CUT

CUT
Tes Uji...


__ADS_3

Cafe X...


Dua pasangan muda terlihat duduk melingkari sebuah meja di dalam cafe malam itu.


“Wulan apa kabar? Bagaimana terapimu?” Tanya Tiara ramah.


“Baik, Kak. Terapinya juga lancar.” Ucap Wulan pelan.


“Kamu masih tinggal di rumah kakek nenekmu, A? Aku berencana mengunjungimu besok. Sekalian mengunjungi Om dan Tante.” Sela Doni.


“Aku sudah pindah ke rumah dinas, Don.” Jawab Anugrah.


“Wah, seru dong ya. Hidup berdua sama istri. Aku juga rencana begitu sama Tiara cuma karena kami mau program anak jadi akan susah kalau tidak pakai jasa perawat bayi. Apalagi, Tiara juga tetap kerja walaupun sudah menikah.” Anugrah hanya menganggukkan kepala mendengar perkataan Doni.


“A, itu si Darwin masih setia menunggu istrimu. Kemarin aku sempat ke cafenya. Dia bilang masih menunggu istrimu untuk mengisi suara di sana. Kayaknya dia jatuh hati sama suara Wulan. Kamu beruntung banget A. Menikahi Wulan sama seperti menikahi Maudy Ayunda. Saat lagi capek tinggal minta istri buat nyanyi.” Anugrah tersenyum kecil melirik Wulan.


“Wulan, andai cewe satu sekolah tahu siapa yang Anugrah nikahi sekarang. Mereka pasti cemburu massal. Suamimu ini idola di sekolah dulu. Jago basket, bela diri dan otaknya juga encel. Tapi kalo urusan bawah aku yakin gak encer, ya kan A?” pertanyaan terakhir Doni membuat Anugrah melotot.


“Apa kabar si kakak kelas yang dulu paksa cium bibirmu? Apa dia sudah jadi emak-emak sekarang?” Tiara mencoba memasuki obrolan mereka namun sayang respons Anugrah terlihat cuek dan hanya tersenyum kecil. Anugrah juga tidak menanggapi ucapan tersebut.


Kecanggungan kentara sekali terlihat dari kedua pasangan itu. Sikap Doni yang seperti memaksakan diri untuk menciptakan suasana ceria ternyata sama sekali tidak berhasil. Ada dinding tebal di antara mereka yang membuat suasana terasa kaku dan dingin.


Dari pertama, Anugrah memang tidak berniat untuk berkumpul dengan mantan pacar dan sahabatnya. Anugrah tetaplah manusia yang tidak luput dari marah, cemburu dan sedih. Melihat Doni dan Tiara di depannya sudah membuat dada Anugrah berkecamuk.


Walaupun Doni sangat menjaga sikapnya terhadap Tiara di depan Anugrah tapi tetap saja Anugrah merasa cemburu dan kesal.


“Ck, dia belum move on juga ternyata.” Batin Wulan melirik Anugrah yang terlihat tidak nyaman.


Tiba-tiba, Wulan menguap. Ia mengucek matanya beberapa kali. “A, sepertinya kita harus bubar. Maaf ya Wulan, kami sudah menyita waktu kalian. Kapan-kapan kami ingin berkunjung ke rumah kalian. Apa kalian keberatan?” tanya Doni.


“Tentu tidak. Kami di rumah tiap akhir pekan itu pun kalau bos besar gak ngajak keluar.” Ucap Anugrah seraya menunjuk dengan dagu ke arah Wulan.


Anugrah memeluk Doni sekilas ala laki-laki kemudian dia mengangguk sebentar ke arah Tiara sebelum memasuki mobil. Anugrah membunyikan klakson dua kali lalu mulai melaju meninggalkan mereka yang masih berdiri di depan cafe.


“Maaf udah buatmu tidak nyaman.” Pinta Anugrah seraya melirik Wulan yang sedang asyik menatap langit lewat jendela mobil.


“Hem, mereka terlalu memaksakan diri.” Ucap Wulan santai.


“Ada lagi yang kamu inginkan?”

__ADS_1


“Tidak. Pulang saja. Obrolan tadi membuatku ngantuk.


Anugrah tersenyum kecil nyaris tidak terlihat. “Bagaimana terapimu?”


“Ya seperti itu.”


“Apa yang kamu rasakan?”


“Tidak ada. Hanya ingin sembuh dan pergi dari hidupmu secepatnya.”


“Baguslah.”


Keduanya kembali terdiam sampai mereka tiba di rumah. Seperti biasa, Anugrah akan membantu Wulan di kamar mandi sebelum tidur lalu setelah Wulan terlelap, Anugrah kembali ke tempat tidurnya selama menempati rumah dinas bersama Wulan.


Selama ini mereka tidak tidur di satu ranjang melainkan Wulan di ranjang dan Anugrah di sofa yang khusus dia beli untuk tempat tidurnya. Itu juga yang menjadi alasan kenapa lemari mereka harus berada di kamar terpisah.


