
Keesokan harinya, Toni mengajak Dika dan Dita untuk bertemu di café dekat hotel tanpa sepengetahuan Shinta.
"Ma, temani Papa ke café yok. Papa butuh kopi.” Tanpa bantahan, Shinta mengikuti ajakan suaminya. Setibanya di sana, ia langsung menghela nafas saat melihat pasangan yang sudah membuat emosinya naik turun.
“Mama sudah menamparnya di muka umum. Apa Mama tidak merasa bersalah telah mempermalukannya?” bisik Toni pada sang istri. Sementara Dika dan Dita sudah berdiri menyambut kedatangan mereka.
“Duduklah! Kalian sudah pesan minum?” sapa Toni hangat.
“Sudah, Om.” Jawab Dika santai.
“Maaf karena saya sudah menamparmu di depan orang banyak.” Ucap Shinta. Sejujurnya ia juga menyesal melakukan itu.
“Bohong kalau saya bilang saya tidak apa-apa. Tante pasti tahu bagaimana perasaan saya, bukan?” balas Dika. Dia sudah menyiapkan mental baja untuk menghadapi calon ibu mertuanya. Hal ini ia dapat dari Bang Adi semalam. Bang Adi menceritakan bagaimana dia dengan beraninya melamar Reni yang merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarga Wicaksono. Namun, dengan mental baja dan tidak mudah terintimidasi akhirnya, Bang Adi bisa menikahi gadis itu.
Dari kisah Bang Adi, Dika banyak belajar hingga pagi ini dia memberanikan diri untuk kembali menemui orang tua Dita.
“Menikahlah! Mama tidak akan melarang kalian.”
Deg…
Dita dan Dika kompak menatap sang ibu dengan perasaan campur aduk. “Mama serius?” Dita akhirnya memberanikan diri bersuara.
“Serius, Sayang. Mama kamu tidak pernah bercanda. Menikahlah selagi kalian di sini dan kami juga keluarga ayah kandung kamu juga di sini.” Dita bangkit dari duduknya, ia langsung berhambur ke dalam pelukan sang ibu. Dita terisak memeluk erat ibunya. Hati Shinta juga melelah, matanya sudah meleleh mendapat pelukan hangat dari sang anak.
“Ma, maafin Dita. Selama ini Dita udah membuat Mama kecewa dan bersedih. Maafkan kesalahan Dita, Ma.”
Shinta mengurai pelukannya, ia menyeka air mata sang putri yang tengah berlutut di depannya. “Kamu harus bahagia dengan pria pilihanmu.” Dita mengangguk, ia mencium tangan ibunya.
Dika juga bangun lalu ikut berlutut di depan Shinta, ia mencium tangan wanita yang telah melahirkan calon istrinya itu penuh takzim. “Jaga Dita baik-baik. Pastikan dia tidak salah memilihmu.”
“Insya Allah, Tante.”
Dika bangun menghampiri sang calon ayah mertua yang sudah berdiri di samping istrinya. Toni tersenyum senang lalu memeluk calon menantunya dengan perasaan lega. Tidak sia-sia semalam ia berbicara panjang lebar untuk meyakinkan istrinya bahwa Dita pantas bersanding dengan Toni dan masalah perbedaan agama, Toni memilih untuk mendukung Dita yang penting putrinya bahagia.
“Jaga dia baik-baik. Jangan rusak kepercayaan yang saya berikan.”
“Insya Allah, Om.”
Toni mengajak mereka kembali ke hotel karena aksi mereka sudah menjadi tontonan gratis di café tersebut. Tiara dan Doni terharu bahagia melihat kedatangan sang kakak. Saat melihat Dika, mereka sudah yakin jika pria itu telah berhasil mendapatkan restu. Ini terbukti dari kuatnya genggaman tangan mereka.
“Selamat ya, Kak.” Ucap Tiara memeluk sang kakak erat.
“Selamat datang di keluarga kami, Mas Dika!” ucap Doni menjulurkan tangannya lalu mereka berjabat tangan kemudian berpelukan sekilas.
“Ma, sudah waktunya menghubungi Papa kandung Dita!” mendengar itu Dita melepaskan pelukannya pada Tiara. Gadis itu berjalan lalu memeluk Papa Toni tiba-tiba. “Selamanya Papa tetap yang terbaik untukku. Terima kasih untuk semua kasih sayang yang Papa berikan.” Ucap Dita. Gadis itu kembali terisak dalam pelukan sang ayah sambung.
“Juga untuk kartu kreditnya.” Untuk kalimat terakhir, Dita sengaja berbisik membuat Toni terkekeh.
__ADS_1
“Tapi Papa masih penasaran bagaimana kamu mendapat uang tunai saat beli makanan di warung.” Toni balas berbisik.
“Itu rahasia dagang, tidak boleh diumbar.” Dita mengurai pelukannya.
“Hallo, Fais! Apa kamu bisa mengurus pernikahan Dita di sini?” tanya Shinta tanpa basa-basi membuat mereka yang ada di kamar hotel itu menggeleng pelan.
