CUT

CUT
Sudah ML???


__ADS_3

Di saat Dita sedang menikmati perjalanan kaburnya, Shinta justru tengah meluapkan emosi di depan suaminya, Toni. Setelah mengetahui jika putrinya sudah kabur kembali ke keluarga Faisal, Shinta langsung menghubungi suaminya dan saat itu Toni langsung meminta Shinta untuk pulang supaya mereka bisa berbicara dengan tenang. Inilah kelebihan Toni yang mampu membuat Shinta tenang saat emosi menguasainya. Toni adalah pria baik dan sangat mencintai Shinta. Dari Toni, Shinta mendapatkan semua hal yang belum tentu dimiliki oleh para suami di luar sana. Perhatian, kasih sayang dan materi.


Walaupun mereka bekerja di bidang yang berbeda dan tentu saja tempat yang berbeda pula tapi Toni selalu punya cara untuk membuat hubungannya dengan Shinta selalu dekat. Mengirimkan bunga, coklat ataupun memesankan makanan saat Shinta sedang bekerja menjadi rutinitasnya. Belum lagi komunikasi yang terjalin tanpa putus dengan sang istri membuat Shinta dikenal sebagai dokter sibuk paling beruntung di rumah sakit tempatnya bekerja. Para perawat dan karyawan bahkan dokter-dokter yang sempat menaruh hati diam-diam pada Shinta mengurungkan niatnya setelah mendengar dari para perawat betapa perhatiannya suami dari Dokter Shinta. Bahkan, para perawat wanita tanpa sadar sudah menjadi penggemar garis keras Toni. Pria yang belum mereka kenal sekalipun.


Toni langsung memeluk sang istri saat melihat Shinta datang dengan wajah masam seraya menyeret dua kopernya. Pelukan, kecupan dan senyum hangat Toni mampu membuat Shinta melelah begitu saja.


“Kok bawa bunga?” Shinta menatap heran saat Toni menyerahkan sebuket bunga untuknya.


“Kenapa gak suka ya? Atau aku ganti sama bunga deposito saja?” Senyum Shinta langsung cerah. Bukan karena bunga deposito tapi karena candaan receh suaminya.


Supir Toni datang mengambil koper Dita lalu menyerahkan satu koper kecil ke tangan Toni. Asisten Toni datang dan langsung mengajak mereka untuk berjalan menuju pintu masuk kembali.


“Kita mau kemana?” Shinta memang sering mendapatkan kejutan tapi Toni selalu berhasil membuatnya terkejut dengan kejutan-kejutan yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Toni selalu punya 1001 cara untuk membuat Shinta merasa istimewa dengan kejutannya.


“Karena kamu cuti, aku akan mengajakmu liburan. Sudah lama kita tidak menikmati waktu berdua.”


“Tapi pekerjaanmu?”


“Makanya aku mengajak seorang asisten yang akan membantuku saat kita berlibur.” Toni menunjukkan dengan dagunya ke arah sang asisten yang sedang menunjukkan tiket masuk mereka ke petugas.


Emosi yang tadinya meluap-luap sirna dengan kecupan dan belaian dari sang suami saat mereka sudah berada dalam pesawat. Inilah Toni dengan segudang keistimewaannya.


Dreettt…


Dita menatap ponselnya yang tadi ia matikan.


“Sayang, kalau sudah sampai Surabaya nanti kamu temui asisten Papa ya! Dia akan menghubungimu nanti. Papa mau mengajak Mamamu honeymoon jadi untuk sementara kamu bisa tenang. Doakan Papa!” Dita tersenyum. Dan Toni bukan hanya menjadi pawang untuk ibu singa, untuk anak singa juga dia sudah menundukkannya. Walaupun Dita sama kerasnya dengan Shinta tapi bagi Toni, Dita tetap anak yang manis dan penurut. Dia tidak pernah membantah setiap kali Toni menasehatinya dan tentu saja dengan caranya yang diluar perkiraan. Dita tumbuh dalam didikan Toni hingga sedikit banyaknya Toni tahu cara menundukkan anak singa itu.


“Makasih, Pa dan maaf.” Balas Dita.


Tidak lama, sebuah nomer baru langsung menghubungi Dita untuk bertemu. Dita yang saat itu masih di mess Iskandar memilih keluar dari kamar untuk menemui kakaknya yang sedang asik berbincang di ruang tamu.


