
Berita tetang keberangkatan prajurit misi kemanusian PBB diberitakan diberbagai kanal media. Saat ini, Wulan sedang berada di dalam mobil dengan Danu sebagai supirnya. Wulan memperhatikan video para prajurit yang tengah bersiap di bandara.
“Kamu tidak ingin menghubunginya?” Wulan terkesiap mendengar Danu bertanya.
“Maksud Mas?”
“Anugrah ikut dalam misi itu. Kamu tidak ingin menghubunginya sebelum dia lepas landas?”
Wulan tersenyum getir, “Tidak, Mas. Biarkan dia pergi dengan tenang.”
“Kamu masih ingat teman kami yang dulu pestanya kamu hadari sama Anugrah kan?” Wulan tampak berpikir, “Mantan pacar Anugrah sama sahabatnya itu?”
“Em, dia melihat beritamu dan mengetahui jika aku manejermu. Lantas, mereka menghubungiku untuk mengajak kita bertemu, bagaimana?”
“Tidak untuk saat ini, Mas. Aku tahu pasti apa yang mereka ingin bicarakan.”
“Terserah padamu kalau begitu.”
Dalam setahun kedepan, Wulan dan Danu akan masuk dalam deretan orang paling sibuk dengan jadwal yang sudah tersusun penuh hingga akhir tahun. Wulan sudah bertekad untuk mengisi tahun pertamanya dengan bekerja dan mendapatkan nama serta kedudukan. Setelah itu barulah dia akan mengurangi sedikit jadwalnya.
Bandar Udara Surabaya.
Keluarga Cut dengan formasi lengkap hadir untuk mengucapkan selamat bertugas pada sang putra yang tak lain adalah Anugrah. Nenek Murni dan Pak Fahri juga ikut mengantar duda muda itu bersama Kak Julie.
“Ma, aku bukan pergi untuk berperang kenapa wajah Mama seperti itu?” goda Anugrah.
“Dulu Kakak pergi bahkan sampai bertahun-tahun, Mama tidak seperti ini. Kenapa saat aku pergi, Mama malah seperti ini? Aku jadi bertanya-tanya, dulu saat Papa pergi tugas, Mama seperti ini juga, tidak?” tanya Anugrah seraya melirik sang ayah.
“Waktu Kakakmu pergi, dia tidak pergi ke medan perang tapi pergi untuk belajar. Makanan dan tempat tinggalnya jelas. Kalau Papamu pergi, Mama juga tidak seperti ini karena Mama tahu Papamu pasti akan kembali seperti biasa. Tapi ini kamu pergi baru pertama kali ke negara orang lagi ditambah dengan riwayat kecelakaan. Bagaimana Mama bisa tenang, heh?”
“Sudah, jangan menggoda Mamamu lagi. ingat, kamu punya riwayat operasi tulang. Perhatikan gerakmu! Jaga kesehatan, segera periksa kalau kamu merasa tidak nyaman atau sakit!” instruksi sang ayah hanya dijawab, “Siap, Komandan!” oleh Anugrah.
“Kak, dokter bilang kalau badanku sudah sembuh tapi kayaknya mereka terlalu paranoid bukan?”
Bugh…
Sebuah pukulan mendarat di bahu sang adik. “Jangan begitu sama orang tua! Hati-hati dan sering-sering berkabar!”
“Siap Kakakku sayang! Kak jangan melahirkan dulu ya! Tunggu aku pulang baru lahiran.” Gurau Anugrah pada Aisyah yang berdiri di samping Iskandar.
Sebuah pukulan kembali mendarat di punggungnya. “Memangnya kamu bidan? Ingat, tetap berkabar dan jaga kesehatan!” ucap Iskandar kembali lalu memeluk adiknya.
“Om, jaga Mama ya! Jangan sibuk pacaran terus di rumah sakit!” Anugrah memeluk pria dewasa yang baru-baru ini dekat dengannya.
“Kamu juga jangan tugas nyambi cari cewe.”
