengulang kejadian di toilet walaupun mendapatkan penolakan berkali-kali dari Anugrah.
Semakin lama, pengaruh obat mulai bekerja dalam tubuh Anugrah. Mauren tersenyum nakal saat tangannya berhasil menggapai senjata si adek leting.
“Wow, aku semakin penasaran dengan ini.”
Tidak ada yang dapat membantu Anugrah kali ini. Lapangan basket sudah sepi tinggal mereka berdua dan sekelompok penonton yang mendukung aksi tersebut. Mereka kesal karena tidak bisa merekam lantaran tempat terjadinya perkara sulit untuk dijangkau.
Mauren sudah membuka sendiri kancing bajunya di depan Anugrah. Anugrah masih berusaha menggapai pintu ruang ganti walaupun sudah dikunci oleh Mauren.
“Apa yang kamu lakukan? Kita bakal dikeluarkan dari sekolah gara-gara perbuatanmu ini.” Anugrah berucap sambil menangkis tangan nakal Mauren di tubuhnya.
“Cih, aku tidak peduli. Yang aku mau adalah kamu!”
Seolah mendapat kontak batin, Iskandar sendiri mulai merasa tidak nyaman dengan hatinya. Berkali-kali ia bezikir tapi semakin kuat rasa itu.
“Coba telepon adikmu!” pinta Rezki
Iskandar langsung menelepon sang adik dan sialnya justru tidak diangkat. Hp Anugrah tersimpan dalam tas dan Mauren dengan sengaja manjauhkan tas tersebut. Obatnya mulai menjalar dengan sempurna dalam tubuh Anugrah hingga ia tidak bisa lagi menahan entah rasa apa yang menghinggapinya saat itu. Tiga kali Iskandar menelepon tapi sang adik masih belum menjawab.
Sementara di rumah, Cut yang sedang mencuci piring tiba-tiba piring yang dipegangnya jatuh dalam wastafel. Perasaanya juga tidak enak dan ia langsung terpikir Iskandar.
Dreettt…
“Assalamualaikum, Ma. Mama baik-baik saja?” tanya Iskandar panik.
Cut bingung tapi tetap menjawab, “Walaikumsalam, Mama baik. Kamu kenapa?” Cut mulai panik.
“Papa mana, Ma?”
“Papa jemput Anugrah.”
“Ma, suruh Papa lihat Anugrah secepatnya. Perasaanku gak enak, dari tadi aku menelepon dan dia tidak mengangkatnya.”
Cut yang gugup langsung mematikan telepon anak sulungnya kemudian menghubungi sang suami. “Pa. kamu dimana?”
“Kenapa, Ma? Kok panik. Papa bentar lagi sampai di sekolah Anugrah. Kangen ya?” goda Rendra.
“Pa, cepat ke sekolah Anugrah. Iskandar barusan meneleponnya dan dia tidak angkat. Perasaan Mama juga tidak enak ini. Cepat, Pa!”
Rendra melajukan mobilnya dan tidak lama kemudian dia sudah memasuki area parkir sekolah. Rendra langsung berlari menuju lapangan di dalam gedung tempat anaknya latihan.
“Tidak ada orang,”
Satu-satunya tempat yang ada dipikirannya adalah ruang ganti.
“Anugrah, kamu di dalam Nak?” Rendra mengedor pintu yang terkunci dari dalam.
“Lihat itu, kamu gagal Mauren. Rencana busukmu tidak berhasil. Bersiaplah, setelah ini Papaku akan membuat hidupmu seperti di neraka.”
__ADS_1
“Pa, aku di dalam. Tolong, Pa!”
Mauren mencoba membekap mulut Anugrah tapi tangannya justru digigit kuat oleh Anugrah.
“Aaaaww.”
Mauren tidak hilang akal, ia langsung berlari menuju pintu.
“Om, tolong aku! A mau memperkosa aku, Om.” Mauren memeluk Rendra tapi mata Rendra justru tertuju pada sang putra.