“Kak,” panggilnya. Dita keluar menggunakan sarung dan mukena. Sungguh pemandangan yang lucu buatnya tapi buat mata kelima pria muda itu, Dita terlihat seperti seorang bidadari surga.


Ehem…


Iskandar berdehem membuat keempat temannya tersadar. “Asisten Papa Toni minta bertemu. Aku suruh ke sini saja boleh?”


“Ada apa?”


“Gak tahu. Tapi kayaknya mau kasih uang.”


“Ya sudah. Kasih alamat ini saja!” Dita mengangguk lalu segera mengirim alamat pada asisten papa sambungnya. Hanya butuh satu jam, mobil asisten tersebut sudah berhenti di depan mess. Pria dengan setelan jas rapi itu keluar lalu membungkukkan kepala sedikit pada Dita yang sudah menunggu di depan teras bersama Iskandar dan teman-temannya.


“Mau masuk dulu?” tanya Dita menghampiri sang asisten.


“Tidak, Nona. Saya hanya mau memberikan ini.” Sebuah kartu kredit diserahkan ke tangan Dita.


“Paswordnya tanggal lahir nona.”


“Papa kemana?”


“Tuan sama Nyonya sudah berangkat ke Maldives.”


Sementara di belakang Dita, “Dik, berat! Kalau aku pasti ditolak sebelum masuk rumahnya.” Goda Ari.


“Apalagi aku.” Sahut Reski.


“Aku juga.” Sela Dwi.


“Kenapa kalian mematahkan semangat Dika?” Iskandar bersuara.


“Dia memang anak Papamu, Is. Tapi jangan lupa, Mak, Bapaknya yang sekarang siapa? Aku hanya menyadarkan Dika dari resiko patah hati.”


“Kenapa bawa-bawa namaku?” tanya Dika yang tadi diam menyimak perdebatan teman-temannya.


“Bukannya kamu menyukainya?” tanya Ari si raja kepo.


Dika tersenyum lalu menggeleng. Cukup lama mereka terpisah dan itu membuat mereka tidak mengenal bagaimana karakter Dika yang mereka temui saat ini. Dika yang sekarang adalah Dika yang sudah malang melintang di dunia yang sangat tidak enak dan nyaman. Berbeda dengan dunia teman-temannya. Dika tumbuh hasil didikan alam sehingga tidak ada lagi yang namanya sakit hati dan sedih. Dika menjadi kuat dari segala sisi dengan bantuan alam.


Dita membalikkan badannya lalu tersenyum cerah sambil memamerkan kartu kredit yang baru saja ia dapatkan. “Papa selalu tahu apa yang aku butuhkan.” Ucapnya di depan Iskandar.


“Bagaimana Mamamu?” tanya Dika membuat mereka terkejut berjamaah.


“Mama sudah dibawa Papa pergi ke maldive buat honeymoon. Jadi untuk saat ini aku bisa bebas ke rumah Papa Faisal.” Dita bersorak kegirangan.


“Bersiaplah! Aku akan mengantarmu ke sana.”


“Tidak! Aku mau ikut ke kampung Mas Dika.”


Si anak singa mulai mengeluarkan taringnya. “Untuk apa? Kami akan menginap semalam di sana.”


“Aku ikut juga!” tegas Dita.

__ADS_1


“Kamu gak punya baju.”


“Aku-“


Tin…tin…


Seorang pria keluar dari mobil lalu mengeluarkan koper milik Dita. “Itu bajuku!” ucap Dita tersenyum.


“Kamu yakin mau ke kampungku?” kali ini Dika yang bertanya. Mata keduanya bertemu dan membuat suasana di sekitar sedikit menegang.


“Kenapa tidak yakin?”


“Baiklah! Kamu boleh ikut.” Ucap Dika membuat Dita bersorak kembali.


Setelah makan siang, mereka langsung menuju ke kampung Dika yang berjarak sekitar tiga jam setengah dari tempat mereka berada saat ini. Iskandar menyetir mobil sementara Dita duduk di sampingnya. Mereka berbincang banyak hal sepanjang perjalanan tentang kehidupan mereka terlebih kehidupan Dika yang berbeda dari yang mereka alami.


“Is, kamu jadi menikah?” tanya Ari dari bangku belakang.


“Insya Allah.”


“Sama siapa, Is? Anak mana?” Dika penasaran. Karena selama bertemu dengan mereka, Iskandar belum sekalipun membicarakan pernikahannya.


“Mahasiswaku, jodohku! Gitu ceritanya Mas Dika.” Jawab Dita terkikik.


