
Cut menatap setiap anggota keluarga yang sudah duduk berhadapan dengannya termasuk sang suami. Iskandar sedang tertidur di kamar setelah lelah jalan-jalan bersama om dan tantenya. Cut menatap lekat pada sang suami yang sesekali mencuri pandang padanya. Sementara kedua mertuanya terlihat cemas menunggu keputusan sang menantu apalagi jika Cut benar-benar meminta cerai.
Kedua mertuanya sudah membujuk untuk memikirkan kembali namun Cut tetap tidak mau. Ia mau menyelesaikan ini sekarang juga supaya hatinya tenang. Di sinilah mereka berkumpul termasuk Kak Julie dan Bang Adi.
“Cut sudah memikirkan baik-baik. Jadi keputusan Cut untuk saat ini adalah Bang Fais harus ke Medan untuk meminta maaf pada Kak Shinta dan bayi mereka. Cut tidak mau punya suami yang lari dari tanggung jawab. Seandainya Cut yang ada di posisi Kak Shinta pasti Cut akan sedih dan kecewa apalagi anak yang sudah ia kandung sampai meninggal pun Bapaknya tidak datang.”
“Cut…”
Sebelah tangan Cut terangkat saat Faisal hendak menyela perkataannya. “Minta maaf pada mereka atau kita tidak akan bertemu lagi.”
“Tapi-“
Lagi-lagi Faisal hendak menyela perkataan istrinya namun tertahan. “Bawa dia kemari untuk bertemu dengan Ibuk dan Bapak kemudian nikahi dia secara resmi. Kak Shinta tidak keberatan jika harus masuk agama kita yang penting dia menikah dengan Abang.”
Faisal semakin frustasi dengan permintaan istrinya.
“Tapi, sebelum Abang berangkat. Tolong, talak saya!”
“Apa?”
Kedua orang tua serta Faisal sendiri terkejut mendengar permintaan sang istri. “Nak, pikirkan baik-baik jangan biarkan setan mempengaruhimu!”
“Iya, Nak. Ibu dan Bapak sangat menyayangimu. Bagaimana kamu bisa meminta Fais untuk menalakmu? Apa kamu tidak menyayangi kami lagi?” Ibu Murni mulai bersedih tatkala sang menantu kesayangan justru meminta talak.
“Cut, Abang tidak bisa melakukannya.”
“Kalau begitu, biar Cut yang ke pengadilan dan semua orang akan tahu tentang perceraian kita.” Cut mulai tersulut emosi kembali setelah beberapa jam dia berada di kamar untuk meredam emosi namun saat ini justru kembali lagi.
“Kalau Abang mentalak kamu, semua orang juga akan tahu.”
“Tidak! Karena Abang akan mentalak aku secara lisan. Kita akan bercerai secara agama di depan Bapak, Ibu, Kak Julie dan Bang Adi. Orang-orang akan tahu kalau kita ke pengadilan.”
“Hah…Abang tidak menyangka kamu bisa berpikir seperti ini. Siapa yang mengajarimu? Apa Bang Adi atau Kak Julie?” Faisal mulai tersulut emosi.
__ADS_1
“Cih…jadi kamu berharap istrimu bodoh selamanya supaya kamu dengan mudah bermain dibelakangnya? Ternyata kamu tidak lebih dari sampah,” Kak Julie ikut terpancing emosi ketika sang adik menuduhnya.
“Inilah sifat asli anak kebanggaan Bapak dan Ibuk.” timpal Bang Adi.
“Cukup!” suara Bapak sedikit meninggi membuat semua anak-anaknya seketika terdiam.
Pak Fahri menghela nafasnya lalu memandang sang menantu dengan guratan kesedihan. “Apa tidak sebaiknya kamu berikir lagi, Nak? Perceraian memang dibolehkan tapi itu tetap saja sesuatu yan harus dihindari. Iskandar juga masih bayi, dia masih butuh ayahnya.”
“Maafkan Cut, Pak, Buk. Tapi saat ini Cut mau seperti ini. Perasaan Cut masih sangat sakit, cut selalu terbayang apa yang mereka lakukan di rumah sakit. Cut juga selalu menerka-nerka kapan mereka bertemu saat bang Fais tidak ada di rumah. Cut tidak mau memikirkan itu terus, Pak, Buk. Kepala ini rasanya mau pecah, dada Cut seperti sesak. Cut mau hidup tenang di rumah Abu. Iskandar juga masih bisa bertemu dengan ayahnya. Cut hanya tidak sanggup untuk melihat Bang Fais apalagi kalau sekamar dengannya. Yang terjadi malah Cut membayangkan dia dengan Kak Shinta. Jadi kebih baik begini. Kami bercerai secara agama supaya Bapak dan Ibuk tidak malu menghadapi para tetangga.”
