
Mae menatap sosok berpakaian loreng didepannya, “Bang Rendra?” Rendra langsung memeluk pemuda itu sambil menepuk punggung Mae beberapa kali. Ada rasa lega sekaligus bahagia yang terpancar jelas di wajahnya. Pak Cek Amir yang menatap mereka mencoba menerka-nerka dalam hati tentang siapa sosok berbaju loreng tersebut. Mendengar Mae memanggil namanya sama seperti nama Rendra kecil membuat dugaan Pak Cek Amir semakin jelas.
“Bang, ini adiknya Abu!”
Mae memperkenalkan Pak Cek Amir pada Rendra setelah melepaskan pelukannya. Rendra tersenyum lalu mereka saling berjaabat tangan.
“Mae, bagaimana keadaan Abu, Umi, Cut dan Rendra? Abang hampir putus asa mencari kalian.”
Mae menatap Pak Cek Amir dengan guratan kesedihan. Hal itu tak luput dari perhatian Rendra, “Ada apa Mae?”
“Abu dan Umi sudah meninggal, Bang. Rendra dan Kak Cut masih belum ditemukan. Hanya Iskandar yang selamat dan sekarang tinggal bersama kami.”
“Innalillahi, pertama kali Abang sampai di sini. Abang langsung ke ruko Abu dan tidak menemukan kalian. Abang tanya sama orang di sana dan mereka bilang kalau Abu sudah pindah. Abang mencari mereka ke Lamkot dan tidak menemukan siapa pun di sana. Kalian tinggal di tenda mana?”
“Kami tidak lagi tinggal di tenda, Bang. Keluarga Mak Cek Siti membawa kami tinggal di salah satu rumah kerabat mereka.”
“Boleh Abang ikut ke sana? Biar Abang tahu di mana lokasinya.”
Rendra bersama beberapa rekannya mengikuti motor Pak Cek Amir yang berboncengan dengan Mae menuju rumah yang mereka tempati sekarang. sesampai di rumah tersebut, Rendra bersama beberapa rekannya mengikuti Pak Cek Amir dan Mae masuk ke dalam.
“Assalamualaikum…”
“Walaikumsalam, kenapa cepat sekali pu-?”
Pertanyaan Mak Cek Siti tertahan begitu melihat beberapa pria berpakaian loreng berada di belakang suaminya.
"Jangan panik! Mereka mengenal keluarga almarhum Bang Din.”
“Selamat siang, Buk. Kenalkan, nama saya Rendra.”
Deg…
Mak Cek Siti menatap sang suami dan Mae bergantian. Selama ini, Mak Cek Siti hanya mendengar dari cerita Abu, Umi atau Cut. Beliau tidak menyangka akan bertemu langsung dengan pemilik nama Rendra tersebut. Setelah berjabat tangan, Mak Cek Siti mempersilakan mereka masuk. Rumah kerabat Mak Cek Siti tersebut memang tidak berdampak parah oleh gempa. Hanya beberapa bagian yang retak selebihnya masih aman untuk dihuni. Sedangkan gelombang tsunami tidak sampai ke wilayaah tersebut sehingga rumah-rumah di daerah itu masih berdiri kokoh.
Di sela-sela percakapan mereka tentang mencari Cut dan Rendra kecil yang masih hilang, tiba-tiba Intan keluar sambil menggendong Iskandar.
“Mak, Iskandar minta keluar kamar ini.”
__ADS_1
Intan menyerahkan Iskandar pada Mak Cek Siti. “Ini anak Kak Cut, Bang.”
Deg…
Rendra menatap Mae intens lalu menatap wajah bayi yang sekarang berada dalam gendongan Mak Cek Siti. Bayi gembul yang sangat tampan itu tanpa diduga ikut tersenyum padanya.
“Cut sudah menikah?”
Rendra bertanya dengan suara seperti tercekat di tenggorokan. Ia tidak menyangka akan mendapati kenyataan ini. Wanita yang selama ini menempati ruang hati terdalamnya ternyata sudah menikah dan memeliki anak.
“Di mana suaminya?”
“Sama seperti Cut.”
Rendra menahan sesak di dadanya, hatinya sedikit sakit mengetahui kenyataan ini. Pandangannya tertuju kepada Iskandar yang terlihat tersenyum padanya. Hati Rendra menghangat dan juga sedih mengingat kesempatannya untuk mempersunting Cut telah kandas. Ia merasa kalah sebelum berperang.
“Abang mau gendong Iskandar?”
