CUT

CUT
Perkara Di Subuh Pagi...


__ADS_3

Pilihan Rendra tidak salah. Sebuah pulau yang masih terletak di pulau Sumatra menjadi tempat yang tepat untuk mengalihkan sementara pikiran Cut dari urusan pengobatan tradisional. Selama empat hari mereka habiskan di pulau tersebut dalam suasana romantis penuh kemesraan. Rendra tidak henti-hentinya membuat Cut kerepotan menghadapi tingkah manjanya yang tiba-tiba.


Cut sangat menikmati liburan singkat tanpa rencana itu. Apalagi di sana ada pantai dan setiap hari, mereka selalu menghabiskan waktunya di pantai. Menjelang sore, mereka akn menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa langsung ke kulit mereka. Damai dan tenang itulah yang dirasakan oleh sepasang suami istri tersebut.


Sampai sebuah kalimat yang keluar dari mulut Cut menghentakkan  hati Rendra. “Adek terlalu menyayangimu, Bang. Apa salah jika Adek ingin merasakan ada cinta kita berwujud manusia di dalam perut ini? Adek tidak minta banyak hanya minta seorang anak persis sepertimu. Anak dari cinta kita. Apa Adek salah, Bang?” Cut mengusap perutnya lembut dengan air mata yang terus mengalir setelah melakukan ibadah halal.


Keduanya masih berbaring di bawah selimut dalam keadaan polos. “Tidak salah, Sayang. Apa yang kamu inginkan juga diinginkan oleh wanita-wanita lain. Tapi, kita hanya manusia bukan tuhan. Kita sudah berusaha dan Allah belum memberikan itu. Jadi, kita ikhlaskan saja dulu sambil berdoa, bersabar dan berusaha.”


Satu kecupan diberikan Rendra di kening sang istri. “Usaha kita belum maksimal, Bang. Kita harus berobat. Selain medis, kita juga harus berobat tradisional.”


“Iya. Kita harus berusaha tapi jangan sampai niat kita itu justru membuat kita masuk ke neraka, Sayang.”


“Maksudnya?”


“Pengobatan tradisional itu memang ada. Abang akui itu. tapi tidak semua penyakit bisa disembuhkan dengan obat-obat herbal. Ada juga yang perlu terapi dari medis dan pengobatan tradisional seperti apa yang kita jalani. Zaman sekarang banyak orang-orang jahat di luar sana mengambil keuntungan dengan membuka praktek pengobatan tradisional ujung-ujungnya penipuan. Menyuruh orang berbuat aneh-aneh seperti merendam air dari bunga-bunga lalu membaca doa-doa yang belum tentu ada dalam qur’an atau hadist nabi. Apa namanya itu kalau bukan musyrik?”


“Terus, apa orang yang katanya bisa menyembuhkan itu berlaku sopan pada pasiennya? Atau jangan-jangan dia malah mengambil keuntungan dengan memegang-megang tubuh pasiennya dengan kedok pengobatan.”


Gleg…


Cut menelan salivanya dengan susah.


“Kalau pasiennya itu remaja, apa orang tuanya setuju anak mereka dipegang-pegang? Kalau istri orang, apa suaminya setuju istrinya dipegang-pegang begitu? Kalau Abang? Sudah Abang tembak kepalanya. Itu laki-laki cabul bukan mengobati orang.”


Cut tidak lagi bersuara. Dia pasrah dan kembali mengingat bagaimana saat dia menjalani pengobatan kemarin. Dalam hati, ada penyesalan yang tiba-tiba muncul. Dia dengan polosnya mengikuti pengobatan itu hanya karena melihat ada yang berhasil. Keduanya tertidur hingga suara azan subuh mulai berkumandang. Setelah menyelesaikan salat subuh, keduanya langsung berkemas karena pesawat mereka akan lepas landas jam 10 pagi.


Hari berlalu setelah perbincangan itu, Cut tidak pernah lagi membicarakan tentang pengobatan tradisional. Keluarga Rendra juga sudah kembali tanpa Reni. Adik perempuan Rendra akhirnya memilih tinggal di Aceh mengikuti sang suami. Riko kembali bersama Iskandar dan dia sendiri yang mengantar Iskandar ke rumah.

__ADS_1


“Kenapa, wajahmu kayak kurang ikhlas?” goda Rendra.