“Pergilah malam ini ke Medan, besok pagi Abang sudah sampai. Pergi ke kuburan putri Abang lalu minta maaf padanya! Dia tidak berdosa tapi kalian. Kenapa dia yang harus merasakan perbuatan buruk kalian?” Cut menatap sang suami yang tengah menunduk penuh penyesalan.
“Sebelum pergi, minta maaf dulu pada Iskandar! Dia juga tidak berhak merasakan penderitaan hasil perbuatan ayahnya.”
“Cut, Abang minta maaf. Abang khilaf. Abang mohon, kasih kesempatan sekali lagi untuk Abang memperbaiki semuanya!”
“Maaf, Bang. Perbuatan Abang terlalu menyakitkan hati saya. Apa kurangnya saya dalam melayani Abang? Seandainya masih kurang, Abang bisa memberitahukan supaya saya bisa memperbaikinya. Kalau karena alasan dia cinta pertama Abang dan susah dilupakan, kenapa tidak Abang perjuangkan? Kenapa menikahi saya? Memberikan saya kasih sayang palsu, membuat saya berpikir bahwa hanya saya di hati Abang. Setiap saya memikirkan ini, perasaan saya sakit sekali. Tolong talak saya!”
“Cut…”
“Kalau Abang sungguh menyayangi saya, tolong talak saya sekarang supaya saya tenang!”
Faisal memandang istrinya lekat. Ia ingin memeluknya namun rasa bersalah terlalu kuat menyelimuti pikirannya.
“Cut…”
“Tolong talak saya!”
Faisal mengusap kasar wajahnya. Ia berusaha meminta maaf tapi Cut tidak bergeming. Cut tetap pada pendiriannya.
“Pak, Buk, tolong bantu Fais!”
Kedua orang tuanya hanya bisa menghela nafas dengan raut wajah kecewa yang teramat dalam pada sang putra yang selalu mereka banggakan selama ini.
__ADS_1
“Kenapa kamu meminta talak? Apa kamu ingin menikah lagi setelah saya ceraikan?”
Pertanyaan Faisal sontak membuat Cut dan seluruh keluarganya terkejut. Mereka tidak menduga jika Faisal akan bertanya seperti itu untuk menyudutkan Cut.
“Sekarang aku malah kasihan pada Cut karena dia salah memilih suami. Pria brengsek sepertimu tidak pantas mendapatkan istri seperti Cut.”
“Jangan pernah ikut campur urusan rumah tanggaku! Kalau Abang lebih baik dariku sudah lama Abang menikah. Tapi kenapa? Karena Abang sendiri sama brengseknya seperti aku.”
Bug…
Perkelahian kedua adik abang tersebut tidak terelakkan. Ibu Murni jatuh pingsan dan sang ayah dengan wajah memerah langsung pergi dari sana. Kak Julie sibuk menolong sang ibu bersama Cut.
Byur…
Satu ember air berhasil menghentikan perkelahian keduanya.
“Kalian pantasnya di pasar bukan di sini. Bereskan ini sampai kering!”
Ibu murni yang berada di kamarnya kembali siuman setelah diberi minyak kayu putih oleh Kak Julie. “Bagaimana Fais dan Adi? Bapak mana?” Buk Murni panik memikirkan kedua putranya. Ia takut, sang suami akan menghukum mereka seperti saat SMA dulu dengan membersihkan seluruh saluran air di komplek mereka.
Ibu murni keluar lalu tersenyum lega melihat kedua anaknya sedang mengepel lantai.
“Lihat Fais! Dia bahkan sampai berkelahi dengan abangnya untuk kamu. Apa kamu tega meminta cerai padanya? Dia itu sangat menyayangimu dan Iskandar.”
***
Makasih yang udah setia menunggu...
terima kasih....love kalian semua...
jangan lupa mampir di DENDAM SI PETUGAS PAJAK
masukkan dalam daftar favorite kalian, like dan komen juga ya...
__ADS_1
terima kasih...