CUT

CUT
Ingat Pesan Mamang...


__ADS_3

Setelah lelah bergumul dengan buku, akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Pengumuman nama siswa yang lulus akan ditempelkan nanti siang di papan informasi sekolah. Sepasang kekasih bersama  teman-temannya sedang menunggu dengan harap-harap cemas.


“Kamu pasti lulus, Don. Tenang saja!” ucap Anugrah yang melihat wajah pucat Doni.


“Semoga kita semua lulus.” Balas Doni getir.


Tiara datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka yang sedang menunggu ditempelnya nama-nama siswa yang lulus.


“Ada apa?” tanya Anugrah melihat wajah sedih sang kekasih.


“Kamu dapat, Don?” tanya Tiara menatap Doni mengabaikan pertanyaan Anugrah.


Doni mengangguk, “Kamu dapat juga ya?” Tiara ikut mengangguk membuat Anugrah menatap tajam ke arah teman dan pacarnya itu.


Tiara tersenyum lalu mengambil sesuatu dalam tasnya. “Ini.” Anugrah mengambil amplop tersebut lalu membukanya. Senyumnya langsung merekah begitu membaca isi surat yang berupa undangan dari salah satu produsen sepeda motor yang berasal dari Jepang. Pabrik perakitan motor mereka di Indonesia mengundang Tiara dan Doni untuk menjadi salah satu karyawan mereka setelah melewati masa magang selama pelatihan dan magang selama enam bulan di Jepang.


“Selamat ya. Kalian gak ajak aku?”


“Katanya kamu mau masuk militer, A. Jadi kami pikir kamu tidak akan tertarik.” Ucap Doni merasa bersalah.


Sejurus kemudian, Anugrah tersenyum lalu memeluk temannya itu. “Selamat, aku doain semoga kalian sukses di sana. Jangan lupain aku! Dan buat pacar aku, tolong setia ya! Jangan kepincut sama penjajah.” Seloroh Anugrah membuat Tiara mencubit pinggangnya karena kesal.


Seperti sebelumnya, sekolah mereka kembali mendapat penghargaan karena tingkat kelulusan siswanya mencapai angka sempurna yaitu 100%. Anugrah beserta teman-temannya menghabiskan waktu terakhir dengan mengadakan pesta kelulusan di sebuah tempat camping. Mereka tidak menginap, hanya pergi pagi lalu pulang menjelang malam. Banyak kegiatan yang bisa mereka lakukan di sana seperti memancing di kolam ikan yang sudah disediakan atau berenang. Mereka juga memasak bersama di sana dengan peralatan yang telah disediakan.


Tiara datang berbarengan dengan Anugrah yang pergi bersama Doni. Jika teman-teman mereka sudah membawa kendaraan sendiri, Tiara dan Anugrah masih diantar jemput. Rendra dan Mamang juga sudah mengetahui jika Anugrah dan Tiara sudah resmi pacaran. Bahkan, Rendra sampai berkenalan dengan si Mamang yang katanya sudah seperti ayah untuk Tiara.


“Ingat pesan Mamang, Non.” Ucap si Mamang saat Tiara turun.


“Ingat pesan Papa, Dek.” Rendra juga mengucap hal yang sama pada sang putra.


Setelah melihat ke tiga remaja itu memasuki pintu gerbang, “Mau sarapan sama saya, Pak?” tanya Rendra.


“Boleh, Pak.”


Kedua laki-laki yang tidak muda lagi itu berbincang banyak hal saat sarapan. Sementara di area kemping, para remaja sedang melakukan banyak hal untuk melepaskan kepenatan mereka setelah berjibaku dengan buku dan ujian.


Api untuk memanggang sudah siap, buah potong juga sudah tersedia di atas meja. Minuman kaleng dingin juga turut meramaikan berbagai hidangan lain yang dibawa oleh masing-masing siswa. Anugrah memulai dengan berolah raga ringan lalu bermain basket bersama teman-temannya. Sementara beberapa siswa memilih memancing. Para siswi yang jumlahnya hanya 10 orang itu memilih memperisapkan berbagai makanan yang akan mereka santap saat lelah. Bercengkrama bersama seperti ini adalah hal terindah sebelum mereka berpisah untuk menjemput masa depan masing-masing.


“A, loe jadi masuk AD?” tanya seorang teman di lapangan basket.


