CUT

CUT
Rebutan...


__ADS_3

Khalid menatap Keuchik Banta seakan meminta pertolongan namun Keuchik Banta sendiri hanya bisa menunduk seraya tersenyum getir.


 


“Bagaimana Nak Khalid? Kamu sudah mengenal Keumala, dia berteman dengan Ceudah dan Putro. Umur Mala lebih tua setahun dari Ceudah. Abu sangat senang jika kamu mau menerima pinangan Abu.” Khalid tersudut. Dia belum pernah dipinang sebelumnya apalagi dalam keadaan seperti ini.


 


Berita pinangan tersebut pun menyebar begitu cepat seraya matahari mulai meninggi. Jika Putro Ceudah memilih berdiam diri di kamar seraya menangis lain halnya dengan sang adik Putro Tari. Dia yang mendapat kabar tersebut saat hendak ke ladang langsung terbakar rasa cemburu sampai mendatangi Khalid yang baru turun dari atas batang kelapa.


 


“Abang dipinang sama Abu Syik? Abang mau? Kenapa? Seharusnya Abang menikah sama aku atau Kak Ceudah bukan sama Mala. Seharusnya Abang memikirkan perasaan kami. Aku dan Kak Ceudah sama-sama suka sama Abang. Kenapa Abang malah menerima Kak Mala. Apa Abang tidak memikirkan perasaan Abu? Abang jahat!” lagi-lagi Khalid hanya bisa menelan salivanya tatkala mendapati kenyataan dalam sehari sudah dilamar tiga wanita.


 


Kejadian tersebut tidak luput dari penglihatan Cut yang sedang mengutip buah kelapa. Keuchik Banta sendiri tidak ikut ke ladang karena menyadari ada sesuatu yang berbeda dari sikap Putro Ceudah setelah berita pinangan Khalid menyebar.


 


“Bagaimana rasanya diperebutkan? Antar saya ke kota. Saya ingin pulang!” ucap Cut dengan raut wajah datarnya.


 


“Cut....”


 


“Saya tidak akan menikahi pria itu, kamu tenang saja. Antarkan saya kepada Abu dan Umi! Sudah cukup kamu memisahkan saya dari mereka. Sekarang antarkan saya ke kota. Kamu tidak berhak menahan saya di sini, saya masih punya orang tua.”


 


“Cut, sabar sebentar lagi. Saya akan mencari tahu dulu bagaimana keadaannya di sana. Abang janji akan mengantarkanmu pada Abu dan Umi.”


 


“Saya tidak butuh janjimu.” Cut pergi meninggalkan Khalid seorang diri di bawah puluhan pohon kelapa serta buahnya yang berserakan di tanah.


 


Cut berlari mengejar Putro Tari yang sedang emosi. “Dek....tunggu Kakak!” Putro Tari terus berjalan seakan telinganya tidak mendengar panggilan Cut. Langkah kakinya terus berjalan sampai tidak terasa langkahnya berhenti di pasir pantai yang panas di tengah matahari yang berada tepat di atas kepala mereka.


 


“Kenapa Kakak ke sini? Seharusnya Kakak tetap di sana memberi ceramah supaya hati abang Kakak itu berubah. Sama kami dia pura-pura tidak peduli tapi dia justru menerima pinangan Abu Kak Mala. Kalau dia tidak menyukai kami seharusnya dia katakan dari dulu. Jangan membuat kami berharap kalau kenyataannya dia memilih Kak Mala.” Cut hanya bisa diam seraya menarik nafasnya dalam-dalam.


 


Cut bingung dengan situasi saat ini. Ia tidak tahu harus menyikapi kejadian ini seperti apa. Keinginannya untuk kembali ke kota menemui Abu dan Umi haruskah terganjal oleh masalah percintaan mereka?


 


“Kak Cuttttt....kenapa diam saja? Aku lagi marah ini. Jangan diam saja, katakan sesuatu!” protes Tari.


 


“Apa yang harus Kakak katakan? Kakak sendiri tidak pernah mengalami hal seperti ini.”

__ADS_1


 


“Apa? Kakak tidak pernah suka sama laki-laki? Apa Kakak yakin?” Cut terdiam mendengar pertanyaan Tari.


 


“Rendra...” batin dan pikirannya seketika dilintasi oleh nama itu.


