
Cut meremas tangannya erat diiringi detakan jantung yang cukup kencang. Saat ini dia sedang duduk di sebelah Faisal.
“Kak, kami bukan mau masuk kuliah. Tidak perlu pelonco seperti ini.” ucap Faisal dengan nada kesal.
Intan, Faris hanya bisa menerima segala arahan dari kedua orang sepupunya itu tanpa boleh membantah. Mereka berlagak seolah-olah korban dari kedua saudara Faisal.
“Maaf ya Kak Cut. Intan sama Bang Faris hanya mengikuti perintah Kak Juli dan Bang Adi.” bisik Intan pada Cut.
“Jangan mau dibohongi. Mereka semua sangat pintar berakting.” ucap Faisal tegas.
“Kamu???” balas Juli dan Adi serentak yang membuat Faisal langsung terdiam.
“Kalian akan kami sidang hari ini! Silakan jawab pertanyaan kami sejujur-jujunya!” ucap Juli yang sudah duduk di depan kedua terdakwa.
Adi sang abang merasa bahagia karena bisa memojokkan adiknya dalam keadaan seperti ini. “Kalau tidak ada calon bininya, aku yakin dia akan mengamuk pada kita.” bisik Adi.
“Betul sekali. Kapan lagi kita mengerjai dia kalau bukan sekarang.”
“Tapi Kak, aku tidak yakin kalau dia tidak akan mengamuk di rumah nanti.”
“Tenang saja. Aku sudah menyiapkan semua kemungkinan.” ucap Juli santai seraya tersenyum pada sang adik yang sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.
“Tidak percuma punya kakak seorang jaksa.” balas Adi.
Sementara di sisi lain, Cut masih saja menunduk malu. Untuk pertama kalinya dia dihadapkan pada posisi seperti ini.
“Tenang saja, mereka tidak akan berani macam-macam sama kita.” Faisal berusaha menenangkan Cut.
Melihat Cut mengangguk dan terus menunduk membuat Faisal menghela nafasnya.
“Kenapa kamu tidak melihat saya sekarang? Apa kamu tidak takut kalau mata saya cuma satu?”
“Saya sudah melihat foto Abang.” jawab Cut pelan.
“Itu kan di foto. bagaimana kalau aslinya tidak seperti itu?”
“Saya sudah melihat Abang tadi.”
“Berarti kamu mencuri-curi pandang terhadap saya? Wah...kamu pandai bersandiwara juga seperti mereka ya?”
“Eh...tidak begitu. Sa-“ elak Cut membuat Faisal tertawa kecil.
“Eh...calon manten, kami masih di sini ya!” ucap Adi tegas.
__ADS_1
“Pertanyaan pertama untuk terdakwa Cut. Apa kamu pernah punya pacar sebelumnya?” tanya Juli berlagak seperti seorang jaksa.
Cut menggelengkan kepalanya. “Kak Juli, satu-satunya pacar yang dimiliki Kak Cut hanya almarhum Bang Razi.” ucap Intan membuat semua mata menatapnya seketika.
“Kalian tidak tahu?” tanya Intan ragu.
“Kamu pacaran sama Razi?” tanya Faisal penasaran.
“Betul Cut?” tanya Juli tidak kalah penasaran.
Cut gelagapan, “Tunggu dulu. Kalian salah paham. Bang Razi jadi pacar pura-pura Kak Cut karena pacar pengajar kursus kami menuduh Kak Cut menggoda pacarnya. Padahal memang abang itu yang suka dekat-dekat sama Kak Cut.” jelas Intan.
“O....bilang dong. Bikin panik aja. Berarti jawabannya tidak punya. Oke, lanjut ke Faisal. Berapa banyak wanita yang jadi pacar kamu di Medan?”
“Bang Fais playboy?” giliran Intan yang panik.
Faisal melirik Cut lalu secepat kilat menatap tajam ke arah kakaknya. “Kak...aku tidak berbagi masalah pribadi dengan orang lain termasuk kalian.” tegas Faisal.
“Cut berhak tahu seperti apa calon suami yang akan menikahinya. Putra kebanggaan ayah dan ibu hanya karena menuruti permintaan mereka untuk menikah.” balas Juli tak kalah tajam.
“Kalau kalian punya dendam pribadi padaku lebih baik kita selesaikan di rumah. Aku bisa menceritakan semuanya pada Cut tanpa kalian suruh dan bukan di sini.”
“Bang, aku tahu itu. Aku akan bicara dengan Cut bukan dengan kalian. Aku tidak mau lagi mengikuti permainan konyol ini. Cut, lebih baik kamu pergi ke kamar dari pada di sini. Otakmu bisa tercemar oleh mereka.” Cut mengangguk pelan.
