
Rendra mencegah teman-teman Anugrah yang akan mewawancarai putra dan menantunya dengan mengajak mereka menuju pelaminan di mana semua mata teman-temannya sedang menunggu reaksi mempelai ketika mereka berjaba tangan.
“Ketika mantan datang ke nikahan mantan bersama istrinya.”
“Sahabatku menikahi mantan pacarku.”
Berbagai celutukan terdengar dari bibir teman-teman SMA Anugrah. Sementara di pelaminan, Rendra dan Cut menghampiri keluarga Doni. Rendra berpelukan hangat dengan ayah dari Doni. Selama ini mereka sudah saling mengenal dan berhubungan baik.
“Selamat ya, Pak.” Ucap Rendra.
“Terima kasih dan maafkan putra kami.” Lirih Ayah dari Doni. Ia sempat menentang saat tahu Doni menjalin hubungan dengan Tiara tapi alasan kandasnya hubungan Anugrah dan Tiara membuat Ayah dari Doni luluh hingga akhirnya menyetujui sang putra untuk melamar Tiara.
“Kita hanya bisa berencana tapi Tuhan yang berkehendak. Saya juga sudah punya mantu tapi belum membuat resepsi. Mereka habis kecelakaan.” Bisik Rendra membuat suasana yang tercipta antara ayah dari Doni dan Rendra terlihat akrab. Bagi mereka yang mengetahui sejarah percintaan Anugrah dan Tiara tentu saja dibuat kagum dengan penampakan saat ini. Ayah dari Doni kembali memeluk Rendra lalu mengucapkan selamat karena sama-sama telah memiliki menantu.
Anugrah mendorong kursi roda Wulan ke depan orang tua Doni, “Selamat, Om, Tante.” Ucap Anugrah mencium tangan orang tua dari Doni dan tanpa diduga, Ayah dari Doni langsung memeluk sahabat dari putranya itu.
“Maafkan, Doni ya.” Anugrah menggeleng.
“Bukan jodoh A, Om.”
“Dan sekarang kamu sudah menemukan jodohmu. Siapa namamu, Nak?” tanya ayah dari Doni pada Wulan yang hanya diam saja mendengar pembicaraan mereka.
“W-wulan.” Ucap Wulan menerima uluran tangan orang tua Doni.
“Cepat sembuh ya dan jangan lupa undang kami saat kalian menggelar resepsi!”
“Baik, Om. Kami menjumpai Doni dulu, Om, Tante.” Anugrah kembali mendorong kursi roda Wulan. Mereka berhenti sejenak saat melihat orang tuanya sedang berpelukan dengan mempelai. Sungguh pemandangan yang sulit digambarkan. Desas-desus tentang hubungan mereka pun mencuat di anatara tamu hingga mereka serentak menatap pemandangan langka dan ada juga yang mengabadikan dengan ponsel masing-masing.
“Maafin kami, Om, Tante.” Ucap kedua mempelai pada Rendra dan Cut.
“Kenapa harus minta maaf, jodoh sudah ada yang atur dan kita hanya menjalani saja kehendak sang pengatur. Lihatlah, Anugrah justru bertemu jodohnya dengan orang yang dia tabrak. Jadi, lupakan rasa bersalah kalian. Hiduplah bahagia dan tetap berteman dengan Anugrah. Kalian memang cocoknya berteman tapi kalau kamu sama Tiara memang sudah serasi sebagai suami istri. Om tidak terkejut saat tahu kalian menikah.” Ucapan Rendra membuat Cut dan kedua mempelai menatapnya penasaran.
Rendra tertawa kecil, “Om ini pria, dari gestur Doni, Om sudah tahu kalau dari SMA dia sudah suka sama Tiara hanya saja, Doni kurang berani dan kalau saat itu Doni mengatakan cinta bisa jadi sekarang mereka tidak akan menikah. Tiara kan bucin sama Anugrah dulu.”
“Om,” rengek Tiara saat masa-masa SMAnya justru diumbar oleh mantan mertuanya.
“Iya juga sih, Om. Doni juga masih kere dan buluk dulu. Mana mungkin Tiara mau menerima Doni.” Tambah Doni lagi dan langsung mendapat cubitan mesra dari sang istri.
