CUT

CUT
Pinangan Kedua...


__ADS_3

Sebulan setelah kejadian yang cukup mengenaskan terjadi. Para warga kembali hidup seperti biasa. Banyak yang terjadi dalam sebulan itu. Aparat pemerintah terus melakukan pengejaan untuk memperkecil ruang gerak para pemberontak yang sudah tersudut ke dalam hutan belantara. Banyak markas kosong yang ditemukan oleh para tentara dalam menyisir hutan serta bukit. Markas kosong itu kemudian dijadikan sebagai markas para tentara. Lagi-lagi aku mendengar kabar jika pemerintah pusat kembali mengirimkan ribuan tentara untuk mengamankan Aceh.


Aku mendengar kabar tersebut dari Bang Min yang sedang berbicara dengan Abu di depan rumah. “Abu tidak lihat, entah berapa ratus truk tentara yang lewat jalan kecamatan kemarin. Mereka juga membawa tank, baru kali ini saya lihat mobil perang seperti itu. Mereka benar-benar akan membunuh kita, Abu.”


“Bukan kita, tapi anak Aceh yang menjadi pemberontak.” Jelas Abu.


Perbincangan itu terus berlanjut sementara aku mencuri dengar semua kabar yang Bang Min sampaikan. Bang Min juga mengatakan jika di Paya Nie sekarang sudah diduduki oleh para tentara dengan jumlah yang sangat banyak. Hampir di setiap kampung sekarang memiliki pos tentara lebih dari lima.


Bang Min kembali ke rumahnya setelah memetik satu keranjang mangga di rumah kami untuk dijual ke kecamatan. Bang Min adalah seorang pengepul buah-buahan dari kampung untuk dijual kembali ke pedagang di kecamatan. Pengepul di dalam bahasa Aceh disebut mugee. Berita dari bang Min selalu baru karena dia selalu turun ke kecamatan dengan motor bututnya. Bermodalkan KTP Merah Putih dia selalu bisa pergi ke kecamatan untuk menjual hasil alam dari kampung kami ataupun kampung tetangga. Jika situasi tidak memungkinkan atau ada kontak senjata maka para tentara akan melarang Bang Min untuk turun.


Menjelang siang jalan depan rumahku terdengar ramai. Aku melihat keluar bersama Rendra dan ternyata banyak tentara yang sedang turun dari truk di markas yang tidak jauh dari rumahku.


“Assalamualaikum,” Ucap Abu yang baru pulang dari ladang.


“Alaikumsalam.” Abu menyerahkan singkong serta ubi jalar padaku.


“Banyak tentara baru yang datang. Tentara kemarin sudah habis masa tugasnya di sini.”


“Ouh, pantas banyak truk yang lewat tadi.”


  Aku membantu Umi di dapur untuk menyiapkan makan siang untuk Abu. Aku juga merebus ubi jalar serta singkong yang baru Abu petik di ladang. Rendra lagi senang makan, dan ubi jalar serta singkong rebus menjadi kesukaannya.


“Assalamualaikum.” Terdengar orang memberi salam dari luar.

__ADS_1


Abu sedang mandi dan Umi juga sedang repot jadi aku dan Rendra yang keluar. Aku terkejut melihat orang-orang yang sudah berada di depan rumahku. Mereka tersenyum ramah kemudian aku mempersilakan mereka masuk.


“Saya panggil Abu dan Umi dulu.” Pamitku lalu pergi ke dapur.


“Umi, di depan ada tamu.”


“Siapa?” Umi ikut terkejut mendengar ada tamu yang berkunjung.


“Keluarga Khalid.” Umi menatapku seraya menghela nafasnya. Abu keluar dari kamar mandi lalu menatap kami berdua dengan kening berkerut. “Keluarga si Khalid datang lagi.” Ucap Umi lalu segera menemui para tamu.


Abu juga menghela nafasnya lalu mengikuti Umi untuk menemui para tamu. “Maaf menunggu, saya baru pulang dari ladang.” Ucap Abu beramah-tamah.


“Kami juga minta maaf pada Abu sekeluarga karena datang di siang hari.” Ucap salah satu kerabat Khalid yang paling tua seraya menyerahkan buah tangan yang mereka bawa.


