
Malam itu, Shinta kembali murka ditambah dengan ponsel Dita dalam keadaan mati. Ia menghubungi sang suami dan Tiara. Dan benar saja jika itu adalah anaknya. Shinta pangling karena penampilan Dita yang memakai penutup kepala terlihat sangat berbeda. Ia hampir tidak mengenali putrinya sendiri.
“Ma, tenang dulu ya! Aku sudah mengirim pesan pada pria bernama Dika itu. Semoga saja dia mau menghubungiku.” Tiara mencoba menenangkan ibunya.
“Mama sudah menghubungi pihak hotel tempat pria itu bekerja. Mereka membenarkan jika pria itu sedang cuti dan pulang ke kampungnya. Tapi mereka tidak bisa memberikan nomor ponselnya pada Mama.”
“Mama tahu harus menghubungi ke mana?” ucap Shinta lagi lalu segera memutus sambungan teleponnya.
Sementara di luar pondok, Iskandar sedang berusaha menghubungi Aisyah namun sayangnya ponsel Aisyah juga mati. Lalu ia menghubungi sang ibu hingga akhirnya bisa bernafas lega karena ternyata menurut sang ibu, Aisyah sudah tidur di kamarnya.
“Shin, dengar dulu penjelasanku!” suara Faisal terdengar sampai ke telinga Iskandar.
“Ma, Papa lagi bicara sama siapa? Kenapa sampai begitu?”
“Adik kamu buat ulah. Dia mengunggah foto-foto dirinya sampai membuat ibunya mengamuk dan sekarang menyerang Papa. Mamanya pikir, Dita benar-benar pindah agama lalu menikah tanpa sepengetahuannya.”
“Aku yang salah kalau begitu. Biar aku hubungi Tante Shinta setelah ini. Makasih ya, Ma. Maaf sudah mengganggu malam-malam. Tolong bilang sama Papa biar aku yang bicara sama Tante Shinta.”
“Baiklah! Mama tutup ya! Assalamualaikum.”
Iskandar menghela nafasnya sesaat lalu kembali menghubungi Om Toni. Hanya dengan Om Toni, ia bisa bicara dengan tenang.
“Selamat malam, Is.” Sapa Toni ramah.
“Selamat malam, Om. Maaf kalau aku mengganggu waktu Om malam-malam.”
Toni tertawa kecil, “Tidak apa-apa. Om tahu kamu pasti ingin membicarakan hal yang penting tentang adikmu kan?”
“Iya, Om. Sebelumnya, aku mau minta maaf karena semua ini salahku. Dita tidak menikah, Om. Dia hanya memainkan peran sebagai pengantin untuk memberikan kejutan pada calon istriku. Cuma dia iseng saja minta difoto seperti pengantin sungguhan. Makanya kami menganggap keisengannya sebagai hal yang biasa. Aku tidak tahu kalau dia akan membuat Tante Shinta murka.”
“Jadi semua ini bohong?” tanya Toni memastikan.
“Iya, Om. Kalau pun dia ingin menikah, aku pasti akan melarangnya sebelum dia meminta izin pada Om dan Tante.”
“Ya sudah kalau begitu. Biar Om yang bicara sama Mama Shinta. Pasti saat ini dia sedang menyerang ayahmu.” Toni terkekeh sendiri.
“Iya, Om. Tolong ya!”
Lagi-lagi Iskandar menarik nafas dalam-dalam. Di saat adiknya membuat masalah lalu tertidur dengan tenang maka Iskandarlah yang harus menyelesaikannya.
“Dita, Dita, seniat itu kamu ingin menikah?” gumamnya.
Saat Iskandar membalikkan badan, Dika sudah berdiri di ambang pintu. Keduanya saling bertatapan dengan senyum kecil yang terpancar namun sarat akan isi hati keduanya.
“Dua sahabat kita sudah tidur, apa yang satu lagi juga sudah tidur?” gurauan yang membuat Iskandar tersenyum.
“Sudah menghubungi istrimu?” Iskandar mengangguk, “Mamaku bilang dia sudah tidur, ponselnya dimatikan.”
“Apa dia marah?”
“Kalau marah karena aku pergi mungkin bukan tapi kalau marah karena aku mengerjainya mungkin iya. Apa pendapatmu tentang adikku?” Iskandar menatap Dika. Yang ditatap justru menatap langit dengan seraya tersenyum kecil.
“Aku menyukainya tapi suka saja tidak cukup kan? Untuk menyatukan kami, aku harus mendapat restu sementara aku sendiri tahu itu tidak mudah. Dan aku tidak ingin mengubah keyakinannya karena ingin bersamaku. Dia harus memutuskan sendiri tanpa aku minta.”