Setelah menggantikan lampu kamar dengan yang lebih redup, Anugrah ikut merebahkan diri di sofa. Entah kenapa malam ini dia juga merasa mengantuk yang amat berat. Kalau sebelumnya, dia akan memilih menonton di ruang tamu hingga pukul 11 atau 12 malam. Tapi malam ini berbeda, jam setengah 10 dia sudah terlelap di atas sofa.


Sementara di kamarnya, Iskandar sedang berbalas pesan dengan Aisyah. Keduanya sedang membahas tentang permintaan orang tua Aisyah yang ingin bertemu dengannya.


“Bisa ya, Mas. Aku sudah bilang sama Mama-Papa kalau Mas akan datang pas akhir pekan.”


“Insya Allah, Ai. Mas sedang berpikir apa tidak sebaiknya Mas ajak sekalian keluarga Mas bersilaturahmi ke sana?”


“Iya. Lamar saja sekalian selagi nenek dan kakekku sehat. Bagaimana?”


Aisyah yang membaca pesan dari Iskandar tiba-tiba bingung. Bagaimana ia harus mengatakan pada kedua orang tuanya. Alhasil, kamar sang kakak lah yang jadi incarannya.


Tok...tok...


“Kak, tolong keluar sebentar! Ada yang ingin aku bicarakan!”


Ceklek...


“Ada apa, Ai malam-malam? Kamu itu sudah dibilang harus cepat tidur. Begadang itu tidak baik untuk kulit. Cepat katakan ada apa!” Dokter Rendra bersedekap di dada menatap tajam sang adik.


“Ini!” Aisyah menunjuk ponselnya ke depan wajah Dokter Rendra.


Dokter Rendra lalu mengambil ponsel dan membacanya lalu ia terkikik sendiri hingga membuat Aisyah merebut paksa ponselnya kembali.

__ADS_1


“Mas, bagaimana ini?”


“Mas, sudah makan belum?”


“Mas, besok aku ke ruangan ya?”


Setelah puas mengulang kata-kata yang di dapat dari ponsel sang adik. Dokter Rendra langsung menjitak kening sang adik hingga membuat Aisyah mengiris pedih.


“Kami disuruh kuliah nyari ilmu bukan buat pacaran! Cewe apaan minta ke ruangan dosen laki? Awas kamu ya! Kakak bilang sama Mama!”


Plak...


Aisyah memukul lengan sang kakak. “Kakakku yang pintar tapi rada LALOE alias lambat loading. Dengar ya! Aku ke ruang Mas Is itu karena mau tanda tangan skripsi bukan buat yang lain. Mas Is juga pria seperti yang Kakak sangka. Pikirannya bersih tidak mesum.”


Dokter Rendra tertawa pelan, “Ai, Mas Is yang kamu bilang tidak mesum itu karena dia belum ketemu lawannya. Coba lihat kalau nanti dia nikah sama kamu. Mesumnya itu pasti keluar dan kamu jangan coba-coba cerita sama Kakak kalau Mas Is yang kamu banggakan itu ternyata ganas di atas ranjang.”


“Adekku tersayang, pria pendiam itu biasanya ganas dan liar.” Bulu kuduk Aisyah seketika berdiri seperti ada setan lewat. Aisyah cukup paham dengan perkataan sang kakak tentang urusan itu.


“Kak, kok jadi nakutin sih? Aku ke sini mau minta pendapat bukan mau bahas itu.” Gerutu Aisyah.


“Pendapat apa?” kini Dokter Rendra sudah dalam mode serius.


Aisyah menceritakan hasil pembicaraannya dengan sang kekasih lalu “Ouh itu. Baguslah kalau dia mau datang sekalian bawa keluarganya. Itu tandanya dia tidak main-main sama kamu. Lalu masalahnya apa?”


“Mama sama Papa kan bilangnya mau mengenal dia dulu baru setelah itu berlanjut ke tahap selanjutnya.”


Dokter Rendra menghela nafasnya lalu, “Ya sudah, bilang sama dia kalau Mama sama Papa mau tes uji kelayakan dulu. Kalau dia lulus baru boleh bawa keluarganya.”


Aisyah mengerucutkan bibirnya, “Tes uji. Udah kayak anggota dewan aja pakai tes uji.”


“Oh itu harus. Bukan anggota dewan saja yang perlu tes uji, cari mantu juga perlu tes uji. Karena pilih suami sekali seumur hidup bukan untuk lima tahun aja.”


“Lalu, apa Anggia juga harus tes uji kelayakan?”


***


Like dan komennya gaeys....makasih...


MAMPIR JUGA KE KARYA AUTHOR YANG LAIN YA... Gak kalah seru sama CUT...MAKASIH...

__ADS_1



 


__ADS_2