Aku menikmati ubi jalar rebus di bangku belakang dinding dapur bersama Rendra seraya melihat bebek serta ayam yang sangat disukai Rendra. Balita itu bahkan berteman akrab dengan kambing. Dia tidak memiliki teman sesama balita, hanya Mae yang sering datang untuk bermain dengannya.


Sementara itu, di ruang tamu seseorang yang lebih tua yang mengatakan dirinya sebagai wakil dari Khalid sedang melamarku kembali. Suara mereka masih terdengar sampai ke telingaku, ini membuktikan betapa kecilnya rumahku.


“Khalid kembali meminta pada kami untuk meminang putri Abu yang bernama Cut untuknya, itulah sebabnya kami kemari. Kami juga baru bisa ke sini karena sebulan yang lalu susah untuk meninggalkan kampung.” Jelas Kerabat Khalid.


“Saya selaku kepala keluarga juga ingin meminta maaf pada Bapak-bapak serta Ibu-ibu karena saya tidak bisa menerima pinangan dari Khalid. Sudah menjadi tradisi dalam keturunan kami jika keturunan perempuan akan tetap menikah dengan seorang Teuku supaya garis keturunan kami tidak hilang. Berbeda dengan Almarhum Ilham, dia laki-laki. Keturunannya akan tetap mendapatkan gelar ‘cut’ ataupun ‘Teuku’ karena terlahir dari laki-laki dengan garis keturunan ‘Teuku’” Jelas Abu.


Pada titik ini aku terdiam dan mulai mencerna perkataan Abu. “Garis keturunan?” “Apa sepenting itu?” “Sejak kapan Abu memilah-milah garis keturunan seseorang?” Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku setelah mendengar perkataan Abu tentang garis keturunan.

__ADS_1


Aku pernah mendengar tentang garis keturunan bangsawan pada keluarga kami, di mana seorang ‘cut’ tidak boleh menikah dengan pria yang bukan ‘Teuku’ alias tidak bergelar bangsawan seperti kami. Tapi seorang ‘Teuku’ bisa menikah dengan gadis yang tidak bergelar ‘cut’ karena dia anak laki-laki. Garis keturunan akan mengikuti anak laki-laki bukan anak perempuan.


Aku yang terlanjur penasaran kemudian memilih mencuri dengar dari balik dinding dapur. Aku mengupas beberapa ubi jalar untuk Rendra supaya dia tidak mengoceh dan membuat aku tertangkap basah jika sedang menguping pembicaraan orang tua.


“Jadi pinangan kami kembali ditolak?”


“Saya minta maaf, tapi saya tidak bisa melanggar aturan turun temurun keluarga kami. Ini sudah menjadi seperti hukum yang dibuat dalam mempertahankan garis keturunan.”


“Jujur saja kami kecewa karena menurut Khalid, pinangannya kali ini akan diterima. Dia ingin menjadi ayah untuk anak Ilham, sahabatnya.”


“Insya Allah, Khalid akan menemukan jodoh yang lebih tepat dan lebih baik dari anak saya dan dia tidak perlu menambah bebannya untuk menjadi ayah buat cucu saya. Insya Allah, kami masih sanggup mengurus bayi itu walaupun tanpa kedua orang tuanya.”


“Baiklah, jika seperti itu. Kami permisi dulu, sekali lagi kami minta maaf jika sudah mengganggu keluarga Abu di siang hari.” Kerabat Khalid beranjak dari duduknya lalu diikuti oleh yang lain. Abu dan Umi mengantar mereka sampai depan rumah yang masih ramah oleh truk tentara yang baru datang.


Aku mengintip di balik dinding ruang tamu. Sekilas aku melihat raut wajah kesal dari mereka namun aku bahagia karena Abu telah menolak pinangan tersebut. Aku tersenyum tanpa dosa ketika Abu dan Umi memergokku yang sedang mengintip.


“Umi tidak enak menerima barang-barang ini.” Ucap Umi seraya menunjukkan barang bawaan mereka seperti gula, teh, kopi serta kue-kue kering.”


“Kita tidak bisa menolak, itu akan membuat mereka lebih marah lagi. Terima saja, itu rezeki Teuku.” Ucap Abu.


“Abu, apa Cut tidak bisa menikah dengan pria yang bukan ‘Teuku’?”


***

__ADS_1


LIKE...LIKE...LIKE...


__ADS_2