CUT

CUT
Sepertiga Malam...


__ADS_3

“Ya Rabbi, hanya kepada-Mu hamba memohon dan meminta. Berilah petunjuk-Mu supaya hamba tidak salah melangkah. Ya Allah yang maha mengetahui segala apa yang akan terjadi. Hamba serahkan hidup dan mati hanya pada-Mu sang maha pencipta. Jika Rendra adalah jodoh yang engkau pilihkan untuk hamba. Maka dekatkanlah kami dan bila bukan  jauhkanlah kami secara baik-baik serta hilangkanlah segala rasa di hati hamba.”


Sudah tiga malam semenjak kedatangan Rendra, aku memanjatkan doa yang sama setelah salat sunat istikharah. Sore itu, aku menangguhkan jawaban yang mereka harapkan selama 7 hari.


“Abu, Umi, Bang Rendra, Cut minta waktu selama 7 hari. Cut mau istikharah dan insya Allah hati Cut lebih siap dan yakin dengan berkat dan petunjuk dari Allah. Cut berharap Bang Rendra juga mau melaksanakan salat istikharah supaya apa yang Abang cita-citakan adalah jalan dari Allah bukan tipu daya setan semata. Bagaimana Abu, Umi dan Bang Rendra?”


Ketiganya menyetujui keinginanku. Malam ini adalah malam ketiga aku melaksanakan salat sunat istikharah dengan doa yang hampir sama setiap malamnya. Doa memohon diberikan petunjuk dalam mengambil keputusan besar ini.


Aku belum mengenal Bang Rendra maupun keluarganya. Kelak, jika kami menikah, aku akan dibawa ke pulau Jawa. Tempat yang sangat jauh dari rumahku, tanah kelahiran dan tempat aku tumbuh menjadi gadis yang siap untuk dipinang.


Aku meragu, bimbang , semua seperti kendaraan hilir mudik di jalan raya. Banyak hal yang aku pikirkan. Orang tua yang hidupnya belum tentu aman, kehidupan di sana yang aku tidak pernah tahu. Semua pemikiran ini semakin membuncah dikepala. Ingin rasanya menjerit namun apa daya.


“Ya Rabbi, tenangkanlah hati dan pikiran hamba. Kepala ini rasanya mau pecah. Sudah tiga malam, hamba terbangun kemudian tidak bisa tidur kembali. Ya Allah, ampuni dosa hamba. Makhluk yang hina dan terus menerus mengeluh kepada Engkau. Namun, apa daya hamba hanya seorang manusia lemah lagi hilang arah. Hanya kepada-Mu tempat hamba memohon akan segala permasalahan hamba.”


“Allahummashalliala saidina wamaulana Muhammad.”


Tiga malam sudah aku bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan salat istikharah dan salat tahajud. Meminta petunjuk namun belum ada tanda-tanda bahwa jodohku adalah Bang Rendra.


Umi mengatakan jika petunjuk itu bisa berupa mimpi atau hati kita semakin terpaut kepadanya. Namun, mimpi itu juga tidak pernah datang. Sementara hati juga masih dalam keadaan bimbang.


Setiap pagi aku bangun lebih awal karena setelah salat malam aku tidak pernah bisa tidur lagi. Abu dan Umi sampai terkejut ketika mendapatiku sedang memasak di dapur setelah salat subuh.


Abu dan Umi sangat merindukan kampung mereka. Setiap hari mereka saling menanyakan kabar kampung tercinta. Bagaimana keadaan si pulan? Bagaimana keadaan sawah, ladang, ternak-ternak mereka? Apa ada penyerangan lagi ke kampung mereka? Apa si pulan masih ada? Dan berbagai macam pertanyaan terus keluar dari mulut mereka.


Kadang aku suka berandai-andai. Jika, Bang Ilham tidak menjodohkanku dengan Khalid atau jika Bang Ilham bukan seorang pemberontak dan Rendra tidak menyukaiku. Apa kami masih bisa hidup tenang di kampung Sagoe?


Ah... tidak ada yang tahu.