“Adikku, jodohku! Gitu ceritanya Dika.” Ledek Ari.


“Jodoh serumah!” sahut Dwi.


“Mertuaku ternyata ayah kandungku! Itu baru betul.” Seloroh Reski tergelak.


“Ada apa ini? Kenapa kalian menyebut nama sinetron?” tanya Dika merasa heran dengan teman-temannya. Mereka akhirnya tertawa terpingkal-pingkal termasuk Dita. Sementara sang objek memilih menghela nafasnya melihat adik dan sahabatnya dengan puas meledeknya.


Setelah tawa mereka berakhir barulah Iskandar bercerita tentang Aisyah dan rencananya mengejutkan Aisyah saat pernikahan nanti. “Apa kamu yakin dia tidak akan tergoda dengan pria lain? Saat ini kamu tidak berkomunikasi sama sekali dengan dia. Aku takutnya bukan dia yang mendapat kejutan malah sebaliknya. Kamu yang diberi kejutan.”


Jlebb…


Perkataan Dika membuat semua wajah menegang termasuk Iskandar. “Dia tidak mudah didekati, Dik. Insya Allah jodoh tidak akan kemana?” jawab Iskandar tenang tapi hatinya mulai gentar. Ia sedikit terpengaruh dengan ucapan Dika.


“Kalau dia tidak mudah didekati, kenapa dia mau sama Kakak? Memangnya Kakak mendekati dia dengan cara apa? Jangan bilang pakai doa!” ucap Dita.


“Doa juga perlu, Ta. Tapi usaha juga wajib. Nah, Kakak cuma berdoa dan berusaha selebihnya biar Allah yang mengatur dan alhamdulillah kami berjodoh.” Jawab Iskandar dengan percaya diri.


“Belum! Kalau belum sah tidak bisa dikatakan jodoh. Sudah menikah aja bisa cerai lalu dimana letak jodohnya?” ketus Dita membuat Iskandar mengernyit heran.


“Kamu kenapa?”


“Kenapa tiba-tiba sewot, ada apa?” tanya Iskandar mode dingin.


“Aku punya mantan. Dulu dia ninggalin aku lalu menikah sama cewenya dan bulan kemarin mereka cerai. Si brengsek ini menghubungiku lagi dan saat aku tanya alasannya cerai dia dengan santai menjewab kita gak ada kecocokan lagi. Dulu saat putusin aku, dia bilang kalau aku bukan jodohnya. Munafik banget kan dia? Dasar brengsek memang!”


“Kamu masih punya perasaan sama dia?”


“Amit-amit.”


“Sejauh mana hubungan kalian dulu? Maksud aku kontak fisik?”


“Cuma cium pipi aja. Jarang ketemu juga!”


“LDR?”


“Hem.”


“Baguslah!” jawab Iskandar akhirnya.


“Baguslah?”


“Iya. Baguslah karena dia tidak sempat menjamah kamu. Apa kamu gak merasa rugi memberikan mahkotamu untuk pria yang kamu panggil brengsek itu?”


“Iya sih. Untung LDR kalau tidak aku bisa mengulang kisah Mama dan Papa kita lagi ya, Kak?”


“Makanya sebisa mungkin jauhi pria macam itu. Masih banyak pria baik di dunia ini contohnya yang ada di belakang kamu.” Iskandar melirik sahabat-sahabatnya seraya tersenyum.


“Jodohku sahabat kakakku!” Dita tergelak sendiri.


“Kak, aku cantik tidak pakai mukena begini?” tanya Dita seraya menatap cermin di depannya.


“Cantik pake banget!” ucap para sahabat Iskandar dari belakang.


“Semua yang tertutup itu cantik dan indah karena tidak dijamah oleh lalat-lalat nakal. Hanya tangan pemiliknya yang akan membuka layaknya kue yang dibungkus.” Ucap Iskandar.


“Kak, apa aku bisa mendapat suami yang baik? Aku ini kan anak haram. Apa ada laki-laki yang mau sama aku?”


Iskandar menginjak rem tiba-tiba. Ia menatap adiknya lekat. “Jangan pernah berkata seperti itu lagi kalau masih mau jadi adikku, mengerti?” Dita melihat api kemarahan di mata kakaknya hingga ia langsung mengangguk.

__ADS_1


“Dika, bisa nyetir kan?” Dika mengangguk lalu Iskandar meminta Dika untuk menggantikannya menyetir.