Rendra mendorong Mauren lalu menghampiri anaknya. “Pa, tolong aku!”
Melihat anaknya yang sudah tidak berdaya, Rendra segera membawa anaknya ke kamar mandi lalu memutar shower. Tunggu di sini!”
“Hallo, tolong siapkan kolam kecil berisi es sekarang!”
“Siap Dan!”
Rendra mengambil tas lalu memapah Anugrah menuju markasnya. Memarkirkan mobil tepat di tempat kolam, Rendra langsung membawa Anugrah lalu memasukkannya dalam kolam berisi es.
“Ya, Ma. Anugrah sama Papa lagi di tempat latihan Papa.”
“Apa dia baik-baik saja?”
“Ya, dia baik, Ma. Ya sudah Papa tutup dulu. Mungkin kami pulang sedikit telat, Ma.
“Kenapa?”
“Waktunya para pria, oke?”
Cut langsung tersenyum lalu mengakhiri percakapan mereka.
“Tolong panggilkan dokter!”
“Siap, Dan!” salah satu tentara itu langsung bergegas memanggil dokter piket di markas.
Dreettt…
“Ck, kamu baru menelepon Papa karena Anugrah. Dia baik, sekarang lagi berendam dalam kolam es.”
“Kolam es, Anugrah kena-?”
Belum selesai Iskandar bertanya, Rendra sudah lebih dulu menjawab. “Adikmu dijebak orang. Minumannya dimasukkan obat perangsang.”
“Tenang saja, dia belum sempat diperkosa. Allah masih melindunginya dan mungkin karena doa kakaknya juga di sana.”
Iskandar terdiam mendengar perkataan sang papa. “Sudah ya! Dokter sudah datang. Nanti kita bicara lagi.”
Tutt…
Rendra langsung mengajak dokter militer tersebut untuk memeriksa Anugrah di dalam. Dokter menuliskan resep lalu seorang tentara diminta Rendra untuk menebusnya ke apotik.
“Ini harus dipolisikan jika tidak akan terulang lagi kejadian yang sama.” Dokter tersebut memberi saran pada Rendra setelah mendengar cerita Rendra tentang kasus Anugrah.
“Botol minumnya tidak sempat saya ambil, apa bisa melalui cairan dalam perutnya?” tanya Rendra.
Dokter itu mengangguk lalu meminta asistennya untuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan dalam pengambilan sampel yang akan dibawa ke laboratorium. Jam sepuluh malam Rendra berhasil embawa pulang Anugrah yang terlihat sudah lebih baik.
“Kamu harus lebih hati-hati mulai sekarang. Lihatlah, khilaf sedikit saja kamu hampir diperkosa perempuan gila itu. Jangan bilang apa-apa sama Mama, ya! Papa tidak mau Mama kamu kepikiran.”
“Pa, efeknya mengerikan sekali obat itu. Kenapa dijual bebas begitu? Apa tidak berbahaya bagi orang banyak?” lirih Anugrah.
“Uang lebih menggiurkan dari pada nasib orang. Sekarang kamu tahu kan bagaimana dunia luar? Kalau kamu tidak mempersiapkan mental dan fisik. Kamu akan kalah sama mereka yang licik.”
Kedua pria tersebut sampai di rumah dan langsung disambut dengan rasa panik khawatir oleh sang ibu. “Kamu tidak apa-apa, Nak?”
“Dia baik-baik saja, Ma. Kan Papa sudah bilang tadi. Udah biarkan dia istirahat! Ayo, Papa juga mau istirahat sekalian kerokin punggung Papa.”
__ADS_1
“Kalian sudah makan?”
“Sudah, Ma. Ayo, biarkan Anugrah istirahat.” Ajak Rendra menarik tangan sang istri ke dalam kamar mereka.