__ADS_1
“Tenang, Om. Kalau itu sudah diperhitungkan jauh-jauh hari.” Ucap Anugrah melepas pelukannya lalu beralih ke pelukan sang kakek.
“Kakek, aku pergi ya! Doakan aku!” ucapnya pada Bapak Wicaksono.
“Doa apa?”
“Doakan aku semoga-“
“Ah, tidak jadi. Kakek doa untuk sendiri saja. Kek, jangan lupa periksa laporan keuangan asetku, ya! Aku kurang percaya sama Papa!” Bapak Wicaksono terkekeh sendiri mendengar gurauan cucunya. Mereka berpelukan sekilas, “Hati-hati dan jaga diri baik-baik.”
“Siap, laksanakan!”
“Nenekku yang cantik jelita mempesona hingga menyilaukan mataku yang masih muda ini. Terima kasih sudah mengantarku ke sini.” Anugrah memeluk Ibu Murni. Wanita tua itu hanya bisa tersenyum lalu tangannya yang sudah keriput memukul-mukul punggung cucunya itu dengan penuh sayang.
“Nek, apa Nenek tidak berniat membagi aset milik Kakak sedikit buat aku? Nenek memanggilku cucu tapi aku tidak dikasih warisan. Bagaimana ini?”
“Pulanglah dengan selamat nanti Nenek kasih sekapur sirih!” ucap Ibu Murni membuat semua yang hadir di sana tertawa.
“Kek, aku pergi ya! Jaga Nenekku dengan baik jangan sampai sekapur sirih milikku juga jatuh ke tangan orang lain.” Gurau Anugrah memeluk sang Bapak Fahri.
Setelah dua jam menunggu, akhirnya para pasukan kembali bergabung dalam barisan lalu melakukan penghormatan terakhir pada keluarga yang ikut melepas kepergian mereka hingga akhirnya satu persatu dari mereka memasuki pesawat. Cut memeluk suaminya seraya terisak, ia belum siap melepas putranya itu namun apa daya ini adalah pilihan Anugrah.
Rendra mengajak keluarga besar yang hadir di sana untuk menikmati makan siang terlebih dahulu di salah satu taman yang tidak jauh dari bandara. Momen seperti tamasya ini sangat baik bagi mereka yang sudah tua seperti ayahnya maupun mantan mertua dari istrinya.
“Cut, Rendra, kami akan pulang ke Aceh lagi setelah ini. Iskandar akan mengunjungi kuburan massal bersama Aisyah. Jadi, kami juga akan mengikuti mereka dan menetap di sana.” Ucap Ibu Murni.
“Om ikut!” jawab Teuku tiba-tiba.
“Ya sudah, kita akan ikut juga sekalian mengunjungi makan ayah, ibu dan kakakmu!” ucap Rendra pada Teuku.
Dan rencana perjalanan pulang kampung akhirnya terjadi seminggu kemudian. Bapak Wicaksono juga ikut bersama si Bibik untuk pertama kalinya ke Aceh. Ini adalah momen liburan yang paling berkesan untuk mereka termasuk Iskandar dan Aisyah. Faisal dan istrinya juga ikut karena ini adalah pertama kalinya dia akan membawa Ayu ke rumahnya dan memperkenalkan Ayu pada keluarga besarnya di Aceh.
“Kamu senang?” bisik Iskandar pada istrinya.
Saat ini mereka sedang berada di pesawat. “Senang, Mas. Terima kasih ya!”
“Hanya terima kasih?”
“Lainnya nyusul!”
“Lainnya apa?” Iskandar masih menggoda Aisyah sementara yang digoda justru tertantang hingga mencodongkan tubuhnya ke arah sang suami yang membuat Iskandar gelagapan. “Iya, tahu. Jangan diteruskan di sini, nanti saja kalau sudah sampai.” Bisiknya dan sebuah kecupan mendarat di pipi sang istri.
Aisyah seorang wanita yang unik. Dia akan menantang suaminya habis-habisan jika berada di tempat umum seperti seorang singa betina. Tapi jika sudah berada di tempat tertutup, ia akan berubah menjadi putri malu yang dengan sedikit sentuhan dari sang suami sudah membuatnya mati gaya.