“Selamat ya, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek. Ingat, hadapi semua dengan kepala dingin dan bicarakan setiap kalian punya masalah sekecil apa pun. Karena masalah kecil sering menjadi bom waktu dalam sebuah pernikahan jika tidak dibicarakan baik-baik.” Rendra menasehati keduanya lalu setelah berpelukan sekali lagi, Rendra dan Cut kembali melangkah untuk memberi ucapan selamat pada orang tua Tiara.
"Selamat, Kak Shinta."
“Terima kasih.”
“Selamat, Pak Toni.”
“Terima kasih, Pak Rendra. Kita gagal menjadi besan ya.” Gurau ayah dari Tiara.
“Jodoh pasti bertemu dengan sendirinya, Pak Toni. Lihatlah, justru putra kami membawa jodohnya kemarin.” Balas Rendra. Toni dan Shinta kompak melihat Anugrah dan gadis yang duduk di kursi roda.
“Mereka baru kecelakaan jadi belum resepsi.” Imbuh Cut. Toni mengangguk pelan lalu keduanya kembali bersalaman.
__ADS_1
Dua orang laki-laki dengan status sahabat sedang berpelukan sementara sang mempelai wanita tak kuasa menahan air mata.
“Maafin kita, A.” lirih Doni.
Anugrah menepuk bahu sahabatnya, “Tiara jodohmu bukan jodohku, Don. Jaga dia baik-baik seperti selama ini kamu menjaganya.”
“Pasti, A. Terima kasih sudah datang.”
Mereka melerai pelukannya keduanya menatap Tiara yang sedang menahan tangis. “Apa kamu tidak mau memeluk temanmu ini?” ucap Tiara menahan isakannya.
Anugrah dan Doni terkekah mendengar pertanyaan Tiara yang terlihat seperti anak kecil merajuk karena kurang diperhatikan. “Aku mau tapi kamu harus minta izin dari istriku dulu.” Ucap Anugrah membuat kedua mempelai menganga seraya menatap pada gadis di depannya ini.
Wulan, entah bagaimana dia harus menerima semua pengakuan ini. Perasaan aneh kerap muncul tiba-tiba saat Anugrah mengucap kata istriku pada setiap orang.
“Mbak, salam kenal. Maaf kami tidak tahu kalau Mbak istrinya A. Perkenalkan nama saya Doni dan ini Tiara.” Doni mengulurkan tangannya ramah.
Meski ragu, Wulan menerima uluran tangan Doni seraya mengucap, “Wulan.” Tiara juga melakukan hal yang sama.
“Mbak, apa boleh istri saya memeluk suami Mbak sebentar?” tanya Doni membuat Wulan bingung lalu mengangguk pelan.
Kedua mantan kekasih ini berpelukan lalu Anugrah tiba-tiba menarik Doni hingga mereka berpelukan bersama.
“Makasih, A. Kamu juga harus bahagia.” Ucap Tiara.
“Kamu pandai mencari istri, A. Kamu selalu mendapat gadis cantik.” Celutukan Doni membuatnya harus menerima jitakan dari tangan Anugrah.
“Sudah punya bini jangan melirik bini gue lagi.”
Gleg…
“Jangan lupa undang kami ke resepsi kalian!” pinta Tiara.
“A, kita foto ya!” pinta Doni. Anugrah mengangguk lalu mereka berfoto bersama dengan Wulan berada di depan Anugrah. Tangan Anugrah memegang lembut bahu Wulan saat mereka berfoto lalu Doni juga meminta MC untuk memanggil orang tua Anugrah untuk berfoto bersama. Belum sampai di sana, Doni kembali meminta MC untuk memanggil semua teman-teman SMA mereka untuk berfoto bersama dan saat itu Wulan hendak mendorong kursi rodanya namun langsung dicegah oleh Anugrah.
“Tetap di sini!”
Lagi-lagi, Wulan harus ikut berpose di sana dengan posisi Anugrah berdiri di belakang lalu kedua tanga Anugrah memegang lembut bahunya.
“Setelah ini, kita tunggu undangan dari kamu, A.” Anugrah hanya mengangguk seraya tersenyum mendengar perkataan teman-temannya.
“Hai, kamu harus menjaganya baik-baik. Dia itu banyak yang naksir. Kakak kelas tiga saja sangat obsesi sampe maksa cium dia di toilet sekolah dulu. Padahal dia masih kelas satu. Bisa kamu bayangin seberapa mempesonanya suamimu ini?”
“Sudahlah, jangan bicarakan masa lalu.” Sela Anugrah.