“Mama sudah move on belum sih dari Papa Faisal?” selidik Dita.
“Mama kamu itu gengsinya tinggi. Kalau move on, Papa pastikan sudah. Buktinya Mama kamu tidak bisa jauh dari Papa.”
“Percaya! Tidak ada wanita yang dapat menolak pesona Toni Sudrajat. Pengusaha tampan dan mapan.”
“Ehem, Mama juga cantik. Kalau tidak mana mungkin Papa mau.” Sahut Tiara. Di saat Shinta sedang membicarakan masalah pernikahan sang putri dengan mantannya, kedua anak perempuannya justru sedang membanggakan dirinya dengan ayah mereka.
Sementara Doni dan Dika hanya menyaksikan perdebatan kedua wanita pengisi hati mereka dengan gelengan kepala. “Bahagianya jadi Papa Toni.”
Dika hanya tersenyum menatap Dita yang kembali ceria. “Apa Kak Dita sudah masuk Islam?” pertanyaan Toni membuat Dika tersadar jika ia belum membicarakan itu dengan calon mertua dan Dita sendiri belum mengatakan apa-apa.
“Kalian belum membicarakannya?” tabak Doni membuat Dika menggeleng pelan. Ia belum sempat membicarakan ini karena ia tidak yakin akan mendapat restu secepat ini.
“Faisal mengajak kita bertemu di rumahnya, bagaimana?”
“Ayo, lebih baik kita membicarakan secara langsung.” Ucap Papa Toni lalu mereka bersiap untuk mengunjungi rumah Bapak Fahri. Setibanya mereka disana, Cut dan Rendra juga hadir. Walaupun ini tidak menyangkut dengan keluarganya tapi Faisal meminta Cut dan Rendra untuk hadir. Mereka akan mewakili keluarga Dika sesuai permintaan Dika pada Iskandar yang ia kirim melalui pesan ke ponsel Iskandar saat dalam perjalanan menuju kediaman Bapak Fahri.
Shinta kembali menarik nafas dalam-dalam ketika turun dari mobil. Kali ini ia datang untuk merundingkan pernikahan putrinya yang melibatkan Faisal sang mantan. Pak Fahri menyambut kedatangan mereka dengan suka cita walaupun masih dalam keadaan berduka. Para kerabat mencibir dirinya karena merundingkan pernikahan cucu tidak sahnya di saat kuburan Ibu Murni masih basah.
Mereka duduk di atas karpet yang digelar di ruang tamu. “Sebelum membahas pernikahan, ada satu hal yang masih mengganjal. Apakah Dita akan mengikuti agama calon suaminya?” tanya Pak Fahri bertindak selaku tetua dalam pertemuan itu. Faisal sendiri yang meminta sang ayah untuk mewakilinya dalam pertemuan itu.
“Dita, bagaimana?” tanya Pak Fahri.
“Dita sudah berencana masuk Islam walaupun tidak menikah dengan Mas Dika.” Semua orang yang berada di sana terkejut tapi tidak dengan Cut dan Rendra yang sudah mengetahui dari Marni apa saja yang mereka lakukan saat pergi berdua. Dan betapa terkejutnya Cut dan Rendra saat Marni mengatakan jika mereka selalu salat berjamaah di mesjid raya.
“Alhamdulillah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan kamu, Nak Shinta? Apa kamu mengizinkan?” tanya Pak Fahri kembali.
“Itu pilihannya. Saya tidak ikut campur.” Jawab Shinta tegas.
“Alhamdulillah kalau begitu. Karena Dita sudah sepakat untuk masuk Islam, bagaimana kalau kita mengadakan acara akad nikahnya di mesjid raya. Sebelum akad nikah, kita akan meminta seorang ustad untuk mensyahadatkan Dita terlebih dahulu.” Ujar Pak Fahri.
“Setuju, Kek.” Sahut Dita cepat membuat kening orang-orang berkerut.
“Selama ini Dita selalu salat berjamaah di sana bersama Marni. Mungkin karena itu dia ingin bersyahadat dan menikah di sana." ujar Cut membuat mereka kembali terkejut tidak percaya dengan apa yang mereka dengar sementara Dita hanya tersenyum canggung karena ketahuan.
“Selanjutnya adalah mas kawin, apakah Dika dan Dita sudah menentukan mas kawinnya?” tanya Pak Fahri.
Dika menatap Dita, “Kamu minta mas kawin berapa?” yang ditanya malah tersenyum malu. “Ma, berapa?” tanya Dita pada ibunya.
Shinta menghela nafas sesaat, “Yang menikah kan kamu, kenapa tanya Mama?”
__ADS_1
“Ya Mama kan sudah pernah. Dulu Mama dikasih apa sama Papa?” tanya Dita lagi. Dika melongo, bagaimana calon istrinya bisa bertanya pada ibunya sedangkan dia sudah tahu kalau calon ayah mertuanya adalah orang kaya.