“Rumit!” ucap Iskandar.
Di saat yang sama di sebuah rumah dinas, Wulan dan Anugrah sedang terlibat pembicaraan serius. Mereka sedang membicarakan hubungan dan kesempatan.
“Apa kamu yakin?” tanya Anugrah.
Wulan mengangguk mantap, “Ini kesempatan bagus. Aku tidak bisa selamanya bergantung padamu.”
“Baiklah kalau begitu. Besok aku akan mengurus perceraian kita. Prosesnya pasti akan mudah dan cepat karena kita sama-sama menginginkannya.”
“Terima kasih.” Anugrah mengangguk kecil.
“Tidurlah! Aku akan pergi sebentar.” Wulan mengangguk lalu bangkit menuju kamarnya.
__ADS_1
Wulan merebahkan tubuhnya namun matanya belum juga terpejam. Sementara di pos pemeriksaan, Anugrah bergabung bersama juniornya seraya meroko bersama.
“Belum tidur, Dan? Dari wajahnya seperti lagi banyak pikiran.” Anugrah tersenyum kecut. Walaupun sudah berusaha menutupi tetap saja terlihat. Anugrah baru kembali ke rumah menjelang dini hari. Ia langsung menuju kamarnya di sebelah kamar Wulan.
Sementara di sebuah griya tawang, Toni tengah mencoba menenangkan istrinya. Pelukan lembut diselangi kecupan mampu meredam emosi Shinta setelah mengamuk karena ulah Dita. “Ma, seharusnya kamu senang karena Dita bisa nakal juga. Kalau dia anteng saja itu malah mencurigakan. Selama ini, dia juga tidak pernah bertingkah. Apa kamu tidak menyadari jika selama ini dia terkesan pendiam dan tertutup?”
Shinta mulai merenungi ucapan Toni. “Ma, apa mungkin masa kecilnya kurang membahagiakan hingga saat dewasa dia jadi begini apalagi perlakuan keluarga ayah kandungnya pasti sangat baik hingga mampu merubah Dita yang pendiam dan tertutup menjadi riang dan usil seperti sekarang?” Shinta masih terdiam.
“Ma, selama ini kita terlalu sibuk bekerja sampai membiarkan anak-anak hidup dengan pengasuh. Walaupun kita mencari uang untuk mereka tapi bagi mereka itu tidak sebanding dengan perhatian yang tidak mereka dapatkan selama ini. Jadi, biarkan mereka hidup sesuai keinginannya. Kita cukup menasehati dan mengawasi.”
“Tapi Mama tidak mengizinkan dia berpindah keyakinan, Pa.” Shinta mulai bersuara.
Toni yang memahami karakter istrinya hanya bisa mengangguk lalu memberikan kecupan-kecupan kecil di pipi dan bahu Shinta yang terbuka. Apa yang Toni berikan mampu membuat Shinta luluh dan melupakan sejenak emosinya.
“Ma, apa Mama sanggup memisahkan dia dengan pria yang dicintainya? Mama sudah tahu kan bagaimana rasanya dipisahkan orang tua?”
Gleg…
Shinta terdiam, “Mama mau menjadi seperti Kakek dan Nenek Dita?”
“Pa,-“ Jari telunjuk Toni menyentuh bibir sang istri.
“Nanti kita bicarakan dengan pria itu siapa namanya? Dika? Ya, kita bicarakan dengan Dika tentang masalah ini. Sekarang, ayo kita tidur karena kita sudah tua dan butuh banyak istirahat.” Ajak Toni lalu merebahkan tubuhnya dan menarik tubuh sang istri dalam pelukannya.
Keesokan harinya…
Pagi-pagi sekali, rumah Abah sudah terlihat ramai oleh kedatangan sanak keluarga dan tetangga yang akan membantu acara pernikahan Uswatun dan Reski. Pernikahan sendiri akan dilakukan esok tapi hari ini, mereka akan melakukan berbagai persiapan seperti menyiapkan bahan-bahan untuk menu jamuan besok serta menghias rumah karena setelah akad langsung resepsi. Iskandar sudah berada di kantor KUA bersama Reski dan istrinya untuk melakukan pendaftaran nikah.
Sementara Dwi, Dika dan Ari memilih membantu di rumah Abah.
Kehadiran tiga pria muda itu mampu mengalihkan perhatian gadis-gadis itu. “Kenapa kamu menolaknya?” tanya Husna pada Nurul. Mereka adalah dua gadis bercadar yang diperkenalkan pada Ari dan Dwi kemarin.
