CUT

CUT
Isi Hati Sang Komandan...


__ADS_3

Dua tempat dalam keadaan yang sama. Sama-sama sedang bertikai. Jika di rumah yatim, Iskandar sedang memainkan perasaan Aisyah hingga berujung kemarahan besar dari Aisyah hingga gadis itu kekeh tidak mau kembali bersama Iskandar dan dengan terpaksa ia harus kembali menginap di sana walaupun setelah kembali kemungkinan dia akan mendapat teguran oleh pihak kampus karena menyuruh dosen lain menggantikannya. Mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur menjahili Aisyah untuk mengetahui seberapa besar cinta gadis itu untuknya.


Sementara di rumah Faisal, orang tua dan kedua saudaranya sudah berada di sana. Faisal meminta keluarganya untuk tinggal di rumahnya dari pada di rumah mertua Cut dan orang tuanya menyetujui itu. Dita selaku anak dari Faisal juga mengikuti permintaan ayahnya tampa bantahan. Sesungguhnya, dia sangat penurut apalagi sama kakek dan neneknya. Kasih sayang yang selama ini tidak ia dapatkan dari mertua ibunya. Begitu juga dengan Ayu, istri dari ayahnya itu sangat lembut dan baik. Ia sangat senang mendapat perhatian dari istri ayahnya itu.


“Pa, Papa yakin mau menyetujui rencana Iskandar? Kamu juga, Dita. Kenapa kamu mendukung kakakmu mengerjai Aisyah? Aisyah itu jarang marah kalau sudah marah susah dibaikinnya. Mama tidak tega sama Aisyah.” Keluh Ayu pada suami dan anak dari suaminya.


“Ta, kamu siap-siap dijambak sama Aisyah. Dia itu sadis tau!” tambah Teuku.


Teuku Rendra Muhammad Nur tetap mengikuti Faisal dan keluarganya. Ia belum siap tinggal dengan keluarga Cut yang menurutnya asing tersebut. Di saat Teuku menolak untuk tinggal bersamanya, hati Cut langsung sedih dan kecewa. Dunia Cut langsung gelap bahkan setelah sehari berlalu, wanita itu terus saja tidur di kamarnya tanpa melakukan apa pun. Anugrah selaku anak juga sudah mencoba menyemangati ibunya tapi hati wanita itu terlalu rapuh. Sudah banyak yang ia lalui di masa lalu saat menjaga Teuku tapi saat anak itu sudah dewasa, jangankan berbicara, melihatnya saja tidak. Teuku yang masih memiliki darah yang sama dengannya lebih memilih tinggal bersama orang lain dari pada dengannya.


Semenjak sang istri bermuram durja, Rendra sebagai suami merasa sakit hati pada keponakan istrinya itu namun ia juga tidak bisa melakukan apa pun. Anak itu sendiri yang memilih sementara ia tidak mungkin memaksa karena semua akan sia-sia. Untuk apa memaksa anak yang sudah berumur 35 tahun. Teuku sudah lebih dari kata dewasa untuk bisa menilai mana baik dan buruk. Rendra sangat kecewa pada Teuku hingga dia muak untuk melihat wajah dokter itu.


Anugrah datang membawa secangkir kopi untuk sang ayah yang tengah duduk sendiri di teras belakang. “Diminum dulu, Pa.” ucapnya membuyarkan lamunan sang ayah.


“Kamu di sini? Istrimu mana?”


“Lagi di dapur bantuin Bibik. Katanya, Bibik mau buat kue kesukaan Mama. Siapa tahu Mama mau makan.”


“Bagaimana perkembangan terapi istrimu? Katanya sudah tidak perlu kursi roda, kenapa kemarin Papa lihat dia masih pakai kursi roda?”


Anugrah tersenyum, nada kesal dan marah masih terasa dari intonasi sang ayah. “Kemarin karena ada acara makanya pakai kursi roda. Sekarang kan tidak.”


“Apa rencana kalian selanjutnya?”


