
“Abu, bagaimana ini? Kenapa hati Umi terasa berat ya?” kedua suami istri berusia lanjut sedang membicarakan putri mereka di kamar.
Abu tersenyum kecil, “Setiap orang tua pasti merasa berat untuk melepas putrinya pergi. Begitu juga perasaan almarhum nenek Cut dulu saat melepas putri mereka kepada Abu. Hati dan pikiran mereka akan diliputi berbagai macam pertanyaan. Apakah putri mereka akan bahagia di sana? Apa dia akan makan dengan enak? Apakah mereka akan memperlakukannya dengan baik? Seperti itu juga perasaan kita sekarang, iya kan?” pertanyaan menggelitik dari Abu mampu membuat Umi tersipu malu.
“Umi, kita doakan saja supaya Cut mendapatkan imam yang terbaik. Seperti janji Allah, wanita yang baik pasti akan mendapat pria yang baik. Begitu juga sebaliknya.” Umi mengangguk kecil lalu merebahkan kepalanya di bantal.
“Umi sangat berharap kali ini dia bisa bahagia, Abu. Sudah banyak penderitaan serta kesedihan yang ia rasakan selama ini. Tapi, Abu. Ada satu lagi yang mengganjal di hati Umi.” Abu menatap sang istri hangat.
“Apa tidak jadi masalah bagi mereka kalau putranya yang seorang dokter menikah dengan anak kita yang sekolahnya saja tidak lulus? Apa Abu tidak merasa aneh? Selama tinggal di kota, Umi banyak mendengar hal seperti ini dari mulut ibu-ibu. Mereka cenderung memilih menantu yang sama tingkat sekolah atau pekerjaan. Apa Abu tidak pernah mendengar hal semacam itu?”
“Mungkin keluarga mereka berbeda, Umi. Buktinya, mereka menerima Amir yang hanya pedagang biasa sebagai suami Siti. Berarti, mereka memang tidak pilih-pilih menantu. Sudah malam, ayo kita tidur! Kita serahkan saja sama Allah. Hanya Allah yang maha mengetahui segalanya.”
Kedua orang tua tersebut mengakhiri diskusi malam sebelum memejamkan mata. Sementara itu, di kamar yang lain Cut masih terjaga. Dia melihat foto Faisal yang ditinggalkan oleh Mak Cek Siti kemarin.
Wajah yang cukup tampan berkulit putih serta senyum manis dengan gigi gingsul membuat Faisal terlihat semakin tampan dan manis. Tatapannya lembut dan tanpa sadar membuat Cut tersenyum kecil hingga kedua matanya tertutup sempurna. Cut terlelap sembari memegang foto Faisal.
“Kak Cut, tugas Mae sudah berkurang satu ya?” tanya Mae saat mereka sedang menyiapkan makanan untuk esok pagi.
“Berkurang bagaimana?” tanya Cut kembali.
“Kak Cut kan mau nikah. Jadi Mae tidak perlu lagi menerima surat cinta atau salam dari abang-abang di luar sana.”
“Kamu sudah bilang ke orang-orang? Ya ampun, Mae. Jangan bilang dulu ke orang-orang! Semuanya belum pasti. Semua bisa terjadi sebelum ijab kabul. Kak Cut tidak mau berharap lebih. Kamu tahu sendiri bahaya apa yang bisa mengancam kita.”
“Iya, Mae mengerti. Mae juga tidak bilang apa-apa sama orang-orang. Lebih tepatnya belum bilang. Untung Kak Cut melarang, padahal Mae sudah berencana memberi tahu si Pida cerewet biar dia berhenti membicarakan Kak Cut.”
“Sudahlah, Mae. Si Pida begitu biar banyak yang duduk di warungnya. Kalau warungnya ramai, gorengan habis dan dia juga yang untung. Kalau membicarakan orang lebih enak sambil makan, ya kan?” tanya Cut membuat Mae tertawa.
“Memang setan itu pintar memilih tempat dan waktu ya Kak Cut?”
__ADS_1
“Itu kamu tahu. Makanya jangan suka duduk di situ apalagi bawa-bawa Rendra.”
“Cuma di situ, Mae bisa dapat informasi seakurat berita di TV. Maaf ya Kak Cut! Seumur-umur Mae tinggal di sini. Mae tidak pernah bawa Rendra ke sana. Tidak baik anak laki-laki duduk di warung perempuan lama-lama.”