Sementara itu di sebuah ruangan dokter kecantikan terkenal, Shinta sedang membuka pesan-pesan di ponsel Dita. Ia membaca satu persatu pesan yang masuk atau yang keluar dari nomer Dita. Di sana juga ada pesan dari Faisal sang mantan, Iskandar dan juga Dika.
__ADS_1
“Ternyata seperti ini caramu mengambil hati putriku? Dasar licik!”
“Aku akan membuatmu menyesal kalau sampai kamu ada dibalik pemberontakan Dita!” Shinta meremas ponsel Dika dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sementara sang ibu tengah memendam marah yang memuncak, sang putri justru tengah bersenang-senang dengan pakaian barunya. Ya, Dita sekarang bekerja di hotel yang sama dengan Dika tanpa pria itu tahu. Ini adalah hari pertamanya bekerja dan yang lebih mengejutkan adalah Dita melamar sebagai staf administrasi di mana posisinya akan sering bertemu dengan Dika.
Dengan penampilannya yang cantik dan menarik, Dita dengan mudah mendapatkan pekerjaan tersebut walaupun ijazah yang ia berikan adalah ijazah SMA. Walaupun pihak hotel tahu jika Dita adalah lulusan S2 sebuah kampus terkemuka di Jogjakarta tapi karena alasan roman picisan yang Dia berikan membuat pihak HRD menerima Dita itupun dengan sedikit bantuan dari sang Papa Toni yang merupakan salah satu investor di hotel tersebut. Dita benar-benar menggunakan kelebihannya sebagai anak dari investor untuk mendapatkan posisinya saat ini sekaligus untuk memperjuangkan cintanya pada Dika.
“Hari ini ada anak baru ya?” tanya salah satu teman Dika begitu masuk ke dalam kamar kos mereka.
“Tidak tahu, aku kan dapat giliran malam sama sepertimu.”
“Sudah lihat di grup? Anaknya cantik banget.”
Dika mengambil ponsel lalu membuka grup karyawan hotel dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajah dari anak baru yang sedang memarken senyum indahnya dibalut dengan seragam hotel di depan meja resepsionis.
“Cantikkan? Banyak yang bilang begitu. Bahkan baru pertama kerja, sudah beberapa pria asing yang memberikan kartu nama untuknya hingga mengajak berkenalan dan makan malam.”
Dika menatap temannya tidak percaya, “D-dia anak baru?”
“Iya, di situ juga ada namanya kan? Dita ya, Dita namanya.”
Dika terdiam seribu bahasa. Bagaimana mungkin gadis itu nekat menyusulnya ke Bali dan yang lebih mencengangkan adalah dia bekerja di tempat yang sama dengannya.
“Kamu kenapa seperti melihat hantu?”
“Ti-tidak.” Dika berkilah. Dia tidak mungkin mengatakan apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan gadis itu. Dika mengusap wajahnya secara kasar, “Apa yang harus aku lakukan dengan Dita? Bagaimana kalau ibunya tahu? Aku bisa dipecat dari sini jika ibunya melaporkanku.”
“Kamu kenapa?” Dika menggeleng lalu meninggalkan temannya sendiri.
Butuh waktu lama untuk Dika berpikir tentang segala kemungkinan yang bisa saja terjadi padanya setelah Dita bekerja di tempat yang sama apalagi di hotel tempatnya bekerja melarang keras hubungan antara sesama karyawan.
“Oh tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Bagaimana menghadapi gadis ini?”
“Apakah ini perjuangannya untukku?”
“Aku tidak mau menyakiti perasaan seorang ibu,”
Dika keluar dari kamar mandi lalu mengeringkan rambutnya setelah itu ia mengambil ponsel dan mengetik sesuatu lalu mengirim untuk seseorang.
“Dita sekarang bekerja di hotel tempat kita bertemu dulu.”
***
__ADS_1
Hari ini 2 bab tapi 3000 kata...jangan bilang kurang ya....