
Terapi yang kujalani tidak berlangsung lama. 4 hari waktu yang aku butuh kan untuk bisa berjalan lancar seperti semula. Badanku yang sempat ringkih karena dehidrasi serta kelaparan kembali segar. Pihak rumah sakit melayaniku dengan baik. Mungkin karena aku dianggap sebagai sumber informasi yang sangat penting untuk mereka. Sehingga mereka memberikan pelayanan yang baik. Makanan di sini juga selalu berganti setiap waktu dan tentunya sangat enak. Berbeda saat di kampung atau di hutan. Di sini aku bisa makan ikan hampir setiap hari. Buah-buahan juga selalu berganti dan buah-buahan itu adalah buah luar. Tidak ada di kampungku.
Apel, pir bahkan sesekali aku makan anggur dan rasanya sangat enak. Seperti inikah hidup jauh dari kampung. Ah...aku jadi berpikir kemana-mana.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Cut?” suara Umi membuyarkan lamunanku yang sudah entah ke mana.
“Tidak Umi, Cut hanya sedang menikmati setiap buah yang mereka bawa. Kita tidak akan merasakan enaknya buah ini jika kita kembali ke kampung.”
“Kita bisa membelinya saat keluar dari sini jika kamu masih menginginkannya.” aku menggelengkan kepala, “Tidak, Umi. Cut tidak menginginkannya lagi.” Umi mengusap tanganku pelan.
“Bersiaplah, sebentar lagi bapak tentara itu akan datang ke mari. Jawab apa yang mereka tanyakan dengan benar, ya? Jawablah yang jujur!” aku menganggukkan kepala.
“Abu ke mana, Umi?”
“Abu menjenguk Teuku ke ruangannya.”
“Umi, bagaimana keadaan kampung kita? Selama di sini, Umi belum pernah bercerita tentang keadaan kampung kita setelah kepergian Cut. Orang tua Jannah bagaimana? Apa mereka ikut ditangkap?”
__ADS_1
Tampak jelas guratan kecewa bercampur sedih dari wajah Umi setelah mendengar pertanyaanku. “Malam itu warga yang serta tentara mencari di setiap sudut kampung sampai ke hutan di belakang bukit. Abu bersama para lelaki yang tersisa mencari kamu sampai subuh. Pagi itu, Mae datang saat Abu yang tengah beristirahat setelah semalaman mencari kamu. Mae mengatakan jika rumah orang tua Jannah telah dibakar oleh warga kampung. Abu tidak bisa melerai, warga sangat marah saat itu. Para tentara juga tidak bisa berbuat apa-apa. Umi datang bersama Abu, kami melihat bagaimana rumah itu hangus dimakan api. Dan yang lebih parahnya lagi, kuburan Jannah dilempar tahi lembu oleh warga. Teungku Zul bersama Pak Keuchik sudah mencoba melarang dan meperingatkan warga. Namun, kemarahan telah memenuhi warga sehingga mereka mengindahkan larangan dan petuah dari Teungku Zul. Warga kampung sepakat untuk melarang keluarga Jannah kembali dan jika ada warga yang melihat maka harus melapor dan menangkap mereka. Mereka juga bersepakat dengan para tentara di kampung. Mereka juga berjanji untuk membantu para tentara menumpas para ‘cuak’ yang masih berkeliaran di kampung.”
“Kenapa warga kampung semarah itu, Umi. Cut bukan anak siapa-siapa dan tidak memberi manfaat apa-apa untuk mereka. Abu dan Umi juga bukan orang yang berkuasa di kampung. Kenapa mereka bertindak seperti itu?”
“Kamu memang hanya gadis biasa dan Abu sama Umi juga bukan orang berkuasa. Tapi, bukan itu yang membuat warga kampung marah. Mereka marah karena mengingat jika yang diculik itu anak gadis mereka apalagi Teuku juga ikut dibawa. Mereka takut kamu akan bernasib seperti Miftah. Hilang dan kembali sebagai mayat. Umi bersyukur karena mereka selalu menemani hari-hari kami saat kamu pergi. Mereka datang hanya sekedar berbincang untuk menghibur kami yang sedang bersedih. Para tentara juga begitu, mereka terus memberi semangat dengan mengatakan jika tentara dari pos lain sedang melakukan pengejaran untuk menemukan kamu dan Teuku.”
