
Rendra pulang dalam kondisi
terburu-buru karena sudah tidak tahan ingin berjumpa dengan sang istri.
Pikirannya tidak tenang saat pesannya tidak satupun dibalas oleh Cut.
“Assalamualaikum, Sayang.”
Cut tersenyum kecut saat sang suami
memberi salam dengan menampilkan senyum terindahnya. Cut sedang bersama Anugrah
menikmati sorenya di depan televisi. Rendra masuk lalu mencium kecing sang
istri lama kemudian mencium sang putra.
“Abang mandi dulu ya?” Cut
mengangguk kecil.
Selesai menyegarkan tubuhnya dari
bau keringat, ia kembali ke ruang tv lalu duduk di samping sang istri seraya
menarik pinggang sang istri untuk lebih mendekat padanya.
“Kenapa tidak membalas pesan saya?”
“…”
Melihat istrinya diam saja, Rendra
mengambil ponsel lalu membuka akun pertemanan itu kemudian memberikannya pada Cut.
“Lihatlah! Kata kuncinya Aceh01.
Saya sudah menyuruh Risma untuk menghapus semua foto kami dulu. Coba lihat apa
dia sudah membalas atau belum?”
Cut ragu. Selama beberapa tahun
pernikahan mereka. Cut tidak pernah mengotak-atik ponsel sang suami. Tapi hari
ini, Rendra justru memberikannya tanpa ragu padanya.
“Bolehkan masalah ini Abang anggap
selesai? Saya tidak mau hal seperti ini menggangu pernikahan kita. Jujur saja,
saya tidak mau gagal lagi.”
“Bukan saya yang mulai. Harusnya
kamu pikir dulu sebelum berbuat.” Sela Cut.
“Karena itu saya minta maaf. Maaf
karena tidak peka sama perasaanmu. Maaf karena telah menyakitimu. Sayang,
bisakah kita kembali seperti semula? Saya capek didiamkan sama kamu. Lebih baik
perang betulan dari pada perang dingin sama istri.”
Cup…
Rendra mengecup pipi lalu mulai
bermain di ceruk leher sang istri. Dengan posisi duduk keduanya saat ini tentu
saja sangat menguntungkan untuk Rendra. Dia dengan leluasa bisa memberikan
banyak ciuman di pipi dan leher sang istri sementara sang putra sedang sibuk
dengan film kartunnya.
Bukan Rendra namanya jika tidak
berhasil menaklukkan kemarahan Cut. Pemberontak saja berhasil ia taklukkan
apalagi sang istri yang memiliki jiwa pemberontak. Sebelah tangannya sudah
bergerak nakal menyusup dalam baju yang Cut pakai. Bergerak pelan seperti saat
bertempur di medan perang, tangan Rendra memang sangat lihat dalam permainan
senyap. Pelan tapi pasti, Cut sudah mulai sulit bernafas lantaran menahan
gejolak yang ditimbulkan oleh tangan nakal sang suami.
“Banggghhh, ada Anugrah.” Lirih Cut.
Seolah tidak peduli dengan kehadiran
sang anak yang tengah membelakangi mereka. Rendra terus melakukan aksinya.
“Apa saya sudah dimaafkan?”
pertanyaan itu meluncur tepat di telinga sang istri.
Cut mengangguk pelan, “Tapi,
bagaimana dengan Mama?” cicit Cut.
Cut tentu saja tahu bagaimana ibu
mertuanya. Melihat reaksinya kemarin saja sudah membuatnya mengerti dimana
posisinya sebagai menantu di rumah itu. Rendra menghentikan aksinya. Ia
memandang sang istri dalam-dalam. Jauh dalam hatinya, ia juga bingung
menghadapai sang ibu. Untuk memberi pengertian pada sang ibu pasti akan
membutuhkan waktu apalagi Risma adalah anak dari sahabatnya.
“Beri Abang waktu ya? Pelan-pelan,
Abang akan bicarakan ini sama Mama. Kamu tahu sendiri Mama itu seperti apa.
Abang harap kamu bisa sabar selama mungkin sampai masalah ini menjauh dari
hidup kita.” Pinta Rendra.
“Masalah tidak akan menjauh kecuali
kita yang menjauhkan diri dari masalah itu.” Sindiri Cut.
Cup…
Rendra tersenyum mendengar sindiran
dari sang istri. “Abang masih cinta sama Risma?” pertanyaan itu lolos juga dari
mulut Cut. Pertanyaan yang baru-baru ini menghantui pikirannya.