Rendra membuka bajunya lalu merabahkan diri di atas ranjang. “Abang beneran minta dikerok?” panggilan mereka selalu berubah. Saat berdua, Cut lebih sering memaanggil Rendra dengan ‘Abang’ tapi kalau sudah di depan anak-anak, ia akan memanggil Rendra dengan sebutan ‘Papa’
Cut mulai membaluri minyak di punggung sang suami lalu dengan bantuan sebuah koin. Tangan Cut mulai menari-nari di atasnya. Setelah lima menit berlalu, Rendra yang sedari tadi tengkurap kini membalikkan badannya. Ia menatap sang istri lekat dengan sebelah tangannya memegang tangan sang istri lalu menaruh di dadanya.
“Anugrah meminum air yang sudah dimasukkan obat peransang. Dia hampir diperkosa sama kakak kelasnya yang kemaren.” Mata Cut membulat sempurna saat mendengar penuturan sang suami.
“Alhamdulillah, Abang datang tepat waktu. Abang berpikir untuk melaporkan kejadian ini ke polisi.”
“Apa Anugrah setuju?” tanya Cut.
“Belum tahu. Besok kita bicarakan dengan dia lagi.”
“Ayo, Abang juga terkena pengaruh obat itu!”
“Abang minum air itu juga?” tanya Cut panik.
Rendra langsung menarik tangan sang istri hingga tubuh Cut jatuh di atas dada sang suami. “Abang gak perlu minum obat itu. Cukup dipijit seperti tadi saja sudah bikin Abang –“
Rendra tidak melanjutkan perkataannya lagi. Target sudah di depan mata untuk apa berlama-lama. Ia segera menyerang target tanpa ampun hingga menjelang tengah malam keduanya baru berhenti. Sementara di kamarnya, sekelebat ingatan tentang kejadian tadi sore terus bermai-main di ingatannya. Dan entah kenapa senjatanya malah berdiri tegak minta dipegang.
Apa yang dilakukan Mauren begitu membekas diingatannya. Bagaimana tangan nakal Mauren yang sudah pro mempermainkan senjatanya walaupun sudah ditepis berkali-kali. Tanpa siapapun ketahui, ia sempat membalas ciuman Mauren walau hanya sesaat karena terbuai oleh perlakuan Mauren. Kemolekan tubuh Mauren yang terpajang di depannya saat itu semakin membuatnya tak berdaya. Berkali-kali Anugrah memejamkan mata tetap saja gagal sampai suara getara telepon berbunyi.
“Apa kamu sulit tidur? Pasti sedang memikirkan percintaan panas kita kan?”
Anugrah langsung bisa menebak jika si pengirim pesan itu adalah Mauren. Dia langsung memblokir nomer tersebut.
Dreet…
“Sudah tidur? Gimana keadaanmu? Apa masih pusing atas bawah?” isi pesan kakaknya semakin menambah sakit kepala yang Anugrah rasakan saat ini.
“Aku gak bisa tidur, Kak. Kayaknya aku trauma deh. Aku terus keingat sama kejadian tadi.”
“Sudah ambil wudhu?” tanya Iskandar kembali.
“Belum,”
“Ambil wudhu sana lalu salat.”
“Kak, gimana mau salat kalau punyaku tegak begini?”
Sekilas, jika dilihat oleh orang lain. Mereka pasti menganggap aneh keduanya. Tapi begitulah Anugrah, dia begitu sering bercerita hal-hal pribadi pada Iskandar tanpa orang lain ketahui. Anugrah selalu nyaman menceritakan apa saja pada sang kakak.
“Keluarkan menggunakan tanganmu!”
“Kak, aku-“
Ini adalah pertama kalinya Anugrah merasakan hal yang berbeda dan lain dari biasanya. Selama dia tumbuh. Hidupnya selalu lurus dan tidak aneh-aneh. Teman-teman kompleknya juga tidak ada yang aneh sampai dirinya menginjakkan kaki di SMA.
“Pergilah ke kamar mandi lalu-“
***
VOTE...KOMEN...LIKE....
MAKASIH....
__ADS_1