“Pa, jangan mengelak! Papa sedang marah kan?”


“Ck, siapa yang tidak marah? Gara-gara anak tidak tahu terima kasih itu, Mamamu jadi begini? Apa kamu tahu betapa banyak penderitaan yang Mamamu alami saat merawatnya? Kamu pikir hidup Mamamu bahagia sekali saat itu? Kalau kamu tahu bagaimana menderitanya Mamamu saat itu mungkin bersujud di kakinya saja masih kurang. Papa saksi hidup bagaimana Mamamu berjuang dengan almarhum kakek dan nenekmu. Tapi apa sedikitpun tidak terlintas di pikirannya tentang masa-masa itu? Papa paham kalau saat itu dia masih kecil dan mungkin tidak ingat apa-apa. Tapi sekarang dia sudah besar, apa begini cara dia bersikap pada orang yang jelas-jelas keluarganya? Siapa mereka sampai dia lebih memilih hidup dengan mereka dari pada dengan kita? Setetespun tidak ada darah mereka dalam tubuhnya tapi dia seperti kacang lupa kulitnya. Apa dia malu karena Mamamu bukan seorang wanita berkelas? Dan Papa hanya seorang tentara biasa? Tidak ada kebanggaan pada diri kami apalagi yang bisa membuatnya bangga. Ingat, kamu jangan pernah bersikap seperti itu pada siapapun. Kamu memang kami besarkan bukan dengan harta karena Papa bukan orang kaya raya tapi kami membesarkanmu dengan adab dan tanggung jawab serta kasih sayang yang cukup. Jangan pernah bertindak arogan dan angkuh serta membeda-bedakan status sosial seseorang.” Anugrah diam membiarkan sang ayah meluapkan emosi yang sejak kemarin tertahan.


“Jika kami memandang harta, kami tidak akan meminta kamu menikahi Wulan. Siapa Wulan? Dia hanya anak orang biasa tanpa harta dan tahta. Kami bisa saja bertanggung jawab atasnya tanpa perlu menikahkannya denganmu. Tapi kami tidak melakukan itu, kami tidak melihat manusia dari harta dan tahta tapi kami melihat kebaikan dari manusia itu sendiri. Apa kamu berpikir Papa tidak tahu siapa dan bagaimana keluarga Wulan? Kamu salah kalau kamu berpikir begitu. Saat kalian masih koma, Papa dan Mama berada di rumah Wulan, mengurus semuanya, tinggal di sana dan dari setiap mulut warga yang berbicara pada kami. Tidak ada satupun orang yang menjelakkan ibu dan istrimu. Itu tandanya apa? Keluarga mereka yang tidak punya apa-apa itu adalah orang baik maka dari itu kami menikahkanmu sesuai dengan janji kami pada almarhum ibunya. Walaupun kami tahu akan ecewa juga setelah ini. Bukannya kami tidak tahu jika kalian berniat bercerai setelah Wulan sembuh. Kami tahu itu tapi apa daya kami sebagai orang tua? Kami tidak bisa memaksa kalian untuk tetap bersama. begitu juga dengan Iskandar. Setelah mengetahu siapa ayah kandungnya, mungkin dia akan pergi juga dari kita. Dia akan bangga karena ayahnya seorang dokter hebat sementara Papa hanya tentara biasa yang tinggal menunggu pensiun. Apa yang bisa ia banggakan dari Papa? Tidak ada!”


Rendra benar-benar kecewa dengan kenyataan ini. Di masa tuanya seharusnya dia bahagia hidup bersama anak dan istri tapi apa? Takdir mempertemukan masa lalu di saat mereka ingin hidup dengan tenang. Di balik dinding, Wulan hampir jatuh saat tanpa sengaja mendengar perkataan Rendra yang selama ini ia kenal jarang berbicara banyak apalagi tentang perasaannya. Lutut Wulan tiba-tiba lemas sampai tidak sanggup menopang hingga ia terduduk di lantai. Rasa nyeri di lututnya tertutupi dengan ucapan sang ayah mertua. Ia merasa sangat berdosa tapi ia juga tidak bisa merubah apa yang sudah dirinya sepakati dengan Anugrah.