__ADS_1
“Lihat saya! Apa saya terlihat masih
mencintai dia? Kita sudah menikah berapa tahun, Sayang? Apa kamu masih ragu
dengan semua yang saya lakukan mulai dari sebelum kita menikah lalu sampai
sekarang sudah menikah. Apa itu belum cukup untuk membuktikan perasaan saya?”
“Lalu kenapa Abang membiarkan
foto-foto itu di sana? Bahkan Abang membuat foto baru bersamanya?"
"Sayang, Abang sudah minta maaf
dan Abang akui Abang salah. Seharusnya dari awal Abang meminta dia menghapus
foto itu.”
“Siapa tahu Abang masih menikmati saat-saat
itu.” sindir Cut kembali.
“Hohoho….katanya sudah memaafkan
tapi masih sindir-sindiran. Jadi belum ikhlas ini maafinnya?”
“Memaafkan tapi tidak melupakan.”
Rendra mencolos, ia tidak menyangka
akan sesulit ini untuk membuat sang istri seperti dulu lagi. Rayuan hingga
bisikan mesra darinya sama sekali tidak mempan untuk Cut.
“Mama masih marah sama Cut, Bang?”
“Nanti kita ke rumah dan bicara
baik-baik, ya?” Cut mengangguk kecil.
Di saat sepasang suami istri sedang
melakukan perundingan damai. Di salah satu café dua orang wanita dengan umur
yang berbeda juga sedang berbicara serius.
“Ma, Risma tidak menyangka jika Cut
wanita yang licik. Dia mempengaruhi Rendra hingga mengghapus semua foto-foto
kami.”
“Ya keturunan pemberontak memang
seperti itu penuh siasat dan kelicikan. Mama juga heran kenapa tsunami kemarin
dia tidak dibawa saja oleh air laut itu. Setidaknya kalau dia menghilang, Mama
pasti bisa mendapatkan menantu yang lebih baik. Kamu tahu sendiri, Mama dari
dulu tidak pernah setuju Rendra sama dia.”
“Kalau Mama tidak setuju kenapa juga
Mama pergi ke sana lalu melamarnya? Terus, Reni juga ikut-ikutan menikah dengan
mantan iparnya?” tanya Risma.
“Mama tidak bisa buat apa-apa karena
Mama dan Papa tentu gak mau lah kalau itu terjadi. Apa kata orang? Terus
teman-teman seangkatan sama Papa tahu anaknya Bapak Wicaksono ternyata begitu.
Keluarga besar pasti malu kalau sampai itu terjadi. Kalau masalah Reni, Mama
dan Papa pasti setuju karena mertua Reni itu bukan orang kampung. Mereka orang
berpendidikan. Ayahnya seorang pegawai pemerintah sedangkan ibunya seorang
dokter. Suaminya juga punya pekerjaan yang bagus. Jadi, gak ada alasan untuk
Mama menolak lamarannya.”
“Sekarang Risma harus bagaimana, Ma?
Risma sedih dan malu apalagi ada orang kantor yang tahu.”
“Kamu cari teman pria lain saja yang
bisa kamu minta tolong buat foto-foto itu. Mama tidak berani mengatakan apa-apa
sama Rendra karena Papa sudah meminta Rendra untuk tidak mencari masalah yang
akan membuat dia dipanggil ke kantor. Kan kamu tahu sendiri urusan kantor itu
bagaimana.”
Pupus sudah harapan Risma untuk
mendapatkan pertolongan dari Rendra dan mantan ibu mertuanya. “Rendra bilang,
kalau kamu diganggu lebih baik kamu tutup saja akunnya. Kenapa tidak kamu tutup
saja, Nak?”
Risma mengerucutkan bibirnya. Ia
memendam kesal yang teramat dalam apalagi pada istri mantan suaminya. “Mama
lebih sayang aku atau istri kedua Rendra?”
“Kamu sudah tahu jawabannya. Restu
saja Mama tidak bagaimana mau sayang? Walaupun kamu sudah mengkhianati Rendra
dulu tapi Mama bisa mengerti jika jadi istri prajurit itu memang tidak mudah.
Ditinggal dalam keadaan kadang baik kadang sebaliknya. Tidak pernah menjadi
yang pertama karena hanya negara yang selalu diposisi pertama. Mama sudah
merasakan itu semua tapi karena Mama tipe setia jadi, Mama bertahan sampai
sekarang.”