 


“Kak Cut..... lagi-lagi Kakak termenung. Kakak lagi memikirkan apa sih?” Cut membalas dengan senyuman lalu merangkul Putro Tari mengajaknya berteduh.


 


Sejujurnya, Cut bingung harus bagaimana menyikapi kejadian saat ini. “Kakak tidak bisa membantu kamu. Kakak tidak mengerti dengan peraturan dan pemikiran orang tua di sini karena Kakak tidak pernah dijodohkan sebelumnya. Dan Kakak tidak pernah menyukai lelaki seperti kalian menyukai Bang Khalid.” Putro Tari terkejut lalu menatap wanita cantik di sampingnya itu dengan saksama.


 


“Kakak tidak pernah menyukai laki-laki?” tanya Putro Tari kembali.


 


“Kalau bertanya jangan setengah-setengah. Kakak bukannya tidak pernah menyukai lelaki tapi Kakak tidak pernah menyukai laki-laki seperti kalian menyukai Bang Khalid.” kedua alis Putro Tari berkerut.


 


“Aku tidak mengerti maksud Kakak.”


 


“Kalimat seperti itu saja kamu tidak mengerti bagaimana kamu bisa mengerti isi hatimu yang sebenarnya seperti apa? Apa kamu benar-benar menyukai Bang Khalid untuk dijadikan suami atau menyukainya karena dia memiliki sifat yang sama seperti abang kamu?”


 


 


“Tapi aku suka sama Bang Khalid, Kak!”


 


“Apa yang kamu suka dari dia?”


 


Ketika dua gadis berbeda usia tersebut larut dalam pembicaraan yang tidak jelas arah tujuan. Khalid yang sedang mengutip kelapa seorang diri tiba-tiba didatangi oleh seseorang.


 


“Boleh Mala bantu, Bang?”


 


“Astaughfirullah...” Khalid terkejut saat dari semak-semak belakang tubuhnya muncul seorang wanita yang tidak lain adalah Keumala putri dari salah satu tetua kampung yang bernama Abu Syik.


 


“Abang kenapa kaget seperti itu? Abang pikir hantu ya?” ejek Keumala seraya tersenyum manis.

__ADS_1


 


“Hantu tidak bisa bicara. Sedang apa kamu di sini?” tanya Khalid sambil mengutip kembali satu persatu kelapa untuk dikupas.


 


“Mala baru selesai memetik cengkeh di ladang Abu. Saat pulang, Mala mendengar suara Tari, jadi Mala kemari.”


 


“Tari sudah pulang.” jawab Khalid kembali tanpa menatap Mala.


 


Mala memperhatikan Khalid yang tengah sibuk mengutip kelapa tanpa berkedip. Bagaimana seorang gadis normal tidak tertarik melihat Khalid yang pernah berlatih ala militer di hutan sehingga otot-ototnya tampak menonjol apalagi saat ini ia hanya menggunakan baju singlet.


 


“Lebih baik kamu pulang sekarang!” ucap Khalid saat ekor matanya menangkap gadis itu terus menerus menatap dirinya.


 


“Apa benar yang dikatakan Abu kalau Abang akan menikahi Mala?” Khalid yang tengah mengutip kelapa tiba-tiba berhenti. Ia berdiri tegak menghadap Mala dengan keringat memenuhi seluruh tubuh.


 


Mala tertunduk malu saat Khalid menatapnya lekat. “Kamu mau dinikahi oleh saya?”


 


“Bagaimana kalau saya sudah punya istri?” satu persatu langkah Khalid melangkah hingga tepat berada di depan Mala. Mala semakin tertunduk dengan jantung berpacu. Pertama kali dalam hidupnya ia mengalami hal seperti ini.


 


Berbeda dengan Khalid yang sudah pernah menikah. Ia tentu sangat memahami reaksi-reaksi yang dapat memicu perasaan tidak nyaman bagi seorang gadis yang belum menikah.


 


“Kenapa kamu diam? Bagaimana kalau saya sudah punya istri?”


 


“K-kenapa Abang bertanya seperti itu?”


 


“Kamu belum mengenal saya, bagaimana kamu mau menikah dengan saya? Apa kamu tidak takut?” Mala yang tadinya menunduk tiba-tiba wajahnya diangkat lalu menatap mata laki-laki yang sudah membuatnya kebingungan sekaligus terpesona.


 


 


 


 


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...


__ADS_2