Wulan lebih banyak mendengar dari pada bicara. Teman-teman Anugrah benar-benar membuat Wulan tertahan bersama Anugrah dalam waktu lama. Bahkan, saat orang tua Anugrah datang ingin mengajak pulang. mereka langsung menyela, “Om, Tante. Kami ingin menjadikan pesta Doni sebagai ajang reuni lumayan untuk menghemat biaya, boleh ya OM, Tante?” Rendra tidak bisa berbuat banyak menghadapi para pemuda-pemudi ini. Rencana untuk makan malam di luar sirna sudah. Akhinya, ia dan sang istri memilih pergi ke stand makanan.
“A, kamu nikah kantor atau gimana sih? Suami aku gak bilang apa-apa tuh. Padahal dia tahu kita satu SMA.” Tanya salah satu teman Anugrah. Suaminya juga seorang tentara di tempat Anugrah dinas sekarang.
“Nikah kantor, surat-suratnya bukan lewat suamimu tapi ada jalur lain. Kalau suamimu khusus jalur pindah tugas.” Jelas Anugrah.
“Jadi, kamu sungguh gak bisa ikut tugas lapangan lagi?”
__ADS_1
Anugrah menggeleng, “Ada beberapa bagian dari tulangku yang patah dan sudah dioperasi. Tapi untuk latihan berat memang sudah tidak bisa. Aku berasa jadi terdakwa dalam persidangan.”
“Memang. Karena kamu jarang unggah kegiatanmu di akun media sosial. Yang ada di hati dan otakmu hanya Tiara. Saat pacaran sama dia saja kamu juga tidak main sosial media. Di grup juga kamu jarang nongol. Kamu seperti menghindari kami, A.”
“Sorry.” Hanya kata itu yang bisa Anugrah ucapkan karena apa yang teman-temannya keluhkan memang benar.
“Wulan, dari tadi kamu diam saja atau memang kamu tipikal cewe kalem? Sorry ya, kita-kita kalau udah ngumpul suka ribut begini. Harap maklum, kami ini anak SMK.”
“Wulan, apa yang membuat kamu cinta sama Anugrah selain tampan dan baik hati?”
Gleg…
“Pertanyaan apa itu? Sepertinya yang nanya ini butuh minum.” Batin Wulan melirik ke arah teman Anugrah.
“Jangan tanya macam-macam, please!” pinta Anugrah.
Ia tidak mau sikap buruk Wulan tiba-tiba keluar. Hampir satu jam mereka di sana dan Anugrah masih berdoa dalam hati semoga sifat buruk Wulan tidak muncul.
“A, kamu harus tinggal. Doni dan Tiara sudah pesan tempat di lantai bawah untuk kita-kita setelah ini.”
“Sorry, gaeys. Aku gak bisa.”
“Harus bisa, bentar lagi mereka akan turun dan mengajak kita ke sana.” Anugrah melirik Wulan yang terlihat nyaman dalam diam.
“Gak usah khawatir, bawa istrimu juga. Mereka juga pada bawa pasangan.”
Benar yang temannya katakan, Doni dan Tiara turun lalu mengajak mereka semua menuju ruangan khusus.
“Terima kasih buat teman-teman semua yang sudah datang. Sebenarnya ini adalah acara untuk menggantikan pesta lajang kami. Jadi, inilah pesta lajang kami bersama kalian selama satu jam ke depan. Kita bisa karoke, joget dan apa saja.”
“Tapi sayang tidak ada alkohol.” Celutuk salah satu teman.
“Tolong hargai kami yang taat ini.” Seru yang lain. Suasana semakin meriah dan seru. Pasangan pengantin yang tadinya berdiri elegan di atas pelaminan kini berganti menjadi acara pesta anak-anak sekolah. Tiara bergabung dengan teman-teman wanitanya menari-nari kecil diiringi musik sementara Doni bergabung dengan para pria. Sesekali Anugrah melirik dengan ekor matanya ke arah Tiara yang sedang tertawa sambil menari. Hal itu tertangkap juga oleh Wulan dan Doni.
Sebuah lagu tiba-tiba di putar, nyanyian dari seorang wanita begitu merdu dan penuh penghayatan hingga menusuk hati orang-orang yang sedang mendengarnya.
Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Kutetap teman baikmu
***
Ada yang bisa nebak itu bait lagu siapa???
__ADS_1