CUT

CUT
Abdi Negara...


__ADS_3

“Kakak kamu ke mana Ren?” tanya sang ibu


 


“Kakak yang mana Ma? Kalau Rudi lagi di kamar sedangkan Kak Rendra juga lagi di kamar sedang menatap langit senja sambil memikirkan sang gadis pujaan hati.”


 


“Kamu mengakui Rudi sebagai kakak tapi tidak pernah memanggil dia dengan sebutan kakak.” sela sang bapak.


 


“Rudi kakak beda 30 detik, Pak. Kalau Kak Rendra kan jelas beda karena lebih tua dari aku.” kilah Reni.


 


Rendra memiliki sepasang adik kembar yang berumur 24 tahun. Ayahnya bernama Edy Wicaksono seorang purnawirawan TNI dan ibunya bernama Yetti Widiastuti.


 


“Sepertinya Kak Rendra sangat menyukai gadis Aceh itu. Semenjak pulang tugas dia terlihat seperti laki-laki kurang semangat hidup. Padahal umurnya sudah dewasa tapi masih saja susah mengendalikan perasaan.” keluh Reni.


 


“Ibu sudah bilang untuk tidak menikahi gadis itu. Dan sekarang doa Ibu terkabul, dia kehilangan gadis itu dan mudah-mudahan mereka tidak pernah bertemu kembali. Ibu sudah punya calon buat Rendra dan Ibu yakin kakak kamu pasti akan jatuh cinta pada gadis pilihan Ibu.”


 


“Siapa, Bu?” tanya sang Ayah terkejut.


 


“Anaknya Wahid sama Risna. Masa Bapak tidak ingat. Wahid kan satu angkatan sama Bapak. Sekarang mereka tinggal di Semarang dan Ibu tidak sengaja bertemu dengan Risna kemarin. Mereka lagi berlibur di Batu.”


 


“Kenapa Ibu baru cerita sekarang sama Bapak?”


 


“Maaf, Pak. Lupa, biasa faktor umur. Ibu tidak cerita karena malam ini mereka akan datang ke rumah kita. Ibu mengundang mereka untuk makan malam sekalian kita mengenalkan Rendra dengan anak bungsu mereka yang bernama Risma.”

__ADS_1


 


“Memangnya mereka punya berapa anak, Bu?” tanya sang suami kembali.


 


“Mereka sama seperti kita cuma bedanya anak mereka tidak ada yang kembar. Anak pertamanya laki-laki sudah menikah dan punya dua anak. Sekarang tinggal di Kalimantan. dia mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang  tentara. Sama seperti kita, Rendra juga mengikuti jejak Bapak. Anak keduanya perempuan juga sudah menikah dan sekarang tinggal di Padang mengikuti tugas suaminya yang polisi. Makanya mereka sangat senang begitu tahu jika Ibu mau menjodohkan Rendra dengan putri mereka karena Rendra juga seorang tentara.”


 


“Hebat juga si Wahid bisa memiliki anak menantu abdi negara semua. Beda dengan kita, anak-anak kita yang mau mengikuti jejak Bapak hanya Rendra, sementara mereka malah mau menjadi orang kantoran.” ucap sang bapak sambil menunjuk dengan dagu kedua anak kembarnya yang baru berkumpul.


 


“Bapak jangan begitu, kami kan punya cita-cita sendiri. Bapak harus tahu bagaimana tidak enaknya punya ayah abdi negara. Dikirim ke daerah perang, terus kalau selamat ya rezeki kalau pulangnya hanya peti? Seharusnya para orang tua menanyakan perasaan anak mereka jangan hanya mengikuti keinginan mereka saja. Membela negara itu memang wajib tapi jangan juga mengorbankan kebahagiaan anak. Maaf ya Pak, walaupun aku lahir dari seorang abdi negara tapi kelak aku tidak mau menikah dengan abdi negara. Jadi, Bapak sama Ibu jangan berharap untuk mendapatkan menantu sorang tentara seperti teman Bapak itu!” semua orang yang berada di ruang keluarga tercengang mendengar isi hati sang putri yang menggebu-gebu tersebut.


 


Pok...pok...


 


“Wah...wah...penyampaian orasi yang luar biasa dari seorang Reni Wicaksono. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan.” ucap kembarannya Rudi Wicaksono.