“Jadi, kenapa?”


“Aku masuk AL.” Suara tepukan tangan bergemuruh di lapangan basket untuk keduanya.


“Ada yang dapat undangan magang di pabrik sepeda motor milik Jepang?” tanya Anugrah kembali.


“Hanya dua orang yang dipanggil. Cewe loe sama Doni.”


Sementara di kolam pemancingan, Doni juga sedang berbincang dengan teman-temannya tentang masa depan seperti apa yang ingin mereka jalani.

__ADS_1


“Cewe Jepang cantik-cantik, Don. Awas aja loe sampe gak konsen nanti di sana.” Salah satu teman Doni ikut bersuara.


“Tenang aja, Nenek gue ngikut juga. Sudah sipastikan kalo tuh Nenek ikut gak bisa lihat kanan kiri.” Kelimanya kompak menatap Doni bingung.


“Boleh ngajak Nenek, Don?” tanya salah satu dari mereka.


Doni tergelak, “Tuh, orang yang gue panggil Nenek. Kalo masalah pelajaran, cerewetnya ngalahin nenek gue.”


Mereka tertawa mengetahui jika nenek yang Doni maksud adalah Tiara. Sementara di kelompok siswi, Tiara menjadi objek pembahasan para teman-temannya.


“Rindu itu berat, Say…” seloroh salah satu dari mereka.


“Loe di Jepang, A di Indo. LDR kalian gak tanggung-tanggung ya.” Sahut yang lain.


“Kamu gak takut dia kepincut cewe lain di sini?” provokasi mulai bermunculan.


“Jangan-jangan loe yang nanti kepincut cowo Jepang, apa kabar A yang sedang menunggu loe di sini. Tahu-tahu, dia ditikung Jepang.”


Tiara menikmati setiap momen bahkan seperti saat ini. Suasana ini akan berlalu jadi terlalu sayang jika harus dilewatkan dengan perasaang tersinggung atau perasaan lainnya. Dia ingin menikmati kebersamaan ini sampai sebuah tangan merangkulnya tiba-tiba.


“Kamu gak akan kepincut sama cucu penjajah kan?” tanya Anugrah yang sudah berdiri di samping Tiara.


Teman-teman yang lain hanya bisa mencibir Anugrah karena bersikap sok romantis di depan mereka. Setelah makan siang, mereka duduk di bawah pohon rindang sambil bercerita satu sama lain. Anugrah sendiri sudah merebahkan kepalanya di atas paha sang kekasih. Bersama Tiara, ia bisa bebas bermanja ria karena Tiara sendiri tidak keberatan dengan itu.


“A, loe gak usah pamer sama kita! Kita-kita tahu kalau kalian udah jadian tapi jangan buat kita-kita ngiri di sini.” Keluh salah satu teman Anugrah yang membuat Tiara merasa tidak enak.


Bagaimana mereka tidak iri jika Anugrah dengan sengaja mengambil sebelah tangan Tiara lalu meletakkan di atas dadanya yang sedang berbaring dalam pangkuan Tiara.


“Kalo gue jadi loe, gue bakal milih tempat yang sama sama cewe gue. Nih elo malah milih masuk AD.” Ucap teman yang lain.


“Di situlah seninya. Kalau tiap hari ketemu nanti akan ada yang bosan. Kalau begini, saat ketemu nanti akan banyak hal manis yang tercipta. Ya kan Pacar?” tanya Anugrah pada Tiara yang diangguki malas oleh Tiara.


“Kalo loe bilang bosan, apa kabar mereka yang sudah nikah?”


“Nah, kalau itu seninya beda lagi. Ada trik khusus untuk mengusir kebosanan bagi suami istri. Dan anehnya, mungkin karena sudah ditakdirkan sama yang kuasa untuk bersama jadi kebosanan dalam rumah tangga itu tidak sama dengan tingkat kebosanan bagi mereka yang pacaran.” Jelas Anugrah.


“Kayaknya loe banyak pengalaman banget ya?” celutuk salah satu teman yang lain.


“Gue kan lihat bokap sama nyokap di rumah. Sebagai siswa dengan nilai rata-rata sembilan. Gua bisa menilai hanya dengan melihat orang tua gue. Apa mereka sedang bosan atau ada masalah. Dan ternyata, setelah gua pantau. Rasa bosan pada suami istri itu hampir bisa dihilangkan hanya dengan sekejap mata.”


