
Setelah kejadian malam itu, Cut dan Rendra dengan sengaja sering meninggalkan kedua anaknya di rumah. Dan yang lebih parahnya lagi adalah kedua orang tua tersebut meninggalkan kedua anaknya tanpa makanan. Selama sebulan, Cut dan Rendra akan membuat hubungan kedua kakak beradik itu akur tanpa mereka sadari. Cut menghabiskan waktu dengan bergabung menjadi relawan di sebuah panti asuhan yang biasa ia kunjungi bersama ibu-ibu persit saat mereka melakukan berbagai aksi sosial.
Satu bulan penuh kedua anaknya libur sekolah dan menikmati waktu berdua kecuali hari sabtu dan minggu. “Mama sama Papa pergi ya! Jaga rumah baik-baik. Kalau main jangan lupa kunci pintu!”
“Kenapa dulu Mama gak ikut kegiatan? Kenapa sekarang baru ada kegiatan?” protes Anugrah. Sementara Iskandar hanya diam saja. Toh, selama ini dia sudah biasa hidup tanpa orang tua.
“Dulu, karena kamu sekolah jadi tidak bisa Mama tinggal. Sekarang, kamu lagi libur jadi bisa Mama tinggal.”
“Tapi gak tiap hari juga, Ma. Mama asyik ngurusin anak orang. Anak sendiri gak ada yang urus.” Anugrah terus melakukan protes.
“Kamu sudah besar tidak perlu Mama urus lagi. Kalau anak-anak di panti, mereka maish bayi bahkan balita. Masih perlu diurus. Kalau tidak diurus, gimana mereka bisa makan, pakai baju. Masak iya, anaka bayi mandi sendiri, pakai baju sendiri. Kamu kira mereka bayi super apa?”
“Ma,-“ Anugrah hendak protes lagi namun, -
“Sudah, Mama sama Papa berangkat dulu. Kalian baik-baik di rumah. Semua bahan makanan ada di kulkas tinggal dimasak aja. Kalau kamu tidak bisa hidupin kompor, minta tolong sama Kakak. Ini saatnya kamu belajar mandiri. Ingat, tidak ada mie instan!”
“Memangnya Mama tahu kalau aku makan mie? Pergi pagi pulang sore, mienya udah keburu jadi eek.” Cut mendelik menatap Anugrah yang mulai gerah karena ibunya selalu pergi dalam seminggu ini.
“Papa sudah ngancam pemilik warung di sekitar sini. Silakan kalian beli, tidak ada yang akan menjual mie untuk kalian.”
Setelah mencium kedua anaknya, Cut dan Rendra pergi meninggalkan rumah. Selepas kepergian mereka, Iskandar langsung menuju dapur. Ia tahu jika ibunya pasti tidak memasak lagi. Anugrah mengikuti kakaknya dengan malas bercampur kesal.
“Mereka ngurus anak yatim tapi kita justru seperti mereka. Mama kok jadi ngeselin ya, Kak. Lihat, sarapan pagi aja gak ada.”
Setelah kejadian malam itu, Anugrah sedikit berani berbicara dengan kakaknya walaupun yang keluar dari mulut kakaknya hanya ‘hmm’ ‘ya’ ‘gak’ kalau ada yang panjang pun hanya beberapa kali dan bisa dihitung jari.
Hidung sensitif Anugrah mencium sesuatu yang manis dan lezat. “Kakak buat apa?” ia berbinar saat mendekati kakaknya dan melihat Iskandar sedang mengolesi roti panggang dengan selai.
“Nih!”
“Makasih, Kakak memang terbaik.” Anugrah mengambil piring yang sudah berisi roti panggang untuk sang adik. Ia juga membuat untuk dirinya sendiri karena malas masak nasi.
Saat keduanya tengah menikmati sarapan pagi ala-ala anak malas masak. Suara salam serta panggilan atas nama Anugrah terdengar dan itu adalah Ibu Yetti.
Selama seminggu Iskandar pulang, baru kali ini Ibu Yetti berkunjung kemari. Anugrah yang merasa kenal dengan nama tersebut langsung berlari menuju pintu.
__ADS_1
“Nenek….” Mereka berpelukan seakan sudah lama terpisah.
Ibu Yetti masuk dan melihat rumah dalam keadaan sedikit berantakan. Beliau memperhatikan setiap sudut rumah hingga ke bawah meja.
“Mama kamu mana? Kenapa rumah berantakan begini? Abunya juga banyak sekali. Jam segini rumah belum di sapu. Ini juga, habis makan lngsung buang ke tempat sampah jangan ditaruh di sini.”