“Aku menyukai yang berbaju kaos itu!” Jawab Nurul pada Husna sambil melirik Dika.
“Kamu sendiri kenapa monolaknya?” tanya Nurul.
“Dia kan sudah menikah?” ucap Nurul.
“Poligami kan halal.”
“Pasti Mas itu tidak mau.”
“Kamu tidak iri sama Ana? Dia lebih muda dari kita. Sekarang dia akan pergi ke kota mengikuti suaminya.”
“Untuk apa iri? Aku juga tidak suka sama suami Ana.”
Mereka terus berbincang sampai mobil Iskandar masuk ke dalam pekarangan rumah. Husna dan Nurul melihat adik mereka turun dibantu oleh suaminya. Mereka berpegangan tangan mesra dan rasa ingin pun muncul di hati kedua kakaknya.
“Setelah ini apa kita bisa mendapatkan lamaran lagi?” tanya Husna mulai gundah. Apalagi dia percaya jika yang pertama melamar adalah yang terbaik.
“Entah.” Jawab sang kakak lalu pergi meninggalkan sang adik yang masih menatap penuh damba pada Iskandar.
Di saat Iskandar mengurus pernikahan temannya, sang adik justru tengah mengurus perceraiannya. “Jadi alasan apa yang membuat kalian ingin menikah?” tanya seorang petinggi militer yang mengurus masalah pernikahan dan perceraian para anggota.
“Saya menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab dan istri saya menerimanya dengan terpaksa. Kerena saat ini kondisi istri saya sudah pulih, kami sepakat untuk mengakhiri pernikahan ini.”
“Apa betul begitu, Ibu?” Wulan mengangguk.
“Siap, Pak. Semua yang dikatakan suami saya benar.”
“Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi? Mencoba untuk saling jatuh cinta? Apa selama ini tidak ada cinta yang tumbuh sedikitpun? Kalian hidup satu rumah bahkan saling bertumpu satu sama lain. Apa sedikitpun sayang dan cinta hadir di sana?”
“Tidak, Pak.” Ucap keduanya kompak.
“Rencana ini sudah diberitahukan pada pihak keluarga?”
“Siap, sudah Pak.”
__ADS_1
“Mereka menyetujui?”
“Siap, mereka menyerahkan keputusan di tangan kami.”
Petinggi militer itu menghela nafasnya melirik dua pasangan muda di depannya dengan perasaan aneh. “Baiklah! Saya akan mengajukan berkas ini ke pusat. Sebelumya, apa Saudara sudah mentalaknya?”
“Belum, Pak.”
“Baiklah, sudara bisa mentalaknya dengan talak satu sesudah berkas perceraiannya diterima atau sebelum itu juga bisa. Hanya saja, lebih lama lebih baik siapa tahu ada perubahan setelah ini.”
“Siap, Pak.”
Mereka keluar dari sana setelah menyelesaikan semuanya, “Kapan jadwal keberangkatannya?” tanya Anugrah dalam perjalanan menuju rumah dinas mereka.
“Tiga hari lagi. Sebelum berangkat, boleh aku bertemu Mama dan Papa?”
“Ayo, kita ke sana saja sekarang!” Anugrah tidak jadi membelokkan mobilnya. Ia langsung melajukan mobilnya menuju kediaman sang ayah. Sesampai di sana, Cut dan Rendra tengah melihat foto-foto pernikahan Iskandar dan Aisyah. Di sana juga ada Bibik dan Bapak Wicaksono.
“Assalamualaikum,” ucap keduanya lalu bergabung dengan yang lain.
“Walaikumsalam, kalian dari mana? Wulan, sini! foto-foto pernikahan Iskandar sudah jadi.” Panggil Cut pada menantunya.
Wulan mengangguk lalu mendekati sang ibu. Dia duduk di samping ibu mertuanya dengan perasaan canggung. Sesekali ia melirik Anugrah yang juga merasakan hal yang sama. Apalagi di sana ada kakeknya.
Rendra menangkap gelegat dari anak dan menantunya yang terlihat berbeda. “Ada yang kalian ingin bicarakan?” pertanyaan Rendra membuat Cut yang tengah asyik melihat album foto tersadar lalu menatap Wulan dan Anugrah.
“Apa kamu ingin pergi?” tanya Cut pada menantunya.
Wulan mengangguk lemah seraya menunduk. “Pergilah raih kebahagiaanmu! Maaf kalau selama ini kami banyak melakukan kesalahan dalam merawatmu. Raihlah mimpimu sampai sukses supaya almarhum ibumu bahagia. Jaga diri baik-baik karena di luar sana tidak semua orang baik. Yang kita lihat baik belum tentu seperti yang kita lihat. Tetap berkabar dengan kami ya?”