Dita tidak lagi mengeluarkan suaranya. Ia cukup terkejut melihat kilatan amarah dari mata Iskandar yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Butuh dua jam lagi untuk mencapai kampung Dika. Para penumpang sudah tertidur apalagi Dika menyetel lagu-lagi sendu yang membuat siapa saja ikut tertidur tapi tidak dengan Dita. Dia merebahkan dirinya di jok mobil lalu melihat pemandangan sekita melalui jendela.


 “Perjalanan membawamu bertemu denganku. Ku bertemu kamu. Sepertimu yang kucari. Konon aku juga seperti yang kau cari.” Dika melantunkan beberapa baik mengikuti penyanyi aslinya yang sedang diputar. Sesekali ia melirik ke samping di mana Dita juga sedang menatapnya dengan perasaan aneh.


“Selama jantung ini berdetak. Ku akan selalu menjagamu hingga akhir waktu.”


“Mas Dika punya pacar?”


“Em, belum. Kenapa?”


“Kenapa? Kenapa Mas Dika belum punya pacar?”


“Kamu belum ngasih jawaban.”


“Kok aku?”


“Iya, kamu. Kamu belum jawab pertanyaan saya.”


“Kapan Mas Dika tanyanya? Seingat aku Mas Dika tidak tanya apa-apa deh.”


“Saya tanya sekarang, mau tidak menua bersama saya?”


“Mas Dika tidak lupa kan kalau kita berbeda?”


“Tidak! Saya tidak lupa. Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia. Membalikkan hatimu untuk mencintai Islam bukan perkara sulit untuk-Nya. Kamu saja mampu diciptakan dengan satu kalimat ‘Kun fayakun’ apalagi hatimu.” Dita yang tadinya murung kini tersenyum kecil.


“Mas Dika jago juga melawak.”


“Terima kasih. Saya anggap ini pujian dan tolong tinggalkan recehannya.” Dita kembali tertawa kecil dan setelah itu sepanjang perjalanan mereka terus berbincang banyak hal. Sementara di jok belakang, para sahabat till jannah memilih tetap menutup mata untuk memberi kesempatan pada sepasang anak manusia yang dalam hati mereka berdoa supaya pintu jodoh terbuka untuk keduanya.


“Hari ini saya pulang langsung membawa calon istri. Kerabat saya pasti kaget melihatmu datang.”


“Jadi sampai di sana aku akan berperan jadi calon istri Mas Dika? Boleh juga tuh asal bayarannya cocok.”


“Kenapa jadi bahas bayaran? Saya meminta kamu sama Mamamu tidak meminta bayaran. Kamu ternyata perhitungan juga.” Keluh Dika.


“Berapa cewe yang berhasil Mas Dika gaet dalam seminggu?”


“Waduh, saya tidak sesuhu itu, Mbak Dita. Saya masih tergolong cupu untuk urusan gaet menggaet.”


“Tapi adakan?”


“Banyak dengan berbagai macam warna kulit hingga negara.”


“Yang paling banyak?”


“Asia.”


“Tips istimewa yang biasa Mas Dika dapat apa?”


“Jadi saya sedang diinterview untuk jadi kandidat calon suami ini?”


“Mungkin. Pertanyaanku belum dijawab.”


“Kecupan di bibir.”


“Wow, Mas Dika suhu.”


“Belum. Masih cupu.”


“Pernah ML?”


“Belum sampai ke sana.”


“Setengah pusar ke atas?”


“Belum juga.”


“Jadi?”


“Paling jauh ciuman bibir. Kenapa? Penasara?”


“Mas Dika pernah belajar di pesantren tapi bisa ke situ juga?”


“Saya ini pria normal. Tinggal di Bali dengan pemandangan menggiurkan setiap detiknya iman siapa yang akan tahan? Belum lagi berteman di sana sudah seperti bercinta. Pintar-pintar kita saja menjaga agar tidak sampai terjerumus ke pergaulan bebas. Tapi akhirnya ya harus mandi air dingin atau bersolo karir.”


“Kenapa Mas Dika menceritakan semuanya sama aku?”


“Karena saya bukan manusia suci. Saya ini manusia penuh dosa yang tiap saat berdoa semoa Allah selalu mengampuni dosa-dosa saya.”


***

__ADS_1


Pagi....jangan lupa VOTE ya...makasih


Mampir juga ke karya baru aku jangan lupa klik BINTANG LIMA. Makasih....


__ADS_2