
Di salah satu café, dua pemuda sedang terlibat pembicaraan serius. Wajah Iskandar seketika menegang saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh adiknya. Beberapa kali, Iskandar mengusap wajahnya dengan kasar karena tidak habis pikir dengan keputusan sang adik yang dianggap sudah dewasa itu.
“Apa kamu tidak bisa menjadikannya istri secara utuh?” tanya Iskandar pada sang adik yang terlihat lesu.
“Kak, aku-“
“Sudahlah! Kalian berdua sama-sama egois. Kalian anggap apa pernikahan ini? Lalu Mama, apa kamu sudah memikirkan perasaan Mama?”
“Kak, Mama sendiri yang menyuruh Wulan untuk meninggalkanku jika dia tidak bahagia denganku.”
“Apa???” makin terkejutlah Iskandar mendengar perkataan adiknya.
“Kapan Mama mengatakan itu?”
“Saat kalian menginap di rumah dinas. Dan Wulan juga sudah mengatakan pada Mama kalau dia akan pergi setelah sembuh supaya aku tidak merasa bersalah.”
“Kalian berdua benar-benar –“ Iskandar kehabisan kata-kata.
“Ya sudah kalau begitu lakukanlah! Percuma juga aku berpendapat kalau pada akhirnya keputusan kalian tetap tidak berubah.”
“Aku hanya ingin mengatakan supaya tidak menambah beban Kakak dan Kakak bisa melanjutkan rencana pernikahan dengan Aisyah.”
Sementara di tempat lain, Aisyah sedang dilanda rindu yang amat dalam pada sosok Iskandar. Namun mengingat Iskandar adalah kakaknya, ia bingung harus berbuat apa untuk menghilangkan rasa rindunya.
“Kak Aisyah kenapa? Rindu sama Om Imam ya?” si bocah Abdul datang mengahmapiri Aisyah yang sedang memandang langit malam lewat jendela.
“Kenapa belum tidur, ini sudah malam.”
“Abdul rindu Om Imam. Kenapa Om Imam tidak ke sini lagi?”
Aisyah tersenyum getir, “Om Imam punya tanggung jawab lain di kota. Kalau sudah besar nanti, kamu akan mengerti. Ayo, tidur!” Aisyah menutup jendela lalu membawa Abdul ke kamar.
Seminggu berlalu, Cut dan Rendra sudah kembali ke rumah mereka. Seperti yang sudah direncakan sebelumnya, ia akan menyampaikan rencananya untuk menikahi Aisyah tanpa melalui lamaran ulang. Dan di sinilah Iskandar berada bersama kedua orang tuanya.
“Jadi kapan kamu mau mengeksekusi Aisyah?” tanya Rendra menggunakan mode pasukan khusus membuatnya mendapat cibiran dari istri dan anaknya.
“Bagaimana kalau akhir bulan ini, Ma, Pa? Akad nikahnya saja dulu setelah itu baru resespsi dan tidak perlu mewah, cukup keluarga dan teman-teman dekat saja.”
“Terus dari pihak Ayahmu, bagaimana?” tanya Cut kemudian.
__ADS_1
“Aku ingin menyerahkan masalah pernikahanku pada Mama dan Papa, boleh?” Cut dan Rendra tersenyum. Inilah yang Iskandar harapkan. Senyuman dari wanita yang sudah merawat dan melahirkannya.
“Kita rundingkan ini dengan Kakek dan Nenekmu, ya? Bagaimanapun mereka tetap orang tua yang harus kita hormati dan dengarkan pendapatnya. Mama dan Papa tidak masalah jika kita harus berkerja sama untuk pernikahan kalian.” Ucap Cut membuat Iskandar bernafas lega. Ternyata ibunya memang wanita yang sangat istimewa dengan hati yang lapang.
“Nanti Papa yang akan menghubungi Faisal untuk mengadakan pertemuan keluarga.” Nah, jika begini Iskandar dan Cut langsung menebak apa yang akan terjadi pada Pak Komandan mereka. Setelah bertemu dengan Faisal yang seorang dokter hebat, Rendra sedikit kurang percaya diri apalagi wajah Faisal yang bekerja dalam ruangan terlihat masih tampan dan muda. Berbeda dengan dirinya yang sering latihan di alam terbuka.
Setelah kepergian Rendra, Iskandar langsung berbisik pada ibunya. “Papa cemburu sama Papa Fais?” Cut mengangguk pelan seraya tersenyum.
“Ayahmu tidak mungkin menukar istrinya yang cantik dengan Mama yang cacat ini, ya kan?” gurau Cut tapi sayangnya tidak mendapat respon dari sang putra.
“Kalian membicarakanku?” selidik Rendra yang baru datang. Ternyata pria itu mengambil ponselnya untuk menghubungi Faisal. Ibu dan anak hanya memberikan tatapan penuh makna untuk sang ayah.
“Assalamualaikum,”
Cut, Rendra dan Iskandar sontak menatap ke arah pintu masuk. Teuku berdiri di sana menatap mereka. Kali ini ia datang sendiri tanpa Anggia.
“Masuklah!” ucap Rendra mempersilakan Teuku masuk.
“Apa kedatanganku menggangguk kalian?”
Benar seperti yang Rendra duga jika Faisal dan Ayu tidak mendidik Rendra dalam tatanan tata krama yang benar. Entah dunia seperti apa yang ia jalani selama ini sehingga untuk mencium tangan Cut saja, Teuku masih ragu-ragu.
Suasana yang tadinya riuh mendadak hening dan canggung. “Is, minta Bibik buatkan minum!” Titah Rendra sementara Cut diam saja melihat anak dari abangnya yang sudah meninggal. Matanya berembun setiap kali melihat wajah itu.