Wulan meneteskan air mata mendengar perkataan ibu mertuanya, “Maafkan kesalahan Wulan selama ini, Ma. Wulan sudah membuat Mama dan Papa juga Bibik kerepontan mengurus Wulan. Terima kasih atas kesabaran Mama, Papa dan Bibik dalam menghadapi Wulan selama ini.” Cut menarik Wulan dalam pelukannya.
“Kalian mau pergi kemana?” pertanyaan dari Bapak Wicaksono membuat Anugrah dan Rendra bersitatap sekilas. “Wulan diterima kerja, Kek. Jadi dia harus pergi.”
“Lalu kamu?” tanya Bapak Wicaksono kembali.
“Aku masih di sini, Kek. Mungkin akhir minggu ini aku pindah kemari lagi.”
“Jadi hanya Wulan yang pergi? Kenapa kamu membiarkan istrimu bekerja jauh darimu? Suami istri itu hidupnya bersama kalau satu di timur satu di barat ya buat apa menikah lebih baik kalian cerai saja.”
Deg…
Anugrah dan Wulan merasa tertampar. “Pa, sudahlah! Mereka sudah besar, biarkan mereka mengambil keputusan untuk pernikahan mereka sendiri.” Sela Rendra.
“Ya, anak-anak sekarang memang seperti itu jawabannya. Merasa pikiran kalian paling benar padahal salah semua. Istri bekerja jauh meninggalkan suami menjadi pemandangan sehari-hari sekarang. Perubahan zaman sudah mengubah pola pikir orang-orang saat ini.” Bapak Wicaksono meninggalkan mereka di ruang keluarga. Sementara Rendra dan Anugrah hanya bisa menghela nafasnya.
“Sudah mengajukan berkas?” Anugrah mengangguk.
“Baiklah! Kami tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua keputusan ada di tangan kalian. Kami hanya berharap kalian bisa menjalani hidup dengan baik setelah ini.” Mereka kompak mengangguk.
Rendra dan Cut sudah mengetahui tentang rencana Anugrah dan Wulan. Jadi saat mereka datang dengan kondisi seperti ini tentu dia bisa menebak jika keputusan itu sudah terlaksana. Setelah berpamitan pada keluarga Anugrah, Wulan dan Anugrah kembali ke rumah dinas. Mereka akan membereskan barang-barang di rumah tersebut sebelum Wulan pergi. Anugrah juga harus meninggalkan rumah tersebut karena rumah itu diperuntukkan untuk keluarga bukan pria lajang sepertinya.
“Ini!” Anugrah menyerahkan sebuah kotak kepada Wulan.
“Ini perlengkapanmu saat ditempat yang mungkin asing bagimu. Tetap jaga diri, kita tidak tahu orang seperti apa yang ada di dekatmu. Baca kontrak dengan teliti dan jangan mau dibua tergesa-gesa. Selalu minta bertemu di tempat umum jangan mau diajak bertemu di hotel atau kelab. Dan jangan mau diajak bertemu malam-malam apalagi dijemput.” Wulan membuka kotak itu lalu melihat ada beberapa barang yang menurutnya asing.
“Ini semprotan berisi gas air mata. Semprot ini ke mata mereka jika ada yang memaksamu berbuat yang bukan-bukan. Kamu harus bersikap tenang di segala situasi, jangan sampai mereka yang ingin berbuat jahat padamu panik lalu melakukan hal yang tidak terduga.” Wulan mengangguk.
“Jangan pakai pakaian terbuka jika kamu ingin selamat. Kecuali kamu diminta mengisi acara di TV atau menyanyi di panggung. Pilih-pilih saat kamu mendapat tawaran. Jangan langsung mengiyakan apalagi kalau acara itu diadakan di kelab malam atau di hotel. Kamu harus menyelediki sendiri acara apa yang akan mereka buat saat megundangmu. Jangan sampai kamu terjebak dalam tempat dan waktu yang salah.”
“Jangan minum sembarangan pemberian siapa pun. Ingat, kamu akan hidup sendiri jadi berhati-hatilah. Jangan percaya siapa pun termasuk orang yang menamainya manajer. Jangan pernah menyentuh alkohol atas alasan apa pun itu. Kamu harus punya prinsip dan ketika ada orang yang memaksamu menerima minuman maka itu patut kamu curigai.”
“Bersiaplah! Setelah ini aku akan mengajarkan beberapa gerakan supaya kamu terhindar dari orang-orang jahat di luar sana.”
***
Bantu CUT dengan TIDAK SKIPP IKLAN...
__ADS_1
Terima kasih...