Faisal turun ke bawah bergabung dengan para orang tua. Raut wajahnya tidak bisa menutupi kekesalan di hatinya saat ini.
“Ada apa? Sepertinya mereka selalu mengganggunya.” bisik Mak Cek siti pada ibu Faisal.
“Aku juga tidak mengerti dengan mereka. Selalu kompak mengerjai adiknya padahal umur mereka sudah dewasa.”
“Mungkin mereka cemburu karena Kakak selalu membela Faisal.”
“Entahlah.”
“Fais, kami semua sudah memutuskan jika pernikahan kalian akan di selenggarakan tiga bulan lagi. Bagaimana?” tanya Ayah Faisal.
“Fais ikut aja, Yah. Tapi sebelum itu, apa boleh Fais mengajak Cut jalan, Yah? Biar kami saling mengenal.”
“Kalau itu tanyakan sendiri sama orang tua calon istri kamu!” titah Ayah Fais.
Abu dan Umi saling menatap sesaat lalu, “Jika Cut mau, silakan. Kami yakin Nak Faisal akan menjaga putri kami dengan baik. Ini juga menjadi amanat kami untuk Nak Faisal. Jika nanti kalian sudah menikah. Tolong perlakukan Cut dengan baik. Mungkin Nak Faisal sudah mendengar bagaimana keadaan Cut sebelumnya. Dia amat menderita. Jadi, kami harap dia akan menemukan kebahagiaannya bersama Nak Faisal.”
__ADS_1
“Saya bukan laki-laki sempurna, Abu. Tapi Insya Allah saya akan menjaganya dengan baik.” jawab Faisal tegas.
Di balik dinding tidak jauh dari sana, Cut tersenyum kecil ketika mendengar perkataan Faisal pada Abu. Bulir bening tanpa di sadari jatuh begitu saja tatkala membayangkan kehidupan selanjutnya yang akan Cut jalani.
Acara hari itu berlangsung lancar dengan cincin emas tersemat indah di jari manis Cut. Hari-hari selanjutnya berjalan lancar seperti biasa. Cut tetap berjualan bersama Mae. Berita pertunangan Cut menyebar luar di pasar. Ruko Abu yang tutup selama satu hari di tambah dengan cincin yang melingkar di jari manis Cut semakin memperkuat dugaan jika Cut telah dipinang orang.
Beberapa pria terlihat kecewa karena sang gadis yang mereka idamkan telah jadi milik orang lain. Atas permintaan Abu, Cut tidak lagi melayani pembeli di ruko. Abu khawatir terjadi fitnah jika Cut terlalu sering berinteraksi dengan pembeli yang kebanyakan laki-laki.
Pagi minggu ini terasa berbeda dalam hidup Cut. Untuk pertama kalinya ia di jemput oleh laki-laki berstatus tunangannya. Seorang pria tampan memakai kemeja kotak-kotak berwarna biru gelap garis abu-abu lengan panjang serta celana jens lengkap dengan topi dan sepatu kets turun dari sepeda motornya.
“Assalamualaikum, Abu.”
“Walaikumsalam, masuk Nak.”
“Saya ketemu Mae dulu, Abu.”
Faisal menyalami tangan orang tua tersebut lalu menghampiri Mae yang sibuk melayani pembeli.
“Apa kabar, Mae?” tanya Faisal basa-basi.
“Alhamdulillah, Bang Dokter. Mau ketemu Kak Cut ya?”
“Iya. Tiap hari rame seperti ini?”
“Alhamdulillah, Bang. Tapi kalau ini sudah sedikit berkurang. Tadi lebih rame lagi. Orang-orang suka sama masakan Kak Cut. Malah ada yang lebih suka ke pada yang masak. Untungnya sekarang Kak Cut sudah punya Abang kalau tidak tiap hari Mae harus jadi tukang pos.”
“Abang beruntung menikah sama Kak Cut. Selain cantik, baik, Kak Cut juga pandai memasak.” lanjut Mae.
“Oh ya...Abang jadi ingin coba.” gurau Faisal.
“Nak Faisal, ayo naik ke atas!”
“Iya, Umi.”
Setelah berpamitan pada Mae dan Abu, untuk pertama kalinya Faisal mendatangi ruko tempat sang calon istri tinggal.
Umi mempersilakan calon menantu untuk duduk lalu menyuguhkan minuman. Cut yang baru selesai berpakaian langsung keluar begitu mendengar suara Faisal di ruang tamu. Intan mengabarinya kemarin jika Faisal akan menjemputnya esok minggu untuk jalan-jalan.
“Cut,”
***
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...
Yang banyak yahhhhh....
__ADS_1