CUT

CUT
Shinta...


__ADS_3

Dua keluarga sudah duduk bersama saling berhadapan. Sepasang anak manusia sesekali saling mencuri pandang. Tiara dan Anugrah terlihat sangat sempurna malam ini dengan riasan natural. Memakai gaun berwarna biru gelap semakin memperindah penampilan Tiara yang memiliki kulit putih sehingga sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.


Cut meremas tangannya sesekali melirik wanita yang duduk di hadapannya yang juga tengah menatapnya.


“Jadi, seperti yang sudah di sampaikan oleh Anugrah sebelumnya. Kedatangan kami ke mari untuk melamar putri Bapak dan Ibu yang bernama Tiara untuk putra kami, Anugrah. Jika Bapak dan Ibu berkenana menerima kami untuk selanjutnya kami akan datang dengan lamaran yang resmi. Jujur saja ini terlalu mendadak untuk kami hingga belum menyiapkan semua dengan baik.” ujar Rendra.


“Kami juga meminta maaf karena hanya bisa menerima seadanya seperti ini karena memang cukup mendadak. Tapi, kami senang karena akhirnya kita bisa saling bertemu secara langsung begini. Untuk masalah lamaran , kami selaku orang tua menyetujui karena putri kami juga mengatakan ini menikah dengan putra Bapak dan Ibu.” Ucap Ayah dari Tiara.


“Syukurlah kalau begitu. Kami sangat senang mendengarnya. Tapi ada satu hal yang baru kami ketahui dan mungkin harus kita bahas sekarang. Kami sekeluarga beragama Islam dan yang kami tahu jika keluarga Bapak dan Ibu beragama kristen. Seperti yang Bapak ketahui, pernikahan ini harus dilakukan dengan satu keyakinan-“


“Maka, Anugrah bisa berpindah keyakinan yang sama dengan Tiara karena Tiara tidak bisa beralih ke keyakinan kalian. Iya kan Bu Cut Zulaikha?” Shanti menekankan suaranya saat menyebut nama Cut.


“Saya seperti de javu. Dulu saya pernah menjalin hubungan dengan seorang pria dan keluarga kami tidak merestui karena perbedaan keyakinan. Saya tidak bisa mengikuti dia dan dia juga begitu. Akhirnya kami berpisah walau masih saling mencintai. Mari kita putuskan malam ini juga, apa kah lamaran ini akan berlanjut atau berakhir. Karena seperti yang saya bilang sebelumnya, Tiara tidak akan mengikuti keyakinan Anugrah!  Jika Anugrah mau mengikuti Tiara, kami akan menerima dengan tangan terbuka.” Jelas Shinta panjang lebar.


Ya, ibu dari Tiara adalah Shinta. Wanita ketiga dalam rumah tangga Cut dengan Faisal, ayah dari Iskandar.


“Ra, kamu tidak mau mengikutiku?” Anugrah mulai bersuara sedikit lirih. Raut wajahnya sudah berubah, tidak ada lagi binar-binar bahagia seperti saat pertama datang.


“Maaf, A. Aku tidak bisa!”


Shinta menatap seraya tersenyum pada Cut. Ia juga melirik Iskandar sesekali. Wajah Iskandar memang memiliki kemiripan dengan sang ayah di bagian-bagian tertentu. Shinta yang sudah lama bersama Faisal tentu tahu bagian-bagian yang menyerupai sang mantan tersebut. Iskandar sendiri mulai tidak nyaman saat menyadari ada dua pasang mata yang sedang menatapnya.


“Jadi apa keputusan malam ini sudah final atau masih bisa dirundingkan kembali?” tanya Rendra. Ia masih berusaha untuk mendapatkan gadis yang dicintai putranya.


“Sepertinya tidak perlu dilanjutkan, Pak. karena dari mereka sendiri tidak ada yang mau mengalah. Saya pikir kalau begini kalian tidak perlu melanjutkan hubungan pacaran yang kita semua sudah tahu akhirnya. Kalian tidak akan bisa bersama karena berbeda keyakinan. Oleh sebab itu, baik Tiara ataupun Anugrah lebih baik mencari pengganti masing-masing. Tidak perlu saling membenci karena perpisahan ini bukan kalian yang mau tapi semesta memang tidak memberikan izinnya untuk kalian bersatu. Kita masih bisa berhubungan baik karena tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini. Berbahagialah dengan pasangan kalian, siapapun itu!” Ucap tulus ayah dari Tiara.