“Hah???”
“Apa kamu sudah bekeluarga?”
Rendra sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Pak Cek Amir. “Saya duda cerai, Pak.”
Pak Cek Amir tidak memperpanjang percakapan mereka tentang kehidupan Rendra walau sebenarnya beliau penasaran. Melihat sikap Rendra yang mampu memomong bayi seperti Iskandar tentu menjadi bukti jika dia adalah pria yang baik.
“Assalamualaikum…”
Suara orang memberi salam terdengar dari arah luar.
“Walaikumsalam…”
Kak Julie dan Bang Adie masuk ke dalam lalu hal yang sama kembali terjadi. Mereka sedikit panik ketika banyak tentara di rumah tersebut.
“Ada apa ini?” tanya Bang Adi.
Lalu, Pak Cek Amir memperkenalkan mereka pada Rendra. Lagi-lagi, Rendra dibuat terkejut.
__ADS_1
“Ini kakak dan abang ipar Cut!”
“Julie!”
“Adi!”
Mereka berjabat tangan lalu ikut bergabung di sana. Setelah berbincang hampir satu jam, Rendra meminta izin untuk kembali melanjutkan tugasnya sebagai tanggap bencana yang diutus pemerintah pusat.
“Jadi, dia mantan Cut dulu?” tanya Kak Julie pada Mak Cek Siti.
“Iya.”
“Sepertinya dia kecewa mengetahui Cut sudah menikah dan punya anak.” Tukas Bang Adi.
Rendra tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa dan juga sedihnya saat ini. Di satu sisi, dia bahagia bertemu dengan keluarga Cut yang artinya masih ada harapan untuk menemukan sang kekasih hati. Namun, di sisi lain. Ia harus menerima kenyataan jika wanita tersebut sudah menikah dan memiliki anak.
Sementara itu, dr Guney sedang berada di ruang kerjanya menatap hasil foto ronsen pasien pertamanya yang ia beri nama ‘Ayila’. Tidak ada identitas ataupun kerabat yang berada di sisinya saat ini. Pihak rumah sakit meyakini jika wanita yang diberi nama Ayila itu terpisah dari keluarganya. Melihat dari kondisinya, mereka juga meyakini jika posisi rumah wanita itu dekat dengan pesisir laut.
“Bagaimana, Dok?” tanya seorang perawat yang merupakan asisten dr Guney selama menangani pasien Ayila.
“Bagus, hanya saja perlu melakukan berbagai latihan untuk mendapatkan hasil maksimal.”
“Ayila wanita yang kuat, dia pasti mampu melewati ini semua. Kita harus memberikan banyak dukungan untuk membuatnya kembali bersemangat melanjutkan hidup.” Lanjut dr Guney.
“Ayila juga cantik, Dok.”
Dr Guney tersenyum kecil menatap sang perawat sambil geleng-geleng kepala. Sudah menjadi rahasia umum jika selama ini dr Guney begitu memperhatikan pasien pertamanya itu. Setelah memeriksa semua rekam medis pasiennya, dr Guney ditemani beberapa perawat langsung melakukan kunjungan ke setiap paseinnya.
Satu persatu pasiennya mulai menunjukkan perubahan, banyak yang sudah mulai berbicara ataupun bergurau ketika bertemu dr Guney. Kepribadian dr Guney yang ramah membuat semua pasiennya senang ditambah dengan candaan kecil yang sering ia lontarkan pada saat memeriksa pasiennya.
“Assalamualaikum, Ayila. Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya dr Guney saat mengunjungi brangkar Ayila.
Pertaanyaan dr Guney hanya dibalas senyuman kecil. Sebagian besar tulang tubuhnya patah dan retak. Wanita bernama Ayila itu mengalami cedera parah namun keajaiban Tuhan masih berlaku padanya. Ia masih bernyawa walau badannya terbentur sepihan bangunan di dalam terjangan ombak tsunami. Dalam tidurnya, berbagai kenangan bersama anak dan orang tuanya terus terlintas dan saat kenangan itu datang. Air mata Cut keluar begitu saja. begitu juga saat mereka memanggil namanya dengan sebutan ‘Ayila’. Walaupun badannya tidak bisa bergerak dan tenggorokannya masih sulit berucap. Tapi hatinya terus berdoa semoga ia dipertemukan kembali dengan keluarganya.
“Abu, Umi, kenapa ikut Bang Ilham? Kenapa kalian meninggalkan Cut?”
***
__ADS_1