
Dua keluarga sedang berkumpul membicarakan acara pernikahan Iskandar dan Aisyah. Sementara objek yang mereka bicarakan justru tidak berada di tempat. Iskandar sedang berada di kampung Dika sementara Aisyah masih berada di rumah yatim miliknya dan keluarga Faisal sama sekali tidak menghubunginya karena larangan Iskandar.
Cut dan Rendra datang berdua ke kediaman Faisal untuk menemui Ibu Murni dan Pak Fahri. Faisal dan Ayu yang bertindak sebagai wali dari Aisyah juga hadir di sana. Mereka sepakat untuk melakukan akad nikah sesuai dengan permintaan Iskandar termasuk dalam pakaian dan seserahan. Iskandar meminta semua diurus oleh Mama Cut dan Papa Rendra bersama dengan Ibu Murni dan Pak Fahri dibantu WO. Akad akan dilangsungkan minggu depan karena Iskandar ingin Dika juga turut hadir di acara pernikahannya.
“Untuk mahar bagaimana?” tanya Cut pada Faisal dan Ayu.
“Berikan saja sesuai dengan kemampuan Iskandar. Toh, setelah itu mereka juga akan hidup berdua.” Jawab Faisal.
Hanya butuh satu kali pertemuan, mereka langsung sepakat. “Aisyah siapa yang jemput?” tanya Ayu tiba-tiba.
“Biar aku yang jemput, Ma. Eh, Tante!”
“Tidak apa-apa jika kamu belum terbiasa. Kami tidak masalah dengan itu.” Ucap Cut kemudian. Teuku memang sudah tinggal bersama mereka tapi soal kebiasaan tentu butuh waktu untuk merubahnya. Di rumah yatim, Aisyah kembali menatap ponselnya. Tidak ada panggilan maupun pesan yang masuk dari Iskandar maupun keluarganya. Wajah Aisyah muram menatap langit membayangkan akhir dari kisah cintanya.
“Ummi, kenapa Om Imam tidak pernah ke sini lagi?” tanya Abdul.
Aisyah tersenyum, “Mungkin Om Imam sibuk. Kenapa, kamu merindukannya?” Abdul mengangguk.
Sebuah ide muncul dikepala Aisyah. “Kita telepon pakai panggilan video mau? Biar kamu bisa melihat wajah Om Imam.” Ide yang lebih dominan modus bagi Aisyah. Dia belum bisa melupakan Iskandar sebagai calon suaminya. Dia merindukan pria itu.
Dengan beralaskan Abdul, Aisyah melakukan panggilan video ke nomer Iskandar.
“Asslamualaikum.” Ucap seorang gadis di seberang. Gadis yang memakai mukena itu tersenyum sementara Aisyah yang berada di belakang kepala Abdul hanya bisa mengintip dengan mata berembun.
“Secepat inikah kamu melupakanku, Mas?”
“Kok perempuan, Ummi? Ini benar nomer Om Imam?” Dita yang berada di sebelah sana jadi bingung.
“Om Imam siapa? Dan kamu siapa anak kecil?” tanya Dita manis namun sedetik kemudian senyumnya langsung sirna.
“Jangan panggil aku anak kecil, Tante! Aku Abdul dan aku mau bicara dengan Om Imam. Mana Om Imam.” Ketus Abdul.
“Mas, ada panggilan video dari anak kecil. Dia panggil kamu ‘Om Imam’ apa itu kamu atau anak ini salah sambung?” Dita mengerlingkan matanya pada Iskandar yang sedang berbincang dengan teman-temannya di teras rumah Dika. Sedangkan ponselnya ia letakkan di dekat Dita.
“Ouh, ia. Dia anak di rumah Aisyah.”
“Aisyah siapa? Kamu selingkuh?”
“Tidak, Sayang. Nanti aku ceritakan, oke!”
“Hmmm, baiklah. Tapi aku mau dengar yang kalian bicarakan boleh?” tanya Dita dengan mesra membuat ketiga sahabatnya menelan ludah masing-masing.
“Sini!” Iskandar merangkul bahu Dita lalu menyapa Abdul.