 


 


“Kami tidak memaksa kalian mencari pasangan abdi negara. Yang penting buat orang tua adalah anak-anaknya menikah jangan seperti kakak kamu itu. Pangkat sudah tinggi tapi masih sendiri. Kalah sama anak buahnya yang berpangkat rendah.” jawab Bu Yetti.


 


“Belum Buk, kalau sudah waktunya juga pasti menikah. Ibu saja yang tidak sabar terus takut kalau Kakak jadi sama gadis Aceh itu. Siapa namanya? Aku lupa.”


 


“Cut. Namanya Cut. Kalau kalian tidak suka lebih baik jangan mengatainya. Menambah dosa saja. Rendra keluar sebentar.” ucap Rendra lalu meninggalkan kedua orang tua serta adiknya.


 


***

__ADS_1


 


Cafe X...


 


Dua orang laki-laki sedang duduk sambil menyesap kopi masing-masing...


 


“Aku bingung mau memberikan saran apa. Di satu sisi aku kenal Cut dan aku juga setuju namun, di sisi lain restu orang tua juga penting dalam pernikahan. Belum lagi situasi Aceh saat ini tidak memungkinkan jika kita ke sana secara pribadi yang ada dikira kita membelot. Dan sekarang kabar dia saja kita tidak tahu apalagi pria yang pernah memaksanya menikah juga masih buron.”


 


“Aku juga bingung, Yu. Tapi aku juga tidak bisa begitu saja melupakannya. Apalagi aku sudah melamarnya dan tinggal tunggu jawabannya saja. Andai sekarang kami bertemu lalu dia menolakku. Mungkin akan mudah bagiku untuk menerima wanita lain tapi ini tidak ada kejelasan. Semuanya tergantung tanpa kepastian. Aku bukan tipe laki-laki yang mudah suka sama wanita. Dia juga bukan gadis yang sembarangan menyukai pria. Makanya aku sangat berharap bisa mendapat jawabannya. Apa kita bisa minta tolong sama pasukan yang lagi bertugas di sana?”


 


“Susah, Ren. Kita harus tahu pasti batalion mana yang ditugaskan di daerah dia. Baru setelah itu kita coba cari salah satu personil yang bisa kita minta tolong. Tugas ini bersifat pribadi jadi mereka juga pasti tidak bisa menerima begitu saja. Ada risiko yang mungkin terjadi. Tentara berbaur dengan rakyat salah satunya pasti terkena masalah. Yang aku takutkan malah nantinya keluarga Cut bisa terkena masalah gara-gara ada tentara yang mencari mereka.”


 


Rendra hanya bisa menghela nafas dengan berat. Keinginannya untuk mendapatkan solusi ternyata tidak berjalan sempurna. “Ada beberapa anak buah kita yang berhasil memperistri gadis Aceh. Aku dapat info dari orang kantor.”


 


“Mungkin kalian tidak berjodoh. Jadi buka saja hatimu untuk sekarang. Jika suatu hari kamu bertemu lagi mungkin tuhan sudah mengatur jalan lain untuk kalian. Kamu tidak bisa selamanya memikirkan Cut. Aku yakin dia juga pasti mendapatkan laki-laki lain di sana. Bagaimanapun dia gadis yang sangat cantik, pasti banyak yang menginginkannya sebagai istri.” sambung Wahyu kembali.


 


“Nanti malam orang tuaku mengundang makan malam keluarga teman Bapak dulu. Kamu tahu sendiri tujuan di balik makan malam itu apa. Ibuku yang mengatur semua ini.”


 


“Kamu dijodohkan? Kalau menurut aku, kamu ikuti saja dulu pelan-pelan. Selebihnya serahkan pada yang maha kuasa. Jangan langsung kamu tolak karena itu bisa membuat orang tuamu kecewa. Tapi kamu bilang ingin menjalani secara pelan-pelan tanpa pemaksaan. Jadi kalian bisa saling mengenal lebih dulu tanpa buru-buru menikah. Ingat kita ini abdi negara, cari istri harus yang siap lahir batin.”


 


“Aku tahu itu. Kita lihat nanti lah.”


***

__ADS_1


LIKE... KOMEN...LIKE...KOMEN....


__ADS_2