“Nah itu kamu tahu. Jadi?”
“Jadi apa Kak Cut?”
“Berapa bakwan yang sudah hangus?”
“Abang itu ganteng. Sama seperti Bang Rendra cuma bang dokter kulitnya lebih putih dari Mae. Mae setuju kalau Kak Cut nikah sama bang dokter.”
“Namanya Faisal bukan bang dokter.” sahut Cut.
“Setelah nikah, Kak Cut tidak tinggal di sini lagi. Jadi warung kaki lima resmi milik Mae ya?” gurau Mae namun wajahnya menyiratkan kesedihan.
Mae sudah menganggap Cut sebagai kakaknya. Pernikahan Cut nanti ikut membuatnya sedih bukan karena tidak suka melainkan rasa takut kehilangan. Selama ini baik di kampung atau di kota. Keluarga Cut sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Mae yang menjadi yatim akibat konflik tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang.
“Jangan sedih! Kakak tidak pergi jauh. Kita masih bisa bertemu dan berbagi cerita lagi.” Cut tersenyum kecil. Ia menyadari perubahan sikap Mae setelah Mak Cek Siti menyampaikan soal pinangan.
“Mae dengar kalau perempuan sudah bersuami tidak sama dengan perempuan yang belum punya suami. Teman-teman si Pida selalu mengeluh tentang suami mereka saat duduk di warung si Pida.”
“Nah...yang begini ini yang dilarang dalam agama. Kamu juga anak laki-laki kenapa duduk di sana? Lebih baik kamu bawa Rendra main bola di lapangan dari pada mendengarkan aib rumah tangga orang.
“Iya...iya...hmmm....”
Selalu ada cerita setiap pagi sebelum subuh di lantai dua ruko. Waktu berlalu begitu cepat hingga waktu yang ditentukan akhirnya sampai juga. Keluarga Pak Cek Amir datang bersama anak-anak mereka ke ruko Abu setelah isya.
Kedatangan keluarga mereka untuk memastikan apakah keluarga Cut menerima usulan perjodohan dari Mak Cek Siti yang sudah disampaikan sebelumnya.
__ADS_1
“Jadi bagaimana, Bang, Akak?” tanya Pak Cek Amir.
“Seperti yang sudah Abang sampaikan sebelumnya. Semua keputusan kami serahkan pada Cut. Dia yang akan menjalani rumah tangganya nanti. Abang tidak mau memaksa dia karena kalian sendiri sudah tahu bagaimana keadaan dia sebelumnya.” ucap Abu seraya menatap Cut.
Semua mata yang berada di sana tertuju pada Cut. “Bagaimana, Nak?” tanya Mak Cek Siti penuh harap.
Cut menunduk lalu menganggukkan kepalanya pelan.
“Alhamdulillah.” ucap Mak Cek Siti penuh kebahagiaan.
Harapannya untuk menikahkan Cut dengan salah satu keponakannya terwujud sudah. Abu dan Umi juga turut bahagia. Intan memeluk Cut penuh kebahagiaan.
“Selamat datang di keluarga kami, Kak.” ucap Intan.
Tujuan sesungguhnya dari pernikahan ini adalah untuk lebih mempererat hubungan keluarga yang sudah ada.
Perbincangan kedua belah pihak terus berlanjut mengenai acara pinangan dan lain-lainnya. Sementara itu para anak-anak memilih pergi dari sana. Cut dan Intan memilih masuk ke kamar sedangkan Faris sudah pergi bersama Mae dan Rendra ke warung depan ruko.
“Aku senang akhirnya Kak Cut menerima Bang Fais?”
“Fais?” tanya Cut bingung.
“Kami panggilnya Fais. Lebih mudah....hehhehe.”
“Kakak tenang aja, Bang Fais baik kok. Kalau aja bukan sepupu mungkin aku juga akan suka sama dia. Nanti ya kalau Kakak udah ketemu. Aku yakin langsung jatuh hati. Apalagi kalau Kakak lihat senyumnya. Dijamin Kakak gak bisa tidur.”
Cut tertegun menatap Intan yang larut dalam imajinasinya ketika menggambarkan sosok Faisal.
“Kalau dia setampan itu pasti banyak gadis yang menyukai dia di luar sana. Sama seperti almarhum Razi. Kenapa dia mau dinikahkan sama Kakak yang cuma gadis kampung?”
__ADS_1
***
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN....