CUT

CUT
99 Night Bar...


__ADS_3

Saat sang kakak tengah menikmati liburan bersama istri dan orang tuanya. Sang adik justru tengah menahan emosi saat anak pak manajer hotel yang bernama Jenny dengan kedapatan oleh Dita tengah bergelayut manja di restoran hotel saat jam makan siang.


“Sepertinya urat malu wanita itu sudah putus semua.”


“Kenapa kamu kesal? Kamu cemburu?” Selidik Irma saat mereka tengah menunggu pesanan makan siangnya.


“Ih, bukan cemburu Irma! Tapi kalau mau bermesraan, cari tempat lain jangan di tempat umum begini.” Protes Dita.


Bukan tanpa alasan Jenny melakukan itu. Ia sedang membalas apa yang Dita lakukan pada Dika malam itu. Ya, tanpa mereka sadari, Jenny melihat aksi ciuman mereka malam itu karena Jenny juga berada di tempat yang sama hanya saja posisi Jenny saat itu berada di lantai dua yang bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan.


Jenny menganggap Dita sebagai gadis murahan yang menggoda Dika untuk menciumnya. Jenny sudah meminta ayahnya untuk memecat Dita tapi sayangnya Dita seperti tidak tersentuh sehingga ayah  dari Jenny tidak dapat memecatnya tanpa alasan yang jelas bahkan sekedar untuk mengganti posisi Dita saat ini tidak mampu dilakukan oleh ayahnya.


“Aku penasaran sama gadis murahan itu, Pa. Apa Papa tidak bisa meminta informasi tentangnya di bagian HRD?” tanya Jenny yang saat ini sudah berada di kantor ayahnya setelah menghabiskan jam makan siang berdua dengan Dika.


“Kamu masih betah hidup enak? Jika tidak maka Papa akan menuruti keinginanmu.”


“Iya...iya... biar aku sendiri saja yang menyelidikinya.” Lalu Jenny keluar dari sana dengan perasaan kesal.


Ia terbiasa mendapatkan apa yang dia mau tapi kali ini ayahnya tidak mau terlibat dalam urusan sang anak. Bukan apa-apa, ayah dari Jenny menyadari jika Dita memiliki suatu kelebihan hingga ia begitu mudah diterima kerja di sana.


“Sayang, bisa tolong aku nanti malam?” pinta Jenny pada Dika di depan meja resepsionis.


“Temani aku ke pesta teman. Undangannya baru saja dikirim dan aku tidak punya teman laki-laki lain selain kamu. Kamu mau kan?”


“Acaranya di mana?”


“Di 99 Night Bar.”


“Jam berapa?” Dita semakin gelisah karena Dika belum menampakkan penolakannya.


“Seperti biasa jam 9.”


“Oke.”


“Aku jemput!”


Cup...


Dengan cepat Jenny mengecup bibir Dika tepat di depan mata Dita. Walaupun hanya kecupan tapi mata Dita seketika membulat sempurna menyaksikan prianya dengan tenang menerima ciuman dari wanita lain bahkan saat dirinya juga ada di sana.


“Kak Dika jangan bikin kami iri.” Ucap Irma.


“Siapa yang iri? Aku, tidak!” sahut Dita tanpa menatap Dika.


“Kalau tidak iri kenapa seperti orang kesal begitu?”


“Aku bukan kesal sama mereka hanya kesal sama sepatu. Rasanya ingin aku injak-injak saja ini sepatunya.”


“Aku pergi dulu, Sayang. Sampai jumpa nanti malam.” Jenny melenggang dengan pakaian seksinya meninggalkan kami.


“Kak Dika pacaran ya sama anaknya pak manajer?” Dika melirik ke arah Dita sekilas lalu melenggang pergi tanpa menjawab pertanyaan Irma.


“Bagaimana sepatumu?”


“Baik. Amat sangat baik.” Mereka kembali melanjutkan pekerjaan menyapa tamu-tamu yang silih berganti ke hotel mereka dengan senyum ramah dan hangat setiap saat walaupun hati Dita sedang bergejolak hebat di dalam sana.  


Dita dan Irma menyelesaikan pekerjaannya seperti biasa. “Ir, nanti malam temani aku mau?”


“Ke mana?”


“99 Night Bar.”

__ADS_1


“Kamu mau menguntit Kak Dika?”


“Yeee, ngapain? Memangnya wajahku terlihat seperti penguntit? Aku belum pernah ke tempat itu. Saat anaknya pak manajer menyebut nama tempat itu aku jadi penasaran. Seorang gadis selevel anak pak manajer pasti tidak akan memilih tempat-tempat yang biasa, bukan?” Dita berusaha memprovokasi Irma. Benar saja, gadis itu langsung mau.


“Ayo, aku juga penasaran tempat seperti apa itu.”


Dan setelah makan malam, Irma sudah  berada di kamar Dita. Mereka akan menunggu sampai Dika pergi.


“Kenapa harus menunggu Kak Dika sih?” keluh Irma.


“Tenang hadirin, kamu tidak takut pergi ke tempat asing berdua saja. Kita tunggu Kak Dika, setelah dia pergi baru kita ikuti. Kalau ada apa-apa di sana, ada dia yang menolong kita.” Irma menganggukkan kepalanya.


“Benar juga ya!” Dita mencibir rekannya. Ia sudah bersusah payah memutar otak untuk meyakinkan Irma supaya tidak curiga padanya.


Dari luar terdengar suara Dika lalu pintu tertutup. Dita keluar lalu mengintip ke arah pintu masuk. “Itu mereka, ayo!” setelah mengunci pintu, Dita segera berlari menuju taksi yang sudah berdiri di depan pintu masuk pekarangan.


“Kamu pesan taksi?”


“Iya. Buat jaga-jaga supaya tidak kehilangan jejak.”


“Niat banget ya?”


“Harus.” Dita bersyukur karena kartu ATM dari Papa Toni sangat berguna saat ini. Ia belum membeli ponsel baru tapi ia selalu mengirim email melalui komputer hotel untuk sang papa sambung.


Dua orang gadis turun dari taksi setelah melihat sang target masuk ke dalam bar. “Jangan terlihat lugu. Kita harus terlihat berani dan seolah terbiasa datang ke sini. Perhatikan sekeliling untuk beradaptasi.” Irma sedikit terperangah mendengar perkataan Dita. Seorang Dita yang ia tahu hanya lulusan SMA bisa mengucapkan kata-kata khas orang bergelar sarjana. Dita membusungkan dada dibalik gaun yang ia kenakan. Malam ini ia dan Irma memakai gaun midi lengan pendek dengan panjang gaun mencapai lutut. Sangat sopan untuk gadis pengunjung bar.


Mata mereka langsung mencari target namun sayangnya mata beberapa laki-laki sudah lebih dulu menargetkan mereka.


Dika terlihat ada di sudut bar bersama Jenny dan beberapa temannya. Malam ini Jenny terlihat sangat seksi dengan gaun terbukanya. Mata Dita tidak berkedip sama sekali saat melihat Jenny bergelayut manja lalu wanita genit itu tanpa sungkan duduk di pangkuan Dila dan mencium bibir Dika sekilas.


“Dasar pria brengsek! Mau-maunya dia diperlakukan begitu sama si Jenny. Sebuah lagu mulai mengalun merdu dan Jenny kembali membuat ulah dengan menarik Dika ke lantai dansa. Mereka berdansa dan berciuman sesekali. Irma sampai mengeluarkan liurnya melihat adegan romantis plus-plus di depannya saat ini.


“Iya.” Jawab Irma sementara Dita tidak peduli dengan siapa pun saat ini. Kepalanya hanya diisi oleh Dika.  


“Pro sekali si Janny itu.” Gumam Dita. Matanya tidak berhenti menatap ke lantai dansa.


“Mau dansa denganku?” Irma menyenggol lengan Dita hingga gadis itu menoleh padanya. “Pria di depanmu mengajakmu berdansa.” Bisik Irma.


Lalu Dita menatap pria yang entah kapan sudah duduk di depannya. Cukup tampan untuk membuat Dika sadar. Sebuah senyuman terbit di bibirnya.


“Ayo!”


Irma terkejut melihat Dita dirangkul mesra oleh lelaki yang baru saja mereka kenal. “Kamu mau dansa juga?” Irma menggeleng cepat. Ia tidak mau mempermalukan dirinya maupun Dita nanti karena kebodohannya di lantai dansa.


Dika tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya saat ia tengah berciuman wajah Dita berada di depannya dengan pria lain. Dika langsung melepaskan ciumannya lalu menatap tajam ke arah Dita yang seakan tidak peduli dengan keberadaan Dika di sana.


“Kamu sering berdansa?” tanya pria itu pada Dita.


“Hanya sesekali di saat natal.”


“Sudah punya kekasih?”


“Sudah!” bukan Dita yang menjawab melainkan Dika.


“Ikut aku!” titahnya lalu meraih pergelangan tangan Dita dan membawanya keluar dari sana. Irma juga ikut keluar menyusul mereka sementara Jenny kembali ke meja teman-temannya dengan perasaan marah.


“Irma, pulanglah!” Dika membuka pintu taksi pada Irma. Gadis itu menurut saja karena melihat wajah Dika yang seperti orang memendam marah. Sementara Dita terlihat santai walaupun pergelangan tangannya masih dicekal oleh Dika.


Selepas kepergian Irma, Dika menarik Dita untuk mengikutinya ke sebuah cafe. “Apa yang kau lakukan di bar itu? Kau mengikutiku?”


“Hello, sadar Mas! Siapa kamu sampai harus mengikutimu. Aku belum kekurangan pekerjaan hingga harus mengikuti pria yang sedang mengumbar adegan romantis di depan umum.”

__ADS_1


Dika tersenyum geli, ternyata gadis ini tengah cemburu padanya. Lalu ia menarik pinggang Dita dan mengecup bibirnya sekilas.


Plakkk...


Sebuah tamparan ia dapatkan dan berhasil membuat pengunjung cafe terkejut. Aku tidak sudi menerima bekas bibir wanita lain.” Ucap Dita marah lalu pergi meninggalkan Dika di sana. Dita segera menyetop taksi lalu pulang dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. Pria itu telah menghancurkan perasaan cintanya. Ia menyerah hingga memutuskan untuk pulang ke rumah Papa Toni. Di sana ada Bibik dan Mamang yang menjadi temannya selama tinggal di rumah itu.


Dika langsung mencari Dita, ia mengetok pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban. Ia menyerah lalu memilih masuk ke kamarnya dengan harapan besok akan bertemu lagi dan bicara dengan Dita.


Sementara itu di sebuah negara bagian Afrika, Anugrah sudah merasa lebih baik. Dokter Merlyn merawat lukanya dengan baik. Saat ini di sana sudah tengah malam dan Anugrah merasa bosan hingga ia memilih keluar dari tenda.


“Tidak bisa tidur?” suara seorang yang sudah ia hafal.


“Udaranya masih terasa panas. Kenapa Dokter belum tidur juga?”


“Saya tidak mengantuk. Apalagi melihat pasien saya berkeliaran bebas di malam hari dengan tubuh terbuka.” Dokter Merlyn menyelimuti tubuh Anugrah secara hati-hati.


Anugrah dengan mudahnya melihat wajah sang dokter dengan jarak mereka saat ini yang cukup dekat saat Dokter Merlyn dengan telaten melilitkan tubuhnya dengan sehelai kain.


Kedua anak manusia itu saling menatap satu sama lain. “Terima kasih.”


Cup...


Dokter Merlyn dengan berani mencium bibir Anugrah lalu tersenyum manis pada pria di depannya yang masih terkejut dengan ciuman dadakan itu.


“Kenapa? Apa saya melakukan kesalahan? Oh maaf, saya lupa kalau kamu orang timur. Kalian tidak mencium orang asing bukan seperti kami. Apakah aku patut dimaafkan?” Tangan Dokter Merlyn memegang pinggir selimut di dekat leher Anugrah. Keduanya saling menatap dalam diam dengan pandangan mengunci.


Anugrah tiba-tiba menarik pinggang sang dokter lalu membalas ciuman itu dengan sedikit kasar. Laki-laki tidak membutuhkan perasaan untuk mencium seorang wanita. Tangan dokter Merlyn sudah melingkar indah di leher Anugrah. Dia menyambut baik ciuman sang prajurit dengan senang hati.


Anugrah menatap wanita pirang tersebut lekat setelah melepas pungutannya. Ia berhenti saat tangan Dokter Merlyn hendak menyentuh bawah perutnya.


“Tidak, Dokter!” guratan kekecewaan terlihat jelas di wajah Dokter Merlyn tap Anugrah masih memegang teguh prinsip dan norma-norma ketimuran. Belum lagi wajah sang kakak yang melintas di pikirannya saat ia nekat mencium gadis pirang itu.


“Tidurlah!” ucapnya lalu meninggalkan Dokter Merlyn sendiri.


“Kalau Kakak tahu bisa dikhitan sekali lagi adikku.” Gumamnya.


Keesokan harinya, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


“Innalillah.” Ucap Anugrah melihat berita yang baru saja ia dapat dari ibunya.


Sementara Dita yang sedang makan siang dikejutkan dengan kehadiran Dika yang terlihat panik menghampirinya.


“Aku tidak mau bicara denganmu!” ketus Dita.


“Lihat ini!”


Dengan malas Dita mengambil lalu melihat apa isi ponsel tersebut dan –


“Ya tuhan!”


 


 


 


 


***


Up jam setengah lima pagi....

__ADS_1


__ADS_2