
Hari yang ditunggu datang juga, setelah malamnya berpamitan pada sang mertua kini Cut dan Faisal berpamitan pada seluruh keluarga. Kak Juli bertugas mengantar mereka hingga ke terminal.
“Jaga anak orang baik-baik, Fais. Ingat, pria sejati itu dilihat dari tanggung jawabnya.” Kak Juli mengingatkan sang adik lalu menyalami dan memeluk Cut sekilas.
“Jaga Fais baik-baik. Dia suamimu berarti milikmu. Jangan biarkan perempuan lain mendekatinya. Kamu harus berani mempertahankan milikmu kalau kamu lemah maka milikmu bisa direbut orang. Ingat itu baik-baik!”
Cut menatap mata kakak iparnya dengan perasaan campur aduk. Ia tidak menyangka jika sang kakak yang sering mengejek suaminya justru memberi pesan yang sangat dalam untuknya.
“Kami pergi ya!” ucap Faisal lalu mengajak Cut untuk menaiki bus yang akan berangkat.
Cut duduk di dekat jendela. Perjalanan mereka lumayan lama belum lagi jika terjadi kontak senjata di jalan. Sepanjang perjalanan, Cut terus terngiang dengan kata-kata kakak iparnya. Sejauh ini, ia tidak melihat perubahan apa pun dari sang suami selain mereka yang sering bercinta jika suka di dalam kamar.
Walaupun pernikahan mereka baru seminggu tapi percintaan keduanya hampir tidak mengenal waktu. Setelah subuh, menjelang zuhur hingga menjelang magrib juga pernah mereka lakukan. Jangan ditanya kalau malam karena itu tidak berbatas. Batas mereka hanya saat keduanya benar-benar sudah kehabisan tenaga.
Umi selaku sang ibu yang sudah berpengalaman turut membantu sang putri sampai membuat air rebusan rempah-rempah untuk menjaga stamina sang putri tetap kuat dalam melayani suaminya. Bahkan, sebelum mereka berangkat bulan madu, keduanya juga sudah bercinta sebanyak dua kali dengan dalih, “Stok di bus.”
“Tidur saja! Kamu pasti capek dan ngantuk.” ucap Faisal.
“Iya,”
Setelah mendengar jawaban sang istri, Faisal memilih tidur karena badannya juga lelah. Bercinta memang memabukkan tapi lelah juga nyata dan tidak bisa dihindari.
Keduanya terlelap bersama dengan penumpang lain. Perjalanan dari Banda Aceh ke Medan memakan waktu lebih kurang 13 jam ditambah waktu makan dan isi bensin. Karena daerah konflik jadi waktu yang dihabiskan bisa jadi melebih waktu normal. Buktinya baru tiga jam perjalanan, semua penumpang dikagetkan dengan suara letusan senjata api dari area perkebunan. Para tentara sudah menghijaukan jalan nasional. mereka menghentikan semua kendaraan lalu memeriksa semua penumpang.
Cut ketakutan ketika membuka mata hal pertama yang dia lihat adalah para tentara berbaju loreng serta wajah mereka juga ikut dicat loreng. “Semua penumpang turun dan jangan coba-coba kabur.”
Cut gelisah, badannya bergetar, keringat bermunculan tiba-tiba. Faisal yang mengetahui bagaimana masa lalu istrinya mencoba menenangkan dengan menggenggam tangan sang istri lalu menuntunnya untuk turun.
“Ayo, kita turun dulu.” ajak Faisal lembut.
Beberapa anggota tentara terlihat kesakitan, sebuah truk terbalik di sisi jalan dengan beberapa anggota tentara sedang di selamatkan oleh yang lainnya. Beberapa truk lain masih berdiri tegap namun pasukan di dalamnya sedang melakukan pengejaran terhadap para pemberontak yang menyerang konvoi mereka dengan bazoka.
“Minum dulu.” Faisal menyerahkan botol minum pada istrinya. “Kamu! Baris di sini!” teriak seorang tentara pada Faisal.
__ADS_1
“Sebentar, Pak. Istri saya sedang sakit.”
“Rekan kami lebih parah dari istri kamu. Ini semua ulah kalian.”
Bugh...
Tentara itu meninju perut Faisal sampai ia terjatuh.
Awwww.....
Cut berteriak dengan keras bersamaan dengan air matanya yang keluar begitu deras. Dalam ketakutannya ia menjerit sejadi-jadinya hingga suasana semakin panas.