__ADS_1
“Assalamualaikum, Abdul. Apa kabar? Maaf ya, Om Imam tidak sempat ke sana karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.” Ujar Iskandar tersenyum manis menatap wajah yang sangat dia rindukan di balik kepala Abdul.
“Siapa wanita di samping Om? Ummi Aisyah lebih cantik dari wanita itu.”
Iskandar hampir tidak bisa menahan tawanya, “Eh anak kecil yang sopan ya! Apa maksudmu mengatakan begitu? Kamu ini sekolah yang rajin. Masih kecil sudah tahu bilang cantik pada wanita. Awas kamu ya kalau kita ketemu.”
Tuttt….
Pangggilan video itu mati karena kemarahan Abdul pada Dita. Sementara Aisyah langsung berlari ke kamarnya. Ia menyembunyikan wajahnya di bawah bantal lalu menangis dengan keras. Hal berbeda justru terjadi di rumah Dika. Semua mata terbahak menyaksikan aksi romantisme yang sedang diperankan oleh pasangan kakak-beradik.
“Kamu tega sama istri kamu sendiri, Is.” Ucap Ari.
“Aku hanya ingin membuatnya mengingat memon pernikahannya yang berbeda dari yang lain.”
“Ternyata kamu bisa romantis juga, Is.” Celutuk Dwi.
“Kita ini normal. Masa iya umur dah kepala tiga tapi merayu wanita saya tidak bisa.”
“Wow, apa kamu juga mengambil jurusan merayu wanita setelah lulus S2?” seloroh Reski.
“Yang aku lakukan tidak ada apa-apanya dibanding rayuan maut teman kita yang satu ini. Dari kita belima, hanya dia yang paling mahir.” Ucap Iskandar membuat mereka semua menatap Dika. Yang ditatap hanya mengedikkan bahu seolah tidak merasa sebagai objek.
“Tapi jujur saja, kalau aku tidak punya ikatan dengan darah dengan Kakak. Aku pasti akan jatuh cinta juga sama Kakak. Apalagi saat Kakak dengan lembut memanggilku ‘Sayang’ saat itu jantungku hampir tidak ditempat, Kak. Senangnya jadi Aisyah. Aku juga pengen nikah!”
“Inti dari ceramah malam ini adalah memilih suami yang terbaik untuk menyukseskan rumah tangga yang damai dan tentram, begitu kan?” keempat laki-laki itu serentak mengangguk.
“Lalu apa aku bisa dapat satu diantara kalian?” tanya Dita berbinar sebelum sebuah jitakan menghantam keningnya.
"Jangan memancing, kamu tahu alasannya!” tegas Iskandar menatap tajam pada sang adik.
“Kalau aku masuk islam bagaimana? Apa aku akan mendapat seorang suami di antara kalian?”
Aww….
“Kenapa Kakak menjitakku terus? Apa aku salah bertanya begitu? Mereka lajang dan aku juga. Jadi tidak ada yang salah dong?”
“Tidak boleh main-main dalam hal keyakinan. Kamu tahu pasti resikonya. Kamu tinggal sama Papa Fais saja sudah kehilangan kartu kredit dan mobil. Bagaimana kalau kamu pindah keyakinan? Kamu akan kehilangan semuanya. Mamamu tidak akan mengizinkannya dan aku tidak tahu apa yang sanggup Mamamu lakukan jika kamu berani pindah.” Tegas Iskandar membuat Dita terdiam.
Dia mengakui jika kata-kata latahnya tidak bisa dianggap seserius itu untuk saat ini karena Shinta adalah wanita yang sangat keras dan teguh pada prinsipnya walaupun tidak taat beragama.
“Pernikahanku akan dilangsungkan minggu ini. Bolehkan aku minta kamu hadir menemaniku hingga aku selesai mengucap kabul?” pinta Iskandar pada Dika secara khusus. Seperti yang Iskandar harapkan, Dika mengangguk setuju. Mereka kembali berpelukan sebelum suara Dita kembali membuat mereka terdiam.
“Karena kalian sudah berkumpul kembali, bagaimana kalau kalian mengadakan pesta lajang sebelum Kakakku resmi mengganti statusnya?” kelima pria itu saling melirik lalu menggeleng pelan seraya tersenyum.
