CUT

CUT
Keturunan Pemberontak...


__ADS_3

Rendra pulang dalam kondisi


terburu-buru karena sudah tidak tahan ingin berjumpa dengan sang istri.


Pikirannya tidak tenang saat pesannya tidak satupun dibalas oleh Cut.


“Assalamualaikum, Sayang.”


Cut tersenyum kecut saat sang suami


memberi salam dengan menampilkan senyum terindahnya. Cut sedang bersama Anugrah


menikmati sorenya di depan televisi. Rendra masuk lalu mencium kecing sang


istri lama kemudian mencium sang putra.


“Abang mandi dulu ya?” Cut


mengangguk kecil.


Selesai menyegarkan tubuhnya dari


bau keringat, ia kembali ke ruang tv lalu duduk di samping sang istri seraya


menarik pinggang sang istri untuk lebih mendekat padanya.


“Kenapa tidak membalas pesan saya?”


“…”


Melihat istrinya diam saja, Rendra


mengambil ponsel lalu membuka akun pertemanan  itu kemudian memberikannya pada Cut.


“Lihatlah! Kata kuncinya Aceh01.


Saya sudah menyuruh Risma untuk menghapus semua foto kami dulu. Coba lihat apa


dia sudah membalas atau belum?”


Cut ragu. Selama beberapa tahun


pernikahan mereka. Cut tidak pernah mengotak-atik ponsel sang suami. Tapi hari


ini, Rendra justru memberikannya tanpa ragu padanya.


“Bolehkan masalah ini Abang anggap


selesai? Saya tidak mau hal seperti ini menggangu pernikahan kita. Jujur saja,


saya tidak mau gagal lagi.”


“Bukan saya yang mulai. Harusnya


kamu pikir dulu sebelum berbuat.” Sela Cut.


“Karena itu saya minta maaf. Maaf


karena tidak peka sama perasaanmu. Maaf karena telah menyakitimu. Sayang,


bisakah kita kembali seperti semula? Saya capek didiamkan sama kamu. Lebih baik


perang betulan dari pada perang dingin sama istri.”


Cup…


Rendra mengecup pipi lalu mulai


bermain di ceruk leher sang istri. Dengan posisi duduk keduanya saat ini tentu


saja sangat menguntungkan untuk Rendra. Dia dengan leluasa bisa memberikan


banyak ciuman di pipi dan leher sang istri sementara sang putra sedang sibuk


dengan film kartunnya.


Bukan Rendra namanya jika tidak


berhasil menaklukkan kemarahan Cut. Pemberontak saja berhasil ia taklukkan


apalagi sang istri yang memiliki jiwa pemberontak. Sebelah tangannya sudah


bergerak nakal menyusup dalam baju yang Cut pakai. Bergerak pelan seperti saat


bertempur di medan perang, tangan Rendra memang sangat lihat dalam permainan


senyap. Pelan tapi pasti, Cut sudah mulai sulit bernafas lantaran menahan


gejolak yang ditimbulkan oleh tangan nakal sang suami.


“Banggghhh, ada Anugrah.” Lirih Cut.


Seolah tidak peduli dengan kehadiran


sang anak yang tengah membelakangi mereka. Rendra terus melakukan aksinya.


“Apa saya sudah dimaafkan?”


pertanyaan itu meluncur tepat di telinga sang istri.


Cut mengangguk pelan, “Tapi,


bagaimana dengan Mama?” cicit Cut.


Cut tentu saja tahu bagaimana ibu


mertuanya. Melihat reaksinya kemarin saja sudah membuatnya mengerti dimana


posisinya sebagai menantu di rumah itu. Rendra menghentikan aksinya. Ia


memandang sang istri dalam-dalam. Jauh dalam hatinya, ia juga bingung


menghadapai sang ibu. Untuk memberi pengertian pada sang ibu pasti akan


membutuhkan waktu apalagi Risma adalah anak dari sahabatnya.


“Beri Abang waktu ya? Pelan-pelan,


Abang akan bicarakan ini sama Mama. Kamu tahu sendiri Mama itu seperti apa.


Abang harap kamu bisa sabar selama mungkin sampai masalah ini menjauh dari


hidup kita.” Pinta Rendra.


“Masalah tidak akan menjauh kecuali


kita yang menjauhkan diri dari masalah itu.” Sindiri Cut.