“Saya bersyukur kamu tidak meninggalkan jejak dirahim Tiara. Dengan begitu, dia bisa dengan mudah mendapatkan penggantimu.” Sela Shinta menatap Cut sinis.


“Malam ini, hubungan kalian sudah berakhir dengan baik-baik. Bahkan kalian memakai pakaian resmi untuk mengakhiri hubungan kalian. Peristiwa langka yang patut dicontoh oleh banyak orang. Saat kalian jadian, kami tidak tahu tapi saat putus justru di depan kami. Mana ada kisah cinta seperti ini.” Seloroh Shinta tanpa beban.


Mereka mengakhiri pertemuan ini dengan baik-baik. Saat  keluarganya sudah keluar dari rumah, Anugrah masih duduk di sana bersama Tiara.


“Om, Tante, boleh aku bicara sama Tiara sebentar?” pinta Anugrah membuat semua orang yang hendak keluar menoleh ke belakang.


"Silakan! kalian memang butuh waktu untuk bicara. Mari, kita berikan waktu untuk mereka menyelesaikan dengan baik-baik.” Ajak ayah Tiara.


“Pasti sulit untuk mereka!” sahut Rendra.


“Kita kan pernah muda. Dan saya pernah mengalami seperti yang mereka alami saat ini. Sakitnya bertahun-tahun. Apalagi saat harus melihat pasangan kita dengan pilihan orang tuanya. Itu adalah mimpi terburuk dalam hidup seseorang. Semoga kakak Anugrah juga tidak mengalami hal serupa. Kalau kamu sampai mengalami hal ini juga maka kamu harus menanyakan ini pada orang tuamu. Kesalahan apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu sampai kalian harus mengalami kejadian seperti ini.” Shinta menatap Iskandar.

__ADS_1


“Ma, kenapa bicara begitu?” tegur sang suami.


“Maaf, Pa. Terbawa suasana. Suami saya ini adalah pria hebat yang mau menerima saya di saat saya sedang terpuruk karena ditinggal oleh pria yang sangat saya cintai. Pria itu lebih memilih wanita pilihan keluarganya dari pada saya bahkan sampai tidak mengakui anaknya sendiri.” Cut tidak bisa berkata-kata lagi. Semua yang Shinta katakan memang benar tapi dia juga tidak bersalah dalam hal itu. Dia tidak tahu jika suaminya sudah memiliki anak dengan wanita yang hampir menjadi besannya.


“Buk, apa kita bisa bicara sebentar?” Tanya Cut.


Shinta tersenyum kecil lalu mengangguk. Mereka berdua menuju salah satu bangku yang ada di halaman depan.


“Apa dia anak Bang Fais?” Cut langsung menanyakan hal yang membuatnya tidak tenang dari tadi.


“Apakah dia mirip Fais di matamu?” sinis Shinta.


“Kak, aku serius. Apa Tiara anak Bang Fais?”


“Bukan!”


Cut menghela nafasnya, “Lalu anak Bang Fais mana?” tanya Cut kembali.


“Ck, kenapa kamu ingin tahu? Ayahnya saja tidak ingin tahu kenapa kamu yang repot?”


“Kak, malam sebelum tsunami. Bang Fais sudah menceraikanku dan dia langsung pergi ke Medan untuk menemui Kakak. Apa kalian tidak bertemu?”


Ada rasa sesal di hati Shinta setelah mendengar penuturan Cut. “Kak, seandainya Kakak bilang dari awal kalau kakak sudah hamil. Mungkin saat itu juga aku akan minta Bang Fais untuk menemui Kakak.”


“Yang laki-laki itu anak kamu dan Fais?” tanya Shinta.


Cut tersenyum kecil, “Mirip ya? Anak kakak pasti memiliki wajah Bang Fais kan? Laki-laki atau perempuan?”


“Perempuan,” jawab Shinta singkat.


“Umur mereka pasti tidak jauh berbeda kan? Dimana dia sekarang?”


“Sudah mati!”


Cut memegang dadanya, ia hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini. “Kamu terlambat menyuruh Fais menadatangiku. Anaknya keburu diambil tuhan saking lelah menunggu ayahnya.”