__ADS_1
“Kenapa? Apa kalian tidak pernah mendengar tentang pesta lajang?” tentu mereka pernah mendengar dan pernah mengikutinya sekali sewaktu salah satu teman mereka yang berasal dari Malaysia hendak menikah di Mesir. Dengan polosnya mereka hadir di sana dan betapa terkejutnya mereka melihat pesta lajang yang disiapkan oleh temannya itu. Dari semua tamu hanya mereka yang berasal dari kampus sedangkan yang lain merupakan teman-teman dari si pemilik pesta yang kebanyakan para pengusaha. Si pemilik pesta itu sendiri merupakan pengusaha sebuah restoran dan pelanggan resmi tempe buatan sahabat till jannah.
“Tidak! Kami tidak akan melakukan pesta seperti itu. Pesta lajang yang ternyata di dalamnya banyak wanita menari-nari bebas di sana. Sangat menjijikkan melihat wanita-wanita penghibur itu.” Dita mengulum senyum membayangkan pesta lajang seperti apa yang telah mereka lihat.
“Apa yang kalian ingin lakukan tapi belum bisa kalian lakukan?” tanya Dita membuat kelima pria muda itu berpikir.
“Apa ya? Dulu kita pernah ingin berbuat apa ya? Aku lupa.” Sela Ari.
“Bagaimana kalau kalian mengulang masa muda yang pernah kalian lewati bersama?” tawar Dita membuat mereka saling melirik.
“Contohnya?” tanya Dwi.
“Ya mana aku tahu masa muda kalian. Kalian pikir sendiri dan besok kita akan mengeksekuisnya! Sudah malam, aku tidur dulu tapi aku tidur dimana?” tanya Dita sama Dika.
Dika terperanjat lalu mengantar Dita ke kamarnya. Kamar itu sengaja dikosongkan untuknya jika ia pulang atau ada kerabat yang datang. “Maaf ya jika tidak sesuai harapanmu!” ucap Dika merasa tidak enak dengan kondisi kamar yang seadaanya.
“Tidak masalah yang penting,-“ Dita menjeda ucapannya lalu ia mendekat dan berbisik pada Dika.
“Apa di sini ada hantu?” Dika dengan isengnya mengangguk pelan dan membuat Dita langsung memeluk lengannya.
“Yang benar?” jarak keduanya begitu dekat apalagi saat ini Dita menengadah menatapnya. Dika tersenyum kecil menatap gadis itu dan-
Ehem…
“Tidak baik berlama-lama di kamar seorang gadis,”
“Karena yang ketiga sudah pasti setan.” Sahut Dita melirik kiri kanan tanpa sadar Iskandarlah yang merasa tersindir.
“Tidurlah! Kami akan tidur di luar dan kalau kamu takut, buka saja pintunya!” Dita mengangguk lalu kelima pemuda juga mulai merebahkan badan di depan kamar Dita.
Keesokan harinya, Dita terbangun lebih awal dan langsung disuguhkan dengan pemandangan indah di mana para laki-laki sedang bermain permainan anak-anak di depan rumah Dika. Setelah puas bermain, mereka melanjutkan perjalanan menuju sungai. Ada anak sungai kecil dengan air yang sangat jernih tidak jauh dari rumah Dika. Mereka mandi bersama sambil tertawa riang dan semua itu Dita abadikan melalui ponselnya. Dan satu sosok yang sejak tadi mencuri perhatian Dita adalah Dika. Pria itu sangat tampan dengan postur tubuh lebih dari kakaknya.
Otot-otot Dika terlihat jelas seperti pria yang rajin olahraga. Penampilannya dalam posisi basah membuat Dita yang sering menonton film-film luar jadi berpikir ke arah yang lain hingga tanpa sadar pria yang ia perhatikan justru sudah ada di sampingnya.
“Jangan menatapku nanti kamu jatuh cinta!”
Deg…
***
BUKAN SALAHKU DICINTAI SUAMIMU...
Apa yang kau tanam itu yang kau tuai!!! inilah misterinya dalam novel tersebut.
__ADS_1
Happy Reading...