Risma merasa tertohok. “Risma juga
setiap, Ma. Tapi ya itu, karena pengaruh pekerjaan hingga membuat Risma gelap
mata. Apalagi saat itu baru awal-awal pernikahan. Lagi manis-manisnya eh, malah
ditinggal.”
“Ya-ya. Semoga kamu segera
__ADS_1
mendapatkan jodoh yang terbaik setelah ini. Kamu juga tidak mungkin kembali
bersama Rendra. Pintu untuk kalian sudah tertutup. Apalagi sekarang Rendra
sudah memiliki anak dari darah dagingnya sendiri bukan lagi anak orang.”
“Ma, ini kita berandai-andai ya?
Kalau seandainya suatu hari Risma kembali bersama Rendra. Apakah Mama dan Papa
setuju?”
Ibu Yetti menatap lekat mantan
menantunya.
“Apa maksudmu, Nak?”
“Kalau suatu hari nanti Risma
kembali ke Rendra, apa Mama akan setuju?”
“Kalau secara prosedur, kamu tidak
bisa bersama karena tentara tidak boleh memiliki 2 istri kecuali-“
“Yap, kecuali mereka bercerai atau
Cut pergi menghadap tuhan.”
Perbincangan keduanya berakhir
begitu dering telepon terdengar dari ponsel Ibu Yetti.
“Hallo, Ren. Ada apa?” tanya Ibu
Yetti.
“Nanti malam Mama ada acara?”
“Tidak, kenapa?”
“Kami mau rumah ketemu MAma”
Ibu Yetti melirik Risma, “Em,
sebentar lagi Mama pulang.”
“Rendra sama istrinya mau ke rumah.
Mama pulang dulu ya.”
Ibu Yetti meninggalkan mantan
menantunya sendiri di café tersebut. Ia penasaran akan hal apa yang terjadi
nanti. Mengingat tidak biasanya Rendra menelepon hanya untuk mengajak bertemu.
Pasti ada sesuatu yang akan disampaikan. Sejujurnya, Ibu Yetti juga masih
mengarapkan Cut untuk hamil kembali. Walau dirinya tidak menyukai Cut tapi anak
yang lahir dari rahim Cut adalah kebanggannya. Melihat betapa tampan dan
sehatnya Anugrah membuat Ibu Yetti kembali ingin menambah cucu.
Perpaduan wajah khas Jawa milik
Rendra dengan wajah Cut yang terlihat seperti wajah perempuan Gujarat
menjadikan Anugrah sebagai sosok yang tampan dan sangat berbeda dengan
anak-anak yang lainnya. Ibu Yetti tidak bodoh, ia tahu pernikahan yang berbeda
suku akan melahirkan anak yang rupawan dengan wajah setengah ibu setengah
bapak. Atau bisa jadi salah satu orang tua yang mendominasi.
Selepas magrib, Rendra segra
melajukan mobil menuju kediaman orang tuanya. Sebelah tangan Rendra menggenggam
tangan sang istri yang terlihat muram.
“Tenang saja, Abang yakin Mama akan
berlaku baik pada kita.”
“Cut hanya takut memikirkan reaksi
Mama setelah pertemuan kemarin di rumah.”
“Mama pasti sudah lupa, apalagi saat
melihat Anugrah. Kalau Mama marah, ancam saja pakai cucu. Pasti Mama langsung
menyerah.”
“Bangggg. Kita ke sana bukan untuk
berdebat atau mengancam. Cut tidak mau menambah masalah dengan ibu mertua.
Masalah dengan mantan istri Abang saja sudah bikin pusin ini harus tambah lagi
dengan ibu mertua. Adek lelah, Bang.”
Rendra tergelak.
Mobil melaju memasuki pekarangan
rumah. Ketiganya turun lalu segera masuk ke dalam dan di sana sudah ada Ibu
Yetti dan Bapak Wicaksono.
Kedua suami istri itu memberi salam
lalu mencium tangan kedua orang tua tersebut bergantian. Melihat kedatangan
sang cucu, seperti yang Rendra katakan. Ibunya tidak akan tahan dengan wajah
sang cucu yang begitu menggemaskan.
“Ada apa kalian meminta bertemu sama
Mama?”
Ibu Yetti langsung memberondong
sepasang suami istri di depannya.
“Cut mau minta maaf soal kemarin,
Ma.”
***
__ADS_1