“Contoh!!!” seru mereka serentak pada Anugrah termasuk Tiara.


Anugrah tertawa, “Gua gak cocok masuk militer, cocoknya jadi psikolog urusan rumah tangga.”


“Setuju!!! Mana contoh tadi?”


“Saat gua lihat nyokap mengerjakan semua pekerjaan rumah setiap hari. Gua sebagai anak yang baik pasti penasaran dong kenapa nyokap gak bosan. Dan ternyata, setiap malam pula bokap manjain nyokap gua di rumah.”


“Eit…elo ngintip mereka lagi reproduksi?” celutuk salah satu teman.

__ADS_1


“Benar-benar anak durhaka. Maknya kerja dia cuma mantau kayak mandor. Kebangetan loe jadi anak.” sahut yang lain.


“Kalian juga ngapain minta diperjelas, Bambang!” keluh Anugrah.


Anugrah menatap wajah cantik di atasnya sedang tertawa bersama teman-temannya yang lain. Terlihat sekali bagaimana wajah yang dulu malu-malu dan pendiam kini telah berubah menjadi ceria dan berani. Tiara  yang dulu sering dipanggil ‘Kuper’ alias kurang gaul kini menjelma menjadi remaja ceria penuh talenta.


“Ra,” panggil salah satu teman lalu menunjukk dengan dagu ke arah Anugrah yang sedang menatapnya. Tiara yang memang pura-pura tidak tahu hanya tersenyum lalu sebelah tangannya diarahkan menuju wajah Anugrah.


Mereka kembali melanjutkan berbagai permainan tapi berbeda dengan Anugrah. Dia masih setia merebahkan kepalanya di atas paha Tiara. Posisi ternyamannya saat ini adalah menelungkupkan wajahnya ke perut Tiara.


“A, jangan begini. Aku malu dilihat anak-anak.” keluh Tiara sambil jemarinya menyisir rambut hitam milik Anugrah.


“Biar mereka cemburu. Setelah ini kita bakal pisah lama. Aku kayak gak rela jauh-jauh dari kamu.”


“Karena selama tiga tahun kita selalu bersama makanya kamu merasa berat. Nanti kamu akan terbiasa kok. Aku juga akan membiasakan diri untuk jauh dari kamu.”


“Ra, makasih ya udah mau jadi pacar aku.”


“Aku juga makasih karena kamu mau menjadi pacar aku, A.”


“Ra, kalo begini jadi pengen reproduksi.”


Plakkkk….


Sebuah pukulan mendarat di lengan sang kekasih.


“Awas ya kalau kamu macam-macam sama cewe lain. Aku potong alat reproduksi kamu pake tang.” Anugrah meringis membayangkan ancaman Tiara padanya.


“Kejadian itu kan udah lama berlalu. Kamu seharusnya sudah lupa tapi kenapa kamu yang jadi mesum?”


Tiara mengetahu semua peristiwa yang terjadi pada Anugrah sampai saat dijebak oleh Mauren. “Aku mesum cuma sama kamu. Itu pun karena kamu pacaar aku.”


“Ya…ya…percaya. Ya sudah, bangun gih! Paha aku dah pegal ini.”


Anugrah bangun lalu,


Cup…


Tiara melotot dengan mulut terbuka saat sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Si pelaku langsung lari terbirit-birit menjauhi korbannya yang sedang memasang wajah masam dengan sorot mata tajam menghunus pada tersangka yang sedang tertawa penuh kemenangan.


Tiara sudah biasa menerima ciuman sekilas dari Anugrah tapi hanya sebatas pipi dan kening. Tapi yang membuatnya terkejut kali ini adalah bibirnya yang menjadi objek. Walaupun sekilas tapi tubuh Tiara seakan tidak berdaya dan otaknya tiba-tiba tidak berjalan dengan semestinya.


Dari jauh, sepasang mata tidak sengaja menangkap adegan ciuman sekilas itu. Remaja yang beranjak dewasa itu hanya bisa menatap dalam diam saat gadis yang sudah mencuri hatinya ternyata mencintai teman sekelasnya.


“Aku sayang kamu, Ra.”


 


***

__ADS_1


Cinta masa SMA memang manis dan menggemaskan... siapa yang pernah mengalami dan masih susah move on????


__ADS_2