CUT

CUT
Percikan...


__ADS_3

Hari-hari berlalu seperti biasa. Keadaan Aceh belum ada perubahan hanya status Aceh yang berubah. Enam bulan setelah diterapkannya Operasi Militer, kini status tersebut sudah berganti menjadi darurat sipil. Walaupun kontak senjata masih beberapa kali terjadi di berbagai tempat namun tidak seperti saat Operasi Militer.


 


Sejarah mencatat selama operasi militer kedua belah pihak banyak yang gugur termasuk masyarakat. Dua petinggi pemberontakan yang cukup terkenal ikut gugur dalam pertempuran di tempat terpisah. Yang terakhir adalah pemimpin pemberontakan yang meninggal di pedalaman Aceh Timur bersama sang istri yang tengah hamil.


 


Pasukan TNI pada akhirnya mampu memukul mundur para pemberontak sehingga banyak dari mereka yang melarikan diri ke gunung. Pos-pos tentara dibangun di setiap sudut tempat baik di kota maupun di kampung bahkan ke kampung paling terpencil. Setiap hari para tentara melakukan penyisiran ke berbagai pelosok hutan atau perbukitan untuk mempersempit ruang gerak para pemberontak.


 


Hari berlalu menjadi bulan. Suasana Aceh semakin kondusif, sekolah-sekolah di berbagai daerah kembali dibangun. Anak-anak yang berada di kampung kembali bisa bersekolah dengan bebas. Terdapat pos tentara di dekat bangunan sekolah untuk mencegah terjadinya pembakaran kembali. Karung-karung pasir menghiasi bagian depan setiap pos mereka.


 


Setiap angkutan yang melintas selalu diperiksa sepanjang melewati pos penjagaan. KTP menjadi barang berharga segi setiap warga maupun siswa-siswi SMA. Walaupun harus melewati banyak pos pemeriksaan, para warga tidak merasa ketakutan sedikit pun. Aktivitas setiap warga kembali seperti biasa. Mereka tidak perlu takut dengan para tentara jika tidak berhubungan dengan para pemberontak.


 


Para tentara juga membangun hubungan yang baik dengan masyarakat di mana saja mereka bertugas. Setiap sore, mereka akan bergabung dengan anak-anak di kampung tempat mereka bertugas untuk bermain bola. Mereka juga menggelar acara Maulid Nabi di mesjid-mesjid terdekat. Bergotong royong membersihkan mesjid, meunasah dan sekolah. Berbagai kegiatan yang mereka lakukan tanpa sadar mengundang simpati masyarakat sehingga lambat laun para masyarakat yang dulunya membenci mereka kini malah sebaliknya.


 


Mereka diundang jika ada pesta atau khanduri blang. Beberapa dari mereka juga kerap kali mengunjungi rumah warga untuk sekedar menyapa atau berbincang-bincang di sore hari. Perasaan memang tidak bisa diatur harus berada di mana dan sama siapa. Beberapa bunga kampung tidak luput dari perhatian para tentara sehingga situasi saat itu membuat banyak tentara yang datang dari berbagai daerah di Indonesia berhasil menemukan tambatan hati. Sangat banyak dari mereka yang berhasil menikahi gadis Aceh saat itu.


 


Beberapa gadis terlihat santai menikmati birunya laut di dekat pabrik semen. Keberadaan mereka cukup menyita perhatian para lelaki bujang yang sedang bertugas di daerah orang. Apalagi paras gadis-gadis tersebut cukup cantik khas wanita Aceh dengan kerudungnya.


 


“Boleh kenalan, Dek manis?” sapa salah satu tentara yang menghampiri mereka.


 

__ADS_1


“Boleh, Bang.” Balas mereka dengan senyum manis menghias bibir manis setiap gadis tersebut.


 


Perkenalan itu berlanjut tanpa direncanakan. Hubungan yang berawal dari sekedar kenalan berubah seiring waktu berjalan. Mereka yang dimabuk nafsu dengan mengatas namakan cinta mulai melewati batas.


 


Hari berlalu dengan berganti bulan, para gadis semakin ramai yang berdatangan ke pos tersebut. Kondisi yang sama juga terjadi di berbagai pos tentara. Ada yang benar-benar mencintai hingga memutuskan menikah dan banyak juga yang sekedar bermain rasa hanya untuk sekedar hiburan.


 


Di saat rekan-rekannya mencari hiburan, Rendra masih setia menunggu jawaban dari sang pujaan hati. Hari ini, dia kembali menemui sang kekasih di rumah sakit jiwa provinsi. Ditemani Dokter Widia, ia menghampiri Cut yang sedang berada di dapur.


