
Dor...dor.......
Suara tembakan senjata api saat subuh mengagetkan setiap warga di sekitar pasar yang letaknya tepat di belakang mesjid raya Baiturrahman. Kota Banda termasuk kota yang sangat jarang terjadi kontak senjata. Dan pagi ini, banyak warga di sekitar mesjid terkejut sekaligus ketakutan setelah mendengar dua kali bunyi tembakan.
Abu menghentikan langkahnya tatkala hendak membuka pintu ruko untuk mengerjakan salat subuh berjamaah di mesjid. Jarak mesjid dan ruko cukup dekat sehingga bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.
Selang beberapa menit setelah suara senjata tersebut, suara derap langkah sepatu tentara terdengar melewati jalan di depan ruko. Alhasil, subuh itu menjadi subuh pertama untuk keluarga Cut yang baru menetap di Kota Banda.
Hiruk pikuk pasar yang biasanya sudah dimulai dari jam 7 menjadi jam 9. Dan berita pun menyebar dari mulut ke mulut tentang peristiwa tadi subuh. Seorang pengusaha terkenal asal kota Banda yang bernama Syah Johan ditembak oleh orang tidak dikenal saat menuju ke mesjid.
Beragam spekulasi pun bermunculan dari mulut ke mulut. Para tentara masih terlihat di setiap sudut dengan senjata lengkap. Kehidupan di kota Banda memiliki perbedaan yang signifikan walaupun sama-sama berada dalam daerah konflik. Ada sebagian kecil daerah di Aceh yang tidak termasuk dalam zona berbahaya atau rawan. Biasanya daerah tersebut adalah daerah yang ditinggali tidak hanya orang Aceh asli melainkan campuran dari daerah atau suku lain.
Banda Aceh termasuk salah satu kota dengan banyak suku yang hidup bercampur baur tanpa masalah. Salah satu yang paling banyak termasuk warga etnis Tiongkok. Mereka hidup berdampingan walaupun berbeda keyakinan. Karena pada dasarnya, nenek moyang orang Aceh dari dulu sudah terbiasa berniaga dengan banyak pendatang dari berbagai negara yang melewati Selat Malaka.
Letak Kota Banda Aceh sendiri begitu strategis hingga menjadikannya sebagai pintu masuk utama. Keluarga Abu terutama Cut masih terlintas rasa takut saat mendengar suara tembakan tersebut. Rasa trauma dengan apa yang pernah dialami belum hilang dari ingatan.
Para sepupunya terutama Razi cukup berperan dalam menghilangkan trauma yang diderita sepupunya. Pak Cek Amir menceritakan semua yang dialami oleh keluarga Abangnya pada mereka. Si bungsu Intan malah menangis ketika mengetahui Cut dan Rendra pernah terkurung di gua.
“Kasihan kali Kak Cut ya, Mak? Kalau Adek dikurung dalam gua kayak begitu, jangankan seminggu, setengah hari saja sudah kehabisan nafas alias koit.” ucap Intan.
__ADS_1
“Di situlah kuasa Allah. Kak Cut dan Dek Rendra diberikan kekuatan oleh Allah walaupun hanya makan telur rebus. Mati itu di tangan Allah, kalau ajal kita belum tiba kita tidak akan mati walau dikurung di gua yang lebih dalam sekalipun.” balas Mak Cek Siti.
“Kak Cut bukan sengaja dikurung supaya meninggal tapi dikurung supaya selamat dan tidak dipaksa menikah. Makanya kalian baik-baik sama Kak Cut. Buat dia senang supaya bisa melupakan traumanya. Terutama kamu, Razi. Kamu kan calon dokter, coba kamu cari cara biar sepupu kamu bisa sembuh dari trauma.” pinta Pak Cek Amir pada sang putra.
“Pantas saja, Kak Cut hari itu termenung dengan mata kayak mau menangis. Mungkin dia sedang mengingat Abangnya.” ucap Intan kembali.
“Untung kami tidak lahir di kampung ya, Ma? Kalau tidak, mungkin sekarang Bang Razi sama Bang Faris dan pegang senjata masuk hutan.” sambung Intan yang mendapat tatapan tajam dari Mak Cek Siti.