“Yakin kamu mau tahu Papa kasih apa ke Mama? Minta semampunya Dika saja. Setelah menikah, kamu juga yang akan menikmati hasil kerjanya.”
“Terima kasih, Tante atas pengertiannya.” Ceplos Dika membuat suasana sedikit mencair.
Akhirnya diputuskan kalau mas kawin untuk Dita adalah emas sebesar 30 gram dan seperangkat alat salat. Dan untuk seserahan, Dita tidak memintanya lagi karena akan kesulitann untuknya membawa barang-barang seperti itu.
“Kalau kamu tidak menginginkan seserahan maka kamu harus mau dibuatkan pesta!” ucap Pak Fahri membuat semua orang terkejut terutama Shinta.
“Maksud Kakek?” Dita ikut terkejut karena Neneknya baru meninggal. Tidak mungkin membuat pesta saat rumah masih berduka.
“Kakek akan membuatkan pesta pernikahan untukmu dan jangan menolak. Kalau Nenekmu masih ada, dia akan marah besar kalau cucunya tidak dibuatkan pesta saat menikah. Kamu sendiri sudah lihat kan bagaimana Nenekmu sangat bersemangat saat mengurus pesta pernikahan Iskandar?”
Dita bangkit dari duduknya lalu berjalan menghapiri sang kakek. Ia memeluk Pak Fahri erat seraya menangis. “Terima kasih, Kakek. Dita senang sekali.”
Pak Fahri tersenyum, “Kakek juga senang. Ini adalah amanah terakhir nenekmu. Dia ingin melihat kamu menikah dan membuat pesta untukmu tapi takdir berkata lain.”
“Shinta, apa kamu keberatan dengan permintaan Bapak?” Toni mengusap punggung sang istri, “T-Tidak, Pak.” jawab Shinta tergagap. Toni tersenyum senang, akhirnya ego sang istri terkalahkan dengan semua perhatian dan cinta kasih yang di dapat oleh Dita.
Sementara di dapur, beberapa keluarga sedang berbisik ria mengenai keputusan Pak Fahri yang mengadakan pesta pernikahan untuk Dita.
“Enak sekali cucu haramnya itu sampai diadakan pesta. Benar seperti dugaanku jika mereka memang berharap mendapat bagian dari harta Kak Murni.”
“Kamu sudah meminta Julie untuk mengamankan perhiasan ibunya? Jangan sampai perhiasan Murni hilang satu persatu.”
“Aku justru ragu apa benar dia anak Fais?”
“Fais sudah memeriksa sendiri, Kak. Aku dengar dari si Abang katanya si Fais sudah memeriksa apa itu yang di TV? Tes PNA, pokoknya itu lah. Yang rambut si anak di cocokkan dengan rambut ayahnya. Kayak di sinetron itu.”
“Tes DNA.” Sahut Kak Julie yang tiba-tiba masuk ke dapur untuk mengambil air putih buat ayahnya. Ia menatap kesal pada kerabat ibunya yang selalu bergunjing tentang Dita.
“Ibumu meninggal belum tujuh hari tapi Bapakmu malah akan mengadakan pesta pernikahan untuk anak haram itu. Apa Bapakmu tidak berpikir sampai ke sana? Kita masih berduka.” Kak Julie hanya mengedikkan bahu lalu pergi dari sana. Ia tidak mau meladeni para sesepuh keluarga ibunya yang terkenal cerewet.
“Begitulah kalau istri yang meninggal, suami biasa saja. Tapi kalau suami yang meninggal, kita mati-matian menjaga agar suasana duka tidak tercemar dengan hal-hal yang tidak pantas.”
Para anggota keluarga Ibu Murni teru saja begunjing di belakang. Sementara di ruang tamu, Shinta bersama Toni pergi melihat riasan dan baju akad yang akan Dika dan Dita pakai lusa. Faisal dan Ayu juga ikut dengan mobil yang lain. Kali ini Cut dan Rendra tidak ikut karena Shinta dan Faisal yang lebih berhak mengurus pernikahan ini. Walaupun Cut dan Rendra ditunjuk sebagai wakil dari Dika tapi Cut membiarkan para orang tua tersebut mengurusnya. Mak Cek Siti menemani mereka untuk mengunjungi beberapa tempat untuk membantu pada acara akad nanti.
Walaupun dalam keadaan berduka, Pak Fahri sudah mewanti-wanti jika pernikahan Dita harus diselenggarakan dengan meriah tidak boleh tanggung-tanggung apalagi Dita memiliki orang tua yang kaya. Baik Shinta dan Faisal adalah dokter dengan penghasilan yang besar hingga tidak sulit untuk mereka mengadakan pesta pernikahan yang meriah untuk putrinya.
“Ma, kamu tidak ingin mengundang orang tuamu ke sini?” Shinta menatap suaminya.
“Kamu juga harus berdamai dengan mereka, Ma.”
***
Damai Itu Indah...seperti Aceh yang sudah damai...
__ADS_1
Happy reading....🙃