CUT

CUT
Satu Kamar...


__ADS_3

Cut menunduk namun dengan cepat sebelah tangan Rendra mengangkat dagunya. Ia tidak berani membalas tatapan sang suami. Jantungnya berpacu kuat hingga dadanya seakan naik turun menghadapi situasi yang sudah ia ketahui akan berakhir seperti apa.


“Saya sayang kamu, Cut Zulaikha!”


Cup…


Rendra memulai dengan lembut dan perlahan. Ia mencoba membangkitkan hasrat sang istri supaya ia mendapatkan balasan nantinya. Walaupun ia harus bersabar dengan menahan diri serta juniornya tapi semua itu ia lakukan untuk meluluhkan sang istri. Rendra melepaskan pungutan untuk menghirup banyak oksigen.


Mata keduanya sudah sayu diliputi gairah. Rendra menatap intens wajah sang istri dalam jarak dekat dibawah lampu kamar yang sedikit temaram. Cahaya bulan menerangi indah kedua sepasang suami istri tersebut.


Rendra kembali memungut bibir kenyal sang istri, menyesap pelan tapi menuntut. Sebelah tangan Cut tanpa sadar sudah memegang lengan sang suami. Cukup lama mereka larut dalam ciuman memabukkan tersebut hingga lama kelamaan bibir Rendra mulai turun ke leher sang istri. Menyusuri setiap inci kulit leehr tersebut hingga membuat darah Cut berdesir dan tanpa persetujuan. Sesuatu yang membendung dalam tubuhnya mulai bergejolak karena permainan sang suami yang sangat lihat walau hanya dengan ciuman.


Tanpa sadar Cut melenguh pelan saat ciuman demi ciuman yang diberikan sang suami di leher dan kembali ke bibirnya semakin menuntut.


Rendra kembali melepaskan pungutannya, ia tersenyum dengan banyaknya tanda cinta yang suda tercetak jelas di leher sang istri. Rendra tidak perlu menahan diri karena Cut menggunakan penutup kepala jadi sebanyak apapun tanda yang ia buat tidak akan membuat malu sang istri.


“B-bannngghhh.”


Rendra bangun lalu, “Ayo!” ia menggenggam tangan Cut lalu mengajaknya ke tempat tidur.


Rendra menaiki tempat tidur tanpa melepaskan genggamannya. Cut menyusul sang suami dengan duduk tepat di hadapan sang suami.


Rendra mencium sebelah tangan yang ia genggam lalu secara perlahan naik ke atas hingga Pundak dan berhenti di leher Cut. Ia menyesap kuat membuat Cut menggigit bibir bawahnya. Setelah sekian lama keduanya hidup dalam status janda dan dudu kini mereka kembali merengkuh secuil nikmat surga yang Allah turunkan ke muka bumi. Berkali-kali lenguhan itu tanpa sengaja keluar dari mulut keduanya. Malam ini, untuk pertama kalinya mereka kembali merasakan nikmatnya malam pertama dengan pasangan yang berbeda. Cut dibuat kualahan oleh permainan sang suami yang seperti orang kelaparan bertahun-tahun.


Rendra mengambilkan air minum untuk sang istri yang terlihat kehabisan tenaga karena ulahnya. Ia tersenyum senang saat menatap sang istri meringkuk dibawa selimut.

__ADS_1


“Minum dulu!”


Cut bangun seraya menarik selimutnya sampai ke atas dada. “Terima kasih.”


“Mau makan?”


Tanya Rendra lembut setelah meminum minuman yang sama dengan Cut.


“Masih kenyang, Bang.” Cicit Cut.


Rendra tersenyum lalu kembali mendekati sang istri dalam satu selimut yang sama. Kembali memulai aksinya pelan tapi pasti. Cut tidak bisa memungkiri jika ia juga menyukai semua yang Rendra berikan. Suatu rasa yang sulit dijabarkan oleh kata. Rasa yang membuatnya bersemangat dan bahagia. Rasa yang membuatnya tidak ingin jauh-jauh dengan sang suami saat ini.


Rendra tersenyum senang lalu mengecup kening sang istri yang sedang memeluknya erat setelah mereka menyelesaikan ronde ke duanya. Eratnya pelukan Cut seakan menggambarkan jika dia tidak ingin  gagal lagi kali ini.