__ADS_1


Ia tahu Anugrah tidak pernah mencintainya apalagi ingin hidup dengannya maka lebih baik ia pergi setelah kewajiba Anugrah terselesaikan dengan kesembuhan dirinya.


“Pa, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya mau mengatakan jika aku selalu ada buat Papa dan Mama. Aku juga tahu, Kakak pasti akan tetap menyayangi Papa walaupun dia sudah bertemu dengan ayah kandungnya.” Ucap Sendu Anugrah.


“Apa kamu tahu, Mamamu pernah mendapat perawatan di rumah sakit jiwa sebelum menikah dengan Papa karena kehilangan dua orang yang dicintainya akibat ditembak pemberontak. Letupan bom, suara bedil dan pesawat tempur hampir setiap jam terdengar dan itu mempengaruhi kondisi kejiawaan Mamamu. Saat Papa berhasil membawa Mamamu ke sini, Papa sudah berjanji dalam hati untuk tidak akan menyakiti perasaannya. Papa selalu takut kalau Mamamu kembali tertekan seperti dulu. Mamamu lebih baik marah-marah tidak jelas dari  pada memendam kesedihan dalam diam. Itu sangat berbahaya untuk kondisi kejiawaannya.” Anugrah mulai panik, ia tidak tahu kalau ibunya sampai semenderita itu.


“Mamamu kuat tapi kekuataannya juga terbatas. Seberapa kuat dan tangguhnya dia tetap saja kalau terus menerus ditekan akan tertekan dan akhirnya kembali terguncang seperti dulu. Mamanya pernah diculik dan  hendak dinikahkan paksa oleh pimpinan pemberontak tapi gagal karena istri pertama pimpinan pemberontak itu menyelamatkannya dengan meminta tolong pada orang tuanya untuk menyembunyikan Mamamu dalam gua bersama keponakannya. Kamu tahu siapa yang membuat ulah itu? Dia adalah abang dari Mamamu itu sendiri. Ayah dari Teuku itu adalah pemberontak paling dicari oleh aparat keamanan. Dia menjodohkan Mamamu dengan teman seperjuangannya di hutan hingga membuat kakekmu murka. Mereka bahkan pernah diculik saat sedang menuju kecamatan. Saat itulah Kakek dan Nenekmu meluapkan kemarahan pada ayah Teuku. Kakekmu tidak menyetujui jika ayah dari Teuku bergabung dalam kelopok separatis tapi ayah Teuku tidak mendengar hingga ia lari dari pesantren tanpa sepengetahuan kakek dan nenekmu. Sekarang kamu tahu betapa marahnya Papa melihat anak itu? Anak yang dulu Papa selamatkan tapi kini justru menjadi bajingan seperti ini. Dia kembali mengulang perbuatan ayahnya yang sudah menghancurkan hati orang kakek dan neneknya.”


Anugrah tersenyum tapi tidak dengan hatinya. Dadanya tiba-tiba sesak memikirkan semua penderitaan yang telah dilalui oleh ibunya. Dia berjanji tidak akan membuat wanita yang paling ia cintai itu terluka dan bersedih.


“A,” lirih Wulan yang sudah berdiri memegang daun pintu. Rendra terkejut karena baru kali ini ia melihat Wulan berdiri tanpa kursi roda. Gadis itu tersenyum kecil lalu Anuggrah langsung menghampirinya.


“Ada apa? Kamu berjalan ke sini? Apa ada yang sakit? Dokter kan sudah bilang kalau jangan dipaksakan.” Anugrah memberondong Wulan dengan banyak  pertanyaan.


“Kamu sudah bisa berjalan?” tanya Rendra sudah berdiri di depan menantunya. Pria itu menatap kedua kaki Wulan yang sudah menginjak lantai.