“Itu karena Mamak tidak mau tinggal di kampung Ayah. Begitu tahu kalau Ayah kalian berasal dari Kampung Sagoe yang jauh dari kecamatan di kabupatennya. Mamak langsung bilang ke Ayah kalian kalau kita menikah nanti, Mamak tidak mau tinggal di sana. Dan Mamak bersyukur karena Ayah kalian orangnya berpikiran terbuka sama kayak Mamak. Ayah kalian lebih menyukai hidup di kota. Makanya Ayah kalian tidak punya warisan di kampung. Semua warisannya dijual lalu Ayah membeli di sini.” jawab Mak Cek.
“Tapi, biar pun kalian hidup di kota. Ingat untuk selalu hati-hati dan waspada. Kita tidak pernah tahu wajah para pemberontak itu jadi lebih baik untuk mawas diri. Dan lebih baik kalian jangan terlalu sering ke kolam renang. Itu aset tentara dan kebanyakan tentara di sana. Ayah suka takut jika kalian main ke situ.”
“Sabtu-Minggu jarang tentara yang ke sana kecuali mereka yang lajang atau baru-baru lulus pendidikan, Yah.”
“Iya, nanti kami lebih berhati-hati. Sampai kapan perang ini berakhir? Kasihan orang-orang yang berada di zona hitam. Hidup mereka pasti sangat kesulitan. Ruang gerak mereka juga dibatasi. Mau jadi apa anak-anak Aceh ke depan jika untuk melihat kemajuan dunia saja mereka tidak bisa.
“Di situlah pentingnya pendidikan. Otak kalian tidak akan mudah menerima sesuatu secara mentah jika ada pendidikan. Kalian pasti akan berpikir sebab akibat sebelum memutuskan sesuatu.” jawab Mak Cek Siti.
__ADS_1
“Tidak begitu juga, Ma. Orang-orang Aceh ini sebenarnya baik tapi para pemangku jabatan di pusat sana tidak tahu cara beramah-tamah. Andai kedua belah pihak saling berbicara dengan baik tentu perang ini tidak akan terjadi dan kalaupun terjadi pasti tidak akan selama ini.” jawab Pak Cek Amir.
Mendengar perkataan suaminya, Mak Cek Amir hanya bisa mencibir sambil berlalu meninggalkan suami dan anak-anaknya. “Mamak kenapa?” tanya Intan dengan wajah bingung dan hanya dibalas, “Entah, Ayah juga tidak mengerti.”
Ketiga anak Pak Cek tertawa kecil melihat tingkah kedua orang tuanya. Sementara itu, Cut sendiri larut dalam buku-buku pelajarannya. Banyak hal yang ia pelajari dari hari ke hari dan banyak perubahan yang terjadi selama berteman dengan trio bangsawan.
Mak Cek Siti selalu mengajaknya dan juga Rendra untuk membeli pakaian. Mak Cek Siti sangat menyukai anak perempuan namun sayang, anak perempuan satu-satunya justru tomboi mengikuti kedua saudara laki-lakinya. Keinginan Mak Cek Siti untuk mendandani anak perempuan akhirnya tersalurkan melalui Cut.
Cut yang dulu memakai rok besar dengan jilbab besar dan warna yang tidak senada kini lebih berkelas. Jika dulu memakai rok hijau, baju kuning dan jilbab putih kini, Cut sudah pandai memadu padankan warna dengan bermacam pakaian yang dibeli oleh Mak Cek Siti. Sebagai orang yang hidup di kota, Mak Cek sangat pandai dalam hal pakaian. Sehingga warna-warna yang ia pilih untuk Cut tidak lagi warna-warna yang mencolok tapi lebih ke warna kalem seperti kepribadiannya.
“Yee,,, Mamak sudah punya anak perempuan lagi....” ejek Intan saat melihat baju-baju yang Mamaknya belikan untuk Cut.
“Sudah lama Mamak ingin pergi belanja baju cantik-cantik dengan anak perempuan sendiri. Tapi, apa daya anak perempuan satu-satunya justru menyukai baju bekas abang-abangnya. Ya sudah, Mamak beli saja buat Dek Cut. Dia lebih cocok jadi perempuan dari pada kamu.” sindir Mak Cek Siti.
“Kak Cut lama-lama jadi seperti mainan bongkar pasangnya Mamak. Hati-hati!!!” ucap Intan yang mendapat lemparan bantal sofa dari mamaknya.
“Cut, apa kamu masih mengingat tentara yang bernama Rendra itu?”
***
__ADS_1
LIKE...LIKE...LIKE...
komen yang banyak ya....