 


“Cut, ada yang mau bicara sama kamu. Apa kamu mau?” Cut melihat wajah Dokter lalu mengangguk pelan.


 


 


“Panggil saya jika kamu butuh apa-apa, ya?” Cut kembali mengangguk.


 


Rendra duduk di depan Cut seraya menatapnya lekat. Namun yang ditatap justru menunduk sambil meremas jari-jarinya. Hari ini Rendra sengaja menemui Cut menggunakan seragam lengkap. Rendra menarik kursinya supaya lebih dekat dengan Cut.


 


“Apa kabar, Cut?” Cut diam.


 


“Saya sangat merindukan kamu?” Cut masih diam.

__ADS_1


 


“Kamu percaya takdir? Lagi-lagi saya ditugaskan ke mari dan saya selalu bertemu kamu. Saya yakin kamu jodoh yang Allah berikan untuk saya.” Cut masih menundukkan kepalanya dalam diam.


 


Tiba-tiba Cut gelisah saat tangannya digenggam oleh Rendra. Ada rasa aneh yang bergejolak dalam dadanya. “Ceritakan pada saya semua isi hati kamu. Saya siap mendengarkan. Jika kamu mau marah, teriak, menangis bahkan menjerit, saya siap mendengarkan semuanya. Jangan kamu pendam sendiri kegelisahan hati kamu. Bagilah dengan saya. Anggaplah saya sebagai orang yang kamu benci. Kamu bisa memukul saya jika itu membuatmu tenang.”


 


“Saya lupa kalau kamu tidak pernah memukul orang. Sekarang saya akan mengajarkan kamu caranya memukul yang benar.” Rendra mengambil tangan Cut lalu memukulkan ke wajahnya berkali-kali. Lalu turun ke dada bidangnya. “Kamu tahu, sakitnya saat kamu pukul lebih sakit hati saya yang terus menunggu kata ‘iya’ dari kamu. Bahkan setelah memukul saya, kamu masih tetap diam membisu. Tidak apa-apa jika kamu tidak punya jawaban untuk saya tapi izinkan saya mendengar suaramu lagi. Sebelum masa tugas saya habis. Izinkan saya untuk bersama kamu seperti dulu walau hanya sesaat. Saya ingin berbicara banyak hal dengan kamu. Berbagi cerita, mendengar cerita kamu tentang Rendra kecil yang sekarang bahkan tidak mengenal saya. Mendekat saja dia tidak mau, padahal dulu saya yang menggendongnya.”


 


“Saya sangat sedih, hati saya terluka. Bukan karena tidak mendapat jawaban dari kamu tapi jangankan bicara, melihat saya saja kamu sudah tidak ingin. Apa sebegitu bencinya kamu sama saya?”


 


“Saya tidak datang untuk mendengar jawaban kamu dulu karena saya mengalami kecelakaan saat membantu rekan saya yang diserang oleh para pemberontak. Truk yang saya tumpangi di tembaki hingga jatuh ke jurang. Beberapa teman saya gugur, saya sendiri baru sadar setelah seminggu koma. Saat saya sadar, pertanyaan pertama saya adalah hari apa ini? Saya berharap secepatnya bisa sembuh supaya dapat menemui kamu tapi harapan saya hilang begitu saja saat tahu kalau kamu sudah pindah kemari.”


 


“Untungnya kalian meninggalkan alamat, jadi hanya alamat itu yang saya pegang sampai saya kembali ke Jawa dengan harapan saya akan dikirim lagi ke daerah tempat kamu tinggal sekarang. Dan betapa senangnya saya saat tahu jika lokasi tugas saya adalah di sini. Saya bisa menemui kamu namun saya kembali harus bersedih. Ternyata saya harus melihat wanita yang dulu kuat bahkan sanggup bertahan berhari-hari dalam gua demi menyelamatkan Rendra kecil kini berada di sini.”


 


“Ke mana kekuatan yang dulu kamu miliki? Ke mana semua keberanian itu? Bahkan kehilangan abang kandungmu sendiri tidak menjadikanmu lemah seperti ini? Banyak sekali pertanyaan di kepala saya namun semua itu sudah tidak penting lagi. Kamu juga tidak akan menjawab pertanyaan saya sekarang.”


 


“Tinggal sebulan waktu saya di sini. Apa kamu masih tetap mendiami saya seperti sekarang? Apa tidak ada sepatah kata pun yang akan membuat saya kembali ke Jawa dengan perasaan bahagia?”


***


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...

__ADS_1


__ADS_2