Air mata Cut luruh, dadanya sesak membayangkan bayi mungil itu telah tiada, “Ini semua gara-gara kamu, Cut. Sekarang lihatlah karma sedang berjalan. Apa yang terjadi di masa lalu kini kembali menimpa anak-anakmu. Semoga Iskandar juga merasakan karma yang sama dengan ayahnya!”


“Kakkkk…”

__ADS_1


“Kenapa? Kamu takut? Kini kamu tahu kan bagaimana rasanya? Nikmatilah hari-harimu menerima satu persatu karma masa lalu.”


Shinta pergi meninggalkan Cut yang sedang memegangi dadanya. Ia tidak menyangka akan kembali berhadapan dengan masa lalu. Sementara di dalam rumah tepatnya di ruang tamu. Sepasang anak manusia berpakaian resmi dengan tujuan bersatu kini sedang bersitatap satu sama lain dalam guratan kesedihan. Tiara bahkan sampai sesegukan saat kedua tangannya digenggam mesra oleh sang kekasih.


“Ra, tidak semudah ini mengakhiri perasaanku padamu. Hubungan kita memang sudah berakhir tapi perasaanku belum, Ra. Aku belum siap kehilangan lebih tepatnya aku tidak pernah siap kehilangan kamu seperti ini. Ra, aku sangat menyayangimu dan aku belum bisa mencari penggantimu. Terima kasih sudah menjadi cinta terindah untukku. Terima kasih untuk hari-hari indah yang pernah kita lalui bersama. Kamu adalah wanita terindah untukku. Akan sulit untukku melepasmu bahkan mungkin tidak akan pernah bisa.” luruh sudah air mata yang sedari tadi coba ia tahan.


Anugrah menarik Tiara dalam dekapannya. Saling mencurahkan rasa satu sama lain, luruh dalam isakan tertahan. Ke duanya mengakhiri cinta yang sudah terjalin indah selama beberapa tahun ini dalam satu malam dengan alasan perbedaan keyakinan. Tembok tinggi yang sulit dipanjat oleh keduanya.


“A, aku sayang sama kamu. Tapi dinding di antara kita terlalu sulit untuk ditembus. Kita kalah dengan takdir, A. Kita tidak bisa malawan apa yang sudah takdir tuliskan. Aku sayang kamu, A.” Suara Tiara terdengar beriringan dengan isakannya.


Bibik dan Mamang yang mengintip dari ruang keluarga juga ikut menangis. Mereka sangat menyeyangi Tiara dan menyukai Anugrah. Mereka tidak menyangka hubungan ke duanya akan berakhir seperti ini.


“Kasihan sekali mereka ya, Pak.” Ucap si Bibik pada sang suami.


“Iya, Buk. Semoga mereka mendapat pasangan yang seiman di kemudian hari.”


“Amin…” ucap ke duanya.


Anugrah mengurai pelukannya, “Aku pulang ya!” Tiara mengangguk seraya menunduk.


Cup…


Anugrah mencium kening Tiara sedikit lama lalu pergi setelahnya. Tangan keduanya terlepas diiringi tangisan dari Tiara. Anugrah mengusap air matanya lalu menghampiri orang tuanya yang sudah menunggu di luar.


“Kami pamit dulu, Pak, Buk.” Ucap Rendra saat melihat Anugrah keluar dari rumah Tiara.


“Saya pamit pulang, Om, Tante.” Ucap Anugrah lalu mencium tangan kedua orang tua dari Tiara tersebut.


Ia menoleh sekilas ke arah kamar Tiara sebelum menaiki mobil. Kali ini, Rendra mengambil alih kemudi sedangkan Anugrah duduk di belakang bersama ibunya.


“Sabar ya, Nak.” Lirih Cut mengusap pelan punggung sang putra.


Anugrah memeluk ibunya sambil menahan tangis. Ia sangat sedih, hatinya sangat hancur. Di saat yang sama, sang ibu juga merasa sedih karena mengingat setiap kata yang diucapkan oleh Shinta. Kini, ia mengalami apa yang Shinta alami.


“Apakah takdir sedang mempermainkanku saat ini?”


 


 

__ADS_1


***


Siapa yang tebakannya benar??? ayo tulis di komentar!!!


__ADS_2