“Kamu sekolah kedokteran di univeristas mana?” tanya Rendra. Entah kenapa dia juga enggan untuk berbasa-basi dengan pemuda itu.
“Kami sekolah di Autrali. Papa dan Mama mengambil pendidikan lagi setelah kembali dan setelah saya besar, mereka kembali mengirim saya ke sana mengambil jurusan kedokteran sampai spesialis.” Cut tersenyum getir.
Rendra menganggukkan kepalanya. Kini dia tahu kenapa tata krama anak ini sangat berantakan. “Ehm, Tante.” Teuku memanggil Cut ragu.
Keduanya saling tatap, “Maaf kalau sikap saya menyakiti Tante. Saya terkejut dengan semua ini. Saya tahu kalau Tante kecewa tapi saya minta Tante mengerti. Selama ini saya hanya tahu mereka tanpa mendengar cerita lain tentang keluarga saya yang sesungguhnya. Saya harap Tante memaafkan sikap saya yang kemarin.”
“Kamu benar, saya seharusnya mengerti kalau kamu pasti sulit menerima kenyataan ini tapi semua ini memang nyata. Terima kasih karena kamu sudah bersedia datang ke sini untuk menemui saya. Tenang saja, saya tidak akan memaksamu untuk menerima saya.”
Gleg…
“Ma, Teuku tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini. Dia begini karena Faisal tidak mengatakan yang sesungguhnya pada Teuku. Kamu dengar ya, saya kecewa sama kamu tapi saya lebih kecewa pada pria yang kamu panggil Faisal itu. Dia tidak menceritakan asal usulmu tapi kami? Kami menceritakan semua tentang Faisal pada Iskandar. Seandainya kejadian hari itu tidak terjadi, selamanya kamu tidak akan mengenal keluarga kandungmu. Kalau kamu mengatakan saya menyalahkan Faisal, silakan! Saya memang menyalahkan dia 100% dengan ketidak tahuan kamu tentang keluarga kandungmu.” Rendra bersikap tegas di depan Teuku. Sementara Iskandar berdiri berdiri di belakang dinding mencuri dengar bersama Bibik.
“Den, Bapak kalau marah seram ya?” si Bibik ikut komentar di balik dinding.
__ADS_1
“Makanya jangan buat Papa marah.”
“Tapi Bapak hebat.” Puji si Bibik kembali membuat Iskandar menoleh bingung.
“Bapak bisa gitu menerima Den Iskandar seperti anak sendiri tanpa menbeda-bedakan. Cuma Nyonya saja yang membeda-bedakan Aden sama Den Anugrah.”
“Husstt, jangan ungkit kesalahan almarhum. Tidak baik, Bik.”
“Maaf, Den.”
Kembali ke ruang tamu, “Kamu akan menikah? Kapan?” pertanyaan yang membuat Teuku terkejut. Ia sudah bertekad untuk meminta maaf tanpa membahas masalah pernikahannya. Tapi sekarang Cut justru menanyakan itu.
“Saya pikir mungkin setelah pernikahan Iskandar. Saya juga belum siap dalam waktu dekat apalagi dengan semua kejadian ini. Banyak hal yang harus saya lakukan terlebih dahulu seperti kembali ke Aceh. Saya ingin mengenal lebih jauh keluarga saya.”
“Tunggu sebentar!” Rendra langsung menyela lalu ia bangkit menuju kamarnya. Tidak berselang lama, Rendra kembali turun dengan membawa sebuah buku tebal di tangannya. Iskandar yang penasaran langsung berjalan menuju ruang tamu.
“Apa itu, Pa?” tanya Cut karena ini pertama kalinya ia melihat buku itu.
“Apa Mama selama ini tidak pernah melihat buku ini?” tanya Rendra terkejut.
“Tidak pernah. Memangnya isi buku itu apa?”
“Buku harta karun ya, Pa?” sela Iskandar tiba-tiba ikut bergabung.
“Ini album foto saat kamu masih bayi. Saat itu, tim saya yang menemukanmu di dalam gua bersama Tantemu ini.” Rendra duduk di samping Teuku lalu menyerahkan buku yang ternyata sebuah album foto ke tangan Teuku. Cut yang penasaran tanpa sadar beranjak dari duduknya lalu duduk di samping sebelah kanan Teuku. Iskandar yang datang belakangan harus bersedia berdiri di belakang untuk melihat album foto yang ia sendiri belum pernah melihatnya.
“Ini sewaktu di ruma sakit dulu?” tanya Cut terkejut. Foto-foto yang dulu Rendra kirimkan sudah ia tanam di dalam rumahnya dan mungkin sekarang sudah tidak berbentuk. Di saat mereka asyik melihat foto masa lalu, Rendra memanggil Bibik dengan tangannya lalu memberi kode pada si Bibik untuk memotret mereka berempat.
Kamera tanpa suara itu berhasil mengambil foto mereka. Rendra tersenyum melihat foto-foto di ponselnya. Lalu tba-tiba ia terkejut melihat penampakan lain di belakangnya. Ia menolah dan sang putra yang tak lain Anugrah sedang tersenyum manis ala pasta gigi ke arahnya.
Mata Teuku tiba-tiba berembun dan tanpa diduga ia segera berlutut di depan Cut sambil menggenggam tangan Cut dan menciumnya. Ia terisak dalam pangkuan Cut membuat Rendra ikut menitikkan air mata.
“Maafin aku, Tante! Aku sudah durhaka sama Tante. Aku anak yang tidak tahu balas budi. Maafin aku!”
***
Maaf gaeyss...telat...
__ADS_1