***

__ADS_1


 


POV AUTHOR...


 


Di saat Cut masih dalam kebimbangan dalam waktu yang sudah berjalan selama tiga hari dari tenggat waktu yang ditangguhkan. Seorang pria juga melalui kebimbangan yang cukup menguras pikiran. Dari segala taktik yang harus dipikirkan untuk menangkap para pemberontak terutama Khalid, ia juga harus bergelut dengan keluarga besar nan jauh di pulau Jawa sana.


Keputusannya untuk menikahi sang gadis impian terganjal restu saat orang tuanya mengetahui jika gadis pilihan putra mereka ternyata tidak berpendidikan.


“Bagaimana dia bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kamu jika SD saja tidak tamat. Belum lagi peran dia sebagai ibu persit, apa yang harus Ibu katakan pada kerabat kita dan orang-orang yang mengenal kami tentang istri kamu yang tidak tamat sekolah dasar. Rendra, Ibu bisa carikan gadis lain di sini yang lebih layak untuk jadi istri kamu. Mereka juga cantik-cantik tidak kalah dengan gadis itu.”


Helaan nafas terasa berat saat kata-kata itu terus terngiang di telinga. “Bu, Rendra sudah melihat sendiri bagaimana dia merawat keponakannya yang masih bayi. Biarpun dia tidak sekolah tinggi tapi dia cukup tahu tata krama dan agamanya juga bagus. Apa itu saja tidak cukup? Rendra tidak memerlukan istri yang berpendidikan tinggi. Istri Rendra cukup menjadi istri yang baik serta setia karena bakal Rendra tinggal tugas juga.”


Pembelaan secara halus keluar juga dari mulut sang putra. “Lagian kalau Cuma ijazah, nanti dia bisa mengambil ujian paket di sana.” Helaan nafas berat terdengar di ujung telepon.


“Ya, sudah. Kami minta waktu untuk berbicara dulu dengan keluarga besar kita.” Sela sang Bapak dibalik telepon.


“Terima kasih, Pak, Buk. Rendra tunggu jawabannya. Assalmualaikum...”


“Walaikumsalam...”


Tuttttt....


 


Raut wajah belum sepenuhnya cerah, masih terdapat sedikit kegusaran. Rendra menanti dua jawaban dari dua orang yang paling dicintai dalam hidupnya. Sementara itu, dia tetap mengerjakan salat istikharah seperti yang diminta oleh kekasih hatinya.


 

__ADS_1


Dum....dum....dum...


“Dan... ada penyerangan....”


Suara gedoran pintu membuyarkan lamunannya di tengah malam. Rendra keluar diikuti oleh personil tadi yang mengedor pintu. Mereka berjalan menuju ruang radio untuk berkomunikasi dengan pos terkait.


Abdi negara, siap tidak siap harus selalu siap kapan pun dibutuhkan. Semua pikirannya tentang masa depan, istri, keluarga sirna dalam sekejap ketika negara membutuhkan konsentrasinya dalam mengejar musuh.


Begitulah Rendra dengan para pasukannya. Malam itu setelah mendapat arahan dari atasan, ia berangkat ke medan peran bersama yang lainnya. Ada nyawa yang harus mereka selamatkan. Teman-teman satu profesi di pos militer salah satu kampung dekat dengan kawasan perbukitan sedang diserang.


Dari saluran radio mereka mengkonfirmasi jika ada beberapa yang gugur serta banyak yang terluka.


Penyerangan kali ini jelas mengejutkan karena setelah kejadian malam penyerangan ke kampung Tanjung yang berhasil menemukan Cut bersama Rendra kecil. Baru kali ini pos tentara kembali diserang di daerah tersebut.


“Semua sudah siap?”


“Siap!”


“Berdoa menurut agama masing-masing! Mulai!”


Iring-iringan truk TNI berjalan menyusuri jalanan sepi di tengah malam. Mereka saling menatap satu sama lain dengan harapan dapat kembali dengan selamat.


***


LIKE...LIKE..LIKE...


komen sepuas kalian...


😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2