“Mama sama Papa udha pergi ada acara di panti asuhan, Nek.” Jawab Anugrah yang sudah kembali ke meja makan untuk menghabiskan rotinya.
“Kakak kamu mana? Kenapa dia tidak membersihkannya? Oh, rupanya kamu lagi di sini juga. Setelah makan, kamu bereskan rumah jangan lihat saja. Kamu sudah besar, sudah bisa bantu-bantu membersihkan rumah. Sayang, kamu makan apa pagi-pagi begini?” Ibu Yetti panik melihat sang cucu kesayangan tengah menyantap roti panggang.
“Ini Kakak yang buat, Nek.” Ibu Yetti melirik sekilas pada Iskndar yang masih menyantap rotinya dengan santai.
“Sudah minum susu?” tanya sang nenek lembut.
“Belum, Nek.”
Ibu Yetti langsung membuat segelas susu untuk Anugrah.
“Minum yang habis biar kamu sehat dan kuat. Kamu kan mau jadi tentara kayak Papa dan Kakek.” Anugrah mengangguk lalu meminum susunya sampai habis sesuai permintaan sang nenek.
Anugrah berbinar, dia sangat senang pergi dengan neneknya karena sang nenek selalu membeli apa yang dia mau. Berbeda dengan ibunya yang suka melarang ini dan itu.
“Yok, Kak. Kita jalan-jalan.”
“Kakak kamu tidak bisa ikut. Dia harus jaga rumah. Sudah, cepat siap-siap, nanti keburu siang.” Ibu Yetti mendorong cucunya pelan supaya lekas berganti pakaian. Ia menunggu di ruang tamu tanpa peduli pada sosok yang masih menyantap roti panggang di meja makan.
“Kak, aku pergi dulu ya. Nanti aku bawakan Kakak makanan enak.”
Anugrah pergi setelah berpamitan pada sang kakak. Walau dalam hatinya ia tidak rela meninggalkan sang kakak. Iskandar bangun dari duduknya lalu membereskan dapur, menyapu rumah sampai halaman. Pekerjaan yang hampir setiap hari ia kerjakan sewaktu berada di pondok. Tapi ada yang mengganjal di hatinya, ketika di pondok ia melakukannya dengan senang hati tapi saat ini kenapa hatinya seolah tidak ikhlas?
“Iskandar….” Suara teriakan dari teman-temannya membuyarkan lamunan Iskandar yang tengah membaca buku di dalam.
Ia menutup buku lalu keluar dan langsung tersenyum kecil saat mendapati teman-temannya sudah bertengger di depan rumah.
“Mau masuk atau duduk di sini saja?” tanya Iskandar.
__ADS_1
“Sini aja, Is. Adem!”
Mereka mengeluarkan sejumlah jajanan yang sudah dipersiapkan. “Aku ambil minum dulu ya!” ucap Iskandar lalu kembali masuk ke dalam.
“Aku bantu, Is.” Adit ikut masuk ke dalam rumah bersama Iskandar.
“Adik kamu mana, Is?” tanya Adit saat menyadari jika di rumah ini hanya ada Iskandar seorang.
“Diajak jalan sama neneknya.” Adit menatap Iskandar berbeda.
“Jangan mengasihani aku. Ayo, nanti mereka kehausan.” Iskandar tahu makna tatapan Adit untuknya.
Teman-teman Iskandar bersorak senang saat Adit dan Iskandar membawa satu teko ukuran sedang yang berisi sirup dingin. Adit membawa satu baskom plastik berisi gelas-gelas untuk temannya yang berjumlah 10 orang.
“Temanya tuang sendiri. Teman kita memang asli jebolan pesantren. tahu cara menghormati tamu.” Celutuk salah satu dari mereka.
“Kamu ditinggal berdua lagi, Is?” tanya seorang teman.
“Seperti biasa.” Jawab Iskandar.
“Terus si Anugrah kemana?”
“Udah dijempur neneknya tadi.”
“Kamu gak diajak?”
Iskandar menggeleng pelan. “Neneknya jahat banget ya? Apa salahnya kalau nambah satu cucu lagi. Ya kan?”
“Sudahlah. Ibarat kata pepatah, darah lebih kental dari pada air.” Iskandar tersenyum kecut selesai mengucapkan kata-kata sindiran untuk dirinya sendiri.
“Yang sabar ya, Is! Kamu juga tidak lama tinggal di sini.”
“Aku sabar karena Mamaku masih diperlakukan baik. Tapi kalau sampai Mamaku terluka, maka saat itulah aku akan membalas.”
“Ih, kamu ternyata menyeramkan juga ya!” ucap Adit.
__ADS_1
***