“Hei, kenapa tidak menjawab? Mau tidur atau lanjut?” Rendra mencoba menarik tangan sang istri lalu menghujani wajahnya dengan ciuman yang banyak. Seakan satu koneksi dengan sang bibir yang sudah bergerilya di berbagai tempat. Tangan sebelah tangan Rendra juga ikut merayap ke berbagai tempat terutama tempat khusus yang mala mini menjadi favoritnya. Dua bongkahan sintal di belakang tubuh menjadi tempat paling nyaman untuk Rendra saat melakukan dengan posisi berhadapan begini.


“B-banggghhh, ngantuk?” protes cut sedikit manja setelah mereka menyelesaikan ritualnya.


Rendra sedikit tergelak karena dia benar-benar meluapkan rasa rindunya malam ini padahal mereka baru saja sampai. Sebenarnya, Rendra sudah tidak tahan dari setelah acara ijab Kabul tapi ia masih berusaha menahan diri karena saat itu mereka akan berangkat ke Jawa. Namun, begitu tiba di sini apalagi setelah melihat Cut di kamarnya dengan wangi tubuhnya setelah mandi semakin membuat gairahnya sebagai lelaki normal ikut bergejolak.


Benar kata orang jika pantang laki-laki dan perempuan berduan dalam satu tempat. Begitu juga dengan mereka, walau statusnya sudah halal tetap saja mereka tidak mampu menahan diri dari kenikmatan surga dunia ini.


Jam tiga pagi mereka baru tertidur dalam satu selimut dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Rasa lelah yang luar biasa untuk keduanya sekaligus bahagia hingga keduanya tertidur dalam keadaan saling memeluk.


Sarapan pagi sudah tersedia di atas meja. Semua makan dengan tenang walaupun sempat menanyakan keberadaan sepasang suami istri baru yang belum terlihat hingga mereka menyelesaikan sarapannya. Para oarang tua yang sudah pernah melalui ini tentu tahu dan tidak memperdulikan peristiwa tersebut. Tapi bagi mereka yang belum mengalami tentu saja menjadi protret mengenaskan. Bagi Intan dan Faris serta Riko dan Reni itu menjadi bahan perbincangan yang tidak tentu arah tujuan.

__ADS_1


Menjelang siang, sepasang suami istri baru keluar kamar lalu walaupun sedikit malu tapi Cut tetap harus turun untuk sarapan yang sudah telat. Ternyata rumah sudah dalam keadaan kosong dan hanya tersisa mereka berdua bersama asisten rumah tangga. Mereka menikmati sarapan pagi merangkap makan siang bersama dengan sesekali melirik satu sama lain.


“Orang rumah sudah lama pergi, Bik?” tanya Rendra.


“Sudah dari jam 8, Den.”


“Makasih, Den untuk oleh-olehnya.”


Rendra mengangguk kecil. Ia memang tidak lupa membawa oleh-oleh sepulang dari Aceh. Walaupun kecil dengan harga tidak seberapa tapi itu cukup berkesan bagi setiap penerima karena itu artinya mereka masih diingat walaupun jauh.”


Para orang tua memilih pergi untuk melihat lokasi acara resepsi sedangkan para muda-mudi memilih pergi bersama tentu saja tujuan pertamanya adalah toko buku langganan si kebar Reni dan Riko. Bang Adi memangku Iskandar yang sengaja dibawa supaya Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir leluasa membahas masalah pernikahan.


Mereka sampai di toko buku yang cukup besar dengan berbagai jenis buku, novel ataupun komik tersedia. “Carilah buku yang kalian perluka untuk sekolah, Abang mau cari buku untuk anak-anak dulu.”


“Faris temani ya, Bang?”


“Tidak perlu. Kamu cari saja buku untuk kamu sendiri.”


Bang Adi dengan sikap dinginnya berjalan seraya menggendong Iskandar. Dilihat sekilas, bayi itu memang mirip dengannya karena wajah Iskandar cukup banyak mewarisi wajah sang ayah sementara ayahnya dan Bang Adi juga memiliki kemiripan yang sangat kuat.


Berjalan sendiri sambil menggendong seorang bayi tentu saja menyita perhatian para pengunjung lainnya terutama kaum wanita apalagi tanpa perempuan di sampingnya yang cukup membuat para kaum hawa penasaran.


“Anaknya tampan, ibunya kok gak ikut?”


***

__ADS_1


__ADS_2