Cup…


Rendra tersenyum mendengar sindiran


dari sang istri. “Abang masih cinta sama Risma?” pertanyaan itu lolos juga dari


mulut Cut. Pertanyaan yang baru-baru ini menghantui pikirannya.

__ADS_1


“Lihat saya! Apa saya terlihat masih


mencintai dia? Kita sudah menikah berapa tahun, Sayang? Apa kamu masih ragu


dengan semua yang saya lakukan mulai dari sebelum kita menikah lalu sampai


sekarang sudah menikah. Apa itu belum cukup untuk membuktikan perasaan saya?”


“Lalu kenapa Abang membiarkan


foto-foto itu di sana? Bahkan Abang membuat foto baru bersamanya?"


"Sayang, Abang sudah minta maaf


dan Abang akui Abang salah. Seharusnya dari awal Abang meminta dia menghapus


foto itu.”


“Siapa tahu Abang masih menikmati saat-saat


itu.” sindir Cut kembali.


“Hohoho….katanya sudah memaafkan


tapi masih sindir-sindiran. Jadi belum ikhlas ini maafinnya?”


“Memaafkan tapi tidak melupakan.”


Rendra mencolos, ia tidak menyangka


akan sesulit ini untuk membuat sang istri seperti dulu lagi. Rayuan hingga


bisikan mesra darinya sama sekali tidak mempan untuk Cut.


“Mama masih marah sama Cut, Bang?”


“Nanti kita ke rumah dan bicara


baik-baik, ya?” Cut mengangguk kecil.


Di saat sepasang suami istri sedang


melakukan perundingan damai. Di salah satu café dua orang wanita dengan umur


yang berbeda juga sedang berbicara serius.


“Ma, Risma tidak menyangka jika Cut


wanita yang licik. Dia mempengaruhi Rendra hingga mengghapus semua foto-foto


kami.”


“Ya keturunan pemberontak memang


seperti itu penuh siasat dan kelicikan. Mama juga heran kenapa tsunami kemarin


dia tidak dibawa saja oleh air laut itu. Setidaknya kalau dia menghilang, Mama


pasti bisa mendapatkan menantu yang lebih baik. Kamu tahu sendiri, Mama dari


dulu tidak pernah setuju Rendra sama dia.”


“Kalau Mama tidak setuju kenapa juga


Mama pergi ke sana lalu melamarnya? Terus, Reni juga ikut-ikutan menikah dengan


mantan iparnya?” tanya Risma.


“Mama tidak bisa buat apa-apa karena


Mama dan Papa tentu gak mau lah kalau itu terjadi. Apa kata orang? Terus


teman-teman seangkatan sama Papa tahu anaknya Bapak Wicaksono ternyata begitu.


Keluarga besar pasti malu kalau sampai itu terjadi. Kalau masalah Reni, Mama


dan Papa pasti setuju karena mertua Reni itu bukan orang kampung. Mereka orang


berpendidikan. Ayahnya seorang pegawai pemerintah sedangkan ibunya seorang


dokter. Suaminya juga punya pekerjaan yang bagus. Jadi, gak ada alasan untuk


Mama menolak lamarannya.”


“Sekarang Risma harus bagaimana, Ma?


Risma sedih dan malu apalagi ada orang kantor yang tahu.”


“Kamu cari teman pria lain saja yang


bisa kamu minta tolong buat foto-foto itu. Mama tidak berani mengatakan apa-apa


sama Rendra karena Papa sudah meminta Rendra untuk tidak mencari masalah yang


akan membuat dia dipanggil ke kantor. Kan kamu tahu sendiri urusan kantor itu


bagaimana.”


Pupus sudah harapan Risma untuk


mendapatkan pertolongan dari Rendra dan mantan ibu mertuanya. “Rendra bilang,


kalau kamu diganggu lebih baik kamu tutup saja akunnya. Kenapa tidak kamu tutup


saja, Nak?”


Risma mengerucutkan bibirnya. Ia


memendam kesal yang teramat dalam apalagi pada istri mantan suaminya. “Mama


lebih sayang aku atau istri kedua Rendra?”


“Kamu sudah tahu jawabannya. Restu


saja Mama tidak bagaimana mau sayang? Walaupun kamu sudah mengkhianati Rendra


dulu tapi Mama bisa mengerti jika jadi istri prajurit itu memang tidak mudah.


Ditinggal dalam keadaan kadang baik kadang sebaliknya. Tidak pernah menjadi


yang pertama karena hanya negara yang selalu diposisi pertama. Mama sudah


merasakan itu semua tapi karena Mama tipe setia jadi, Mama bertahan sampai


sekarang.”