“Dari orok udah sekantung berdua. Giliran gede eh dibawa orang.” Celutuk Riko.


“Terus kamu gak jadi dekatin Intan?”


“Dia gak mau. Katanya dia tidak mau berakhir ditempat yang sama. Dia mau keluar mencari dunia lain.”


“Benar juga. Lalu rencana proyekmu di aceh jadi?”


“Gak!”


Rendra menatap sang adik yang terus bermain dengan Iskandar. “Apa kamu kalah saing sama bule Turki?


Gleg…


“Sudah tahu masih tanya. Produk asing memang menggiurkan.”


“Aku butuh orang yang dewasa untuk mengerti dan memahamiku. Capek berhubungan dengan orang seumuran atau yang masih jiwa-jiwa muda. Semua mau menang sendiri dan aku tidak suka.”


Begitu mendengar alasan Intan, Riko pun mundur perlahan. Dia tidak mau memaksa Intan untuk menerimanya karena dari alasan Intan. Sudah jelas jika Riko bukan pilihannya.


Hari-hari berikutnya, Riko masih tetap sama. Saat kakak laki-lakinya ada di rumah. Dia akan segera meluncur ke sana hanya sekedar untuk numpang makan dan bermain dengan Iskandar. Kehadiran Iskandar membuat hari-hari Riko yang biasanya bersama Reni kini ada penggantinya. Bahkan, dikalangan teman-temannya. Riko sudah dianggap seperti seorang bapak lantaran kerap kali mengajak Iskandar kumpul bersama teman-temannya.


Hari berlalu berganti hari hingga di tahun ke empat pernikahan mereka terjadilah keajaiban. Pagi-pagi sekali Cut sudah berlari ke kamar mandi lantaran merasakan perutnya seperti diaduk-aduk. Rendra saat itu sedang latihan di luar kota hingga hanya dia dan Iskandar yang berada di rumah.


Hari ini adalah hari pertama Iskandar pergi ke sekolah dasar. Sebelumnya, Iskandar sudah menjalani masa bermain di TK selama dua tahun. Di saat hari pertama Iskandar sekolah, dia justru dilanda sakit. Kepalanya terasa berat dan badannya terasa lemas. Cut kembali berjalan keluar dari kamar mandi dan belum jauh ia berjalan, perutnya kembali diaduk hingga ia harus kembali ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah beberapa kali keluar masuk kamar mandi, kepala Cut terasa sangat sakit dan pandangannya seketika berkunang-kunang hingga-


Bughhh….


Cut terjatuh tak sadarkan diri sementara sang anak masih tertidur hingga suara dering ponsel tepat jam enam membangunkan Iskandar dari tidurnya.


“Ma, Mama, kenapa tidur di lantai?”


“Hallo, Papa. Mama tidur di lantai. Is bangunkan tapi Mama tidak bangun.”


Deg…


Dalam sekejab Rendra menjadi panik. Ia segera menghubungi Riko dan kedua orang tuanya. Riko orang pertama yang langsung pergi ke rumah Rendra dan mendapati jika Cut sudah tidak sadarkan diri di lantai. Riko segera menghubungi ambulans dan oleh Ibu Yetti. Iskandar bisa ke sekolah walaupun telat. Untung saja, pihak sekolah mau menerima alasan yang disampaikan Ibu Yetti.


Setelah mengantar sang cucu, Ibu Yetti kembali ke rumah sakit. Di sana sudah ada Riko dan Bapak Wicaksono.


“Bagaimana, Pa?” tanya Ibu Yetti panik.


“Sedang ditangani dokter.”


Rendra kembali menghubungi Riko di saat yang sama, dokter yang memeriksa Cut juga datang.


“Dengan keluarga Ibu Cut Zulaikha? Ini suaminya?” tanya Dokter.


“Suaminya lagi dinas, Dok. Tapi dia lagi dengar melalui telepon. Bagaimana Dok? Apa menantu kami baik-baik saja?”


“Ibu Cut Zulaikha mengalami kekurangan darah. Dugaan sementara mungkin karena beliau sedang hamil muda. Untuk lebih pastinya kami akan mengambil sampel darah dan nanti akan diperiksa oleh dokter spesialis kandungan supaya lebih akurat.”

__ADS_1


“Apa? Hamil???”


***


__ADS_2