“Masih sedikit, Pa.” lirih Wulan.


“Apa aku boleh menemui Mama?”


Deg…


Anugrah dan Rendra menatap Wulan bingung dan cukup terkejut. Selama ini, Wulan tidak pernah memanggil ‘Mama’ pada Cut dan tidak pernah mau bicara dengan ibu mertuanya itu tapi sekarang dia malah minta izin untuk berbicara dengan Cut.


“Tentu, minta suamimu untuk mengantar ke atas!” jawab Rendra lalu pergi meninggalkan pasangan suami istri tersebut.


Anugrah menatap istrinya penuh tanya. “Tadi aku dan Bibik buat kue. Aku ingin mengantarnya sendiri sama Mama. Apa kamu mau membantuku ke atas?” pinta Wulan melirik Anugrah sekilas.


“Ayo!”


Sementara di depan pagar rumah Faisal, Shinta dibuat murka oleh putrinya. Dita tidak mau membuka pintu pagar dan ikut melarang pembantu Faisal untuk membuka pintu. Sementara Faisal, Teuku dan Ayu sedang berada di rumah sakit.

__ADS_1


“Dita, kamu jangan kurang ajar sama Mama ya!” Ucap Shinta di balik pagar.


“Dita tidak kurang ajar, Dita hanya tidak mau pulang sama Mama. Dita mau tinggal sama Papa dan Mama Ayu.”


“Cih, lagakmu sudah seperti anak ingusan yang takut kehilangan orang tua saja. kamu itu sudah 29 tahun, Dita. Tidak perlu berlagak seperti anak kurang perhatian. Selama ini kamu baik-baik saja sama kami jadi ayo pulang!”


“Tidak!”


“Kalau kamu tidak keluar, Mama panggilkan polisi!”


“Silakan, tadi Mama bilang umurku sudah 29 tahun. Jadi tidak masalah kalau aku memilih mau tinggal di mana?” Shinta sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


“Dita, Sayang. Tidak baik bersikap begini pada Mamamu. Ayo kita pulang dan selesaikan baik-baik di rumah. Jangan seperti ini, malu dilihat orang. Kita orang terpelajar, tidak boleh bersikap seperti ini.”


“Maaf, Pa. Dita nyaman tinggal di sini. Orang-orang di dalam sini memberikan apa yang tidak kalian berikan selama ini. Dita tidak butuh uang banyak dari kalian kalau setiap hari harus hidup bersama pembantu.”


“Cih, tidak perlu uang banyak katamu? Lalu selama ini apa yang kamu beli dan makan itu dari mana kalau buka dari jerih payah kami. Kamu pikir kalau kami tidak bekerja kamu masih bisa pakai pakaian bagus dan makan enak? Gak usah munafik, mereka juga tidak akan menerimamu kalau mereka miskin.” Shinta kembali tersulut emosi.


“Pa, tolong bawa Mama pulang! Aku tidak mau lagi tinggal di rumah bersama pembantu.” Ucap Dita lalu berlari ke dalam rumah dan langsung menutup pintu rumah tersebut rapat-rapat. Kak Julie melihat semua pertengakaran ibu dan anak itu melalui jendela.


Shinta yang tengah emosi tidak tinggal diam, dia langsung mengajak suaminya pergi lalu setelah keduanya menaiki mobil, Shinta langsung membuka ponsel pintar dan mengetik nama Faisal di laman pencarian. Tidak membutuhkan waktu lama, ia langsung tahu di mana rumah sakit tempat Fais bertugas.


Tanpa menunggu sang suami, Shinta langsung bergegas menuju lobi dan bertanya pada salah satu perawat. Ternyata Fais masih ada jam praktik jalan bagi para pasiennya saat Shinta datang disusul oleh sang suami.


“Apakah menghancurkan karir seseorang termasuk kejahatan?”


“Hah?”


***


Up jam 02.32 dini hari...

__ADS_1


__ADS_2