Risma merasa tertohok. “Risma juga


setiap, Ma. Tapi ya itu, karena pengaruh pekerjaan hingga membuat Risma gelap


mata. Apalagi saat itu baru awal-awal pernikahan. Lagi manis-manisnya eh, malah


ditinggal.”


“Ya-ya. Semoga kamu segera

__ADS_1


mendapatkan jodoh yang terbaik setelah ini. Kamu juga tidak mungkin kembali


bersama Rendra. Pintu untuk kalian sudah tertutup. Apalagi sekarang Rendra


sudah memiliki anak dari darah dagingnya sendiri bukan lagi anak orang.”


“Ma, ini kita berandai-andai ya?


Kalau seandainya suatu hari Risma kembali bersama Rendra. Apakah Mama dan Papa


setuju?”


Ibu Yetti menatap lekat mantan


menantunya.


“Apa maksudmu, Nak?”


“Kalau suatu hari nanti Risma


kembali ke Rendra, apa Mama akan setuju?”


“Kalau secara prosedur, kamu tidak


bisa bersama karena tentara tidak boleh memiliki 2 istri kecuali-“


“Yap, kecuali mereka bercerai atau


Cut pergi menghadap tuhan.”


Perbincangan keduanya berakhir


begitu dering telepon terdengar dari ponsel Ibu Yetti.


“Hallo, Ren. Ada apa?” tanya Ibu


Yetti.


“Nanti malam Mama ada acara?”


“Tidak, kenapa?”


“Kami mau rumah ketemu MAma”


Ibu Yetti melirik Risma, “Em,


sebentar lagi Mama pulang.”


“Rendra sama istrinya mau ke rumah.


Mama pulang dulu ya.”


Ibu Yetti meninggalkan mantan


menantunya sendiri di café tersebut. Ia penasaran akan hal apa yang terjadi


nanti. Mengingat tidak biasanya Rendra menelepon hanya untuk mengajak bertemu.


Pasti ada sesuatu yang akan disampaikan. Sejujurnya, Ibu Yetti juga masih


mengarapkan Cut untuk hamil kembali. Walau dirinya tidak menyukai Cut tapi anak


yang lahir dari rahim Cut adalah kebanggannya. Melihat betapa tampan dan


sehatnya Anugrah membuat Ibu Yetti kembali ingin menambah cucu.


Perpaduan wajah khas Jawa milik


Rendra dengan wajah Cut yang terlihat seperti wajah perempuan Gujarat


menjadikan Anugrah sebagai sosok yang tampan dan sangat berbeda dengan


anak-anak yang lainnya. Ibu Yetti tidak bodoh, ia tahu pernikahan yang berbeda


suku akan melahirkan anak yang rupawan dengan wajah setengah ibu setengah


bapak. Atau bisa jadi salah satu orang tua yang mendominasi.


Selepas magrib, Rendra segra


melajukan mobil menuju kediaman orang tuanya. Sebelah tangan Rendra menggenggam


tangan sang istri yang terlihat muram.


“Tenang saja, Abang yakin Mama akan


berlaku baik pada kita.”


“Cut hanya takut memikirkan reaksi


Mama setelah pertemuan kemarin di rumah.”


“Mama pasti sudah lupa, apalagi saat


melihat Anugrah. Kalau Mama marah, ancam saja pakai cucu. Pasti Mama langsung


menyerah.”


“Bangggg. Kita ke sana bukan untuk


berdebat atau mengancam. Cut tidak mau menambah masalah dengan ibu mertua.


Masalah dengan mantan istri Abang saja sudah bikin pusin ini harus tambah lagi


dengan ibu mertua. Adek lelah, Bang.”


Rendra tergelak.


Mobil melaju memasuki pekarangan


rumah. Ketiganya turun lalu segera masuk ke dalam dan di sana sudah ada Ibu


Yetti dan Bapak Wicaksono.


Kedua suami istri itu memberi salam


lalu mencium tangan kedua orang tua tersebut bergantian. Melihat kedatangan


sang cucu, seperti yang Rendra katakan. Ibunya tidak akan tahan dengan wajah


sang cucu yang begitu menggemaskan.


“Ada apa kalian meminta bertemu sama


Mama?”


Ibu Yetti langsung memberondong


sepasang suami istri di depannya.


“Cut mau minta maaf soal kemarin,


Ma.”


***

__ADS_1


__ADS_2