CUT

CUT
MERDEKA...


__ADS_3

"Orang-orang yang kami tangkap bahkan masih hidup di tempat yang layak dan tetap kami berikan makan. Padahal mereka sudah benar-benar salah dengan menjadi pengikut para pemberontak tapi apa yang para pemberontak itu lakukan pada warga yang tidak tahu salahnya di mana. Warga yang diculik tersebut berakhir menjadi mayat dan dibuang disembarang tempat. Cukup sekian dari saya, semoga Aceh segera damai dan aman. Amin ya rabbal alamin, assalamualaikum."


Tentara tersebut mengakhiri pidatonya lalu seorang tentara yang berada tepat di depan tentara yang berpidato tadi kembali berteriak diikuti dengan gerakan yang serentak diikuti oleh tentara yang lain. Upacara telah berakhir, aku melihat mereka sudah membubarkan diri tapi ada yang aneh, Teuku rupanya mengikuti pria tersebut. Aku tersadar dan langsung berlari ke arah tentara tadi. Satu orang tentara menahanku. “Saya mau mengambil Teuku.” Ucapku pada tentara tersebut.


Dia memperhatikanku dari ujung kaki sampai kepala. Aku hanya membawa tas kecil berisi kebutuhan Teuku seperti termos kecil yang beris air hangat, botol susu dan beberapa celana serta baju juga satu botol air putih. Semua yang aku lakukan sekarang sesuai dengan yang Rendra tulis di salah satu buku. Terkadang aku berpikir, kenapa dia bisa sedetail itu menjelaskan padaku? Dia seperti orang yang sudah sangat berpengalaman.


Tentara itu meminta tasku. Dia membuka tas tersebut lalu memeriksa isinya secara menyeluruh. Dia membawaku pada Teuku yang tengah menyantap makanan yang disuapi oleh tentara yang berpidato tadi. Tentara yang memeriksa tasku tadi berbicara dengan pria yang tadi berpidato dengan gaya mereka. Tentara yang berpidato menoleh ke arahku seraya tersenyum. “Ini anak kamu?” Tanya pria yang di panggil ‘Dan’ oleh tentara yang memeriksa tasku tadi. “Bukan, Pak. Dia anak abang saya.”


“Di mana ayahnya?”


“Sudah meninggal.”


“Ibunya?”


“Sudah meninggal juga.”


“Apa dia anak Teuku Muhammad Ilham?”


 


Deg....


Ternyata abangku sangat terkenal di kalangan aparat pemerintah. Bahkan tentara ini saja sangat hafal dengan namanya. Mungkin aku lupa satu hal jika abangku adalah seorang ‘Pang Sagoe’ yang sangat terkenal di kalangan para pemberontak. Hanya keluargaku saja yang tidak tahu.


“Iya,” Jawabku pendek.

__ADS_1


Aku tidak mungkin berbohong, mereka pasti punya informasi akurat tentang abangku serta keluarganya. “Teuku Rendra Muhammad Nur, kelak dia akan jadi pria dewasa yang sukses serta berani. Rawat dia dengan baik. Berikan dia pendidikan supaya dia tidak mudah termakan bujuk rayu yang akan merusak masa depannya. Kamu pasti tidak ingin melihat dia berakhir seperti orang tuanya kan?” Aku menggelengkan kepala.


“Enak?” Tanyanya pada Teuku yang masih duduk di pangkuannya sambil memakan pisang.


Pria tersebut menyuruh salah satu tentara yang terlihat lebih muda darinya untuk memasukkan buah pisang yang terletak di atas meja serta beberapa buah lain ke dalam kantong plastik. Dia menyerahkan Teuku padaku setelah mencium pipinya sekilas. Teuku sepertinya sangat senang berada dekat dengan pria itu. Tentara tadi menyerahkan kantong plastik hitam yang berisi buah-buahan tadi ke tanganku.


“Terimalah, buah-buahan bagus pertumbuhannya!” Ucap pria tersebut.


Aku segera pergi dari sana setelah mengucapkan terima kasih. Abu dan Umi sudah menungguku dari tadi. Hari sudah menjelang siang dan dengan berjalan kaki kami pergi meninggalkan tempat tersebut sampai langkah kami terhenti saat seorang anak berlari ke arahku. Anak tersebut menggenggam tanganku sesaat lalu kembali berlari entah kemana. Aku melihat sekilas isi genggamanku dan ternyata surat kaleng kembali.