Dor...
Suara letusan senjata kembali terdengar. Seorang tentara dengan penuh amarah menembakkan senjata ke atas saat Cut berteriak. “Pak, tolong! Istri saya sakit. Dia pernah masuk rumah sakit jiwa. Tolong izinkan saya menanganinya. Saya dokter.” pinta Faisal sambil menahan sakit di perutnya.
“Iya, Pak.”
“Ada dokter di sini!” teriak tentara tersebut pada temannya.
Tanpa kata, tentara tersebut langsung membawa Faisal pada rekan-rekannya yang sudah bersimbah darah dalam jumlah yang banyak. dokter tentara yang berada di sana kekurangan tenaga untuk menangani banyaknya tentara yang terluka akibat truk mereka diserang bazoka. Bantuan ambulans juga belum tiba sementara mereka membutuhkan perawatan.
“Pak, tolong istri saya.” Faisal masih teringat sama Cut yang sudah duduk di sisi jalan di temani oleh penumpang wanita lainnya.
“Kamu bantu rekan kami lebih dulu!”
Tanpa bisa menolak, walaupun pikirannya tertuju pada Cut tapi Faisal tetap harus menjalankan tugasnya secara kemanusian. Karena sumpahnya sebagai dokter adalah menolong setiap umat manusia tanpa melihat suku atau agama serta profesi. Sumpah itu juga yang membuat para dokter yang berada dalam zona perang harus dilindungi.
Satu persatu ambulans datang dan yang paling parah langsung dibawa terlebih dahulu. Seorang wanita memapah Cut kepada Faisal.
“Tolong!” teriak para wanita yang berada di samping Cut.
__ADS_1
Cut pingsan tidak sadarkan diri. Melihat para wanita menjerit membuat Faisal terkejut. Ia langsung berlari menuju sang istri yang terbaring dalam pangkuan seorang wanita. Faisal mengangkat sang istri ke bawah pepohonan rindang. Faisal memeriksa tekanan darah hingga denyut nadi sang istri.
“Cut....”
“Cut....”
“Sayang...bangun!”
Setelah menunggu selama lima menit, Cut kembali sadar. Ia langsung memeluk Faisal dengan erat. “Sudah, semuanya baik-baik saja. Sekarang kamu minum dulu.” Faisal menyerahkan botol minum ke tangan Cut.
Pemeriksaan sudah selesai, para prajurit yang terluka sudah dibawa oleh ambulans. Seorang tentara menghampiri Faisal saat ia hendak menaiki bus kembali.
“Dokter, terima kasih dan maaf atas perlakukan saya tadi.”
“Itu sudah menjadi tugas saya, Pak. Saya permisi dulu.” Sejujurnya hati Faisal tidak terima dengan pukulan yang ia terima namun apa boleh buat. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh warga sipil terhadap perlakuan para tentara di daerah konflik seperti Aceh. Di mana, keadilan dan hukum tidak berjalan sesuai prosedur.
Dengan mengucapkan bismillah serta doa-doa, Pak Sopir kembali menjalankan busnya. Tidak ada keceriaan lagi dalam bus. Semua penumpang masih syok dengan apa yang baru saja menimpa mereka.
Sepanjang perjalanan, Cut terus memeluk Faisal dalam diam. Yang bisa Faisal lakukan hanya mengusap punggung Cut dengan harapan sang istri bisa kembali tenang.
Perjalanan dengan waktu normal harusnya berkisar sekitar 13 jam kini bertambah dengan insiden kontak senjata hingga waktu yang mereka habiskan mencapai 15 jam untuk sampai ke Medan.
Faisal langsung menghubungi Wira untuk menjemputnya di terminal bus. Dan begitu mereka sampai, Wira sudah berada di sana bersama Hendri.
“Telat satu jam.” ucap Wira seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ada insiden tadi di jalan. Ayo pergi dulu nanti aku cerita.”
“Apa kabar, Cut?” tanya Wira basa-basi sambil mengulurkan tangannya namun, Wira harus menelan kekecewaan saat Cut tidak menyambut uluran tangannya dan malah diam tanpa sepatah kata. Faisal memberi isyarat mata pada kedua sahabatnya lalu mereka memilih menaiki mobil meninggalkan terminal.
***
LIKE...KOMEN...SHARE...
Terima Kasih buat semua pembaca yang masih setia menunggu CUT...
__ADS_1