“Umi, sebenarnya malam itu Cut melihat cahaya suluh dari warga. Namun, Cut tidak bisa lari karena Teuku ada di gendongan Ibu Jannah. Dan Ayah Jannah juga membawa parang. Dia selalu berjalan di belakang Cut. Jika Cut lari, maka Teuku akan dibunuh dan Cut juga tidak bisa berlari dengan cepat. Suasananya sangat gelap dan menakutkan. Cut tidak tahu arah.”
“Apa mereka memperlakukanmu dengan buruk?”
“Umi dan Abu sudah pasrah. Setiap saat kami hanya bisa berdoa dan menangis. Mengingat kamu dan Teuku membuat kami tidak berdaya. Rasanya kami seperti kehilangan semangat untuk hidup apalagi sampai seminggu kamu belum juga kembali. Umi bahkan meratapi kepergian kamu di kuburan Ilham. Umi marah, kecewa namun tidak ada yang bisa kami lakukan. Bahkan untuk makan saja kami sudah tidak sanggup sampai kami jatuh sakit. Mae yang setiap hari kerumah menjenguk kami dengan warga yang lain. Dia membawakan makanan untuk kami. Setiap hari selalu saja ada makanan yang dia bawa yang dia bilang kiriman dari warga dan Umi sama Abu harus makan. Jika tidak nanti para warga akan sedih dan kecewa karena kami tidak mau memakan makanan mereka. Jadi, walaupun terpaksa dan susah untuk menelan tapi kami harus memakannya supaya warga tidak sedih. Kerabat kita juga sering berkunjung tapi karena berbeda kampung tentu mereka tidak bisa berlama-lama karena mereka juga punya keluarga. Berita kamu diculik tersebar ke seluruh kampung bahkan sampai ke kecamatan. Hal itu yang membuat para warga takut pergi lama-lama meninggalkan anak gadis mereka. Takut bernasib sama seperti kamu.”
“Iya, Umi. Cut juga menjadikan ini sebagai pelajaran yang tidak akan pernah Cut lupakan seumur hidup.”
Jam sudah menunjukkan pukul 10 sesuai dengan yang disampaikan tadi malam oleh seorang tentara yang mendatangi ruang rawatku. Tidak berselang lama suara ketukan pintu serta ucapan salam dari para lelaki berbaju loreng sudah terdengar.
Mereka benar-benar tepat waktu. Aku menatap sekilas wajah-wajah di depanku. Tidak ada Rendra hari ini. Ke mana dia? Kenapa aku mencarinya? Ah...membingungkan.
__ADS_1
“Selamat pagi menjelang siang, Cut, Ibu.” salah satu dari mereka menyapa kami.
“Se-selamat siang Pak.”
“Kita bicara santai saja jangan terlalu tegang. Tapi, saya minta maaf terlebih dahulu karena pembicaraan ini hanya antara kami dan putri Ibu. Ibu boleh menunggu di luar sebentar?” Umi mengangguk lalu pergi meninggalkanku sendiri bersama dengan para pria berbaju loreng.
seorang dari mereka memotretku dan satunya lagi menghidupkan sebuah alat lalu meletakkan di dekatku. Pria yang menyapaku kini duduk di sebuah bangku tepat di depanku.
“Kita belum berkenalan kan? Kenalkan nama saya Wahyu. Kamu, Cut Zulaikha?”
Aku menganggukkan kepala. “Saya yang bertugas untuk mendengar cerita kamu dari awal kamu diculik. Ini adalah alat untuk mereka suara kamu saat bercerita. Santai saja tidak perlu gugup. Sebelum memulai bercerita, apa kamu nyaman di sini? Apa makanannya enak? Satu lagi, ada teman saya yang menitip salam untuk kamu. Katanya, kamu calon istrinya. Hari ini dia tidak bisa ke mari karena harus berburu. Jadi kapan kalian akan menikah?”
***
Sorry ya lama...lagi mager...😆😆😆
LIKE...LIKE...LIKE...
__ADS_1