Aku menatap Abu dan Umi lalu kami kembali melanjutkan perjalanan. Rendra kecil sepertinya kelelahan, dia tertidur dalam gendonganku sesaat akan sampai di rumah. Aku menidurkannya di kamar dan tidak lupa menaruh bantal di sekelilingnya sebagai batas. Bahkan, aku harus meminta Abu untuk memotong kaki tempat tidur supaya lebih rendah untuk berjaga-jaga supaya Teuku tidak jatuh.


Aku menyerahkan surat tersebut kepada Abu. Kemudian, Abu kembali menyerahkan surat tersebut kepadaku. Aku tahu, saat ini Abu pasti sangat takut. Raut wajah Abu cukup memperlihatkan itu dengan jelas. “Apa isinya?” Tanya Umi.


Aku menatap Umi dan Abu bergantian. “Abu apa isinya?” Tanya Umi dengan raut wajah semakin cemas. Karena sangat penasaran, Umi mengambil surat tersebut dari tanganku.


“Umi, tenang aja. Insya Allah kita baik-baik saja. Kita berdoa saja semoga Allah melindungi kita dari keburukan dan bahaya.” Sepertinya perkataanku tidak berpengaruh banyak pada Umi, hal ini jelas terlihat dari wajah Umi yang terlihat ketakutan.


 


Kepada Dek Cut yang Abang rindukan.


Assalamualaikum,


Apa kabar, Dek? Abang harap kamu baik-baik saja di sana. Maafkan Bang Khalid yang tidak bisa menyelamatkan abang kamu serta istri dan anaknya. Abang ingin mengajak kamu menikah lagi, kita rawat anak abang kamu bersama seperti amanah almarhum sebelum meninggal. Keluarga Abang akan datang ke rumah untuk melamar kamu lagi. Dan Abang harap kali ini kamu mau menerimanya.

__ADS_1


Keluarga Abang akan mengatur pernikahan kita nanti, Dek Cut ikuti saja apa yang mereka katakan. Sudah dulu ya! Salam sayang hanya untuk Dek Cut.


Assalamualaikum.


 


Isi surat kaleng yang ternyata berasal dari pria bernama Muhammad Khalid. “Bahkan sampai dia sudah meninggal masih membuat kita kesusahan gara-gara ulahnya yang berlagak menjadi seperti wali untuk adiknya. Sekarang laki-laki tidak tahu malu itu malah berani mengajak Cut menikah dengan dalih wasiat Ilham. Untuk menghidupi dirinya saja susah sudah berlagak seperti pria yang mampu menghidupi putri dan cucu kita. Dia pikir pernikahan itu hanya sekedar ijab kabul terus hidup bersama? Kita tunggu saja keluarganya kemari lagi. Jika belum waktunya kita mati, Allah pasti melindungi kita.” Ucap Abu menggebu dengan emosi yang membuncah lalu pergi ke belakang untuk mengambil wudhu.


Aku menatap Umi seraya tersenyum kecil. “Tidak mudah mereka kemari, Umi. Rumah kita tidak jauh dari pos tentara. Untuk sementara, kita di rumah saja, tidak perlu turun ke kecamatan.” Umi menganggukkan kepala.


Rendra terbangun dari tidurnya. Aku segera menghampirinya begitu mendengar dia menangis. “Mam.” Ucapnya.


Aku membawanya ke kamar mandi, dia terbangun karena air seninya sudah membasahi badan dan membuatnya tidak nyaman untuk tidur. Mendudukkannya dalam ember yang berisi sedikit air membuatnya sangat senang dengan celoteh-celotehnya yang hanya dia yang tahu. Dia akan menangis jika aku langsung mengangkatnya.


Setelah membiarkan bermain air sebentar, aku segera mengangkatnya walaupun dia menangis. Tangisannya langsung berhenti ketika dia melihat buah-buahan yang terletak di atas meja. “Maam”


“Rendra lapar?” Tanyaku.


“Maam.”


“Kita pakai baju dulu baru maam ya?”


Rendra kecil sudah menyukai banyak jenis rasa dari makanan yang dia lihat. Dia akan sangat girang jika rambutan di samping rumah berbuah dan berwarna merah. Selama ini hanya buah-buahan yang terdapat di rumah atau di kampungku saja yang dia makan. Tapi dari kantong plastik tadi terdapat buah-buahan yang tidak terdapat di kampung kami. Selain pisang, ada beberapa apel dan jeruk yang dimasukkan dalam kantong tersebut.


***

__ADS_1


LIKE..LIKE...LIKE


__ADS_2